เข้าสู่ระบบKekaisaran Ravenshire berdiri di atas daratan benua yang luas, dianugerahi pertambangan tembaga dan batu bara yang melimpah, tanah yang subur, habitat yang nyaman bagi para satwanya, dan ilmu pengetahuan yang mendasar bagi para ilmuwannya.
Negeri sebesar ini dipimpin oleh Kaisar yang menjabat sejak usia dua puluh lima tahun, sekarang sudah berjalan tiga tahun sejak pelantikannya. Tiga tahun yang lalu, perang saudara menyebabkan Kaisar Sebelumnya terbunuh, Kaisar itu adalah tiran yang bahkan dianggap sampah oleh rakyatnya sendiri. Dan orang yang membunuhnya adalah Duke Ernest, ayah Esther sendiri. Yang kemudian mengangkat William sebagai kaisar yang baru dengan syarat putri mereka harus menjadi Permaisurinya. William menerima itu karena faktanya dia membutuhkan penyeimbang untuk memperkuat pemerintahannya. Lalu Esther menjadi seorang Ravenshire meski William tak mencintainya. Ia memerintah negeri ini sebagai Permaisuri dan tak membiarkan siapapun meragukan keberadaannya. Keberadaannya di Istana ini tak lebih hanya seorang permaisuri boneka yang sibuk bersolek dan menghancurkan pesta teh di mana-mana Ia mulai menganggap rasa cintanya kepada William akan tetap abadi selama dirinya adalah Permaisuri satu-satunya. Namun ketenangan itu mulai pudar begitu Esther menyadari bahwa William menyimpan kebencian yang jauh lebih dalam terhadapnya dan keluarganya. Trauma batin yang didapat dari peristiwa berdarah yang terjadi tiga tahun lalu …, menjadi penyebab William tidak pernah mencintainya. Satu bulan yang lalu, pihak kuil mengirim Saintess Claire untuk membantu memurnikan energi negatif dan trauma yang memenuhi pikiran William. Kedatangan Claire membuat Esther semakin merasa tersudut. Terlebih, William mengalami perubahan yang cukup drastis terhadapnya sejak kedatangan Claire. William selalu datang terlalu larut untuk tidur, pergi sebelum Esther membuka mata, melarang Esther datang ke istananya, bahkan enggan bertemu atau bicara satu sama lain meski hanya sepatah kata. Ia mulai merasa cemburu dan takut, wanita yang mengaku utusan Tuhan itu berencana merebut suaminya. Dan karena diabaikan, Esther berkembang menjadi lebih kasar dari biasanya. Setelah mengingat garis besar cerita ini, Esther menulisnya dalam sebuah buku. Menurunkan kemungkinan melupakan beberapa hal penting di masa depan. "Yang Mulia." Emma memecah lamunannya. "Ini adalah gaun untuk pesta amal yang sudah saya pilihkan lengkap dengan set perhiasannya. Saya sudah mengirimkan surat-surat balasan itu." "Untuk barang yang akan dilelang di pesta amal, sesuai dengan keinginan Yang Mulia, saya mengirimkan satu set perhiasan Blood-Drop Ruby yang dihadiahkan Baginda tiga tahun lalu." Emma mengatakannya dengan suara gemetar. Esther tersenyum. "Oh? Kau melihatnya di suratku kemarin, ya? Bagus. Kupikir aku harus mengatakannya lagi hari ini." Emma tertunduk, pilihan barang lelang itu sungguh tidak terduga. Itu sama saja maksudnya dengan Permaisuri ini ingin menjual barang pemberian sang Kaisar. Tapi Emma tidak berani mempermasalahkannya. Ia hanya perlu diam dan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Pesta amal biasanya digelar oleh seorang bangsawan tinggi untuk membangun citra baik di mata rakyat. Lelang dilakukan untuk mengumpulkan dana donasi yang akan disalurkan ke rumah sakit daerah atau panti asuhan. Di novel aslinya, Esther tidak mungkin sudi menghadiri acara semacam ini yang jelas-jelas akan menguras hartanya. Tapi Esther yang saat ini justru menantikan momen tersebut. Ia akan membeli barang lelang paling berguna di masa depan dengan harga tinggi sebagai investasi masa depan, yang kemungkinan bisa ia jual kembali di lelang yang lain dengan harga permulaan yang lebih tinggi dari saat ia membelinya. Set perhiasan 'Blood-Drop Ruby' yang terdiri dari 500 butir ruby kualitas tertinggi dengan ukuran bervariasi itu diserahkan untuk tujuan yang berbeda. Ia ingin barang lelang miliknya terjual dengan harga tinggi untuk membangun reputasi baik di mata publik. Terlebih, yang dijual adalah pemberian William. Merupakan tindakan berani yang tidak mungkin diabaikan oleh orang sekaya Duchess Luthadel atau Marchioness Saffron sendiri. Atas pengetahuannya terhadap budaya sosialita di Kekaisaran Ravenshire yang ia ciptakan sendiri, Esther mengenakan gaun sutra mewah berwarna biru dengan model baru buatan Butik Neridean yang sudah dipesan sebelum ia merasuki raga Esther—dipesan untuk acara lain, serta sebuah kalung Diamond besar yang menggantung di lehernya, anting-anting panjang yang berkilau, dan mahkota kecil yang duduk manis di atas kepalanya untuk menunjukkan otoritasnya sebagai Permaisuri. Kereta kuda Istana menjemputnya di depan Istana Permaisuri. Esther membawa segenap keberanian untuk tampil di depan publik sebagai pengalaman 'pertama' sebagai seorang Permaisuri. Ia mendengar rumor bahwa Claire juga akan datang untuk memberkati acara itu. Tentu saja orang dengan reputasi baik sepertinya akan datang. Itu membuat Esther memiliki rencana demi menaikkan reputasinya tanpa menyentuh sedikit pun reputasi yang telah dibangun Claire. Meski sulit untuk mewujudkannya. Perjalanan menuju Kediaman Marquess Saffron cukup memakan waktu. Esther berkali-kali menghela napas panjang, rasa gugup tetap menyerangnya. Karena ia tampil di depan umum pertama kali bahkan seumur hidupnya saat masih seorang Olivia yang sakit-sakitan. Apalagi kali ia datang sebagai panutan bagi wanita bangsawan yang lain. Model gaun yang dipakainya akan menjadi referensi baru di dunia fashion, perhiasan yang dipakainya akan menjadi tren dalam waktu dekat. Kehadirannya merupakan kekuatan atau boleh jadi justru menjadi ancaman tak terlihat bagi Marchioness Saffron sebagai tuan rumah acara. "Anda terlihat gugup, Yang Mulia?" Emma tak tahan untuk bicara setelah melihat sendiri kegelisahan Esther yang duduk di depannya. "Aku memang gugup. Ugh …, guncangan kereta juga membuatku sedikit mual dan pusing." Esther memijat pelipisnya pelan. "Apakah saya perlu turun dulu untuk membeli air lemon?" Emma bertanya cemas. "Tidak perlu, kurasa, itu akan membuat kedatangan kita menjadi terlambat." Esther menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, hanya perlu sedikit mengurangi rasa gugup ini." Emma terus mengamatinya yang bicara dengan tenang. Setiap harinya, perubahan kepribadian Esther semakin terlihat jelas. Sifat kasarnya hilang, etikanya lebih terjaga, bahkan sudah tidak lagi mabuk malam. "Yang Mulia …, sebenarnya, apa yang membuat Anda bisa segugup ini? Bukankah Anda sudah biasa datang ke perkumpulan sosialita?" Esther mengembuskan napas pelan, bertopang dagu dengan telapak tangan sambil menatap ke jendela. "Entahlah …, mungkin karena ini pertama kalinya aku menghadiri acara tanpa berniat merusaknya." Emma tertegun. 'Beliau memang memiliki keinginan untuk mengubah diri ….' "Kudengar Claire suka menghadiri acara semacam ini, jadi aku ingin melihatnya sendiri." Esther melanjutkan. Wajah terkejut Emma perlahan redup. 'Tapi ternyata tetap ada alasan buruk di baliknya.' *** "Yang Mulia Permaisuri Esther Belliana Ravenshire telah tiba!" Suara pengawal Istana menggema di taman Kediaman Marquess Saffron yang menjadi tempat acara. Marchioness Saffron, seorang wanita awal tiga puluhan dengan gaun kuning pucat yang lebar terlihat berjalan mendekat untuk menyambut tamu kehormatannya. Esther turun dari kereta perlahan. Gaun bermodel sederhana dengan kemewahan tak tersembunyikan itu terlihat berkilau. Langkah kaki Esther mantap saat tangannya menyentuh ujung jari Ksatria Istana yang menemani perjalanannya. Esther memasang senyum sehangat mungkin, lalu mengangkat kepalanya dengan percaya diri. Belasan wanita bangsawan yang telah hadir melakukan deep curtsy sambil mengucapkan salam. "Salam kepada Matahari Kekaisaran, Yang Mulia Permaisuri Esther Belliana Ravenshire, semoga kejayaan selalu menyertai Anda." Esther tersenyum, ini adalah puncak rasa gugupnya. Sebagai Permaisuri, ia tidak punya kewajiban untuk menunduk di hadapan orang lain selain Baginda Kaisar dan ibunya yang sudah meninggal. Tapi merupakan sebuah kebiasaan baginya di kehidupan sebelumnya, untuk menunduk saat ada orang yang menunduk untuknya. Esther mati-matian untuk menghilangkan refleks itu. Ia berjalan perlahan mendekati Marchioness Saffron, dan menyentuh tangan kanannya dengan lembut. "Silakan berdiri, semuanya." Mereka semua terdiam.Cahaya keemasan matahari pagi di awal musim gugur menerobos masuk lewat celah tirai yang tersingkap tipis, menyapu lembut kamar tidur Istana Permaisuri yang tenang."Selamat pagi …."Esther menggeser tangannya dan menaikkan sebelah alis. Sepasang netra indahnya menatap William yang baru saja membuka mata secara bertahap, ia tersenyum lebar dengan wajah bodoh bangun tidurnya. "Kenapa sudah bangun?" Esther bertanya sambil menyipitkan mata, menatap penuh interogasi. "Ini sudahwaktunya bangun, kan?" William melingkarkan lengannya di pinggang Esther dengan manja. "Tapi kehangatan ini sulit sekali ditinggalkan. Aku tidak ingin pergi dari sini ….""Tidur jam berapa semalam?" tanya Esther. "Entahlah, sepertinya tidak terlalu lama, tapi aku terbangun dalam kondisi baik, segar, dan siap melakukan aktivitas."Esther terkekeh. "Jangan dilebih-lebihkan. Bilang segar pun, agak siang sedikit kau sudah mengeluh kelelahan, kan?" William terdiam sebentar, ia kemudian menenggelamkan wajahnya di cer
Esther berdiri di depan istananya, melambaikan tangan dengan senyum lebar saat kereta kuda Marianne menjauh perlahan dari lingkungan Istana. Emma berdiri di samping Esther dengan senyum yang tak kalah lebar. "Seharian ini Yang Mulia sudah lelah, kan? Mari kita masuk, mandi dan makan malam, Yang Mulia."Esther tertawa. "Kapan lagi aku punya kesempatan untuk mengambil banyak waktu berbasa-basi seperti ini, Emma."Ia berjalan masuk dan mengikuti perkataan Emma dengan baik. "Kira-kira, William akan kembali pukul berapa, ya?" "Tadi Sir Theron bilang, saat dia datang ke sini Baginda sedang mengobrol dengan Duke Luthadel. Sepertinya mereka mengambil beberapa waktu bekerja bersama." ***Esther mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang setelah selesai mandi dan makan, ia mengenakan kain selendang tebal untuk menutupi menyelimuti tubuhnya. Ia bersandar pada tumpukan bantal, lalu bunyi ketukan pintu terdengar, ia segera menegakkan tubuhnya lagi dengan senyum lebar penuh semangat. Pintu pun ter
Pada petang hari seusai pesta teh kecil itu, Esther mengajak Marianne ke dalam Istana segera setelah semua tamu membubarkan diri. "Sepertinya kau sangat merindukan waktu mengobrol bersamaku, ya …." Marianne berjalan mengikutinya sambil meledek. "Ini benar-benar karena kita tidak berkabar dalam jangka waktu yang lama." Esther menyeretnya ke kamarnya. "Aku sempat pulang ke rumah sebelum ke sini. Aku juga sempat mengobrol dengan Ayah meski sangat sebentar." Marianne duduk di sofa dengan senyum lebar. "Hei, kami berdua sama-sama tidak menyangka akan ada hari di mana kamu memiliki bayi." Esther tersipu sambil menyelipkan rambut ke belakang daun telinga. "Kurasa aku belum memberitahu Ayah secara langsung …." "Tidak perlu, memang sudah tahu, kok. Kalau ada waktu, beliau mungkin akan datang sesekali untuk menjengukmu." Esther tersenyum mengangguk. "Omong-omong, Marianne …." Ia berkata dengan suara lebih pelan. "Hm? Ya?" Marianne menatapnya dengan lembut. "Kau …, apakah baik-ba
"Baginda." Pintu diketuk dua kali, Raymond tampak melongokkan kepala dengan senyum lebar. William yang sedang menyesap teh melirik sejenak ke arah pintu. Ia meletakkan gelasnya dengan tenang. "Datang juga tamu dari jauhku."Raymond menyipitkan mata. "Apakah saya pernah benar-benar dinanti-nanti kehadirannya?" "Lumayan. Kalau kau sudah datang, itu artinya Esther juga sedang bahagia.""Bagaimana bisa begitu? Baginda, Anda tidak mengira saya masih menyukai Yang Mulia Permaisuri, kan?""Tentu saja tidak. Bahkan aku tidak peduli kau masih suka atau tidak, yang terpenting itu adalah hati Esther sepenuhnya dipenuhi olehku." William memasang wajah datar. Raymond menaikkan sebelah alis dengan tatapan remeh. "Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan saya.""Itu karena kedatanganmu berarti kedatangan Marianne juga. Kehadiran siapa lagi yang bisa membuat Esther-ku tersenyum lebar selain keluarganya, kan?" Raymond tersenyum tipis. "Bagaimana pula Anda tahu kalau saya datang dengan Lady Marian
Dua minggu berlalu secepat gugurnya dedaunan mapel yang kini mulai menyelimuti pelataran Istana Ravenshire. Jalan penghubung besar antar-wilayah akhirnya resmi dibuka kembali dua minggu lalu setelah tabib istana memastikan wabah telah musnah sepenuhnya.Suasana istana pun terasa jauh lebih lega dan damai, terlebih setelah Claire memilih untuk undur diri dari Istana dan kembali menetap di Kuil Ibu Kota guna memulihkan diri pasca pemberkatan massal dan pesta penyambutan yang melelahkan. Sebenarnya, dia melakukan itu karena William memang tidak mengizinkannya tinggal lebih lama saja. Tidak ada yang bisa Claire lakukan di Istana sampai Esther melahirkan anaknya nanti. Sore ini, di dalam rumah kaca taman Istana Permaisuri yang hangat, Esther duduk dengan tenang sembari menyesap teh kamomil hangatnya. Pesta teh yang telah direncanakan sebelumnya akhirnya digelar dengan penuh antusias. Wanita-wanita bangsawan mulai merapatkan kereta kuda di halaman luar Istana Permaisuri. Emma menyambut
Lima belas menit kemudian, pesta dansa pun dimulai. Claire duduk di kursinya, mencoba untuk tenang dan menerima sapaan setiap orang dengan senyum ramah yang tak canggung. Musik latar mulai berbunyi lebih kencang untuk mengiringi dansa yang dimulai. Kali ini, Esther mengajukan permintaan untuk melewatkan dansa pertama karena ia merasa lelah. Lalu Duke Evander dan istrinya mewakilinya untuk membuka pesta. William menuntun Esther untuk kembali ke Istana Permaisuri supaya bisa beristirahat dengan baik. Dalam perjalanan di kereta kuda, sesekali William melirik Esther, suasana hatinya masih terlihat baik. 'Apakah hal yang tadi tidak dipikirkannya sama sekali?' William bertanya-tanya dalam hati. "Kalau bukan karena lelah, aku ingin berada di sana sedikit lebih lama." Esther mengeluh. William menaikkan sebelah alis. "Ingin di sana lebih lama, maksudmu?" "Aku belum bertemu dengan teman-temanku.""Untuk hal itu, bukankah sudah sepakat akan menggelar pesta teh saja? Kenapa? Kau tidak sa







