Home / Historical / Transformasi Sang Tuan Putri / Bab 6 Bukan putri bodoh lagi

Share

Bab 6 Bukan putri bodoh lagi

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2026-02-01 09:51:55

“Kakak Lusi!” sapanya seraya mengukir senyum palsu di bibirnya.

Lusiana bangun dari posisinya lalu duduk di alas yang dia gunakan untuk berolahraga. Melihat Rena datang mengunjunginya keningnya mengernyit.

Untuk apa dia datang ke sini? Bukankah dia selalu sibuk untuk datang memenuhi undangan pertemuan para wanita pejabat?

Karena Lusiana tidak bereaksi, Rena berjalan lebih dekat dan membungkuk untuk melihat ekspresinya. Dia mendapatinya sedang melamun.

“Kakak? Kakak melamun? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya berpura-pura perhatian.

Lusiana bangun dan duduk di kursi. Dia sebenarnya hanya ingin fokus melatih diri dan membuat aneka ramuan herbal kecantikan.

Rena pura-pura sedih lalu menyentuh lengan Lusiana. “Kakak? Bukannya Kakak baik-baik saja selama ini? Kenapa tidak mau datang ke acara pertemuan? Aku terus ditanya para tamu undangan. Mereka bilang aku sengaja datang menggantikanmu untuk merebut posisimu!” lanjutnya.

Lusiana menuang teh ke dalam cangkir, dia masih belum menjawab.

“Kakak?”

“Minumlah,” Lusiana meletakkan cangkir di depan Rena.

Rena takut diracuni, dia yakin Lusiana selalu memiliki niat jahat terhadapnya. Melihat Rena tidak menyentuh cangkirnya sedikit pun, Lusiana kembali mendesaknya.

“Kenapa? Kamu tidak mau aku pergi ke acara?”

“Ka-kakak, aku sudah minum teh tadi, jika minum lagi aku bisa bolak-balik pergi ke toilet,” tolaknya.

“Ya sudah, kamu tidak ingin aku pergi? Kalau begitu kamu tetap gantikan aku pergi ke acara, aku akan tinggal di kediaman saja. Masalah gosip yang tersebar, suatu hari nanti aku akan meluruskannya.”

Rena tidak menyangka Lusiana akan berkata demikian bukan malah menindasnya seperti kemarin-kemarin.

Apa ini? Apa emosinya sudah membaik? Sebelumnya dia mati-matian ingin membalasku! Apa Lusiana yang dulu sudah kembali? Tapi jika aku tidak meminum tehnya, kapan aku bisa membuatnya dipermalukan di depan semua tamu undangan? Pokoknya dia harus datang!

Rena bertanya-tanya dalam hatinya.

“Kak, aku akan meminumnya, berjanjilah padaku kamu akan datang besok! Besok acaranya pameran bunga. Putri pejabat yang mengadakannya, aku dengar dia masih saudaranya Pangeran Andi,”

Lusiana menganggukkan kepalanya.

“Ya, baiklah, aku akan datang ke acara itu.”

Rena sangat senang karena dia berencana ingin mempermalukan Lusiana besok, dengan begitu semua pangeran tidak akan pernah sudi mendekatinya lagi.

Pada sore hari Lusiana berendam dengan ramuan racikannya, kulitnya terlihat lebih halus dan pinggangnya juga jauh lebih langsing sekarang.

“Rena....Rena, dia pasti ingin mempermalukanku di depan semua orang! Wanita itu sungguh-sungguh ingin menyingkirkanku! Coba saja, aku akan melayanimu sampai akhir!”

Lusiana menyentuh air seputih susu di dalam bak mandinya, kulitnya terasa lebih tenang dan nyaman.

***

Pagi-pagi di kediaman Lusiana.

Lusiana sudah bersiap-siap, dia tidak berdandan menor seperti putri pejabat kebanyakan. Dia hanya memoles beberapa bedak dasar untuk melembapkan kulit dan sedikit tabir surya, make up yang dia pakai dulu dengan yang sekarang sangat jauh berbeda. Penampilannya juga terlihat lebih elegan. Lusiana sangat pandai memilih warna baju dan dia memutuskan untuk memilih warna yang tidak terlalu mencolok karena kurang cocok dengan warna kulitnya.

Sisil sejak tadi memperhatikannya, dia takjub dengan penampilan Lusiana yang sekarang.

“Yang-mulia, Anda terlihat sangat cantik dan elegan! Selain itu tubuh Anda juga tampak lebih ramping sekarang, sangat berbeda dengan yang dulu!”

Lusiana hanya mengukir senyum dan tidak menjawab.

“Hari ini aku akan pergi ke acara pameran bunga, aku dengar mereka masih saudaranya Andi, kamu ikutlah bersamaku!” ajaknya.

“Baik, Yang-mulia!”

Raja Yudistira sangat senang karena Lusiana bersedia keluar dari kediaman setelah beberapa minggu mengurung diri di kediamannya. Pikirnya putrinya itu tidak akan sembuh dan terus bersedih karena masalah di masa lalu. Yudistira sendiri tidak tahu masalah apa sebenarnya yang menyebabkan Lusiana sampai meminum racun waktu itu, dia tidak pernah menceritakannya.

Lusiana naik kereta kuda bersama Sisil, sementara Rena bersama pelayan pribadinya.

Sampai di lokasi, Lusiana turun dari dalam kereta ditemani Sisil.

Rena menyelipkan pisau di balik lengan bajunya, dia berencana merobek gaun yang dikenakan Lusiana agar Lusiana merasa malu.

Lusiana berjalan tenang di samping Sisil lalu masuk ke dalam. Bunga-bunga mekar dalam vas diletakkan di berbagai sisi. Sungguh pemandangan yang sangat cantik. Lusiana tidak begitu tertarik dengan pertemuan seperti itu.

Undangan di acara tersebut tidak hanya didatangi oleh para putri pejabat melainkan juga para pangeran dari beberapa negara.

Sisil tampak sangat senang dan bersemangat karena baru kali ini dia pergi ke acara seperti itu. Gadis itu terus mengekor ke mana pun Lusiana pergi.

Di tengah kerumunan para tamu, Rena mencari cara untuk berpura-pura terjatuh. Dengan begitu dia bisa membuat ujung pisaunya merobek sisi gaun Lusiana.

Lusiana yang sekarang sangat berhati-hati, dia tahu kalau sejak tadi Rena mengawasinya dari belakang. Ketika Rena berjalan dengan lebih cepat dan mendekatinya, Lusiana langsung mengambil langkah ke samping dan berpura-pura kehilangan keseimbangan. Sialnya dia malah jatuh memeluk seorang pangeran tampan. Sementara Rena yang sasarannya berubah posisi malah menabrak putri pejabat yang mengadakan acara hingga ujung pisaunya membuat lengan gadis itu terluka.

“Kamu siapa? Kenapa malah melukaiku!? Apa kamu sengaja datang ke sini untuk membunuh orang!” teriak Wilda pada Rena.

“Maaf-maaf, aku tidak sengaja! Maaf! Aku sungguh tidak sengaja, aku tidak tahu pisau ini punya siapa, aku-” Rena ketakutan melihat lengan gadis itu terluka.

Plak! Wilda langsung melayangkan tamparan keras ke pipi Rena.

Andi dan semua orang melihat kejadian itu dan dia sangat malu sekali.

Pangeran Anan yang tidak sengaja bertabrakan dengan Lusiana mendengar teriakan adiknya.

“Nona, maaf aku harus pergi mengurus adikku!” Pamitnya pada Lusiana.

“Ya-ya, aku yang seharusnya meminta maaf pada Tuan,” balasnya.

Anan masuk ke dalam kerumunan, dia berjalan mendekati Wilda dan melihat lengan adiknya berdarah.

“Wilda, apa yang terjadi?” tanyanya.

“Kakak, wanita ini datang dengan pisau di tangannya, dia menabrakku dan membuatku terluka! Aku adalah putri kerajaan, kalau aku cacat siapa yang mau menikahiku? Kakak! Kamu harus menghukum wanita ini!”

Anan sebenarnya tahu, ketika Lusiana tiba-tiba mengambil langkah ke samping tadi, jelas-jelas pisau itu ditujukan untuk Lusiana bukan untuk Rena. Anan terus menatap ke arah Lusiana yang berdiri tenang di belakang kerumunan.

Lusiana berjalan selangkah demi selangkah, gerakannya sangat tenang dan berkarisma.

“Putri Wilda, salam hormat,” Lusiana membungkuk untuk memberikan salam padanya.

“Kamu, siapa?”

“Aku Lusiana, putri Raja Yudistira, dan Rena adalah saudariku,” ujarnya,

Rena yang masih berlutut terlihat sangat kesal.

Lusiana! Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan pernah dipermalukan seperti ini! Wanita sialan! Aku akan membalasmu nanti!

“Kenapa Putri menyela? Apakah aku tidak boleh menghukum adikmu? Dia benar-benar membawa pisau dan pasti memiliki niat buruk terhadapku!”

Lusiana tidak hanya pandai dalam meracik ramuan kecantikan, dia juga pandai merawat kulitnya hingga semua bekas luka bopeng di wajahnya memudar.

“Sebagai gantinya bagaimana jika aku merawat bekas luka di lengan Putri? Aku janji akan merawatnya sampai tidak membekas lagi,” tuturnya dengan senyum lembut.

“Oke! Kalau begitu kali ini aku akan melepaskanmu! Wanita kurang ajar!” balas Wilda seraya memarahi Rena.

“Terima kasih, Putri Wilda.”

Lusiana mengulurkan tangan untuk membantu Rena berdiri. “Rena sayang, ayo berdiri!”

“Lusiana, kamu sengaja menghindar dan membuatku dipermalukan!” desisnya.

Lusiana berpura-pura memeluk Rena. “Adikku sayang, tenanglah, kamu harus banyak belajar jika ingin mencelakaiku....”

Anan melihat dari samping Wilda, dia tahu hubungan Lusiana dengan Rena hanya terlihat baik di luarnya saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 48 Anggap saja aku tidak ada

    Yudistira tidak menjawab, dia juga tidak mungkin membeberkan identitas asli Lusiana. Tidak ada orang yang akan percaya dengan kebenaran yang mereka rahasiakan. Setelah cukup lama memikirkannya barulah Yudistira angkat bicara.“Sebenarnya masalah janji pernikahan memang masih bisa dirundingkan, tapi Andi begitu berkeras untuk tetap menikah, kemarin dia datang bersama Lusiana juga untuk memperjelas lagi bahwa tidak ada rencana pembatalan atau apa pun,”“Lalu, bagaimana dengan Putri Lusiana? Apakah dia setuju?”Yudistira menganggukkan kepalanya. Anan langsung merasa tidak berdaya.Lusiana sungguh tidak ingin membatalkan janji pernikahannya dengan Andi? Padahal jelas-jelas Andi tidak mencintainya! Di depan matanya Andi juga hanya peduli dengan Rena. Ini tidak masuk akal sama sekali!***Wilda melihat Sisil dan beberapa orang pelayan dari kediaman Lusiana sedang sibuk memasukkan barang ke dalam kereta kuda. Wilda langsung bertanya padanya, "Di mana Putri Lusiana?"Tidak lama kemudian Wild

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 47 Mengejar Lusiana

    “Sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganmu! Lebih baik pikirkan cara agar dia tidak jadi pergi ke kuil! Firasatku sungguh kurang baik tentang keputusannya itu! Bagaimana kalau di jalan ada bandit gunung yang menyerangnya? Aku cemas sekali!”Wilda memutar otaknya, dia tiba-tiba memiliki ide.“Kak, bagaimana kalau besok aku pergi ke istananya? Aku ingin membahas pekerjaan serta bertanya tentang produk yang akan kami jual bersama di toko, dia tentu tidak akan lepas tangan begitu saja setelah bersedia bekerja sama denganku!”Anan langsung berdiri dari kursinya, dia mengukir senyum lega. “Oke! Aku akan mengantarkanmu! Kita akan bicara dengannya!”Wilda tertawa melihat Anan keluar dari dalam ruangan dengan senyum di bibirnya setelah sepanjang hari hanya menunjukkan emosinya.Wilda bersandar di kursi malas sambil menatap langit-langit ruangan.“Lusiana pergi bersama dengan Andi berdua? Ini sudah tidak masuk akal! Lalu Rena malah tert

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 46 Menolak mengakui

    “Adik Rena, ini karena Putri Lusiana ingin secepatnya sampai ke rumah, aku terburu-buru. Maafkan aku tadi sudah pergi lebih dulu,”Ratu Anggita langsung tersedak melihat perilaku Andi. “Uhuk!”Andi buru-buru melepaskan tangan Rena. Rena langsung berlutut di depan Ratu Anggita.“Ibunda Ratu, Pangeran Andi hanya sedikit peduli padaku, dia tidak melakukan kesalahan sama sekali,” ujarnya sambil melirik ke arah Andi di sampingnya.Lusiana sangat bosan dengan sandiwara yang sering kali dia lihat di depan matanya. Lusiana segera angkat bicara.“Heh, Rena! Berdirilah, siapa yang ingin menghukum kalian? Bukannya Andi sudah bilang kami pergi karena terburu-buru ingin melapor pada Ayahanda?”Ratu Anggita mengibaskan lengan bajunya dan meminta Rena berdiri. “Siapa yang memintamu berlutut? Berdirilah!”Rena mengukir senyum palsu lalu segera berdiri. Dia terlihat tidak sabar dengan keputusan Raja Yudistira tentang

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 45 Desakan Andi

    Mata Andi mengerjap, dia menggelengkan kepalanya. Pikir Lusiana Andi sudah waras dan tidak tergoda oleh kecantikan Rena tapi tidak disangka beberapa detik kemudian Andi bertanya padanya seolah ucapan Lusiana hanya bualan semata. Dia juga memperhitungkan kedekatan Lusiana dengan Anan sebelumnya.“Aku bisa menjadikannya selirku, apakah kamu keberatan? Lagi pula aku seorang pangeran dan aku berhak mendapatkan istri lebih dari satu, selain itu kamu juga sudah membalasku! Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa kalau kamu dekat dengan Paman Anan? Aku bukan orang bodoh, Lusiana!” Andi menatapnya dengan tatapan mata penuh kemarahan. Lusiana terkejut, hanya beberapa saat ekspresinya segera normal kembali kemudian ia menoleh ke arah Andi sambil menghela napas berat.“Oh? Aku dekat dengannya karena kami bekerja sama, aku juga dekat dengan Putri Wilda. Apa yang kamu pikirkan, Pangeran?”Andi mengerutkan keningnya, dia merasa Lusiana sudah meremehkannya. “Kerj

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 44 Kita pulang berdua saja

    ***Lusiana terpaku bersandar di dinding, dia sudah berpikir terlalu jauh. Anan masih menunggu jawabannya.Otakku dipenuhi dengan kotoran! Setiap Anan mendekatiku, aku selalu berpikir terlalu jauh dan melewati batas! Aku bahkan membayangkan situasinya secara keseluruhan di ranjang! tidak bisa terus-menerus berada di sisinya, bisa gawat!“Lusiana? Apa yang kamu pikirkan? Kenapa tidak menjawabku? Apakah isi kepalamu sudah berpindah tempat ke kaki?” keluhnya.Lusiana tersadar dari lamunannya.“Hah? Tidak-tidak! Aku hanya ingin fokus memulihkan diri, masalah tinggal di sisi Pangeran sebenarnya aku .... aku merasa-” Lusiana tidak bisa menjelaskan apa yang dia pikirkan, dia buru-buru menepis lengan Anan dari kedua bahunya dan keluar dari dalam ruangan.“Lusiana, aku belum mendengar alasanmu!” teriak Anan dengan lantang.Di koridor, Andi melihat Lusiana keluar dari dalam ruangan dan tidak lama setelahnya dia melihat Anan juga keluar dari dalam ruangan yang sama.“Me-mereka tidak mungkin bers

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 43 Untuk membalas dendam

    Raja Deja segera angkat bicara. “Sudah-sudah, Pangeran Andi, duduklah dengan tenang. Anan hanya bercanda, dia tidak mungkin memiliki niat buruk pada Putri Lusiana, lagi pula Raja Yudistira sudah memberikan izin pada Putri Lusiana untuk dirawat sementara di sini, kalau kamu cemas bukankah kamu bisa datang untuk menjenguknya?”Andi merasa keputusan itu tetap tidak adil. Dia menatap Lusiana dengan tatapan marah. Sementara Rena juga cemberut, dia tidak tahu rencana yang sudah disusunnya akan sia-sia belaka. Lusiana pikir ide pergi ke kuil yang ada di gunung juga bukan sesuatu yang buruk. Dia butuh waktu untuk memikirkan rencana lain dan dia juga ingin menenangkan diri dari keributan dan persaingan yang tidak ada habisnya di dalam istana.“Adik Rena, aku setuju denganmu!”Lusiana tidak bisa mengatakan alasannya, dia jelas-jelas tahu ini adalah jebakan yang disiapkan Rena untuk menyerangnya. Tidak tahu berapa banyak bahaya yang akan Lusiana lalui di da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status