Home / Fantasi / Transmigrasi Sang Nona Antagonis / 65. Rencana Terselubung

Share

65. Rencana Terselubung

Author: Semesta
last update publish date: 2026-05-12 10:47:40

Lorong istana kekaisaran diterangi cahaya jingga yang menembus kaca-kaca tinggi. Di salah satu balkon yang terbuka, Lenzoris berdiri diam. Punggungnya tegap, namun sorot matanya menampakkan beban yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Angin sore mengibaskan rambut hitamnya, membawa aroma dedaunan dan suara burung-burung yang pulang ke sarang.

Ia menatap langit di atasnya, pikirannya semakin rumit. Takhta. Rakyat. Selina. Dan satu nama yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Belliza.

Saat sedan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    150. Malam yang Tenang (End)

    Begitu sampai di ruang tamu, langkah Maura dan Tommy langsung terhenti.Suasana mendadak hening.Myrrathis berdiri tegak di depan televisi dengan wajah yang dipenuhi kewaspadaan. Di tangannya, sebilah pedang telah terhunus entah sejak kapan. Sedangkan di lantai, pecahan vas bunga berserakan ke segala arah.Sementara itu, televisi masih menyala, menampilkan adegan film horor. Seorang wanita berambut panjang dengan wajah pucat tiba-tiba muncul memenuhi layar, diiringi musik yang mencekam.Myrrathis sama sekali tidak berkedip. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah televisi, seolah memastikan makhluk itu tidak akan keluar lagi. Beberapa detik berlalu. Kemudian, perlahan ia menoleh ke arah Maura, wajahnya benar-benar serius."Lavender."Maura berkedip bingung."Aku berhasil mengalahkan penyihir di dalam kotak itu."Hening.Maura menatap televisi, lalu menatap pecahan vas di lantai. Kemudian menatap pedang di tangan Myrrathis. Setelah itu... ia menoleh ke ayahnya yang juga sedang menatapny

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    149. Grand Piano

    Maura kembali menarik tangan Myrrathis. Ia membawa pria itu menuju sofa di depan televisi. Setelah keduanya duduk, Maura menyerahkan remote di tangannya."Ini namanya remote."Myrrathis menerima benda itu dengan hati-hati, membolak-baliknya sambil mengamati setiap tombol yang ada."Kalau ingin menyalakan televisi, tekan yang ini." Maura menunjuk tombol berwarna merah.Myrrathis mengangguk pelan, lalu menekannya dengan hati-hati. Seketika layar televisi mati. Kedua matanya langsung membulat."Hilang..."Maura menahan tawanya. "Coba tekan lagi."Dengan ragu, Myrrathis kembali menekan tombol yang sama. Beberapa detik kemudian, televisi kembali menyala. Pria itu berkedip beberapa kali sebelum menoleh pada Maura dengan wajah yang dipenuhi rasa takjub."Luar biasa..."Melihat ekspresi itu, senyum Maura semakin lebar. Rasanya seperti sedang mengajari anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.Di tengah suasana hangat itu, suara Tommy terdengar dari lantai dua."Maura!"Maura segera men

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    148. Rumah

    Sore harinya, setelah dokter memastikan kondisi Maura telah benar-benar stabil, ia akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Berbulan-bulan yang terasa begitu panjang akhirnya berakhir. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan ia masih diwajibkan menjalani kontrol rutin, setidaknya kini ia tak lagi harus menghabiskan hari-harinya di balik dinding ruang rawat inap.Mobil yang dikendarai Tommy melaju membelah jalanan kota diiringi cahaya matahari sore yang mulai menghangat. Di kursi belakang, Maura duduk berdampingan dengan Myrrathis. Sesekali pria itu menoleh ke luar jendela, mengamati setiap bangunan, kendaraan, dan orang-orang yang berlalu lalang dengan rasa penasaran yang tak mampu ia sembunyikan.Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Sebuah gerbang besi berwarna hitam perlahan terbuka ketika satpam mengenali kendaraan mereka. Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang berdiri megah di tengah hala

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    147. Pagi yang Hangat

    Myrrathis melangkah pelan menuju jendela di samping ranjang rumah sakit. Dengan gerakan tenang, ia membuka daun jendela itu. Seketika angin pagi berembus lembut, membawa aroma pepohonan dan hangatnya sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Tirai putih berkibar perlahan.Tak lama kemudian, Tommy berdiri dari kursinya."Ayah keluar sebentar."Maura mengangguk kecil.Pria paruh baya itu menatap Myrrathis sekilas, lalu tersenyum tipis sebelum melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, memberi keduanya ruang untuk berbicara.Ruangan kembali hening.Myrrathis berdiri di dekat jendela sambil menatap Maura. Senyum tipis sedari tadi tak pernah benar-benar hilang dari wajah pria itu. Sorot matanya begitu hangat... seolah semua luka yang pernah mereka lalui kini hanyalah kenangan yang perlahan memudar.Maura berdeham pelan."Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"Myrrathis menoleh. "Aurora yang membawaku."Maura terdiam.Myrrathis berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang."Setelah

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    146. Kembali Pulih

    Setelah berbulan-bulan menjalani pemulihan intensif, tubuh Maura yang sempat melemah kini perlahan kembali pulih. Meski masih harus menjalani terapi rutin, dokter menyatakan kondisinya berkembang jauh lebih baik dari perkiraan. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar rawat inap, menghangatkan ruangan yang telah menjadi rumah kedua Maura selama berbulan-bulan.Gadis itu duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah selimut tipis menutupi kedua kakinya, sementara Tommy--ayahnya duduk di kursi di samping ranjang sambil menyuapinya semangkuk bubur hangat."Pelan-pelan," ucap pria itu lembut. "Dokter bilang lambungmu masih perlu penyesuaian."Maura tersenyum kecil. "Baik, Ayah."Beberapa saat mereka hanyut dalam keheningan. Hingga akhirnya, Tommy meletakkan mangkuk bubur di atas meja kecil di samping ranjang."Maura,"Gadis itu menoleh."Ayah belum pernah menceritakan bagaimana kamu ditemukan, ya?"Maura menggeleng pelan."Kalau begitu, Ayah akan menceritakan semuanya padamu." Tommy me

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    145. Harapan?

    Perlahan, Belliza membuka matanya.Tak ada lagi langit-langit aula pernikahan,suara riuh para tamu, dan lantai marmer dingin yang dipenuhi darah. Yang menyambutnya hanyalah hamparan cahaya putih yang membentang tanpa ujung. Terasa hangat dan tenang, seolah seluruh rasa sakit yang selama ini ia bawa perlahan luruh bersama cahaya itu.Belliza menundukkan pandangan.Gaun pengantin yang beberapa saat lalu membalut tubuhnya telah lenyap. Kini ia mengenakan gaun putih sederhana yang berkibar lembut, mengikuti embusan angin yang entah datang dari mana.Ia mengangkat wajahnya perlahan. Di hadapannya, sesosok peri kecil dengan sayap bercahaya muncul di antara kilauan putih yang memenuhi tempat itu."Aurora..."Peri berstatus tinggi itu tersenyum lembut. Ia mengepakkan sayapnya perlahan hingga berhenti tepat di hadapan Belliza. Tangan mungilnya terulur, mengusap pipi gadis itu dengan penuh kelembutan."Tugasmu..." ucap Aurora lirih, suaranya selembut angin musim semi, "untuk menyeimbangkan dunia

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    06. Lavender

    Malam itu, bulan menggantung bulat di langit, cahayanya menembus masuk lewat jendela besar dan menyelimuti kamar Belliza dalam terang pucat. Ia duduk di sebuah bangku dekat meja, tenggelam dalam buku tebal berisi informasi mengenai istana dan berbagai wilayah dalam Kekaisaran Sephanix.Suara geseka

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    05. Berjarak

    Sore itu, kereta keluarga Grouss akhirnya berhenti di halaman kediaman mereka.Belliza melangkah turun dengan tenang, diiringi kedua orangtuanya. Setelah melewati sambutan para pelayan, ia segera masuk ke dalam, langkah kakinya berderap pelan di lantai marmer yang berkilau.Perjamuan panjang hari i

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    04. Perjamuan di Tengah Riak

    Myrrathis berdiri tegak di hadapan Belliza. Mata hitam legamnya menusuk dan dingin, namun ada sesuatu yang samar. Sekelebat kehangatan yang tak bisa Belliza tafsirkan."Selamat siang, Lady Grouss." ucap Myrrathis, suaranya terdengar tenang dan berat.Belliza menegakkan punggungnya, mencoba terlihat

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    03. Perbincangan Politik Bangsawan Muda

    Dentang lonceng istana berbunyi tiga kali, menandakan pertemuan dimulai.Kaisar Bexern Elstammer berdiri dari singgasananya. Permaisuri Beandra duduk anggun di sisi kirinya, sementara Archduke Lenzoris dan Archduchess Elena duduk di kursi kehormatan di kedua sisi."Para pemimpin wilayah, bangsawan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status