MasukPada malam hari, Lusiana pergi ke pemandian. Biasanya dia akan berendam di kolam air panas di tempat tertutup. Kali ini dia pergi karena ingin memastikan sesuatu. Semua yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Rena dan Andi kembali bertemu di tempat yang sama, di bawah sinar rembulan, mereka kembali bermesraan.
Lusiana langsung memutar badan dan berniat kembali tapi sialnya kakinya malah tersandung dan tubuh gendutnya membuatnya kesulitan. “Akh! Sialan! Tubuh gendut ini sungguh merepotkan!” keluhnya. Andi dan penjaga yang menunggu di luar pemandian mendengar suaranya mereka bergegas untuk memeriksanya. Dan Andi segera membantu Rena untuk keluar dari dalam kolam. “Kamu bersembunyilah, aku akan memeriksa sebentar,” Rena menganggukkan kepalanya, dia segera pergi untuk bersembunyi. Andi melihat Lusiana berjalan dengan kaki tertatih-tatih dari kejauhan. Arah wanita itu sedang menuju ke dapur istana. “Dasar gendut! Dia pasti kelaparan, sudah hampir larut malam dan dia masih ingin makan! Tubuhnya itu sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi!” Rena di belakang Andi ikut melihat. “Lusiana?” “Ya, aku rasa dia terjatuh ketika ingin ke dapur.” “Untuk apa dia ke dapur? Banyak pelayan di kediamannya, bukan?” tanya Rena dengan curiga. “Apa jangan-jangan dia mengintip kita?” “Mengintip? Tidak mungkin! Apa kamu lupa Lusiana seperti apa? Dia wanita pencemburu dan tidak bisa mengendalikan diri! Jika dia benar-benar melihat kita apakah menurutmu dia bisa bersikap tenang seperti itu? Wanita itu pasti akan langsung menggila dan berkata, ‘teganya kamu padaku – Andi, Rena, teganya kalian berdua,’ hahahaha!” Andi berpura-pura menirukan perkataan Lusiana kali terakhir saat memergoki mereka sebelumnya. Tidak lama kemudian, mereka melihat Lusiana keluar dari dalam dapur sambil menggenggam dua buah bakpao. Lusiana sedikit gemetar dan memakannya dengan sedikit memaksakan diri, sebelumnya dia sudah berencana untuk menguruskan badan tapi situasi sekarang sama sekali tidak menguntungkan. Lusiana berjalan menuju ke kediamannya. “Untungnya mereka tidak curiga! Jika mereka tahu aku tidak sengaja mengintip dua orang itu pasti akan menceburkanku ke dalam air, dan nyawaku pasti melayang! Sebaiknya aku terus bersandiwara dan lebih peduli pada diriku sendiri, tubuh gendut ini sangat merepotkan!” *** Pada keesokan paginya, Lusiana memakai masker sambil melakukan beberapa gerakan sederhana. Dia tidak bisa leluasa untuk berolahraga karena kondisi tubuhnya sangat gemuk. Keringatnya mulai mengucur deras dan dia tengkurap di beranda depan. Rena sengaja datang untuk melihat kondisinya, dan melihat wajah Lusiana penuh dengan krim hitam serta keringatnya yang membasahi tubuh dia langsung tertawa. “Hahahahaha! Kakak Lusi, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah kehabisan akal untuk menjadi cantik? Kenapa wajahmu dipenuhi dengan kotoran babi? Hahahaha!” Lusiana menelan ludahnya. Ko-kotoran Babi katamu? Rena ucapanmu ini terdengar sangat keterlaluan. Tung-tunggu apa dia sudah memakai krim yang aku berikan padanya? Lusiana bertanya-tanya dalam hati. Melihat wajah Rena sepertinya wanita itu pasti sudah membuang benda tersebut. “Ah, ini? Adikku sayang! Ini bukan kotoran Babi, ini adalah lumpur vulkanik dan bagus untuk meregenerasi kulit! Dengan lumpur ini kulitmu bisa menjadi lebih halus.” Tuturnya. Rena mengipasi wajahnya sendiri dengan sombong. Apa kamu pikir aku akan percaya dengan omongan sialmu? Aku tidak akan termakan jebakanmu lagi. Karena ulahmu kemarin perutku sampai mulas dan diare! Wanita sialan, meski bersaing denganku untuk menjadi cantik. Beberapa tahun pun berusaha kamu si gendut jelek tidak akan pernah berhasil! “Kakak pakai saja sendiri! Aku tidak butuh itu!” tolaknya cepat. Lusiana pergi untuk menemuinya dan duduk di sampingnya. “Kali ini kamu datang ke sini, aku tidak menyiapkan apa pun,” ujarnya basa-basi. “Kakak, aku sudah menerima hadiahmu kemarin tapi sepertinya salep krim buatanmu sama sekali tidak cocok, aku datang untuk mengembalikannya!” ujarnya sambil meminta pelayannya untuk meletakkan salep itu di meja. Lusiana mengambilnya dan menggenggamnya erat. Dia meremasnya seperti ingin menghancurkan benda di genggaman tangannya itu. Seharusnya aku tahu cara ini tidak akan pernah berhasil. “Kakak, aku doakan kamu bisa menjadi lebih cantik, hahahaha! Semoga sukses dengan usahamu!” “Tentu saja! Aku pasti akan menjadi cantik, dan aku akan menikah dengan Pangeran Andi, kami akan bersama selamanya, tidak lama lagi....” Wajah Rena seketika memucat dan dia menoleh ke arah Lusiana dengan sinis. Diam-diam dia mengumpat, sengaja tidak merendahkan nada suaranya. “Babi jelek gendut sepertimu, hanya akan membuat Pangeran Andi muntah! Lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya!” Lusiana sangat geram sekali. Dia berdiri sambil berkacak-pinggang. “Sisil! Buang ini ke tempat sampah!” perintahnya sambil menyerahkan salep yang dikembalikan oleh Rena tadi. Sisil menerimanya dan melakukan perintahnya. Setelah membersihkan tubuhnya, Lusiana sengaja pergi ke klinik Tabib Alex. Dia pergi ke sana bersama Sisil. Sebenarnya dia sangat kesal dan marah jadi dia ingin menghibur diri. Lusiana bukan sengaja ingin berebut pria dengan Rena tapi harga dirinya sudah diinjak-injak dan dia merasa sangat terluka. Lusiana juga tidak bisa membahas masalah itu dengan siapa pun. Melihat Andi yang selalu berusaha untuk menyingkirkannya agar bisa lepas dari ikatan pernikahan serta terus berusaha untuk membungkam mulut Lusiana agar tidak membocorkan aibnya membuat Lusiana merasa muak. Alex kaget sekali melihat Lusiana datang tiba-tiba. “Yang-mulia? Kali ini apa yang membawa Anda datang ke sini?” “Entahlah, apa kamu punya obat untuk menguruskan badan?” nada suaranya terdengar lelah dan putus asa. Sebelumnya Lusiana sudah memutuskan untuk melakukan olahraga tapi tubuhnya yang terlewat besar membuatnya kesulitan, dan dia hanya bisa melakukan beberapa gerakan kecil. Tabib Alex menatap penampilan Lusiana dari ujung kepala sampai ujung kaki. Meski dengan obat, untuk menjadi kurus juga butuh waktu yang tidak sebentar. Prosesnya juga tergantung pada setiap individu masing-masing. Dia tahu Lusiana adalah seorang yang suka makan dan malas bergerak. “Yang-mulia, sejak kapan Anda ingin menguruskan badan? Tubuh Anda terlalu lemah dan Anda paling tidak bisa menahan lapar,” Lusiana mengukir senyum kaku lalu menganggukkan kepalanya. “Ya, karena aku sangat suka makan, berikan aku obat pencegah lapar!” Tabib Alex mengambil obat dari rak laci lalu menyerahkannya. “Ini ada sepuluh pil, Yang-mulia bisa mengonsumsinya sehari dua pil, jika tidak manjur saya akan membuat obat lain dengan dosis yang lebih kuat.” Lusiana membuka tutupnya lalu mencium botol, aromanya sangat khas dengan rimpang-rimpang berkhasiat serta daun obat yang biasa digunakan untuk diet. Ternyata di zaman kuno obat seperti ini sudah diproduksi, tapi sepertinya hanya di istana kerajaan. Lusiana tersenyum dan kedua matanya bersinar senang. “Kalau begitu aku akan membawanya! Sampai jumpa Tabib Alex! Buatkan aku dosis yang lebih tinggi!” perintahnya. “Baik, Yang-mulia!” Tabib Alex mengangguk patuh. “Sisil, berikan uangnya!” perintahnya. “Ini uangnya,” ujarnya pada Tabib Alex. Tiga hari kemudian, Lusiana merasa perutnya tidak begitu lapar lagi. Dia begitu giat dan melakukan olahraga setiap hari. Lusiana sengaja fokus dengan jadwalnya untuk menguruskan badan. Di sisi lain, Rena tidak pernah melihat Lusiana ikut hadir dalam jamuan di istana, dalam acara pesta bunga para tuan putri pejabat dan sosialisasi lainnya juga tidak pernah datang. “Sebenarnya apa yang dilakukan wanita itu? Ayahanda terus memintaku untuk menggantikannya memimpin acara di dalam pertemuan para putri pejabat! Kalau terus begini bagaimana aku bisa melakukan semua rencanaku untuk mempermalukan babi jelek itu di depan orang-orang!” keluhnya dengan frustrasi. Pagi ini Rena kembali datang mengunjungi Lusiana untuk melihat kondisinya. Sudah beberapa hari sejak dia datang terakhir kali. Saat dia tiba di kediamannya, dia melihat wanita dengan tubuh lebih kurus dari sebelumnya tengkurap di beranda depan kediaman. Baju yang dipakainya masih sama dan wajahnya juga masih sama diolesi dengan lumpur yang dia sebut ‘tai babi’ di pertemuan beberapa hari yang lalu.Pada malam hari, Lusiana pergi ke pemandian. Biasanya dia akan berendam di kolam air panas di tempat tertutup. Kali ini dia pergi karena ingin memastikan sesuatu. Semua yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Rena dan Andi kembali bertemu di tempat yang sama, di bawah sinar rembulan, mereka kembali bermesraan. Lusiana langsung memutar badan dan berniat kembali tapi sialnya kakinya malah tersandung dan tubuh gendutnya membuatnya kesulitan. “Akh! Sialan! Tubuh gendut ini sungguh merepotkan!” keluhnya. Andi dan penjaga yang menunggu di luar pemandian mendengar suaranya mereka bergegas untuk memeriksanya. Dan Andi segera membantu Rena untuk keluar dari dalam kolam. “Kamu bersembunyilah, aku akan memeriksa sebentar,” Rena menganggukkan kepalanya, dia segera pergi untuk bersembunyi. Andi melihat Lusiana berjalan dengan kaki tertatih-tatih dari kejauhan. Arah wanita itu sedang menuju ke dapur istana. “Dasar gendut! Dia pasti kelaparan, sudah hampir larut malam dan dia masih ingin maka
Di sisi lain, Andi sudah mendapatkan laporan tentang perkembangan Lusiana. Salah satu pelayan yang dia tugaskan datang ke penginapan untuk melaporkan semua yang terjadi baru-baru ini.“Yang-mulia, baru-baru ini Putri Lusiana lebih banyak menghabiskan waktu untuk meracik obat-obatan, dia juga mengirimkan ramuan untuk Nona Rena. Menurutnya ramuan itu sangat bagus untuk kesehatan, belakangan ini hanya itu saja yang terjadi.”“Selain itu, bagaimana kondisinya? Apakah dia masih tidak ingat tentang masa lalunya?”“Ya, Putri Lusiana hanya fokus untuk memulihkan diri, dia juga mempelajari beberapa bahan untuk membuat krim,”Andi mengernyitkan keningnya. “Si jelek gendut itu ingin membuat krim?”“Ya, benar, itu untuk mengobati iritasi di kulit wajahnya,” lanjut pelayan itu.Andi menyunggingkan senyum licik, dia tahu sejenis racun. Dan dia bisa menggunakan racun itu dengan dicampur krim milik Lusiana, dengan begitu efeknya akan lebih mudah. Racun itu tidak sungguh-sungguh akan membunuhnya secar
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lusiana datang berkunjung ke kediaman Rena. Ini adalah yang pertama kali sejak dia bangkit dari kematian.“Adik Rena, sayang! Apa kamu sudah bangun?” panggilnya saat dia baru melangkahkan kaki di halaman kediaman Rena. Lusiana melongokan kepalanya ke sekitar, ini adalah pengalamannya yang pertama semenjak dirinya masuk ke dalam tubuh putri gendut itu. Lusiana ingin mempelajari banyak hal, terutama lingkungan di mana musuhnya tinggal.Pelayan yang melayani Rena pun terkejut. Mereka gugup dan langsung melaporkan tentang kedatangan Lusiana.“Nona-nona! Putri Lusiana datang, beliau sedang menuju ke sini!”Rena masih sangat mengantuk, dia semalaman begadang karena gelisah memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk membuat Lusiana celaka. Wajahnya kusut, bajunya juga sangat berantakan.“Apa maksudmu? Matahari bahkan belum terbit, mana mungkin si jelek gendut itu bisa bangun sepagi ini, hah?! Biasanya dia baru bangun sekitar pukul sepuluh pagi, sudah
Coretan boneka kecil dengan leher tergorok yang sengaja ia buat untuk menakut-nakuti Tabib Alex. Rencananya sangat sederhana, mempermainkan dan menguasai ketakutan orang adalah hal remeh baginya, Lusiana ingin memancing mereka datang membawa apa yang ia butuhkan. Di pikirannya yang masih setengah modern, trik kecil seperti ini adalah permainan psikologis yang mudah dimenangkan.Tidak lama setelah Sisil berlari dan pergi, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa di lorong. Pintu kamar terbuka dan seorang lelaki bertubuh gemuk dengan janggut tipis masuk sambil tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak pucat.“Tabib Alex!” Lusiana menyambut dengan senyuman manis. Suaranya terdengar berbeda, asing di tenggorokan tubuh barunya, dia berusaha bicara semanis mungkin. “Anda sudah datang.”Tabib itu menunduk, suaranya serak. “Yang-mulia, tadi aku melihat... gambar menakutkan itu di kertas surat yang Anda kirimkan. Aku... aku khawatir roh jahat masih mengganggu kamar ini. Aku membawa ramuan-ramuan pember
Pada pagi hari dia bangun dengan tubuh yang sama seperti yang dia lihat semalam. Lusiana duduk termenung di tepi ranjang, dia mencoba memahami semua yang baru saja terjadi padanya. Pertama-tama dia meraba pipinya, kulitnya terasa sangat jauh berbeda. Saat melihat ke pantulan cermin yang diletakkan di sudut ruangan, matanya spontan melotot. “I-ini... siapa wanita yang ada di dalam cermin? Itu bukan aku!” ujarnya dengan ekspresi terkejut. Yang dilihatnya bukan wajah cantik artis modern Lusiana, melainkan wajah bulat dengan pipi tembam, kulit kusam, dan bekas jerawat yang memenuhi seluruh permukaan kulit wajahnya. Rambutnya terasa kusut-kering, acak-acakan, berantakan, jauh dari gaya mewah artis papan atas. Lusiana melangkah mundur dari depan cermin dengan wajah pucat. “Apa maksudnya semua ini? Aku... Kenapa-kenapa wajahku jadi jelek sekali?!” dia masih tidak percaya dengan semuanya. Kemarin dia berpikir semua ini hanya mimpi dan dia akan bangun dengan parasnya yang cantik. Satu p







