LOGINBau harum kayu cedar dan aroma teh Earl Grey yang pekat menyambut indra penciuman Hanaya saat kelopak matanya perlahan-lahan bergetar terbuka.Cahaya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit membuat retinanya menyipit, mencoba menyesuaikan diri. Hanaya mengerjap lambat, menatap langit-langit kamar asing yang didekorasi dengan gaya klasik Eropa. Tempat tidur besar berbalut seprai sutra hitam tempat ia berbaring terasa begitu lembut, namun suasananya... suasana ini seketika memicu gelombang dejavu yang menghantam ulu hatinya.Tempat ini.Hanaya bangkit perlahan, menarik selimut tebal menutupi dadanya yang bergemuruh. Tubuhnya terasa kaku, sisa-sisa efek obat penenang membuat kepalanya berdenyut berat dan lidahnya kelu. Ia menoleh ke sisi kanan, mendapati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota malam hari dari ketinggian. Di sudut ruangan, sesosok pria berjas rapi tengah berdiri membelakanginya, memegang segelas wiski sambil menatap ke lua
Silas menatap dua orang di depannya dengan wajah datar. Yang satu dalam keadaan sehat, tenang, dan dingin, sementara satunya lagi dalam keadaan tak sadarkan diri.Di dalam ruangan kerja privat yang mewah dan berpengharum kayu cedar di markas milik Silas Sinclaire, suasana terasa begitu beku. Cahaya lampu gantung temaram memantul di atas meja marmer hitam, memperlihatkan sosok Silas yang duduk bersidekap di kursi kebesarannya, meneliti setiap inci pemandangan di hadapannya dengan tatapan penuh selidik dan kepuasan terselubung.“Jadi, kau menyerahkannya secara mandiri padaku?” tanya Silas, suaranya terdengar lembut namun merayap dingin, memecah kesunyian ruangan.Gideon tidak menunjukkan secercah pun rasa gentar atau penyesalan. Pria itu berdiri tegak, mengenakan mantel panjang berwarna arang yang senada dengan auranya yang mematikan. Di dalam gendongan lengannya yang kokoh, tubuh Hanaya terkulai lemas, terbalut selimut tebal dengan mata terpejam rapat
Hanaya tidak tahu apa yang Gideon rencanakan atau apakah ucapan suaminya itu sekadar gertakan kosong untuk menghukum ego prianya yang terluka akibat tuduhan spontan tadi. Yang ia tahu, atmosfer di dalam kamar rawat itu kini berubah menjadi kuburan yang sunyi dan mematikanGideon masih berdiri memunggungi ranjang, menatap lurus ke luar jendela kaca dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Punggung bidang pria itu tampak tegap, namun ada aura dingin yang mutlak dan tak tersentuh, menandakan bahwa sang penguasa Rarendra telah menarik kembali seluruh kelembutan semu yang sempat ia tunjukkan beberapa waktu lalu.Hanaya terdiam kaku di atas ranjang. Napasnya tercekat di tenggorokan, sisa-sisa isak tangisnya menguap seketika, digantikan oleh gelombang ketakutan baru yang jauh lebih mencengkeram.Menjualku...Kata-kata itu berputar-putar di dalam kepalanya seperti bumerang yang mematikan. Apakah Gideon benar-benar akan menjualnya??"Gideon
Gideon mengambil sesendok bubur, meniupnya perlahan, lalu mengarahkannya ke depan bibir Hanaya."Buka mulutmu."“Aku...”“Makan Hanaya Eloksa!”“Aku tidak lapar, Gideon...” cicit Hanaya pelan, memalingkan wajahnya ke sisi lain, menolak suapan bubur yang sejak tadi dipaksakan oleh suaminya.Gideon tidak langsung meledak, namun rahang tegas pria itu menggeretup kencang, menandakan batas kesabarannya mulai menipis. Kejadian kedatangan Andre di rumah sakit beberapa waktu lalu sempat membuat kondisi Hanaya kembali drop, dan nafsu makan wanita itu praktis berada di titik nol.Pria itu meletakkan mangkuk bubur di nakas dengan gerakan pelan namun penuh tekanan.“Jangan membuatku harus mencari cara lain agar makanan itu masuk ke perutmu.” ulang Gideon dengan nada baritonnya yang rendah dan mutlak, menatap lurus ke manik mata istrinyaGideon kembali mengambil mangkuk tersebut dan menyendok
Bau khas cairan antiseptik dan obat-obatan langsung menusuk indra penciuman begitu kesadaran Hanaya perlahan-lahan merayap kembali.Hanaya mengerjap pelan, mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat. Cahaya putih terang dari lampu rumah sakit langsung menyambut penglihatannya, membuat kepalanya berdenyut nyeri. Ia berbaring di atas ranjang pesakitan dengan infus yang menancap di punggung tangan kanannya.Seketika itu juga, ingatan tentang rasa sakit luar biasa di perutnya sebelum ia pingsan menghantam benaknya.Dengan napas yang tercekat dan tangan yang bergetar hebat, Hanaya langsung meraba permukaan perutnya di balik selimut putih rumah sakit. Ia mendapati perutnya masih agak buncit sedikit, bentuk kehidupan kecil itu masih ada di sana.Hanaya menepis isak tangis yang mendesak di tenggorokan, merasa linglung dan bingung di tengah keheningan kamar rawat VVIP yang begitu asing. Ia menatap sekeliling ruangan dengan pandangan kosong, mencoba mengumpul
"D... dari mana kamu tahu?!" cicit Hanaya tertahan. Suaranya terdengar begitu parau, nyaris hilang tenggelam di antara degup jantungnya yang menghantam tulang rusuk dengan brutal.Seluruh warna di wajah Hanaya mendadak lenyap. Pertahanan terakhirnya hancur berkeping-keping, meninggalkan rasa ngeri yang teramat sangat. Rahasia kelam yang selama ini ia kubur rapat-rapat, aib memuakkan yang menjadi alasan utama ia terjebak dalam pusaka keluarga Widjaja kini diungkit begitu saja oleh suaminya sendiri.Gideon mendengus sinis. Sorot mata hitam legam pria itu menatap rendah, penuh dengan kilatan amarah bercampur cemburu buta yang membara di balik permukaan dinginnya."Kau pikir aku pria bodoh yang akan menikahi wanita tanpa mencari tahu siapa dia terlebih dahulu?" bisik Gideon tepat di depan telinga Hanaya, suaranya terdengar begitu kejam namun menyiratkan luka terselubung. "Aku tahu semuanya, Hanaya. Termasuk bagaimana bajingan bernama Andre itu memperlakukanmu di bal







