LOGINDeru mesin pesawat jet pribadi HanGroup membelah kegelapan langit malam menuju arah selatan. Di dalam kabin yang mewah namun terasa mencekam, Seonwoo duduk terpaku, menatap gelas wiskinya yang belum tersentuh. Matanya merah, bukan karena kantuk, melainkan karena gejolak emosi yang saling beradu: amarah pada Jae-hyun, kecemasan pada kondisi Winda yang ia tinggalkan, dan ketakutan luar biasa akan kata-kata Dokter Oh yang terus berdengung di telinganya.Seseorang sengaja memicu jantungnya... dan orang itu bukan Anjar."Tuan Han, kita akan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma dalam tiga puluh menit," lapor asistennya melalui interkom. "Tim lapangan di Jakarta sudah melacak sinyal terakhir ponsel cadangan Jae-hyun di kawasan Jakarta Pusat, dekat gedung lama kantor cabang kita."Seonwoo hanya mengangguk dingin. Ia tidak peduli seberapa jauh Jae-hyun berlari, ia akan menyeret pria itu kembali ke Seoul dan memastikan rahasia itu mati bersamanya.Sementara itu, di Penthouse Seoul...Winda
Kesunyian di dalam penthouse milik Han Seonwoo kini bukan lagi sekadar sunyi, melainkan sebuah tekanan yang nyaris meledak. Tiga hari telah berlalu sejak Seonwoo mengunci pintu utama dan memutus seluruh akses komunikasi Winda. Selama itu pula, tidak ada satu butir nasi pun yang melewati kerongkongan Winda. Ia tidak berteriak, tidak menangis, dan tidak memohon. Ia hanya duduk diam di sudut balkon yang terkunci, menatap langit Seoul dengan pandangan kosong, mencoba melakukan perlawanan paling sunyi yang tidak pernah dihadapi Seonwoo.Seonwoo masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tidak lagi tenang. Di tangannya, sebuah nampan berisi bubur hangat yang masih mengepul tampak tak tersentuh sejak tiga jam lalu. Ia meletakkan nampan itu di atas meja dengan dentingan keras yang memecah kesunyian."Makan, Winda." perintah Seonwoo. Suaranya rendah, namun ada getaran kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik nada ketegasannya.Winda tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh. Wajahnya yang semu
Pagi itu, atmosfer di gedung utama HanGroup terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Udara seolah membeku, meninggalkan rasa pahit di setiap helaan napas para karyawan. Park Jae-hyun melangkah masuk ke lobi dengan setelan abu-abu gelap yang disetrika sempurna, wajahnya tetap datar seperti biasanya, namun ia segera menyadari bahwa dunia yang ia bangun selama bertahun-tahun di perusahaan ini telah runtuh dalam semalam.Tidak ada sapaan hormat dari staf administrasi. Tidak ada bungkukan badan dari para juniornya. Yang ada hanyalah tatapan mata yang cepat-cepat dialihkan, bisik-bisik yang tertahan di balik telapak tangan, dan aura pengucilan yang sangat nyata.Begitu ia sampai di depan meja kerjanya, dua pria dari Divisi Kepatuhan dan Keamanan Internal sudah berdiri menunggu dengan tangan bersedekap. Di atas meja Jae-hyun, sebuah kotak karton kosong telah disiapkan, sebuah simbol kematian karier yang paling hina bagi seorang eksekutif."Manajer Park Jae-hyun." ucap salah satu pria it
Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti kamar utama penthouse mewah itu. Seonwoo masih berada di atas tubuh Winda, namun seluruh ototnya menegang kaku seperti patung granit. Kata-kata Winda tentang tangan yang membimbingnya pulang bukan sekadar ucapan, melainkan bagaikan sebuah anak panah perak yang melesat menembus perisai kebencian yang telah ia bangun dengan susah payah selama dua puluh dua tahun.Seonwoo perlahan melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Winda. Jemarinya yang tadi kasar kini gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri di bawah temaram lampu kamar, seolah-olah ia bisa melihat bayangan tangan kecil seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang pernah berkeringat dingin karena takut, namun tetap berusaha menggenggam erat jemari mungil seorang gadis kecil yang lebih ketakutan darinya."Jangan membual, Winda." suara Seonwoo terdengar serak, hampir pecah di ujung kalimatnya.Ia bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang cukup gontai, berusaha
Lampu lift pribadi yang bergerak menuju penthouse mewah milik Seonwoo berkedip dalam kesunyian yang mencekam. Di dalamnya, Seonwoo berdiri membelakangi Winda, namun aura kemarahannya terasa penuh hingga memenuhi ruang sempit itu seperti gas beracun yang siap meledak. Winda bisa melihat pantulan wajah Seonwoo di dinding lift yang mengilap, rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menegang, tanda bahwa pria itu sedang menahan ledakan amarah yang luar biasa.Begitu pintu lift terbuka, Seonwoo tidak menunggu. Ia langsung merenggut pergelangan tangan Winda dengan cengkeraman yang membuat tulang wanita itu terasa ngilu, Seonwoo menyeretnya masuk ke dalam ruang pribadi luas yang hanya diterangi lampu kota dari balik jendela kaca raksasa."Sakit, Seonwoo! Lepaskan!" rintih Winda saat tubuhnya dihempaskan ke atas sofa kulit.Seonwoo tidak berhenti. Ia menanggalkan jas tuksedonya, melemparnya ke lantai, lalu merangkak naik ke atas sofa, mengunci tubuh Winda di bawah kungkungannya. Matanya
Puncak hotel Grand Hyatt Seoul malam itu tampak seperti mahkota bercahaya di tengah kegelapan kota. Namun, di dalam restoran privat yang telah dipesan khusus oleh HanGroup, suasananya jauh dari kata hangat. Cahaya lampu gantung kristal yang memantul di permukaan meja mahoni justru menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tajam, serupa dengan niat orang-orang yang duduk di sekelilingnya.Winda berdiri di samping Seonwoo, mengenakan gaun velvet biru tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna namun terasa seperti baju zirah yang berat.Seonwoo tidak membiarkan tangannya lepas dari pinggang Winda sedikit pun, cengkeramannya yang posesif adalah pengingat bahwa di sini, Winda bukanlah tamu, melainkan jarahan yang akan dipamerkan."Lihatlah wajah mereka, Winda." bisik Seonwoo tepat di telinganya sebelum mereka duduk. "Mereka adalah orang-orang yang meludahi nama ayahmu dua puluh dua tahun lalu. Dan malam ini, mereka harus melihatmu berdiri di sampingku. Bukankah itu sebuah ironi yang indah







