LOGINBukan Istrinya, Tapi Selalu Jadi Penyelamatku
Di kantor polisi sore itu, udara dipenuhi tawa dan lelucon para anggota yang baru pulang dari tugas pengamanan demonstrasi. Namun, satu sudut ruangan tampak berbeda. Jifanya duduk di kursi kayu yang sudah mulai usang, kepalanya bersandar di meja. Bukan karena lelah, tapi karena kecewa. Bukan pertama kali ia berada di sana. Bukan juga pertama kali karena alasan yang sama: membela anak-anak yang disakiti.
"Ji, karena apa lagi sekarang?" tanya polisi senior yang sudah beruban namun masih enerjik.
"Biasa, Pak... tentang anak," jawab polisi muda yang sedang sibuk mengetik laporan di depan komputer.
"Anak siapa lagi sekarang, Jifanya? Anak tetangga, anak RW, atau jangan-jangan anak Pak RT?" goda polisi itu lagi.
Jifanya hanya tersenyum kecut. Candaan seperti itu sudah biasa ia terima. Ia tidak marah, hanya lelah. Lelah karena niat baiknya selalu disalahpahami.
"Jifanya, saya sudah menulis laporan tentang kamu. Tapi... kekasihmu menolak jadi penjamin. Jadi kamu belum bisa pulang malam ini kalau tidak ada yang menjamin. Siapa yang harus kita hubungi?"
Tak ada jawaban dari gadis itu. Ia hanya memeluk dirinya sendiri, menggumam, "Aku cuma menolong..."
Pak polisi senior itu menatapnya iba. "Jifanya, tidak semua niat baik diterima dengan baik. Dunia ini tidak selalu berpihak pada yang benar."
"Kalau kita diam, siapa yang akan menolong anak-anak itu, Pak?" sahut Jifanya, menatap mata pria tua itu dengan penuh keyakinan.
"Minum ini dulu, nak," ujar Pak Agus, menyodorkan air mineral.
Polisi muda itu, kembali bersuara, "Jadi bagaimana, Ji? Orang tua nggak ada, keluarga nggak di sini, kekasihmu juga sudah lepas tangan. Kamu menginap saja ya malam ini?"
"Jangan, Pak. Besok saya kuliah," jawab Jifanya, panik.
Tak lama kemudian, pintu kantor terbuka. Sosok lelaki berseragam rapi, tinggi, dan berwajah dingin masuk. Semua polisi berseru serempak, "Pak Kenan! Istrimu datang lagi."
Jifanya buru-buru berdiri. "Aku bukan istrinya, Pak," ujarnya pelan, wajahnya merah padam.
"Tapi tiap kamu ditahan, dia yang jemput. Udah cocok, tinggal bikin undangan," goda polisi sambil mengedipkan mata.
Kenan tidak merespons. Ia duduk di pojok ruangan, memainkan ponselnya dengan wajah datar.
"Ji, mending kamu nikah aja sama Kenan. Jadi tiap bermasalah, ada suami yang jemput di kantor polisi," canda polisi lain.
"Aduh, jangan Pak. Saya jadi nggak enak," sahut Jifanya gugup.
"Kalau nggak, nikah sama saya aja Ji, kita bikin anak banyak. Biar kamu nggak gangguin anak orang terus," celetuk intel yang duduk di dekat Kenan.
"Berisik, Bapak," potong Jifanya kesal, membuat seisi ruangan tertawa.
Tapi senyumnya menghilang saat polisi muda itu berkata, "Kekasihmu bilang dia udah capek urusin kamu. Dia nggak mau bantu lagi."
Jifanya mencoba menelepon, tapi ponselnya mati kehabisan baterai. Ia panik. Akhirnya, ia menatap Kenan dengan tatapan memohon.
"Pak Kenan, boleh pinjam ponsel? Saya mau hubungi Kak Dila."
"Tuh kan, akhirnya ke suaminya juga larinya," goda atasan Kenan.
Kenan tetap dingin. Tapi diam-diam, ia menyerahkan ponselnya tanpa berkata apa-apa.
"Halo, Ji? Ada apa?" suara lembut Dila terdengar.
"Kak, aku ditahan lagi... bisa tolong jamin aku?"
Dila tertawa lembut. "Anak siapa lagi yang kamu tolong, Jifanya? Sebentar ya, kasih ponselnya ke Kenan."
Kenan mendengus kesal saat menerima ponsel. "Sampai kapan aku harus urusin dia?"
"Dia karyawan Umi. Dia sendiri di kota ini. Kita bantu ya," suara Dila terdengar lembut di ujung telepon.
Akhirnya Kenan menyerah. Ia menandatangani berkas sebagai penjamin.
"Saya yang menjamin," katanya pelan.
"Ooooh..." suara kompak para polisi menggoda, membuat Jifanya semakin malu.
"Kenan istrinya nih. Datang tiap minggu buat ketemu suami," ujar salah satu.
"Berisik kalian," bentak Kenan, lalu menatap Jifanya tajam.
Jifanya menunduk. "Maaf, Mas."
"Kalau bisa, jangan buat masalah lagi," ucap Kenan datar.
Mereka keluar dari kantor polisi. Di depan mobil, Jifanya berbisik pelan, "Aku... nggak bawa dompet. Boleh minta tolong dianter pulang, Mas... eh, Pak."
Kenan menggertakkan gigi. "Menyusahkan terus."
Meski bersungut, Kenan membuka pintu mobilnya. Sepanjang perjalanan, hening membungkus mereka.
"Pak Kenan, saya ke kantor polisi lagi karena—"
"Saya tidak nanya," potong Kenan dingin.
Wajah Jifanya langsung merah menahan malu. Tapi ia tahu, di balik dinginnya lelaki itu, ada sesuatu yang tersembunyi—perhatian yang belum sempat diucapkan.
Tapi saat lampu merah, ia diam-diam melirik Jifanya dari kaca spion.
“Apa kamu sudah makan?”
Jifanya spontan menatap wajah Kenan. Terlihat seperti anak kecil yang ditawarin makan acecream. Wajahnya seketika berbinar cerah.
“Belum Pak.”
“Mari kita makan.”
“Iya, kebetulan aku sudah lapar.”
Polisi bertampang dingin itu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Lalu berjalan ke wararung tenda penjual soto ayam. Jifanya masih berdiri dengan ragu. Ia takut salah mendengar ajakan Kenan.
‘Apa dia tadi mengajakku makan di sini apa dibungkus, ya?’
Gadis cantik itu takut bertanya, setiap kali melihat wajah dingin Kenan dia selalu merasa takut. Di satu sisi Kenan adalah anak bosnya di satu sisi lain dia seorang polisi yang selalu dia repotkan. Jadi, gadis cantik itu selalu merasa sungkan setiap kali bersama Kenan. Tapi entah kenapa takdir selalu membuat mereka sering bertemu di waktu yang tidak tepat.
“Kenapa hanya begong. Kamu mau makan atau mau berdiri di situ?”
“Oh, iya.”
Jifanya, manarik kursi di samping Kenan. Sambil menunggu pesanan datang. Kenan sibuk dengan ponselnya, Jifanya duduk dengan cangung di samping Kenan. Jarak duduk mereka dekat ia bisa mencium bau parfum Kenan. Laki-laki itu sangat gagah saat memakai seragam polisi. Saat semua teman Jifanya sangat mengangumi Kenan karena ketampanannya, tapi tidak untuknya. Bagi Jifanya Kenan bukanlau laki-laki idamannya karena laki-laki itu kaku dan selalu bersikap dingin. Jifanya suka laki-laki humoris dan bisa diajak bercanda. Bukan seperti kanebo kering seperti Kenan.
Saat makanan pesanan mereka datang. Kenan tidak mengatakan apa-apa. Dia makan dengan diam. Jifanya yang biasa banyak bicara dan ceria mendadak ikut beku, melihat wajah Kenan yang dingin.
‘Uh … harusnya aku tidak perlu ikut makan dengannya’ Jifanya membatin.
“Selamat makan.” Ucap Jifanya pelan.
“Iya,” sahut Kenan dengan wajah datar.
Setelah selesai makan Kenan membuka dompet menyodorkan uang berwarna biru padanya.
“Kamu naik angkot dari sini saja, Aku masih ada pekerjaan.”
“Baik Pak. Oh .. Aku minta maaf karena merepot-“
“Kalau kamu tidak ingin merepotkan orang lain, jangan membuat masalah,’ potongnya dengan cepat lalu membuka pintu mobilnya, lalu meninggalkan Jifanya yang masih berdiri.
“Aku juga tidak ingin berurusan dengan manusia kutup utara seperti kamu,” ucap Jifanya sambil memincingkan bibirnya.
Bersambung.
Pagi masih menyisakan sisa embun musim dingin. Di salah satu apartemen mewah di Roma, sinar matahari menyelinap malu-malu melalui tirai renda yang melambai pelan tertiup angin. Aroma kopi dan parfum mawar lembut berpadu dalam keheningan kamar tidur yang hangat.Jifanya baru saja terbangun. Rambut panjangnya tergerai acak, mata indahnya masih menyisakan kantuk. Ia tampak lelah, namun tetap menawan. Kecantikan itu seolah tak pernah luntur, bahkan semakin memesona seiring waktu.Hidup di antara keluarga bangsawan Turki membuat Jifanya harus menyesuaikan diri. Penampilannya kini selalu terlihat elegan dan muda. Tak sedikit yang mengira ia masih gadis dua puluhan. Padahal ia telah menjadi ibu dari seorang anak perempuan yang sebentar lagi berusia enam tahun.Ponselnya bergetar. Nama Aqila terpampang di layar.Dengan senyum mengembang, Jifanya menyentuh layar dan menjawab panggilan video itu lagi.“Mama! Apa aku bisa ikut dengan Papa?” suara Aqila yang ceria menyapa dari ujung layar.Jifany
Musim dingin menyelimuti kota tua Istanbul. Kabut tipis melayang di atas taman yang luas di kediaman keluarga Osmanoglu, tak jauh dari pusat kota tua. Salju yang turun sejak pagi membalut bunga-bunga musim gugur yang belum sepenuhnya gugur, meninggalkan kontras putih di atas merah dan jingga yang nyaris membeku. Di tengah hamparan itu, seorang gadis kecil berlari sambil tertawa riang.Dialah Aqila Fahira Yildiz, gadis kecil berwajah secantik boneka porselen, rambutnya hitam legam tergerai panjang, pipinya bersemu merah karena gigitan angin musim dingin. Ia cucu kesayangan di rumah megah itu. Putri dari Jifanya, wanita yang pernah jatuh dalam jurang luka, dan kini berdiri sebagai pribadi yang kuat dan tangguh.Aqila bermain dengan kakeknya, Emir Osmanoglu, pria paruh baya yang kini seakan menebus dosa masa lalunya dengan mencurahkan kasih tak terbatas kepada cucunya. Sementara itu, Jifanya duduk di balik kaca jendela besar ruang keluarga, matanya tak
Hari itu datang, seperti babak akhir dari sebuah sandiwara panjang yang melelahkan. Langit Jakarta mendung, awan kelabu menggantung di langit sore seolah turut merasakan beratnya hati Jifanya. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Wajah cantiknya tampak tegang, beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai dalam dadanya.Hari ini, ia akan bertemu dengan sosok yang selama ini menjadi bayangan gelap di hatinya, ayah kandungnya, Emir Yaslan Osmonoglu. Lelaki yang telah meninggalkannya dan ibunya tanpa jejak, meninggalkan luka yang bertahun-tahun ia coba sembuhkan sendiri.Di sisi lain, rumah keluarga Jifanya yang megah dan klasik mulai dipenuhi tamu-tamu penting. Termasuk keluarga Kenan yang untuk pertama kalinya datang secara resmi. Neha, sang ibu mertua yang dulunya sangat vokal merendahkan Jifanya, kini menunduk malu. Saat memasuki rumah yang megah bak istana, wajahnya pucat. Bahkan perhiasan yan
Semua keluarga panik mencari Jifanya dan Bayu yang menghilang tanpa kabar. Mereka bahkan belum tahu kalau Jifanya sudah melahirkan. Rupanya Kenan menolak menandatanganin surat cerai Jifanya. Itu artinya Bayu berbohong dan membawa kabur Jifanya.Kakek Ali sangat takut Jifanya diculik orang. Itu sebabnya dia bertindak sangat jauh. Ia akhirnya menelepon keluarga Jifanya.Keesokan harinya , Bandara Internasional Juanda, SurabayaBeberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Dua pria tinggi mengenakan setelan jas elegan turun. Kakek Ali dan Mustofa membungkuk dalam-dalam di hadapan mereka.“Kenan, cepa hormat,” bisik Mustofa menyenggol putranya. Walau bingung, Kenan ikut membungkuk. Ia merasa kecil, tak mengerti apa yang sedang terjadi.Percakapan pun berlangsung dalam bahasa Turki. Sorot mata Kenan tajam, namun penuh sesal. Ia tak pernah menyangka bahwa Jifanya yang dulu ia abaikan, yang pernah ia sakiti ternyata darah bangsawan.“Kenapa Anda menyembunyikan putri s
Pagi itu, Jipanya kembali masuk kantor karena Bayu menolak dia keluar dari pekerjaan, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut memantulkan perasaan Jifanya yang tengah keruh. Di dalam ruang kantor yang biasa riuh, Jifanya kini menjadi sosok yang sunyi. Jika dulu ia dikenal sebagai perempuan ceria yang mampu menghidupkan suasana, kini ia lebih banyak diam, menyembunyikan rasa kecewa dalam senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Bayu, yang selama ini menjadi tempat curhatnya, pun merasa kehilangan sosok Jifanya yang dulu.Ia mencoba segala cara, mulai dari membelikan makanan favoritnya, hingga mentraktir seluruh karyawan hanya demi melihat senyum Jifanya kembali merekah. Namun hasilnya nihil. Jifanya hanya mengangguk, makan secukupnya, lalu kembali tenggelam dalam pekerjaan.“Jifanya,” ujar Bayu suatu sore ketika wanita itu masuk ke ruangannya sambil membawa berkas desain. “Pertengkaran suami-istri itu wajar. Apalagi kamu sebentar lagi akan melahirkan. Kamu butuh Kenan.”Jifanya mele
Senja mulai turun perlahan ketika Jifanya meninggalkan Kenan dengan wajah tanpa ekspresi. Hatinya remuk, namun ia tahu harus pergi. Ia tak membawa apapun, hanya dirinya dan luka yang semakin dalam. Ia melangkah ke rumah tua peninggalan orang tuanya, rumah kecil yang dulu penuh tawa dan kehangatan. Di sana, kenangan masa kecilnya kembali menyeruak, saat ayahnya masih ada, saat dunia terasa sederhana.Rumah itu sepi. Aroma kayu tua dan debu menyambutnya, namun Jifanya merasa damai. Ia duduk di lantai berdebu ruang tamu, memandangi foto usang ayah dan ibunya. Air matanya tumpah perlahan. Ia ingin sendiri, ingin diam, ingin menyatu dengan luka yang terlalu sesak untuk dipendam.Sementara itu, rumah keluarga besar geger. Tidak ada seorang pun yang tahu ke mana Jifanya pergi. Dila, yang biasanya tenang, panik bukan main. Dengan terpaksa, ia menghubungi Bayu, dan tanpa pikir panjang lelaki itu terbang kembali ke Indonesia. Di sisi lain, Pak Mustofa masih terbari







