Home / Historical / Transformasi Sang Tuan Putri / Bab 5 Babi gendut dan lumpur vulkanik

Share

Bab 5 Babi gendut dan lumpur vulkanik

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2025-12-06 13:08:44

Pada malam hari, Lusiana pergi ke pemandian. Biasanya dia akan berendam di kolam air panas di tempat tertutup. Kali ini dia pergi karena ingin memastikan sesuatu. Semua yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Rena dan Andi kembali bertemu di tempat yang sama, di bawah sinar rembulan, mereka kembali bermesraan.

Lusiana langsung memutar badan dan berniat kembali tapi sialnya kakinya malah tersandung dan tubuh gendutnya membuatnya kesulitan.

“Akh! Sialan! Tubuh gendut ini sungguh merepotkan!” keluhnya.

Andi dan penjaga yang menunggu di luar pemandian mendengar suaranya mereka bergegas untuk memeriksanya. Dan Andi segera membantu Rena untuk keluar dari dalam kolam.

“Kamu bersembunyilah, aku akan memeriksa sebentar,”

Rena menganggukkan kepalanya, dia segera pergi untuk bersembunyi.

Andi melihat Lusiana berjalan dengan kaki tertatih-tatih dari kejauhan. Arah wanita itu sedang menuju ke dapur istana.

“Dasar gendut! Dia pasti kelaparan, sudah hampir larut malam dan dia masih ingin makan! Tubuhnya itu sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi!”

Rena di belakang Andi ikut melihat. “Lusiana?”

“Ya, aku rasa dia terjatuh ketika ingin ke dapur.”

“Untuk apa dia ke dapur? Banyak pelayan di kediamannya, bukan?” tanya Rena dengan curiga. “Apa jangan-jangan dia mengintip kita?”

“Mengintip? Tidak mungkin! Apa kamu lupa Lusiana seperti apa? Dia wanita pencemburu dan tidak bisa mengendalikan diri! Jika dia benar-benar melihat kita apakah menurutmu dia bisa bersikap tenang seperti itu? Wanita itu pasti akan langsung menggila dan berkata, ‘teganya kamu padaku – Andi, Rena, teganya kalian berdua,’ hahahaha!” Andi berpura-pura menirukan perkataan Lusiana kali terakhir saat memergoki mereka sebelumnya.

Tidak lama kemudian, mereka melihat Lusiana keluar dari dalam dapur sambil menggenggam dua buah bakpao. Lusiana sedikit gemetar dan memakannya dengan sedikit memaksakan diri, sebelumnya dia sudah berencana untuk menguruskan badan tapi situasi sekarang sama sekali tidak menguntungkan. Lusiana berjalan menuju ke kediamannya.

“Untungnya mereka tidak curiga! Jika mereka tahu aku tidak sengaja mengintip dua orang itu pasti akan menceburkanku ke dalam air, dan nyawaku pasti melayang! Sebaiknya aku terus bersandiwara dan lebih peduli pada diriku sendiri, tubuh gendut ini sangat merepotkan!”

***

Pada keesokan paginya, Lusiana memakai masker sambil melakukan beberapa gerakan sederhana. Dia tidak bisa leluasa untuk berolahraga karena kondisi tubuhnya sangat gemuk. Keringatnya mulai mengucur deras dan dia tengkurap di beranda depan.

Rena sengaja datang untuk melihat kondisinya, dan melihat wajah Lusiana penuh dengan krim hitam serta keringatnya yang membasahi tubuh dia langsung tertawa.

“Hahahahaha! Kakak Lusi, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah kehabisan akal untuk menjadi cantik? Kenapa wajahmu dipenuhi dengan kotoran babi? Hahahaha!”

Lusiana menelan ludahnya.

Ko-kotoran Babi katamu? Rena ucapanmu ini terdengar sangat keterlaluan. Tung-tunggu apa dia sudah memakai krim yang aku berikan padanya?

Lusiana bertanya-tanya dalam hati. Melihat wajah Rena sepertinya wanita itu pasti sudah membuang benda tersebut.

“Ah, ini? Adikku sayang! Ini bukan kotoran Babi, ini adalah lumpur vulkanik dan bagus untuk meregenerasi kulit! Dengan lumpur ini kulitmu bisa menjadi lebih halus.” Tuturnya.

Rena mengipasi wajahnya sendiri dengan sombong.

Apa kamu pikir aku akan percaya dengan omongan sialmu? Aku tidak akan termakan jebakanmu lagi. Karena ulahmu kemarin perutku sampai mulas dan diare! Wanita sialan, meski bersaing denganku untuk menjadi cantik. Beberapa tahun pun berusaha kamu si gendut jelek tidak akan pernah berhasil!

“Kakak pakai saja sendiri! Aku tidak butuh itu!” tolaknya cepat.

Lusiana pergi untuk menemuinya dan duduk di sampingnya. “Kali ini kamu datang ke sini, aku tidak menyiapkan apa pun,” ujarnya basa-basi.

“Kakak, aku sudah menerima hadiahmu kemarin tapi sepertinya salep krim buatanmu sama sekali tidak cocok, aku datang untuk mengembalikannya!” ujarnya sambil meminta pelayannya untuk meletakkan salep itu di meja.

Lusiana mengambilnya dan menggenggamnya erat. Dia meremasnya seperti ingin menghancurkan benda di genggaman tangannya itu.

Seharusnya aku tahu cara ini tidak akan pernah berhasil.

“Kakak, aku doakan kamu bisa menjadi lebih cantik, hahahaha! Semoga sukses dengan usahamu!”

“Tentu saja! Aku pasti akan menjadi cantik, dan aku akan menikah dengan Pangeran Andi, kami akan bersama selamanya, tidak lama lagi....”

Wajah Rena seketika memucat dan dia menoleh ke arah Lusiana dengan sinis. Diam-diam dia mengumpat, sengaja tidak merendahkan nada suaranya.

“Babi jelek gendut sepertimu, hanya akan membuat Pangeran Andi muntah! Lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya!”

Lusiana sangat geram sekali. Dia berdiri sambil berkacak-pinggang.

“Sisil! Buang ini ke tempat sampah!” perintahnya sambil menyerahkan salep yang dikembalikan oleh Rena tadi.

Sisil menerimanya dan melakukan perintahnya.

Setelah membersihkan tubuhnya, Lusiana sengaja pergi ke klinik Tabib Alex. Dia pergi ke sana bersama Sisil. Sebenarnya dia sangat kesal dan marah jadi dia ingin menghibur diri. Lusiana bukan sengaja ingin berebut pria dengan Rena tapi harga dirinya sudah diinjak-injak dan dia merasa sangat terluka. Lusiana juga tidak bisa membahas masalah itu dengan siapa pun. Melihat Andi yang selalu berusaha untuk menyingkirkannya agar bisa lepas dari ikatan pernikahan serta terus berusaha untuk membungkam mulut Lusiana agar tidak membocorkan aibnya membuat Lusiana merasa muak.

Alex kaget sekali melihat Lusiana datang tiba-tiba.

“Yang-mulia? Kali ini apa yang membawa Anda datang ke sini?”

“Entahlah, apa kamu punya obat untuk menguruskan badan?” nada suaranya terdengar lelah dan putus asa. Sebelumnya Lusiana sudah memutuskan untuk melakukan olahraga tapi tubuhnya yang terlewat besar membuatnya kesulitan, dan dia hanya bisa melakukan beberapa gerakan kecil.

Tabib Alex menatap penampilan Lusiana dari ujung kepala sampai ujung kaki. Meski dengan obat, untuk menjadi kurus juga butuh waktu yang tidak sebentar. Prosesnya juga tergantung pada setiap individu masing-masing. Dia tahu Lusiana adalah seorang yang suka makan dan malas bergerak.

“Yang-mulia, sejak kapan Anda ingin menguruskan badan? Tubuh Anda terlalu lemah dan Anda paling tidak bisa menahan lapar,”

Lusiana mengukir senyum kaku lalu menganggukkan kepalanya. “Ya, karena aku sangat suka makan, berikan aku obat pencegah lapar!”

Tabib Alex mengambil obat dari rak laci lalu menyerahkannya. “Ini ada sepuluh pil, Yang-mulia bisa mengonsumsinya sehari dua pil, jika tidak manjur saya akan membuat obat lain dengan dosis yang lebih kuat.”

Lusiana membuka tutupnya lalu mencium botol, aromanya sangat khas dengan rimpang-rimpang berkhasiat serta daun obat yang biasa digunakan untuk diet.

Ternyata di zaman kuno obat seperti ini sudah diproduksi, tapi sepertinya hanya di istana kerajaan.

Lusiana tersenyum dan kedua matanya bersinar senang.

“Kalau begitu aku akan membawanya! Sampai jumpa Tabib Alex! Buatkan aku dosis yang lebih tinggi!” perintahnya.

“Baik, Yang-mulia!” Tabib Alex mengangguk patuh.

“Sisil, berikan uangnya!” perintahnya.

“Ini uangnya,” ujarnya pada Tabib Alex.

Tiga hari kemudian, Lusiana merasa perutnya tidak begitu lapar lagi. Dia begitu giat dan melakukan olahraga setiap hari. Lusiana sengaja fokus dengan jadwalnya untuk menguruskan badan.

Di sisi lain, Rena tidak pernah melihat Lusiana ikut hadir dalam jamuan di istana, dalam acara pesta bunga para tuan putri pejabat dan sosialisasi lainnya juga tidak pernah datang.

“Sebenarnya apa yang dilakukan wanita itu? Ayahanda terus memintaku untuk menggantikannya memimpin acara di dalam pertemuan para putri pejabat! Kalau terus begini bagaimana aku bisa melakukan semua rencanaku untuk mempermalukan babi jelek itu di depan orang-orang!” keluhnya dengan frustrasi.

Pagi ini Rena kembali datang mengunjungi Lusiana untuk melihat kondisinya. Sudah beberapa hari sejak dia datang terakhir kali. Saat dia tiba di kediamannya, dia melihat wanita dengan tubuh lebih kurus dari sebelumnya tengkurap di beranda depan kediaman. Baju yang dipakainya masih sama dan wajahnya juga masih sama diolesi dengan lumpur yang dia sebut ‘tai babi’ di pertemuan beberapa hari yang lalu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 48 Anggap saja aku tidak ada

    Yudistira tidak menjawab, dia juga tidak mungkin membeberkan identitas asli Lusiana. Tidak ada orang yang akan percaya dengan kebenaran yang mereka rahasiakan. Setelah cukup lama memikirkannya barulah Yudistira angkat bicara.“Sebenarnya masalah janji pernikahan memang masih bisa dirundingkan, tapi Andi begitu berkeras untuk tetap menikah, kemarin dia datang bersama Lusiana juga untuk memperjelas lagi bahwa tidak ada rencana pembatalan atau apa pun,”“Lalu, bagaimana dengan Putri Lusiana? Apakah dia setuju?”Yudistira menganggukkan kepalanya. Anan langsung merasa tidak berdaya.Lusiana sungguh tidak ingin membatalkan janji pernikahannya dengan Andi? Padahal jelas-jelas Andi tidak mencintainya! Di depan matanya Andi juga hanya peduli dengan Rena. Ini tidak masuk akal sama sekali!***Wilda melihat Sisil dan beberapa orang pelayan dari kediaman Lusiana sedang sibuk memasukkan barang ke dalam kereta kuda. Wilda langsung bertanya padanya, "Di mana Putri Lusiana?"Tidak lama kemudian Wild

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 47 Mengejar Lusiana

    “Sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganmu! Lebih baik pikirkan cara agar dia tidak jadi pergi ke kuil! Firasatku sungguh kurang baik tentang keputusannya itu! Bagaimana kalau di jalan ada bandit gunung yang menyerangnya? Aku cemas sekali!”Wilda memutar otaknya, dia tiba-tiba memiliki ide.“Kak, bagaimana kalau besok aku pergi ke istananya? Aku ingin membahas pekerjaan serta bertanya tentang produk yang akan kami jual bersama di toko, dia tentu tidak akan lepas tangan begitu saja setelah bersedia bekerja sama denganku!”Anan langsung berdiri dari kursinya, dia mengukir senyum lega. “Oke! Aku akan mengantarkanmu! Kita akan bicara dengannya!”Wilda tertawa melihat Anan keluar dari dalam ruangan dengan senyum di bibirnya setelah sepanjang hari hanya menunjukkan emosinya.Wilda bersandar di kursi malas sambil menatap langit-langit ruangan.“Lusiana pergi bersama dengan Andi berdua? Ini sudah tidak masuk akal! Lalu Rena malah tert

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 46 Menolak mengakui

    “Adik Rena, ini karena Putri Lusiana ingin secepatnya sampai ke rumah, aku terburu-buru. Maafkan aku tadi sudah pergi lebih dulu,”Ratu Anggita langsung tersedak melihat perilaku Andi. “Uhuk!”Andi buru-buru melepaskan tangan Rena. Rena langsung berlutut di depan Ratu Anggita.“Ibunda Ratu, Pangeran Andi hanya sedikit peduli padaku, dia tidak melakukan kesalahan sama sekali,” ujarnya sambil melirik ke arah Andi di sampingnya.Lusiana sangat bosan dengan sandiwara yang sering kali dia lihat di depan matanya. Lusiana segera angkat bicara.“Heh, Rena! Berdirilah, siapa yang ingin menghukum kalian? Bukannya Andi sudah bilang kami pergi karena terburu-buru ingin melapor pada Ayahanda?”Ratu Anggita mengibaskan lengan bajunya dan meminta Rena berdiri. “Siapa yang memintamu berlutut? Berdirilah!”Rena mengukir senyum palsu lalu segera berdiri. Dia terlihat tidak sabar dengan keputusan Raja Yudistira tentang

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 45 Desakan Andi

    Mata Andi mengerjap, dia menggelengkan kepalanya. Pikir Lusiana Andi sudah waras dan tidak tergoda oleh kecantikan Rena tapi tidak disangka beberapa detik kemudian Andi bertanya padanya seolah ucapan Lusiana hanya bualan semata. Dia juga memperhitungkan kedekatan Lusiana dengan Anan sebelumnya.“Aku bisa menjadikannya selirku, apakah kamu keberatan? Lagi pula aku seorang pangeran dan aku berhak mendapatkan istri lebih dari satu, selain itu kamu juga sudah membalasku! Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa kalau kamu dekat dengan Paman Anan? Aku bukan orang bodoh, Lusiana!” Andi menatapnya dengan tatapan mata penuh kemarahan. Lusiana terkejut, hanya beberapa saat ekspresinya segera normal kembali kemudian ia menoleh ke arah Andi sambil menghela napas berat.“Oh? Aku dekat dengannya karena kami bekerja sama, aku juga dekat dengan Putri Wilda. Apa yang kamu pikirkan, Pangeran?”Andi mengerutkan keningnya, dia merasa Lusiana sudah meremehkannya. “Kerj

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 44 Kita pulang berdua saja

    ***Lusiana terpaku bersandar di dinding, dia sudah berpikir terlalu jauh. Anan masih menunggu jawabannya.Otakku dipenuhi dengan kotoran! Setiap Anan mendekatiku, aku selalu berpikir terlalu jauh dan melewati batas! Aku bahkan membayangkan situasinya secara keseluruhan di ranjang! tidak bisa terus-menerus berada di sisinya, bisa gawat!“Lusiana? Apa yang kamu pikirkan? Kenapa tidak menjawabku? Apakah isi kepalamu sudah berpindah tempat ke kaki?” keluhnya.Lusiana tersadar dari lamunannya.“Hah? Tidak-tidak! Aku hanya ingin fokus memulihkan diri, masalah tinggal di sisi Pangeran sebenarnya aku .... aku merasa-” Lusiana tidak bisa menjelaskan apa yang dia pikirkan, dia buru-buru menepis lengan Anan dari kedua bahunya dan keluar dari dalam ruangan.“Lusiana, aku belum mendengar alasanmu!” teriak Anan dengan lantang.Di koridor, Andi melihat Lusiana keluar dari dalam ruangan dan tidak lama setelahnya dia melihat Anan juga keluar dari dalam ruangan yang sama.“Me-mereka tidak mungkin bers

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 43 Untuk membalas dendam

    Raja Deja segera angkat bicara. “Sudah-sudah, Pangeran Andi, duduklah dengan tenang. Anan hanya bercanda, dia tidak mungkin memiliki niat buruk pada Putri Lusiana, lagi pula Raja Yudistira sudah memberikan izin pada Putri Lusiana untuk dirawat sementara di sini, kalau kamu cemas bukankah kamu bisa datang untuk menjenguknya?”Andi merasa keputusan itu tetap tidak adil. Dia menatap Lusiana dengan tatapan marah. Sementara Rena juga cemberut, dia tidak tahu rencana yang sudah disusunnya akan sia-sia belaka. Lusiana pikir ide pergi ke kuil yang ada di gunung juga bukan sesuatu yang buruk. Dia butuh waktu untuk memikirkan rencana lain dan dia juga ingin menenangkan diri dari keributan dan persaingan yang tidak ada habisnya di dalam istana.“Adik Rena, aku setuju denganmu!”Lusiana tidak bisa mengatakan alasannya, dia jelas-jelas tahu ini adalah jebakan yang disiapkan Rena untuk menyerangnya. Tidak tahu berapa banyak bahaya yang akan Lusiana lalui di da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status