로그인Hanaya Eloksa
Namanya indah, seperti melodi lembut yang seharusnya menceritakan kisah tentang bunga yang mekar di pagi hari. Namun sayang, namanya tidak seindah hidup yang ia jalani.
Di usianya yang baru dua puluh dua tahun, Hanaya sudah merasakan lebih banyak penderitaan daripada yang seharusnya.
Ia dijebak lalu ditangkap oleh sindikat perdagangan manusia kemudian dijual ke luar negeri. Mimpinya untuk berdiri dengan kesuksesan diatas kakinya sendiri harus pupus begitu saja. Satu-satunya kesalahan yang ia buat adalah mempercayai tawaran dari sahabatnya yang ternyata mengkhinatinya.
Sahabat yang menipunya demi uang hingga membuatnya ada di situasi seperti ini.
Hanaya telah menghabiskan hampir sebulan dalam cengkeraman sindikat itu, berpindah-pindah tempat, diperlakukan seperti barang dagangan yang menunggu pembeli dengan harga tertinggi.
Hanaya ingat betul kengerian saat ia dipaksa berada di sebuah gudang gelap, di antara puluhan perempuan lain yang bernasib sama. Ia beruntung, atau mungkin juga sial, karena Mrs. Ivara datang.
Mrs. Ivara, dengan aura bisnisnya yang dingin, berhasil ‘menarik’ Hanaya dari tangan sindikat dengan sebuah transaksi uang yang tidak pernah Hanaya ketahui nominalnya.
Mrs. Ivara membawanya ke sebuah tempat yang dikenal sebagai 'rumah persiapan'. Sebuah rumah untuk memasok staf ke klub mewah yang dikenal sebagai “The Scarlett Veil”
Selama seminggu di sana, Hanaya menyadari bahwa para perempuan yang ia temui adalah pekerja klub, wanita penggoda, dan penari striptis yang dipersiapkan untuk melayani klien-klien berkelas.
Hanaya tidak tahu apakah situasinya setelah ini akan jauh lebih buruk dari sebelumnya atau tidak. Ia tidak memiliki akses ke dunia luar bahkan sekedar mencari cara menghubungi keluarganya yang jauh di ujung benua lainnya.
“Apa yang kau lamunkan?” Pria muda berambut cokelat itu bertanya dengan nada datar, menyadarkan Hanaya dari lamunannya
“Anu...” Ia memberanikan diri. “Boleh aku tahu namamu?” tanyanya pada pria di kursi kemudi itu
Pria itu tidak langsung menjawab. Setelah melewati tikungan di jalan yang sepi, ia akhirnya menoleh sekilas ke arah Hanaya. Ekspresinya tetap tenang dan formal.
“Ken” jawabnya singkat. Ia lalu kembali fokus ke jalan utama “Namaku Ken Alister. Aku asisten pribadi Tuan Silas Sinclaire.”
Hanaya mengulang nama itu. Ken Alister.
“Mr Alister-“
“Ken saja” potong Ken, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Sikapnya santai, namun nadanya tegas, seolah membatalkan formalitas yang tidak perlu di antara mereka. “Kau akan bekerja di rumah Tuan Silas. Kita akan sering bertemu. Jadi, formalitas semacam itu tak dibutuhkan”
“Baik, Ken” lirih Hanaya. Ia mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia harus tahu apa yang menantinya. “Anu... pekerjaan seperti apa yang harus aku lakukan nanti?” suaranya bergetar tipis saat bertanya
Ken menunggu beberapa saat sebelum menjawab, seolah sedang menimbang kata-kata yang paling tepat, atau mungkin yang paling jujur.
“Kau adalah pelayan pribadi Tuan Silas” jawab Ken, nadanya datar. “Secara umum, kau harus memenuhi kebutuhan dan keinginannya saat dia berada di rumah.”
“A-apa aku akan dibayar?”
Ken sempat menoleh, seolah tak percaya dengan pertanyaan itu. Tatapannya menusuk, membuat Hanaya buru-buru ingin menarik kembali pertanyaan yang keluar dari bibirnya. Tapi terlambat.
“Kau dibeli oleh Tuan Silas dan kau masih bertanya bayaran? Apa kau tak mengerti dengan arti dibeli?” Ken balik bertanya, suaranya tetap tenang tapi dingin.
Tentu saja ia mengerti. Namun, otaknya yang terbiasa berpikir logis ingin tahu batasan dari ‘pembelian’ ini. Apakah ia akan dibayar dengan kerjanya, ataukah semua ini menjadi perbudakan total?
“Dengar, Hanaya” kata Ken melanjutkan, kini nada suaranya sedikit melunak, seolah ia sedang menjelaskan fakta ekonomi yang tak terbantahkan kepada seorang anak kecil. “Kau akan diberi makan, tempat tinggal dan akses ke fasilitas medis. Kau akan hidup lebih baik dari kebanyakan orang terlantar di luar sana.”
Ken mengalihkan pandangannya dari Hanaya, kembali fokus pada jalanan di depan yang kini semakin gelap.
“Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu, aku tidak yakin. Jika Tuan Silas ingin, dia bisa memberimu gaji. Semua itu tergantung pada ketaatan dan layananmu.” Jelas Ken
Hanaya mengangguk. Pikirannya yang tajam mulai merancang strategi bertahan hidup. Ia tidak bisa melawan kekuasaan ini dengan kekuatan fisik, tetapi ia bisa melawan dengan kecerdasan dan kepatuhan yang sempurna.
“Baik, Ken. Aku mengerti” jawab Hanaya, suaranya kini terdengar lebih mantap, meskipun ia berusaha keras menutupi ketakutan yang menggerogoti.
Ken tersenyum sinis “Itu lebih baik” komentarnya
Tiba-tiba, mobil membelok tajam, melewati pos penjagaan mewah dan memasuki kawasan perumahan elit. Namun, alih-alih menuju rumah besar, mobil itu meluncur menuju sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan berkilauan di antara gedung-gedung lain.
Itu adalah Menara Onyx, salah satu ikon kemewahan di pusat kota.
“Kita sudah sampai” ujar Ken. Ia mematikan mesin saat mobil berhenti di lobby privat.
Hanaya mendongak. Di atas kepala mereka, ratusan meter di udara, adalah unit teratas gedung itu.
“Di sini?” tanya Hanaya, bingung.
Ken menoleh. “Tuan Silas tinggal di penthouse. Lantai paling atas.”
“Sendiri?”
Ken mengangguk lagi “Dengar baik-baik, Hanaya” suara Ken kembali terdengar, lebih dalam. “Ada aturan yang harus kau patuhi selama menjadi pelayan Tuan Silas” Nada suaranya meninggi, tegas, seolah membaca daftar larangan yang sudah hafal di luar kepala.
Hanaya menatap Ken lekat, menunggu pria itu melanjutkan ucapannya. Ia tahu, setiap kata-kata yang keluar dari bibir Ken adalah kunci untuk bertahan hidup.
“Pertama,” ujar Ken, mengangkat jari telunjuknya. “Saat Tuan Silas ada, kau harus bersikap seperti bayangan. Jangan menatapnya terlalu lama. Jangan bicara jika tidak diminta, dan jangan mencari perhatiannya. Tuan Silas membenci gangguan dan dia sangat sensitif terhadap tatapan yang menilai. Banyak pelayan sebelumnya gagal hanya karena mereka tidak mampu menahan diri.”
Hanaya mengangguk kaku. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menundukkan kepala.
“Kedua,” lanjut Ken, kini menatap lurus ke mata Hanaya, menembus ketakutannya. “Kau tidak diizinkan meninggalkan penthouse tanpa izin Tuan Silas. Kau juga tidak diizinkan menggunakan telepon atau internet. Selama kau di sini, duniamu hanya terbatas pada unit ini dan jadwalmu melayani Tuan Silas.”
Hanaya mengangguk lagi.
“Ketiga,” Ken menurunkan suaranya sedikit, namun intensitasnya tidak berkurang. “Kerahasiaan adalah segalanya. Kau tidak boleh membicarakan Tuan Silas, pekerjaannya, atau siapapun yang datang ke sini kepada siapa pun di luar penthouse ini. Jika ada informasi sekecil apa pun yang bocor karena dirimu, kau akan segera tahu mengapa orang-orang takut pada nama Sinclaire.”
Untuk yang satu ini, Hanaya merasa kaku untuk mengangguk. Tangannya yang memegang tali tas jinjing menjadi dingin. Ia tidak bisa memaksa tubuhnya bergerak. Ken tidak mengancamnya dengan dikembalikan ke sindikat, melainkan dengan nama Sinclaire itu sendiri.
Apakah mungkin... Tuan Silas itu adalah orang yang berbahaya?
Hanaya dibantu oleh Robert saat menata piring dan mangkuk kecil berisi makanan di atas nampan. Robert menjelaskan setiap lauk dan posisinya di atas meja dengan sabar. Hanaya mengamati dengan saksama, mencoba mengingat semuanya agar tidak melakukan kesalahan fatal pagi ini. Ada omelet keju, beberapa potong sosis panggang, toast, serta bacon. Di sampingnya, ada mangkuk berisi buah-buahan segar.“Sudah, Hanaya. Ingat, letakkan mangkuk buah di bagian atas, pisau di kanan piring, garpu di kiri” Robert mengingatkan sekali lagi dengan nada kebapakan. “Tuan tidak suka jika letaknya berantakan atau ada yang terlewat.”Hanaya mengangguk kaku, sementara jantungnya masih berdebar kencang tak karuan. Sensasi panas dan bekas kemerahan di lehernya akibat insiden subuh tadi masih terasa nyata, meninggalkan trauma psikologis yang membuat jemarinya gemetar hebat.Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat nampan berukuran sedang itu dengan hati-hati. Ha
Pukul lima pagi. Udara di luar jendela penthouse masih diselimuti kabut tipis sisa subuh, sementara lampu-lampu kota di bawah sana tampak mengerjap malas.Hanaya berdiri di depan sebuah pintu kayu jati berukuran besar yang terkunci rapat di ujung koridor lantai atas. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Di tangannya, sebuah kartu akses digital berbingkai logam tipis terasa begitu berat, seolah benda itu adalah kunci gerbang neraka.‘Mulai besok, tugasmu adalah menyiapkan pakaianku dan membangunkanku setiap pagi. Kuberi kau kebebasan untuk keluar masuk kamarku.’Ucapan Silas semalam terngiang-ngiang di kepalanya, memicu gelombang kecemasan yang belum sepenuhnya surut. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Hanaya menempelkan kartu akses tersebut ke panel sensor di sebelah kusen pintu.Bip.Lampu indikator berubah dari merah menjadi hijau lembut. Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara mendesis pelan saat engsel mew
Hanaya menandatangani kontrak kerja baru itu dengan jemari yang masih menyisakan sisa gemetar. Jelas sekali ia tak memiliki kesempatan untuk mengelak atau mengajukan protes lagi. Tinta pena meninggalkan jejak hitam di atas kertas putih, tegas namun bergetar, sama seperti batinnya yang sedang berkecamuk hebat.Silas tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk bersandar dengan tenang, lengan terlipat di dada, sementara mata birunya tak pernah lepas dari setiap gerak-gerik wajah Hanaya. Saat goresan tanda tangan terakhir selesai ditorehkan, pria itu meraih map hitam tersebut dengan gerakan santai, seolah sebuah kemenangan kecil baru saja berhasil ia genggam dalam genggamannya.“Mulai besok, tugasmu adalah menyiapkan pakaianku dan membangunkanku setiap pagi. Kuberi kau kebebasan untuk keluar masuk kamarku” ucap Silas dengan nada datar, namun syarat akan tekanan mutlak yang tak bisa ditawar.Hanaya sontak mengangkat kepala, matanya melebar seketika. “K-ka
“Kau tak mau disentuh olehku?”“Ya” Jawab Hanaya mantap“Alasannya?” Silas mengulang, suaranya terdengar begitu tenang, namun ada intensitas berbahaya yang merayap di balik nada datar tersebut.Hanaya merapatkan bibirnya, mencoba menelan ludah yang terasa begitu pahit di tenggorokan. Ia tahu betul risiko dari setiap kata yang ia ucapkan di hadapan pria yang memegang kendali penuh atas hidupnya saat ini. Namun, harga diri dan batas privasinya adalah benteng terakhir yang tidak boleh ia biarkan runtuh begitu saja.“Karena itu melanggar batas professional pekerjaan saya, Tuan,” jawab Hanaya, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar hebat. Ia mengangkat sedikit dagunya, memaksa diri menatap langsung ke dalam manik mata biru yang kini menatapnya lekat-lekat. “Saya dipekerjakan untuk membersihkan tempat ini dan melayani kebutuhan rumah tangga, bukan untuk menyerahkan diri saya secara fisik. Jika klausul
“Duduk.”Nada suara Silas tegas, tanpa ruang untuk bantahan. Hanaya menurut, meski hatinya berdebar tidak karuan. Di hadapannya, pria itu meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja kaca. Gerakan tangannya tenang, namun mata birunya menyorot tajam, membuat udara di ruangan terasa lebih dingin dari biasanya.“Ini kontrak kerjamu.”Hanaya terbelalak. Seluruh otot di tubuhnya mendadak menegang. “Kontrak kerja?! T-tapi saya sudah tanda tangan kontrak resmi dengan asisten Ken saat pertama kali bekerja di sini!”Silas tidak langsung menjawab. Pria itu justru mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat ke arah meja. Jemari panjangnya mengetuk ringan permukaan map hitam itu.Tok. Tok. Tok.Suara ketukan kecil yang terdengar begitu lambat, namun justru membuat suasana itu semakin mencekam.“Itu kontrak masa percobaanmu”Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya. Bukan senyum ramah yang menen
“Apa saat ini kau bilang jika aku merepotkanmu?” Silas bertanya dengan nada rendah, suaranya terdengar datar namun sarat akan intimidasi terselubung yang siap meledak kapan saja.Mendengar pertanyaan itu, darah di tubuh Hanaya seolah mendadak berhenti mengalir. Matanya membelalak lebar, panik bukan kepalang.“Ehh... bukan... bukan begitu, Tuan!” pekik Hanaya cepat-cepat, kedua tangannya langsung melambai gugup di udara seolah ingin meralat ucapannya sendiri. Ia merutuki lidahnya yang terlampau jujur dan ceroboh pagi ini. “S-sumpah, bukan itu maksud saya! Maksud saya... ehm, maksud saya adalah... kesehatan Tuan itu penting untuk kelancaran semuanya...”Hanaya menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Di bawah tatapan tajam sang billionaire, ia merasa seperti mangsa yang terjebak di hadapan singa lapar.Bibir Silas menegang, lalu perlahan melengkung tipis, bukan senyum, lebih seperti







