로그인Beberapa waktu telah berlalu sejak Michelle bertemu dengan Ella.Hari-hari di New York perlahan kembali terasa lebih tenang.Michelle dan Leah masih berada di sana karena masa libur sekolah Leah belum berakhir. Roland pun memilih untuk tetap tinggal lebih lama bersama mereka, meskipun keputusan itu membuat jadwalnya menjadi berantakan.Beberapa urusan perusahaan terpaksa dipindahkan ke tangan Daniel. Rapat-rapat yang biasanya dihadiri Roland secara langsung dilakukan melalui panggilan video. Beberapa pertemuan bahkan dibatalkan atau dijadwalkan ulang.Sementara itu, kasus Ella dan Jemmy masih berjalan.Proses hukum terus berlangsung, dan berdasarkan perkembangan perkara yang diterima Roland dari tim hukumnya, keduanya dipastikan akan menghadapi hukuman seumur hidup.Untuk Michelle, semuanya perlahan mulai terasa seperti masa lalu yang akhirnya menemukan tempatnya sendiri.Tidak lagi mengejar. Tidak lagi melarikan diri. Tidak lagi menoleh setiap kali mendengar nama Ella.Pagi itu, caha
Suara langkah seorang sipir terdengar di lorong panjang tempat para tahanan ditempatkan.Ella duduk sendirian di dalam sel. Sudah beberapa hari sejak dirinya berada di tempat itu, tetapi rasanya seperti berbulan-bulan.Tidak ada cermin besar. Tidak ada lemari pakaian yang dipenuhi pakaian branded. Tidak ada meja rias dengan berbagai kosmetik mahal. Tidak ada orang yang setiap saat siap membenahi rambutnya atau memastikan penampilannya tetap sempurna.Ella hanya memiliki dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus melihat dirinya tanpa semua kemewahan yang selama ini membuatnya merasa berkuasa.Rambutnya sudah tidak tertata. Wajahnya terlihat lelah. Pakaian yang dikenakannya sederhana dan kusut.Jauh berbeda dari Ella Hansen yang selama bertahun-tahun selalu tampil sempurna di hadapan orang lain.Ella mengangkat wajah ketika mendengar suara sipir berhenti di depan selnya.“Ella Hansen. Ada seorang wanita yang ingin bertemu denganmu.”Kening Ella berkerut. “Siap
Odelia menatap Jullian beberapa saat. Pertanyaan pria itu masih menggantung di antara mereka.“Apa yang belum aku ketahui, Odelia?”Odelia mengalihkan pandangannya. Dia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, wanita itu berbalik menuju meja makan, seolah masih ada sesuatu yang harus dibereskan di sana.“Sebaiknya kita sarapan dulu.”Jullian menatap punggung istrinya dengan tatapan tidak percaya. “Bagaimana aku bisa sarapan sekarang?”Odelia berhenti.Jullian melanjutkan dengan suara yang lebih berat. “Kau pikir makanan itu akan tertelan ke tenggorokanku setelah tahu kalian menyembunyikan hal penting dariku?”Odelia memejamkan mata. Dia tahu percakapan ini tidak mungkin lagi dihindari.Selama ini dia selalu memiliki alasan untuk menunda. Kesehatan Jullian, kondisinya yang belum benar-benar pulih. Keinginannya untuk menjaga rumah tetap tenang.Namun pagi ini, semua alasan itu terasa tidak lagi cukup.Odelia menarik napas panjang. Kemudian dia berbalik.“Duduklah dulu.”Jullian masih berdir
Pagi itu, rumah keluarga Archer terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela-jendela besar di ruang makan, jatuh di atas meja yang sudah tertata rapi. Aroma sarapan memenuhi ruangan, bercampur dengan suara kecil peralatan makan yang sesekali beradu ketika Odelia merapikan semuanya.Wanita itu baru saja selesai menyiapkan sarapan ketika suara ponselnya terdengar dari atas meja.Odelia menoleh, tangannya yang masih memegang sebuah piring berhenti sejenak sebelum akhirnya dia meletakkannya perlahan di atas meja. Matanya jatuh pada layar ponsel.Valencia.Odelia segera mengambilnya. “Halo, Valen?”“Mom.”Suara Valencia terdengar dari seberang.Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Odelia tanpa sadar mengernyitkan kening.“Ada apa?”Valencia tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, hanya terdengar suara napas putrinya dari seberang telepon.“Mommy sudah melihat berita tentang Ella?”Gerakan tangan Odelia yang sedang merapikan beb
Beberapa menit setelah percakapan mereka berakhir, Michelle masih berdiri di dekat pintu kamar hotel sambil memandangi layar handphone-nya yang sudah kembali gelap.Roland akan datang.Entah kenapa, hanya dengan mendengar kalimat itu, hatinya terasa sedikit lebih tenang.Michelle menghela napas perlahan.Pandangannya kemudian beralih kepada Leah yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur.Gadis kecil itu sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya sedang dalam perjalanan untuk menjemput mereka.Michelle berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk di tepinya. Tangannya bergerak perlahan membelai rambut Leah.Suara bel pintu terdengar tak sampai setengah jam berlalu. Michelle beranjak lembut dari tepian tidur agar Leah tidak terbangun.Dia berjalan menuju pintu dan membukanya. Senyum lembut langsung muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya, Roland.Pria itu berdiri dengan wajah yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. Di belakangnya ada Daniel yang berdir
Pagi itu, Los Angeles terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.Michelle berdiri di depan lemari sambil menatap beberapa pakaian yang sudah diletakkan di atas tempat tidur. Tangannya sesekali berpindah dari satu pakaian ke pakaian lain, tetapi pikirannya sebenarnya tidak benar-benar berada di sana.Sudah beberapa hari terakhir dia merindukan New York.Bukan kotanya, bukan kesibukan yang selalu membuatnya lelah. Melainkan seseorang yang tinggal di sana ... Roland.Michelle menahan senyum kecil ketika mengingat suara pria itu beberapa hari lalu. Ada sesuatu dalam cara Roland berbicara kepada Leah yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat.Leah sendiri bahkan lebih parah. Sejak pagi, gadis kecil itu sudah berulang kali mengatakan ingin bertemu daddy.“Mom.” Suara Leah terdengar dari ambang pintu.Michelle menoleh, melihat Leah berdiri sambil memeluk sebuah tas kecil berisi beberapa mainan kesayangannya.“Kenapa?”“Aku sudah siap untuk ketemu Daddy!”Michelle terse
"Bibi Alins, sepertinya aku akan melahirkan.” Michelle berusaha bersuara tenang demi tidak menambah kepanikan.Padahal wanita itu sudah merintih kesakitan dengan keringat yang berpeluh. Michelle bahkan sudah memucat ketika memastikan air yg keluar dari tengah-tengah pahanya itu adalah
Michelle mendorong dua kartu ini sampai mendekat ke tangan Alins yang berada di tepian meja. Dengan tindakan serupa pula Alins mendorong balik ke tangan Michelle, sampai memaksa Michelle menggenggamnya.“Kami tidak merasa disusahkan olehmu. Sebaliknya, kami merasa senang kau ada bersama
Ruangan senam hamil itu seperti tempat aerobic pada umumnya. Kaca besar melingkari ruang latihan.Michelle menengok ke pintu mencari sosok Alins yang berjanji menemaninya. Hatinya sedikit merasa rendah diri ketika melihat pesertanya senam lainnya didampingi suami mereka.[Michel
"Hentikan mobilnya.” Dengan suara parau Roland memerintah Daniel.Pria yang duduk di kursi penumpang belakang itu telah tersadar dari mabuknya. Matanya memerah itu menyorot tajam Daniel yang melirik singkat dari cermin dashboard.“Apa Anda ingin saya antar ke apartemen?”







