Share

2. Cinta Mengelam Di Masa Silam

TRAGEDI CINTA BUNGA

Penulis : David Khanz

Bagian : 2

Episode : Cinta Mengelam Di Masa Silam

Syaiful mengusap hidung menggunakan tangan, lalu melihat-lihat sebentar pada lelehan darah yang melumuri telapaknya. Lanjut beradu tatap dengan sorot mata Juragan Mahmud yang menggetarkan segenap jiwa. Laki-laki tua, pesohor Kampung Sarawu yang terkenal kaya raya, sekaligus ayah kandung dari Bunga kekasih hatinya.

Pemuda ini sama sekali tidak menyangka jika Juragan Mahmud akan setega itu memperlakukan anak sendiri. Dilirik sejenak, tampak Bunga masih tergeletak di sana, dibantu berpindah tempat oleh Dillah dan Amrul ke landai yang lebih layak.

"Silakan kalau Juragan ingin melampiaskan kemarahan. Lakukan pada saya," ucap Syaiful seakan menantang, sambil berdiri berhadap-hadapan dengan sosok tua di depannya tresebut. "Tapi … tolong, jangan sakiti Bunga sedikit pun. Walau bagaimanapun, Bunga itu putri kandung Juragan sendiri."

Kumis putih Juragan Mahmud bergerak-gerak, sementara tangannya pun bergetar hebat diiringi belalak mata kian menghebat. Syaiful sadar, berbicara seperti itu tidak akan banyak membantu dia untuk bisa mencari selamat. Namun yang dikhawatirkan tentulah kekasihnya, Bunga. Berlari, mungkin bisa saja dilakukan saat itu juga. Hanya saja akan memberi nilai buruk bagai seorang pecundang sejati di mata orang tua serta ketiga anak buahnya di belakang sana itu.

"Berani sekali ya, kamu memberi saya nasihat? Kamu pikir, kamu sedang berhadapan dengan siapa sekarang, hah?" ujar Juragan Mahmud disertai gemeretak gigi dan sorot mata menggidikkan. "Sudah berulangkali saya peringatkan kamu, jangan pernah lagi mendekati anak saya! Tapi rupanya kepalamu itu membatu!"

Syaiful mengusap kembali lelehan darah dari lobang hidungnya. Sakit sudah tidak lagi mau dipedulikan. Semuanya sudah terlanjur terjadi dan dia dapatkan dari sosok ayah kekasihnya tersebut. Kalaupun harus berakhir, paling hanya kematian di tempat ini.

'Tapi aku tidak yakin kalau Juragan Mahmud akan sanggup melakukannya,' membatin pemuda itu mencoba menenangkan diri. 'Membunuhku hanya akan mengantarkan anak perempuannya itu ke dalam jurang kematian secara perlahan-lahan. Aku dan Bunga sudah sepakat dan akan selalu saling mencintai sampai kapan pun. Karena di mata Bunga pula, aku adalah cinta pertamanya.'

Syaiful melangkah tertatih-tatih mendekati Juragan Mahmud. Kali ini membiarkan bibirnya dipenuhi lelehan darah segar dan terpaksa untuk sementara waktu, dia bernapas menggunakan mulut.

Dengan suara pelan nyaris berupa bisikan, pemuda itu berkata di depan muka orang tua tersebut. "Saya tahu, Juragan pasti sangat membenci saya, 'kan?" tanyanya tanpa rasa gentar kini. "Silakan … kalau memang Juragan ingin menghabisi saya. Tapi … satu hal yang perlu Juragan ketahui, Bunga … putri Juragan satu-satunya itu … sudah bukan lagi gadis terhormat."

Seulas senyum menyeruak di antara bibir Syaiful yang penuh dengan noda darah.

"Apa?! K-kamu …." Juragan Mahmud seketika terkesiap. Bulatan matanya kian membesar dengan mulut menganga lebar.

"Juragan pasti paham 'kan, apa artinya itu?" imbuh kembali Syaiful berusaha memanas-manasi sosok di hadapannya. "Mau tidak mau, Bunga akan segera mengandung anak saya, sekaligus cucu tercinta dari Juragan terhormat."

Getar kepal orang tua itu sudah tidak bisa lagi dikendalikan. Seketika, dengan gerak refleks dia angkat jemari tangan dan menghantamkan pada wajah Syaiful sekeras mungkin.

Terdengar keplak suara tamparan membahana, disertai percikan darah segar dari lobang hidung pemuda tersebut. Anehnya, Syaiful sama sekali tidak mengaduh maupun terhuyung seperti sebelumnya. Dia tetap bergeming di tempat berdiri semula dan hanya memalingkan muka terkena hantaman telapak tangan Juragan Mahmud.

"Ayaaahhh … sudah, Ayaahhh!" teriak Bunga di belakang sana. Gadis itu meronta-ronta lemah di antara cekalan kuat Syahrul, Dillah, dan Amrul. "Tolong hentikaannn, Ayaahhh! Bunga tidak ingin dipisahkan dari Kang Iful!"

Syaiful kembali memutar kepala dan menatap wajah tua ayah dari kekasihnya tersebut. Sementara ulas senyum itu masih juga tampak menantang dan teramat menyebalkan hati Juragan Mahmud.

"Juragan dengar sendiri 'kan, apa kata Bunga barusan?" ucap lelaki muda itu. "Putri Juragan itu tidak akan pernah mau menerima kehadiran lelaki lain, terkecuali saya. Karena kami sudah ditakdirkan untuk—"

Belum tuntas ucapan Syaiful terungkap, tamparan selanjutnya bertubi-tubi menghantam muka. Disusul ayunan nyala obor mendera badan pemuda tersebut hingga benar-benar padam dibuatnya.

Jeritan serta tangisan Bunga sama sekali tidak dihiraukan Juragan Mahmud. Orang tua itu secara membabi buta menganiaya Syaiful yang teramat dia benci sampai jatuh tersungkur berkalang tanah. Tidak puas sampai di sana, lantas bersiap-siap hendak menjejakkan kaki pada bagian kepala. Namun di saat itulah, seseorang muncul sambil berteriak nyaring mengejutkan.

"Cukup, Mahmud! Hentikan perbuatanmu itu!" seru satu sosok tiba-tiba muncul di tempat itu.

Juragan Mahmud mengurungkan niat hendak menjejak kepala Syaiful yang sudah tidak berdaya. Laki-laki muda itu mengerang kesakitan terbaring di atas tanah basah berlumpur. Sekujur wajahnya pun hampir tidak bisa dikenali dipenuhi bercak darah.

Seketika orang tua berkumis putih lebat itu membalik badan. "Abah Targa, apa yang Abah lakukan di sini?" tanyanya begitu mengenali sosok yang baru saja datang tersebut. "Abah sengaja membuntutiku sejak tadikah?"

Sosok yang disebut Abah Targa itu mendeham sambil mengibaskan ujung jubah kala mendekat melewati kubangan air. Dia melirik sejenak pada Syaiful yang mengerang kesakitan, lalu menoleh dan memperhatikan Bunga serta tiga orang laki-laki anak buah Juragan Mahmud tersebut di belakang sana.

"Hhmmm, sekali saja kau hantam kepala anak muda itu, kau akan jadi pembunuh seumur hidupmu, Mahmud," ujar Abah Targa seraya menggelengkan kepala. Lantas mendekatkan mulut ke telinga sosok tua di sampingnya tersebut. "Di belakang sana ada anak perempuanmu sendiri. Itu yang ingin kau lakukan, menghabisi nyawa kekasihnya tepat di depan mata dia sendiri? Jangan bodoh kau, Mahmud."

Juragan Mahmud terdiam. Namun genggaman tangan pada batang obornya yang kini telah hancur, masih tampak bergetar hebat. Sisa amarah itu belum sepenuhnya lenyap akan nafsu ingin menghabisi sosok Syaiful.

Lekas Abah Targa merebut batang obor tadi, lalu melempar jauh-jauh ke arah rimbunan dedaunan.

"Terus … apa yang harus aku lakukan sekarang, Bah?" tanya Juragan Mahmud bingung, lantas memperhatikan Syaiful tidak jauh dari tempatnya berpijak. "Sumpah, ingin sekali aku menguliti manusia jahanam ini dan menaburkan dagingnya ke laut sana. Biar dia menjadi tumbal atas panen raya ikan yang sebentar lagi akan dilakukan."

Abah Targa menoleh kembali ke belakang, untuk memastikan jika Bunga serta ketiga laki-laki anak buah Juragan Mahmud tidak mendekat.

"Untuk sementara, jaga ucapanmu itu, Mahmud," balas orang tua berusia 60 tahun tersebut sembari menepuk-nepuk bahu sosok di sampingnya. Bukan sebuah persentuhan biasa, melainkan hendak mengalirkan energi tertentu untuk meredam gejolak amarah yang masih tersisa di dalam tubuh ayah kandung Bunga tersebut. "Apa pun yang keluar dari mulutmu saat ini, tidak lebih dari seonggok sampah hati akibat kebencianmu pada dia," imbuhnya kembali seraya menunjuk Syaiful menggunakan ekor mata.

Abah Targa menyarankan agar lekas membawa Syaiful ke balai pengobatan, sementara Bunga diajak pulang. Apalagi waktu dan alam semakin menggulita merangkak senja buta.

" … Biar sisanya, kita bicarakan nanti di balai pertemuan adat," ucap Abah Targa. "Untuk sementara, aku pusatkan dulu perhatian guna mengobati anak muda ini. Mudah-mudahan saja dia tidak mati dan kau Mahmud … tidak mendapat masalah besar nanti. Huh!"

Juragan Mahmud manggut-manggut paham. Sebentar kemudian, raut wajah mengasam sebelumnya, berubah tenang usai ditepuki Abah Targa tadi. Lekas pesohor Kampung Sarawu tersebut memberi perintah pada Amrul, Dillah, dan Syahrul untuk membawa Syaiful. Sementara dirinya bersama Abah Targa, pulang bersama Bunga.

"Apa yang terjadi pada Kang Iful, Abah?" tanya gadis itu digayuti rasa cemas, ketika melihat kondisi kekasihnya itu tampak tidak berdaya. Digendong di punggung Amrul sambil dijaga dari belakang oleh Dillah dan Syahrul.

Abah Targa melirik sebentar pada Juragan Mahmud, lalu menjawab pelan, "Tidak apa-apa, Nèng. Hanya sedikit lebam saja. Saya pikir … dalam dua pekan ke depan juga, sudah pulih kembali. Bukankah begitu, Mahmud?"

Yang ditanya hanya balas melirik sejenak. Sama sekali tidak berhasrat untuk berkata-kata maupun menjawab, terkecuali cekalan di pergelangan tangan Bunga kian bertambah erat. Bagi Juragan Mahmud, perkara Syaiful tidak ingin dipikirkan lebih lanjut. Tidak peduli walau pemuda tersebut nanti bakal meregang nyawa sekalipun. Namun di dalam benak, ingin segera mempertanyakan kebenaran akan ucapan dari sosok yang teramat dia benci tadi. Benarkah anak gadisnya itu sudah tidak lagi suci?

'Ya Tuhan … tidak terbayang, jika benar anakku ini telah melanggar aturan adat,' ucap laki-laki berusia 50 tahun itu bersedih hati. 'Dia harus dibuang ke tempat terpencil dan aku akan kehilangan satu-satunya orang yang sangat kucintai.'

Teringat akan kejadian beberapa tahun berlalu, Sumiarti istrinya Juragan Mahmud, meninggal dunia, tepat di kala usia Bunga sedang menginjak masa-masa remaja. Sejak itu pula, hidup lelaki tersebut dirasa berubah drastis dan tidak lagi sempurna. Keinginan untuk menikah lagi, memang kerap tebersit menggayuti sanubari. Namun dia khawatir jika sosok istri barunya kelak, tidak akan mampu menjadi ibu sambung yang baik bagi putri semata wayangnya itu. Maka dengan alasan tersebut, Juragan Mahmud bertekad untuk tetap menduda di tengah rayu-rayu dan godaan perempuan lain mengharap diperistri.

"Kalau Ayah hendak menikah lagi mah, silakan saja atuh, Ayah. Da Bunga mah tidak keberatan punya ibu baru," ujar Bunga di saat gadis itu baru melepas usia remaja. "Sekarang 'kan, Bunga sudah besar, Yah. Sudah bisa mengurus diri sendiri. Tinggal Ayah saja, mencari perempuan yang mau menemani hari-hari tua Ayah. He-he-he."

Juragan Mahmud tersenyum-senyum geli.

"Ayah mah bukannya tidak mau, Bunga," balas lelaki tersebut masih dengan wajah dihiasi mesem-mesem. "Hanya saja … kebanyakan dari perempuan yang mau sama Ayah itu, cuma mau enaknya saja, Nèng. Tidak seperti mendiang ibumu dulu, mau menemani Ayah dari masa duka sampai berubah jadi masa-masa suka. He-he. Takutnya pula, tidak bisa menyayangi anak semata wayang Ayah ini." Dia mencubit ujung hidung putrinya dengan gemas.

Bunga tertawa cekikikan. Dia sudah paham dan sangat memaklumi kekhawatiran ayahnya tersebut. Namun tanpa diketahui oleh sang anak, ternyata diam-diam Juragan Mahmud sudah lama menyimpan hati pada seorang perempuan lain bernama Warsih. Hanya saja hingga detik-detik terakhir, sosok perempuan tersebut tidak pernah mau menyambut gayung cinta dari Juragan Mahmud.

"Tidak, Mahmud! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi diperistri olehmu!" ujar Warsih seraya meludah di depan sosok lelaki tersebut kala itu. "Lagipula, aku dan Sumiarti itu bukan siapa-siapa lagi. Dia itu sahabatku sendiri dari sejak kami kecil. Itu kalau kamu mau tahu!"

"Aku tidak peduli kalian berdua pernah bersahabat atau tidak, tapi sejak dulu … aku selalu berharap padamu, Warsih. Bukan Sumiarti. Tapi mengapa kamu justru memilih menikah dengan Sukatna? Sementara Sumiarti kamu serahkan padaku," timpal Mahmud menahan gejolak kecewanya. "Bertahun-tahun aku berpura-pura mencintai Sumiarti dan berharap suatu saat kelak bisa mendapatkanmu. Sekarang … di saat orang-orang yang menghalangi cinta kita sudah tiada, kamu masih juga beralasan tidak mau menerima aku? Ada apa denganmu, Warsih?"

Perempuan itu menatap lekat sosok lelaki di hadapannya tersebut. Bibirnya gemetar disertai hidung kembang-kempis menahan dera ingin menangis. Sementara gelegak di balik dada, rasanya hendak meletup hebat saat itu juga menghantam muka seorang Mahmud.

Dalam pada itu, pihak lelaki pun masih pula mendesak. Berharap pertanyaannya lekas terjawab cepat.

"Sampai kapan kamu akan tetap berpura-pura seperti ini, Mahmud?" tanya Warsih disertai helaan napas kian menyesak. "Bahkan perihal kematian suamiku sendiri saja kamu masih mencoba bersandiwara padaku? Omong kosong! Kamu munafik! Kamulah yang telah membunuh Kang Sukatna! Akui itu, Mahmud!"

"Astaga …." Mahmud langsung terhenyak hebat.

BERSAMBUNG

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Heri Haryadi
Bagus banget. Lanjutkan ,...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status