Share

BAB 72. RASA SAKIT TIDAK BERDARAH

last update publish date: 2026-05-24 12:00:30

AROMA lembut bunga anggrek terasa menusuk indra  penciuman  Deming.  Sang  jenderal  sudah setengah mabuk. Beberapa poci arak tergeletak kosong di atas meja, sementara satu tangannya memegang cawan arak yang masih terisi setengahnya. Di luar, terdengar alunan musik serta tepuk tangan riuh para penonton yang didominasi pria muda, mereka larut dalam tarian para penari Wisma Mawar Bulan.

Pikiran Deming terasa kacau. Perubahan sikap Meifeng membuatnya tidak bi

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 214. PETISI MENGUSIR SANG PUTRI

    Aula utama Istana Bai Yun dipenuhi ketegangan yang bahkan tidak mampu disamarkan oleh tata upacara kerajaan. Para pejabat berdiri di tempat masing-masing sejak matahari belum sepenuhnya naik. Tidak ada percakapan ringan seperti biasanya. Bisikan hanya terdengar sesekali, lalu segera terputus ketika langkah penjaga terdengar dari balik pintu.Di ujung aula, Raja Bai Feng tidak hadir. Kondisinya kembali memburuk sejak malam sebelumnya sehingga para tabib melarangnya menerima urusan pemerintahan. Sebagai gantinya, Putra Mahkota Liwei duduk di kursi pemerintahan sementara, mengenakan jubah hitam kebiruan dengan lambang kerajaan di bagian dada. Jenderal Deming berdiri di sampingnya.Ketika pengawal membuka pintu aula, Perdana Menteri Zhong melangkah masuk dengan membawa sebuah gulungan petisi. Wajahnya dibuat prihatin, suaranya pun terdengar tenang ketika ia memberi hormat kepada Liwei. "Yang Mulia Putra Mahkota, hamba membawa petisi yang telah disepakati oleh sejumlah pejabat istana."Liw

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 213. PETUNJUK PENTING

    Malam masih membungkus ibu kota Bai Yun ketika Liwei dan Deming menuruni tangga batu yang tersembunyi di balik ruang kerja Perdana Menteri Zhong. Udara di bawah tanah terasa lembap dan dingin. Dinding batu yang mereka lewati dipenuhi lumut tipis, sementara cahaya lentera di tangan Deming hanya menerangi beberapa langkah di depan. Sesekali terdengar tetesan air dari langit-langit, jatuh ke genangan kecil dan menghasilkan gema yang membuat lorong itu terasa semakin panjang.Di atas mereka, Bai Yun mungkin sedang terlelap di bawah langit penuh bintang. Tidak seorang pun di permukaan akan menyangka bahwa di bawah salah satu kediaman pejabat tertinggi kerajaan terdapat lorong yang masih digunakan.Dalam keheningan yang terasa tanpa batas, Deming memperhatikan bekas roda yang membelah tanah. “Tempat ini masih aktif digunakan. Lihat permukaannya, jejaknya belum tertutup debu.”Liwei berjongkok dan menyentuh salah satu bekas sepatu yang masih terlihat jelas. "Sepertinya belakangan ini mereka

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 212. MENCARI PETUNJUK

    Saat ini malam telah turun sepenuhnya di atas ibu kota Bai Yun. Langit terbentang luas tanpa bulan, hanya menyisakan beberapa bintang yang bersembunyi di balik awan tipis. Angin musim gugur bergerak perlahan di antara atap-atap bangunan, menggoyangkan ujung pepohonan dan membawa aroma tanah basah setelah hujan.Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi kereta dan suara pedagang kini hampir kosong. Cahaya lentera bergoyang di depan toko-toko yang telah tutup, menciptakan bayangan panjang di atas batu jalan yang masih basah. Sesekali terdengar derap kaki penjaga malam dari kejauhan, kemudian kembali ditelan kesunyian.Di atas tembok kediaman para bangsawan, burung-burung malam bertengger dalam diam. Angin melewati celah-celah bangunan dan membuat tirai jendela bergerak perlahan, seolah seluruh kota sedang bernapas dalam tidur yang panjang. Tidak ada yang tampak mencurigakan dari kejauhan. Bai Yun terlihat damai, hampir seperti tidak pernah mengenal darah, pengkhianatan, atau perebutan kekuasaa

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 211. KEGELAPAN DUNIA DONGMEI

    Makian Zhong menggema di ruang kerja yang nyaris tanpa suara. Tangannya masih berada di atas peta ketika suara langkah tergesa terdengar dari balik pintu. Seorang pelayan muncul, tetapi begitu melihat wajah sang perdana menteri, ia segera menundukkan kepala dan tidak berani bertanya. “Padamkan lampunya setelah aku pergi,” perintah Zhong pada akhirnya. “Tidak seorang pun boleh tahu bahwa utusan Taiyang datang malam ini.”“Baik, Tuan.”Zhong meninggalkan ruang kerja dengan pikiran yang jauh lebih kacau daripada ketika malam dimulai. Kematian Yang Han telah membuka jalan bagi Huo Shan dan perubahan tersebut tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa pengawasan. Persoalan lain yang membuatnya tidak nyaman ada satu, pertunangan Huo Shan dengan Meifeng.Jika putra mahkota baru Taiyang datang menjemput tunangannya, kedudukan Meifeng akan berubah. Jika ia bahkan membawa dukungan Raja Heng, Zhong mungkin tidak lagi memiliki ruang yang cukup untuk bergerak bebas di Bai Yun.Sementara itu, jauh dari

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 210. KABAR DARI KERAJAAN TAIYANG

    Kabar dari Kerajaan Taiyang tiba menjelang tengah malam. Seorang utusan berkuda menerobos gerbang barat Bai Yun dengan tubuh penuh debu perjalanan dan segera dibawa ke kediaman Perdana Menteri Zhong. Gulungan surat yang dibawanya masih tersegel lambang Kerajaan Taiyang, menandakan bahwa berita tersebut cukup penting untuk disampaikan secara langsung.Zhong masih berada di ruang kerjanya ketika kepala pelayan mengetuk pintu.“Yang Mulia, utusan dari Kerajaan Taiyang meminta bertemu. Ia mengatakan membawa berita penting.”Zhong menutup dokumen yang sedang dibacanya. “Bawa masuk!”Tidak lama berselang, seorang pria berjubah perjalanan masuk dan berlutut di hadapannya.“Hormat kepada Perdana Menteri Zhong.”Berhasil mengendalikan diri, Perdana menteri Zhong memasang ekspresi biasa. “Bangun. Sampaikan beritamu!”Utusan itu segera berdiri, tetapi sebelum sempat berbicara, Zhong menunjuk surat yang dibawanya. “Berikan kepadaku.”Setelah surat berada di tangannya, Zhong membuka segelnya. Ia b

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 209. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

    Di Istana Tai Yang, permaisuri menjerit saat mendengar kabar mengenai putranya yang tidak berhasil diselamatkan. Para tabib istana berjuang selama lebih dari dua minggu, tapi nyawa Yang Han tidak berhasil diselamatkan.Berteriak keras, wanita itu memukul dada Huo Shan, memintanya untuk mengembalikan putranya sementara Raja yang berdiri di atas pelataran tidak mengatakan apa pun, tatapannya terarah lurus ke peti mati yang digunakan sebagai pesemayaman jenazah putra sulungnya.“Yang Han mati?” gumam raja, tidak jelas. Para abdinya bersujud, memberikan ucapan bela sungkawa kepada raja dan permaisuri.Raja berbalik dengan perasaan tidak karuan. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa ada perasaan aneh saat tahu putra sulungnya tewas?Seharusnya dia merasa lega karena dengan kematian Yang Han, ia bisa mengangkat Huo Shan sebagai putra mahkota yang baru tanpa harus melewati pertempuran berdarah terlebih dahulu. Mungkinkah dirinya sedikit merasa bersalah?Namun, siapa yang bisa menyalahka

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 71. PRIA BERTOPENG

    Sinar rembulan terlihat sangat pucat. Di Istana Kerajaan Bai Yun, Dongmei berjalan cepat menyusuri lorong panjang dari paviliun milik Liwei menuju ke paviliunnya. Sebuah lentera menjadi satu-satunya penerangan yang dimiliki oleh wanita itu saat ini. Tadi, dengan angkuh dia menolak tawaran kakak per

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   64. AKU INGIN PULANG

    “Putra Mahkota, Putri Meifeng belum kembali.” Zihao melaporkannya dengan ekspresi khawatir hingga melupakan tata krama. Zixin mengingatkan dengan menyenggol tangannya keras. “Ah, maafkan hamba!” ucapnya kemudian. Zihao menundukkan kepala dalam. “Salam, Putra Mahkota!”Zihao tidak menunggu Liwei unt

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 62. BERSEMBUNYI

    “Aku tidak mau bicara denganmu!” bentak Dongmei. Ia berdiri, urat- urat di sekitar lehernya terlihat menegang, karena marah. Dongmei sudah berusaha untuk bersabar, tapi kalimat yang diucapkan Liwei membakar amarahnya.“Seharusnya aku yang tidak mau bicara denganmu!” desis Liwei, kesal. Ia mengumpat

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 54. PERTANDINGAN GULAT

    “Senang bisa bertemu denganmu lagi.”Dongmei tersentak, langkahnya terhenti, dia mengumpat kasar dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Huo Shan. Pria itu segera bergegas keluar dari aula setelah melihat Dongmei berjalan pergi. Huo Shan berjalan cepat, mengambil jalan lain untuk memotong hingga bis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status