Share

Chap 8 Introduce

Author: Strrose
last update publish date: 2026-08-14 11:00:11

Robert menurunkan sayuran segar, daging, dan beberapa botol wine ke meja. Tangannya cekatan menata satu per satu.

“Selesai”

Hanaya mengangguk, matanya memperhatikan gerakan Robert yang begitu luwes di dapur.

Wangi bawang putih yang ditumis bersama mentega memenuhi udara, membuat perut Hanaya bergejolak. Kata Ken, dia boleh makan apapun setelah Tuan Silas pergi. Tetapi, tadi pagi dia hanya bisa makan mie instan karena bahan-bahan dapur habis.

Robert melirik gadis itu yang berdiri kikuk sambil me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 152 Jatah Pagi Sang Sinclaire

    Hanaya terbangun karena napasnya yang terasa sesak. Sensasi hangat yang teramat pekat dan berat memeluk tubuhnya dari belakang, mengunci ruang geraknya begitu rapat hingga dadanya sulit mengembang sempurna.Dekapan lengan kokoh berotot Silas melingkar protektif di sekeliling pinggang dan perutnya, menempelkan punggung Hanaya tanpa sela pada dada bidang pria itu."Mmh..." desah Hanaya pelan, berusaha menggeser tubuhnya sedikit untuk mencari rongga udara. Jemari mungilnya mendorong pelan lengan tegap Silas yang bertengger kukuh di atas baby bump-nya. "Silas... sesak..."Hanaya mencoba melepaskan diri dari kungkungan erat itu, namun cengkeraman Silas justru refleks memadat secara alami dalam tidurnya, seolah enggan membiarkan wanitanya menjauh walau hanya satu milimeter."Silas, lepas dulu..." cicit Hanaya lagi, kali ini menyikut pelan pinggang suaminya.Kelopak mata Silas perlahan terbuka. Iris mata biru lautnya yang jernih seketika mengunci pandanga

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 151 Pemujaan Sang Penguasa

    Silas perlahan mendongak, menyusuri kembali keindahan wanitanya yang terhampar di hadapannya. Manik mata biru lautnya berkilat pekat, sarat akan gairah liar yang tak lagi mampu ditahannya, namun tetap dipenuhi binar kepemilikan dan pemujaan mutlak."Kau siap untuk malam pertama pernikahan kita, sunshine?" bisik Silas rendah dan parau, suaranya bertindak bagai getaran mendalam yang langsung menusuk ke pusat kesadaran Hanaya.Hanaya tak sanggup menjawab dengan kata-kata. Napasnya tercekat, manik matanya berkabut pasrah saat ia memberikan anggukan pelan, menarik tengkuk Silas semakin merapat.Jawaban itu seketika meluruhkan sisa pertahanan diri Silas. Tanpa menunggu sedetik pun, pria itu meluncurkan posisinya turun ke bawah. Jemari kokohnya menyingkap sisa kain yang menghalangi, memiringkan paha mulus Hanaya dengan gerakan protektif namun penuh dominasi mutlak."Mmh... Silas!" jerit Hanaya tertahan, jemarinya seketika meremas sprei sutra di bawahnya erat-era

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 150 Lebih dari Sekadar Masa Lalu

    Selama 28 tahun hidup, Silas tak pernah dihadapkan dengan situasi yang membuatnya segugup dan sebingung ini. Pria yang biasanya selalu memegang kendali penuh atas setiap peraturannya, kini mematung kaku di tengah ruang tamu penthouse yang megah.Matanya terkunci rapat pada jemari Hanaya yang menggenggam amplop cokelat tebal itu.Silas tahu pasti dari mana amplop itu berasal dari Miranti. Ada rahasia, manipulasinya di masa lalu, serta benang-benang kelam yang sengaja dirancangnya untuk membawa Hanaya ke pelukannyaSilas menghembuskan napas berat. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak tahu harus mulai dari mana. Menjelaskan segalanya secara langsung atau membiarkan wanitanya membaca racun yang sengaja ditanamkan musuhnya?Ia melangkah perlahan mendekati Hanaya, lalu meraih jemari dingin istrinya dengan kelembutan yang sangat terukur."Sunshine..." bisik Silas rendah, suaranya parau menahan gelombang kecemasan yang asing di dadanya.Hanaya men

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 149 Hening yang mematikan

    Jantung Miranti berdegup kencang, menghantam dadanya begitu keras hingga rasanya mau melompat keluar. Senyum kemenangan yang beberapa detik lalu menghiasi wajah cantiknya meluruh tanpa sisa, digantikan oleh rasa terkejut dan ketakutan liar yang perlahan menjalar ke segenap otot tubuhnya.Namun, sebagai wanita yang terbiasa hidup di dalam kelicikan dan intrik, Miranti memaksa dirinya untuk tetap membusungkan dada. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras mempertahankan raut wajah tenang seolah keberadaannya di tempat ini adalah hal yang wajar.“Silas Sinclaire..” gumam Miranti parau, suaranya dipaksakan setenang mungkin meski artikulasinya sedikit bergetar.Silas tidak membalas sapaan itu. Pria itu berdiri bagaikan patung batu di tengah lorong parkir privat yang dingin. Manik mata biru lautnya yang pekat tertuju lurus pada Miranti, seseorang yang telah lancang melintasi batas kekuasaannya. Tidak ada teriakan amarah, tidak ada makian, bahkan

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 148 Benang-Benang Pengkhianatan

    Bel penthouse Silas berbunyi. Hanaya yang baru selesai mengganti gaun pengantinnya dibuat terkejut. Pasalnya, orang yang membunyikan bel sudah pasti bukan kerabat Silas ataupun Silas sendiri.Langkah kakinya membawa Hanaya menuju interkom. Layar digital di dekat pintu menyala, menampilkan sosok wanita bergaun elegan yang berdiri santai di depan pintu penthouse.Mata Hanaya membelalak sempurna. Napasnya seketika tercekat di tenggorokan saat mengenali paras di layar interkom tersebut.Miranti.Wanita yang pernah ia anggap sebagai teman dekat, wanita yang tanpa rasa bersalah telah menjebaknya hingga Hanaya menjadi korban sindikat perdagangan manusia yang mengerikan.Tanpa jeda lebih lama, Hanaya langsung membuka pintu penthouse.Dada Hanaya naik-turun menahan emosi yang meluap. Di hadapannya, Miranti berdiri santai dengan gaun elegan dan riasan sempurna, tanpa ada sedikit pun raut penyesalan di wajahnya."Bagaimana... bagaimana bisa kau

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 147 Pernikahan kita

    Pagi itu, udara sejuk membelai lembut kelopak-kelopak mawar yang bermekaran sempurna di area Queen Mary’s Rose Garden.Hamparan karpet putih membentang di antara jajaran bunga yang memancarkan aroma manis alami, sementara puluhan pengawal bereselon tinggi berjaga ketat di sekeliling perimeter taman. Silas dengan sengaja menyewa seluruh area privat tersebut agar tidak ada satu pun pasang mata asing atau kilatan kamera wartawan yang mengusik kenyamanan wanitanya.Di sudut area rias terbuka, Hanaya berdiri mematung menatap pantulan dirinya di cermin.Ia mengenakan gaun pengantin putih gading yang anggun, sengaja dirancang kustom tanpa corak berat agar tidak menekan perutnya yang kian sensitif. Wajahnya yang kemarin dipenuhi ketakutan dan warna pucat kini tampak lebih segar berkat polesan riasan tipis.Namun, jauh di dalam hatinya, Hanaya merasa aneh. Tidak ada letupan kebahagiaan luar biasa atau debar gila seperti cerita-cerita pengantin pada umumnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status