MasukRabu siang, pukul satu, aku tiba di sebuah hotel mewah berbintang lima di pusat kota Jakarta. Hari ini, Nyonya Ratna, istri dari Menteri Perdagangan Haryo, mengadakan acara perkumpulan dan makan siang bersama puluhan istri pejabat dan pengusaha wanita. Aku memakai gaun panjang berwarna putih polos dan perhiasan berlian berukuran kecil. Aku sengaja memilih gaya pakaian yang elegan namun tidak terlihat mencolok. Aku ingin Nyonya Ratna melihatku sebagai wanita yang sopan dan tidak berniat menyaingi kekuasaannya. Aku berjalan masuk ke dalam ruang aula hotel yang disewa khusus untuk acara tersebut. Banyak meja bundar yang sudah diisi oleh para wanita kaya. Aku melihat Nyonya Ratna sedang duduk di meja paling depan. Nyonya Ratna memakai gaun berwarna merah terang dan perhiasan emas berukuran besar di lehernya. Dia sedang berbicara dengan nada suara yang keras dan tertawa bangga. Aku meminta pelayan hotel untuk mengantarku ke meja Nyonya Ratna. Saat aku sampai di depan mejanya, aku memberi
Sinar matahari pagi menyinari halaman rumah Bapak Sudirman, Kepala Desa Sukamaju. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku duduk di kursi kayu ruang makan, menikmati sarapan pagi berupa nasi goreng dan telur dadar yang dimasak oleh istri kepala desa. Aku memakai gaun panjang berwarna biru muda yang sangat sopan. Rambutku diikat rapi ke belakang. Di sebelah kiriku, Gala duduk dengan tenang. Suamiku memakai kaus lengan pendek berwarna abu-abu gelap yang memperlihatkan otot lengannya yang besar. Bapak Sudirman duduk di seberang meja kami. Dia terus menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepadaku. "Kami sangat berterima kasih atas bantuan uang sepuluh miliar rupiah dari Anda, Nyonya Santi," ucap Bapak Sudirman dengan suara yang tulus. "Pekerja bangunan akan mulai memperbaiki atap masjid desa siang ini juga. Dokter dari kota juga sudah saya hubungi untuk mulai bekerja di klinik kesehatan gratis besok lari." Aku meletakkan sendok makanku di atas piring. Aku memberikan senyum lembut ya
Keesokan harinya, tepat pada pukul sembilan pagi, lima buah mobil mewah berwarna hitam masuk secara beriringan melintasi jalan tanah utama Desa Sukamaju. Mobil yang aku tumpangi bersama Gala berada di urutan kedua. Toni bertugas mengemudikan mobil kami di bagian depan. Tiga mobil van berukuran besar melaju di belakang mobil kami. Mobil-mobil van tersebut membawa uang tunai, ratusan paket bahan makanan pokok, serta beberapa anggota keamanan pribadi kami yang memakai pakaian biasa. Perjalanan dari Jakarta menuju Desa Sukamaju memakan waktu beberapa jam melalui jalan tol antarkota. Saat mobil kami memasuki batas desa, aku melihat banyak perubahan. Jalanan desa masih terbuat dari tanah yang dikeraskan, dan rumah-rumah warga sebagian besar masih terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu. Kondisi ekonomi desa ini tidak banyak berubah sejak aku pergi meninggalkan tempat ini beberapa tahun yang lalu. Ratusan warga desa sudah berkumpul dan berdiri di halaman balai desa. Kepala Desa Sukamaju
Sinar matahari pagi masuk menembus kaca jendela besar di kamar tidur utama rumah mewah kami di Jakarta. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Malam sebelumnya, aku dan suamiku, Gala, berhasil memanipulasi Jenderal Baskoro di acara pesta amal. Kami berhasil membuat jenderal polisi bintang tiga itu percaya bahwa kami adalah warga negara yang bersih dari kejahatan. Aku duduk di kursi meja makan di lantai bawah. Aku memakai pakaian santai berupa kemeja katun berwarna putih dan celana pendek selutut. Gala duduk di seberang meja. Dia tidak memakai baju atasan. Otot di dada dan lengannya terlihat jelas. Dia sedang meminum kopi hitam dari sebuah cangkir putih. Suasana pagi ini terasa sangat tenang, tetapi di dalam dunia kejahatan tingkat tinggi yang kami jalani, ketenangan biasanya adalah tanda bahaya yang sedang mendekat. Pintu ruang makan terbuka. Toni, kepala keamanan dan teknologi perusahaanku, berjalan masuk dengan langkah yang cepat. Wajah Toni terlihat sangat serius. Dia membawa sebu
Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian di rumah Viktor di negara Swiss. Aku dan suamiku, Gala, telah kembali ke kota Jakarta dengan selamat. Tidak ada satu pun polisi internasional yang mencari atau mengejar kami. Toni, kepala keamanan kami, telah mengatur penerbangan pulang dengan sangat rapi dan tertutup, sehingga nama kami tidak tercatat dalam daftar penumpang maskapai penerbangan mana pun. Tidak ada rekam jejak digital yang menghubungkan kami dengan kejadian malam berdarah itu. Uang tunai sebesar empat triliun rupiah yang kami curi dari rekening Viktor sudah berhasil kami pindahkan secara total. Uang tersebut masuk ke dalam sistem keuangan perusahaanku, PT. Santi Abadi Sejahtera. Aku mencuci uang kotor itu dengan cara menggunakan uang tersebut untuk membeli dua buah pelabuhan swasta berukuran sedang di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Selain itu, aku juga membeli sepuluh kapal kargo pengangkut barang baru yang berukuran raksasa. Semua dokumen pembelian, surat hak milik, dan
Aku berjalan kaki melewati halaman depan rumah Viktor yang sangat luas. Sepatu hak tinggi yang aku pakai menginjak tumpukan salju di atas jalan setapak berbatu. Penjaga yang memegang senapan serbu berjalan tepat di belakangku. Salju turun dengan intensitas yang semakin banyak dari langit malam. Suhu udara sangat dingin, tetapi aku menahan rasa dingin itu agar tubuhku tidak menggigil. Halaman ini dijaga oleh puluhan pengawal bersenjata yang berjalan berkeliling secara terus-menerus. Aku menghitung ada lebih dari dua puluh buah kamera pengawas yang menempel pada dinding luar bangunan utama. Pengamanan tempat ini memiliki jumlah personel dan peralatan yang sangat ketat, sama persis seperti data komputer yang aku dan Gala baca di pesawat sebelumnya. Namun, kamera pengawas itu tidak berguna karena arahnya hanya melihat ke bagian halaman luar, dan tidak ada satu pun kamera yang bisa menghentikan rencana suamiku di ruang bawah tanah. Pintu utama rumah yang terbuat dari kayu jati dengan ket
Malam itu, duduk di atas kasur tipisku, aku memandangi layar ponsel bekas yang layarnya retak di pojok itu. Ada tiga foto di galeri. Ketiganya sangat tajam, tak ada blur sedikit pun. Wajah Rina dan Dani, pelukan mereka, serta tumpukan amplop cokelat tebal di atas meja bedeng semuanya terekam jelas
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Suara Bu Kades yang tegas menggema lewat pelantang suara. Balai desa yang tadinya ramai oleh suara obrolan ibu-ibu seketika menjadi sunyi senyap. Semua mata kini tertuju ke depan. Biasanya, Bu Kades selalu membuka rapat dengan senyuman ramah. Beliau
Hari yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Sejak jam delapan pagi, Balai Desa Sukamaju sudah ramai oleh ibu-ibu berseragam biru khas kader PKK. Suara obrolan dan tawa terdengar bersahutan. Mereka sibuk menata kursi plastik, menyiapkan daftar hadir, dan menata kotak makanan ringan di atas meja panj
Ruang tamu Bu Yati mendadak terasa sangat dingin, padahal cuaca di luar sedang panas terik. Kabar bahwa Pak Pamong mengetahui perselingkuhan istrinya dan bahkan membayar Kang Bagong untuk tutup mulut, benar-benar membuat nyaliku menciut. Bu Tini yang duduk di sebelahku mulai menangis lagi. Tubuhn







