เข้าสู่ระบบAROMA lembut bunga anggrek terasa menusuk indra penciuman Deming. Sang jenderal sudah setengah mabuk. Beberapa poci arak tergeletak kosong di atas meja, sementara satu tangannya memegang cawan arak yang masih terisi setengahnya. Di luar, terdengar alunan musik serta tepuk tangan riuh para penonton yang didominasi pria muda, mereka larut dalam tarian para penari Wisma Mawar Bulan.
Pikiran Deming terasa kacau. Perubahan sikap Meifeng membuatnya tidak bi
Malam masih membungkus ibu kota Bai Yun ketika Liwei dan Deming menuruni tangga batu yang tersembunyi di balik ruang kerja Perdana Menteri Zhong. Udara di bawah tanah terasa lembap dan dingin. Dinding batu yang mereka lewati dipenuhi lumut tipis, sementara cahaya lentera di tangan Deming hanya menerangi beberapa langkah di depan. Sesekali terdengar tetesan air dari langit-langit, jatuh ke genangan kecil dan menghasilkan gema yang membuat lorong itu terasa semakin panjang.Di atas mereka, Bai Yun mungkin sedang terlelap di bawah langit penuh bintang. Tidak seorang pun di permukaan akan menyangka bahwa di bawah salah satu kediaman pejabat tertinggi kerajaan terdapat lorong yang masih digunakan.Dalam keheningan yang terasa tanpa batas, Deming memperhatikan bekas roda yang membelah tanah. “Tempat ini masih aktif digunakan. Lihat permukaannya, jejaknya belum tertutup debu.”Liwei berjongkok dan menyentuh salah satu bekas sepatu yang masih terlihat jelas. "Sepertinya belakangan ini mereka
Saat ini malam telah turun sepenuhnya di atas ibu kota Bai Yun. Langit terbentang luas tanpa bulan, hanya menyisakan beberapa bintang yang bersembunyi di balik awan tipis. Angin musim gugur bergerak perlahan di antara atap-atap bangunan, menggoyangkan ujung pepohonan dan membawa aroma tanah basah setelah hujan.Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi kereta dan suara pedagang kini hampir kosong. Cahaya lentera bergoyang di depan toko-toko yang telah tutup, menciptakan bayangan panjang di atas batu jalan yang masih basah. Sesekali terdengar derap kaki penjaga malam dari kejauhan, kemudian kembali ditelan kesunyian.Di atas tembok kediaman para bangsawan, burung-burung malam bertengger dalam diam. Angin melewati celah-celah bangunan dan membuat tirai jendela bergerak perlahan, seolah seluruh kota sedang bernapas dalam tidur yang panjang. Tidak ada yang tampak mencurigakan dari kejauhan. Bai Yun terlihat damai, hampir seperti tidak pernah mengenal darah, pengkhianatan, atau perebutan kekuasaa
Makian Zhong menggema di ruang kerja yang nyaris tanpa suara. Tangannya masih berada di atas peta ketika suara langkah tergesa terdengar dari balik pintu. Seorang pelayan muncul, tetapi begitu melihat wajah sang perdana menteri, ia segera menundukkan kepala dan tidak berani bertanya. “Padamkan lampunya setelah aku pergi,” perintah Zhong pada akhirnya. “Tidak seorang pun boleh tahu bahwa utusan Taiyang datang malam ini.”“Baik, Tuan.”Zhong meninggalkan ruang kerja dengan pikiran yang jauh lebih kacau daripada ketika malam dimulai. Kematian Yang Han telah membuka jalan bagi Huo Shan dan perubahan tersebut tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa pengawasan. Persoalan lain yang membuatnya tidak nyaman ada satu, pertunangan Huo Shan dengan Meifeng.Jika putra mahkota baru Taiyang datang menjemput tunangannya, kedudukan Meifeng akan berubah. Jika ia bahkan membawa dukungan Raja Heng, Zhong mungkin tidak lagi memiliki ruang yang cukup untuk bergerak bebas di Bai Yun.Sementara itu, jauh dari
Kabar dari Kerajaan Taiyang tiba menjelang tengah malam. Seorang utusan berkuda menerobos gerbang barat Bai Yun dengan tubuh penuh debu perjalanan dan segera dibawa ke kediaman Perdana Menteri Zhong. Gulungan surat yang dibawanya masih tersegel lambang Kerajaan Taiyang, menandakan bahwa berita tersebut cukup penting untuk disampaikan secara langsung.Zhong masih berada di ruang kerjanya ketika kepala pelayan mengetuk pintu.“Yang Mulia, utusan dari Kerajaan Taiyang meminta bertemu. Ia mengatakan membawa berita penting.”Zhong menutup dokumen yang sedang dibacanya. “Bawa masuk!”Tidak lama berselang, seorang pria berjubah perjalanan masuk dan berlutut di hadapannya.“Hormat kepada Perdana Menteri Zhong.”Berhasil mengendalikan diri, Perdana menteri Zhong memasang ekspresi biasa. “Bangun. Sampaikan beritamu!”Utusan itu segera berdiri, tetapi sebelum sempat berbicara, Zhong menunjuk surat yang dibawanya. “Berikan kepadaku.”Setelah surat berada di tangannya, Zhong membuka segelnya. Ia b
Di Istana Tai Yang, permaisuri menjerit saat mendengar kabar mengenai putranya yang tidak berhasil diselamatkan. Para tabib istana berjuang selama lebih dari dua minggu, tapi nyawa Yang Han tidak berhasil diselamatkan.Berteriak keras, wanita itu memukul dada Huo Shan, memintanya untuk mengembalikan putranya sementara Raja yang berdiri di atas pelataran tidak mengatakan apa pun, tatapannya terarah lurus ke peti mati yang digunakan sebagai pesemayaman jenazah putra sulungnya.“Yang Han mati?” gumam raja, tidak jelas. Para abdinya bersujud, memberikan ucapan bela sungkawa kepada raja dan permaisuri.Raja berbalik dengan perasaan tidak karuan. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa ada perasaan aneh saat tahu putra sulungnya tewas?Seharusnya dia merasa lega karena dengan kematian Yang Han, ia bisa mengangkat Huo Shan sebagai putra mahkota yang baru tanpa harus melewati pertempuran berdarah terlebih dahulu. Mungkinkah dirinya sedikit merasa bersalah?Namun, siapa yang bisa menyalahka
Malam penghujung musim gugur datang dengan dingin menusuk.Angin menyapu halaman belakang sebuah paviliun tua, membawa daun-daun kering yang berputar sebelum jatuh di atas batu. Pohon-pohon hampir kehilangan seluruh daun, beberapa ranting tampak telanjang di bawah cahaya bulan yang pucat.Malam ini, Dongmei berdiri di depan altar persembahan. Zihai dan empat orang pengawalnya menemani, berdiri dengan tegap, tanpa ada satu orang pun bersuara.Altar kayu itu terlihat sangat sederhana. Walau begitu, semua disiapkan dengan saksama, tidak asal-asalan.Di atas altar terdapat mangkuk nasi putih, tiga cangkir teh, buah-buahan, kue beras dan beberapa hidangan kecil yang biasa disukai anak-anak sedangkan di depan altar diletakkan papan-papan kayu berjumlah dua puluh dua, sesuai anak yang menjadi korban pembunuhan para pejabat yang haus akan kekuasaan.Altar-altar itu beberapa memiliki nama sementara sebagian hanya memiliki nama keluarga bahkan lima sisanya tid
Liwei berjalan cepat menyusul langkah Dongmei. Ada beberapa alasan hingga membuatnya nekad menyusul adik kandungnya. Liwei harus memberi peringatan kepada Meifeng untuk tidak bersikap seenaknya. Istana memiliki aturan dan Meifeng harus bisa belajar beradaptasi. Sudah satu bulan berlalu, tapi k
Raja Bai menggertakkan gigi. “Apa maksudmu?” Suara berat raja terdengar menakutkan. Namun, Dongmei bergeming. Dia sudah menetapkan hati untuk mengakhir pertunangan ini. “Bagaimana bisa kau meminta hal itu dariku?”“Yang Mulia, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku saat memohon kepada Anda unt
Changpu mengetatkan rahang. Dia mungkin tidak mengenal siapa Putri Meifeng, tapi sebagai wanita, dia pun akan terluka jika tunangannya memutuskan hubungan demi wanita lain. “Kalian sangat kurang ajar!”“Kau pikir kami takut kepadamu hanya karena kau putri dari Jenderal Xi?” ujar pria keempat. “Tema
Jawaban yang diberikan putra mahkota membuat raja tertawa keras. Kekhawatiran putra mahkota memang sangat beralasan mengingat sifat Meifeng yang sekarang mudah tersulut emosinya. “Adikmu tidak akan melakukan hal yang akan membahayakan orang lain jika tidak diganggu,” ujar raja.Jauh dalam hatinya d







