Se connecterKeheningan menyelimuti lorong penjara. Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara. Bahkan Lucarien yang biasanya mampu menemukan kata-kata dalam situasi tersulit sekalipun hanya bisa menundukkan kepala.Sementara itu, Belliza terus memeluk Varella erat. Seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, gadis itu akan benar-benar hancur di hadapan mereka.Myrrathis berdiri diam selama beberapa saat. Tatapannya tertuju pada pria di dalam sel. Pria yang pernah mengangkatnya ke atas bahu saat masih kecil, pria yang selalu tertawa keras setiap kali keluarga besar berkumpul, pria yang seharusnya dimakamkan dengan kehormatan seorang duke. Bukan berakhir sendirian di penjara asing seperti ini.Rahang Myrrathis mengeras. Lalu perlahan ia melangkah maju.BRAK!Satu pukulan menghantam gembok besi, logam itu hancur seketika. Suara benturan keras bergema di seluruh lorong. Tak lama kemudian, pintu sel terbuka perlahan.Berderit. Menyisakan suara yang terasa begitu menyayat hati.Varella langsung men
Di tengah lorong penjara yang dipenuhi deretan sel, langkah Varella tiba-tiba terhenti.Belliza yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. Gadis itu menoleh heran, lalu mengikuti arah pandangan Varella yang terpaku pada salah satu sel di sisi lorong."Ada apa?" tanya Belliza pelan.Namun Varella tidak menjawab. Seolah tidak mendengar apa pun di sekitarnya, ia membelokkan langkah dan berjalan menuju sel tersebut. Jantungnya mulai berdetak semakin cepat. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa berpaling.Belliza berusaha meraih tangannya. "Varella..."Namun gadis itu sudah lebih dulu sampai di depan jeruji besi. Langkahnya perlahan melambat. Tubuhnya seketika membeku. Di dalam sel itu hanya ada satu orang. Seorang pria paruh baya yang terduduk bersandar di dinding batu. Matanya terpejam, sebagian tubuhnya dipenuhi luka, kulitnya pucat, dan ia tidak bergerak sedikit pun.Varella memperhatikan setiap garis wajahnya, setiap lekuk rahangnya, setiap helai rambut hitam yang mula
Keheningan menyelimuti lorong penjara untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada yang bergerak maupun berbicara. Bahkan para ksatria Xigerneon tampak masih berusaha mencerna hasil pertarungan yang baru saja terjadi di depan mata mereka.Perlahan, Myrrathis menurunkan pedangnya. Kemudian ia mundur satu langkah, memberi ruang bagi Xager untuk bangkit.Sang archduke tetap berada di lantai selama beberapa saat. Tatapannya tertuju pada pedang yang terlepas dari genggamannya, sebelum akhirnya ia berdiri perlahan. Wajahnya tetap tenang. Namun ketegangan yang tersembunyi di balik rahangnya yang mengeras tidak luput dari perhatian siapa pun.Belliza melangkah maju. Rok gaunnya bergerak pelan saat ia berhenti di samping Myrrathis. Gadis itu mengangkat dagunya dan menatap langsung ke arah Xager tanpa sedikit pun keraguan."Kau kalah, Yang Mulia." Suara Belliza terdengar tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat kalimat tersebut terasa semakin tajam.Tatapan dingin Xager langsung beralih k
Begitu Xager berbalik untuk mengambil pedangnya, Belliza langsung bergerak.Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, gadis itu melangkah hingga berdiri tepat di hadapan Myrrathis. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga pria itu sedikit menundukkan kepala untuk menatapnya.Belliza kembali mengeluarkan liontin merah pemberian Horres. Batu merah itu berkilau samar di bawah cahaya obor. Dengan gerakan hati-hati, Belliza memasangkan liontin tersebut ke leher Myrrathis sebelum merapikan rantainya dengan jemari yang lembut.Myrrathis tidak mengatakan apa pun, ia hanya memperhatikan Belliza dalam diam. Tatapannya mengikuti setiap gerakan gadis itu, seolah seluruh penjara bawah tanah mendadak menghilang dari perhatiannya.Setelah memastikan liontinnya terpasang dengan baik, Belliza sedikit mendekat. Cukup dekat hingga hanya Myrrathis yang dapat mendengar suaranya."Kita akan menang." bisik Belliza. Keyakinan dalam suara gadis itu begitu kuat hingga tidak menyisakan ruang untuk
"Tunggu,"Suara Belliza tiba-tiba memecah ketegangan.Semua kepala menoleh ke arahnya. Gadis itu perlahan bangkit dari samping Louden, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu melangkah maju. Gerakannya tenang dan anggun, seolah ia sedang berjalan di aula dansa bangsawan, bukan di penjara bawah tanah yang dipenuhi bau darah dan besi.Belliza berhenti tepat di samping Myrrathis. Wajahnya tetap tenang saat menatap Xager yang berdiri di hadapan mereka. Bahkan tatapan dingin sang archduke tidak membuatnya mundur sedikit pun."Archduke Xager yang terhormat," ucap Belliza sopan. "Keadaan wilayahmu saat ini sangat-sangat memprihatinkan."Perkataan itu langsung membuat semua orang menatapnya. Lenzoris mengernyit tipis, sementara Myrrathis melirik Belliza dari sudut matanya. Bahkan Xager tampak sedikit tertarik mendengar pembukaan yang tidak biasa itu.Belliza mengangkat dagunya sedikit. "Pasukan pemberontak sudah mencapai ibu kota. Pasukanmu tersebar di berbagai titik untuk menghadapi ke
Keheningan menyelimuti lorong penjara setelah kemunculan Xager. Bahkan suara napas para tahanan di sel-sel sekitar seolah ikut menghilang. Semua perhatian tertuju pada pria yang baru saja menembakkan anak panah ke arah Louden.Di tengah ketegangan yang memenuhi lorong penjara, suara rintihan pelan tiba-tiba memecah keheningan.Wajah Louden memucat. Tubuhnya sedikit membungkuk saat rasa sakit dari luka di dadanya kembali menyerang. Darah terus merembes dari bekas panah yang menancap tidak jauh dari jantungnya.Myrrathis segera mengalihkan perhatiannya dari Xager. Tanpa membuang waktu, ia mencengkeram batang panah itu dan mencabutnya keluar. Louden langsung mengatupkan rahang. Suara tertahan keluar dari tenggorokannya. Darah segar kembali mengalir dari lukanya.Myrrathis segera melepas sabuk kain yang melingkari pinggangnya. Tangannya bergerak cepat menekan luka itu sebelum melilitkan kain tersebut dengan kuat di dada Louden untuk mengurangi pendarahan."Tekan bagian ini," ujarnya singka







