Share

Rumah Ini Bukan Untukku

Penulis: Borneng
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-25 22:23:26

Pagi yang seharusnya hangat berubah menjadi kabut kelabu bagi Jifanya. Baru beberapa minggu tinggal sebagai menantu di rumah Kenan, tapi rasanya seperti bertahun-tahun dalam penjara dingin tanpa jendela. Setiap langkah yang ia ambil selalu salah di mata ibu mertuanya. Mulai dari cara makan yang disebut kampungan, gaya berjalan yang dianggap tak layak, hingga pilihan pakaian yang dianggap murahan.

Rumah besar bercat krem yang dulu tampak megah kini terasa seperti rumah hantu. Bahkan dindingnya seakan ikut menghakimi keberadaan Jifanya. Berat badannya menyusut drastis, wajahnya pucat, dan matanya bengkak karena terlalu sering menangis diam-diam. Tapi semua itu tak membuatnya berhenti berusaha. Ia ingin diterima, diakui, dicintai… meski rasanya mustahil.

Suatu pagi, keTina Jifanya membantu Bi Jum di dapur, suara tajam itu kembali mengiris telinganya.

“Kamu harusnya ganti pakaian bersih dulu sebelum ke dapur,” ucap ibu mertua Jifanya dengan nada dingin dan menuduh.

“Saya sudah mandi tadi setelah salat, Bu,” jawab Jifanya pelan.

Tatapan wanita itu menajam. “Kamu tidak perlu menyindir aku sudah salat atau belum.”

“Bu… bukan begitu maksud saya—”

“Sudah! Beginilah kalau menantu datang dari kampung. Tak tahu sopan santun.”

Wanita itu meninggalkan dapur tanpa menoleh, meninggalkan Jifanya dengan luka yang kembali menganga. Jifanya menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia menatap Bi Jum, yang hanya mengangguk perlahan—seakan meminta Jifanya bersabar sedikit lagi. Tapi sampai kapan?

‘Apa semua ini salahku? Kalau bisa memilih, aku ingin pergi dari rumah ini… menghilang,’ batin Jifanya sambil mengusap dadanya yang sesak.

Pagi itu, Jifanya dan Bi Jum menyajikan sarapan di meja makan panjang di ruang tengah. Aroma roti bakar dan teh melati memenuhi ruangan. Kenan sudah duduk dengan seragam dinasnya yang gagah, sementara Kakek Ali, Dila, dan ibu mertuanya juga telah berkumpul.

“Kakek dengar kamu naik jabatan, Fan?” tanya Kakek Ali dengan bangga.

“Iya, Kek,” jawab Kenan singkat sambil tersenyum kecil.

“Selamat ya, Mas!” ucap Dila tulus.

“Oh, anak Umi memang hebat.” Ibu mertua itu mencium kepala Kenan dengan lembut, penuh kasih sayang.

Jifanya berdiri diam, mengamati dari balik nampan. Ia merasa asing di tengah keluarga suaminya sendiri. Tapi di dalam hati, ia ikut bahagia. ‘Aku ikut senang mendengarnya, Mas,’ batinnya. Dengan lembut, ia meletakkan roti bakar di depan Kenan.

“Terima kasih,” ujar Kenan singkat, tetap tak menoleh.

“Sama-sama, Mas,” balas Jifanya pelan.

“Ji, kamu duduk, ayo sarapan,” bujuk Dila.

Dengan langkah hati-hati, Jifanya menarik kursi dan duduk di samping ibu mertuanya. Tapi belum sempat menyentuh makanan, suara mengejek itu kembali menyayat hatinya.

“Kamu bau banget. Pakaianmu itu-itu saja, nggak pernah ganti, ya?”

Jifanya spontan mencium pakaiannya. “Enggak, Bu. Saya mandi, kok.”

“Pakaianmu itu terus dari kemarin. Apa kamu nggak punya baju lain?”

Wanita itu berdiri dan menutup hidungnya, membuat suasana pagi itu kaku dan mencekam.

“Umi, jangan begitu,” tegur Dila dengan halus.

Tatapan Kenan hanya datar, dan ayah mertuanya memilih diam. Jifanya ingin berteriak, ingin membela diri, tapi ia hanya menggigit bibir, menahan semua luka.

“Jangan dibawa hati, Umi cuma butuh waktu,” ucap Dila mencoba menenangkan.

“Tapi pakaianku bersih, Kak,” bisik Jifanya.

“Aku tahu, Ji. Sudahlah, duduk.”

Di rumah itu, hanya Dila dan Kakek Ali yang masih bersikap hangat padanya. Selebihnya seperti dinding dingin tanpa emosi. Kenan pun, meski tak pernah berkata kasar, sikap acuhnya terasa seperti paku yang menghujam perlahan.

“Aku berangkat,” ucap Kenan dingin, tanpa menoleh ke arah Jifanya.

“Ayah juga pamit,” ucap ayah mertuanya.

Yang tersisa hanya Jifanya dan Bi Jum di meja makan yang mendadak sepi dan hampa.

“Sabar ya, Mbak Jifanya,” kata Bi Jum, suaranya lembut dan tulus.

“Pakaianku memang nggak banyak, Bi. Tapi aku selalu cuci, selalu kering. Nggak mungkin bau,” ujar Jifanya sambil menahan air mata.

“Aku tahu, Mbak. Nyonya cuma butuh waktu,” ucap Bi Jum, meski suaranya sendiri terdengar ragu.

‘Tapi butuh waktu nggak harus menghina…’ Jifanya mengusap pipinya yang mulai basah lagi. Entah berapa liter air mata yang ia tumpahkan sejak tinggal di rumah itu.

Saat melihat ibu mertuanya sedang mengurus tanaman di halaman, Jifanya memberanikan diri mendekat.

“Bu, Jifanya ingin bicara.”

“Apa lagi?” sahut wanita itu ketus tanpa menoleh.

“Saya ingin tetap kuliah, Bu.”

Wanita itu menghenTinan gerakannya, lalu menatap tajam. “Biaya kuliah mahal. Siapa yang kamu harap biayai? Jangan pikir jadi menantu di sini hidupmu jadi enak.”

“Iya, Bu. Saya akan bekerja untuk membiayai kuliah saya sendiri.”

“Bagus. Jangan bergantung. Lagipula, dari awal kamu nggak cocok jadi menantu di rumah ini. Yang cocok itu dr. Naya. Gadis dari keluarga terhormat, bukan kayak kamu. Nggak jelas asal-usulnya, nggak tahu orang tuanya siapa!”

“Saya nggak pernah berniat merusak siapa-siapa. Semua ini terjadi di luar kehendak saya, Bu.”

“Berhenti! Kamu sengaja ngincer anak-anak saya. Tidur di kamar Kenan, lalu pura-pura polos.”

“Bukan begitu, Bu. Saya masuk kamar itu karena kepala saya pusing. Cuma kamar itu yang terbuka. Ibu sendiri yang suruh saya istirahat di atas. Bi Jum juga tahu.”

Air mata Jifanya jatuh lagi. Luka lama yang terus digores tanpa ampun. Ia tak hanya kehilangan masa depan, tapi juga harga diri dan kebebasan.

“Cukup drama kamu. Air mata buaya nggak mempan di depanku!” gertak wanita itu sebelum masuk ke rumah dan menutup pintu dengan keras.

Jifanya berdiri mematung. Tubuhnya gemetar, tak sanggup menahan sakit di dada. Setelah mandi dan mengenakan baju paling rapi yang ia punya, Jifanya berangkat kuliah. Ia naik angkot, duduk di pojok belakang dengan wajah kosong. Hatinya gelap. Saat angkot berhenti di dekat rel kereta api, pandangan Jifanya menerawang.

Dalam pikirannya muncul satu hal: mati.

Ia turun dari angkot dan mulai berjalan ke arah rel. Di pikirannya, tidak ada lagi yang tersisa. Tatapan jijik ibu mertuanya, sikap dingin Kenan, tuduhan, dan kebencian. Semua itu seperti duri yang menusuk-nusuk dadanya.

Mungkin… mungkin kalau ia mati, semuanya akan selesai.

Ia berjalan perlahan ke rel. Langkahnya seperti melayang. Saat ingin melompat, tiba-tiba ia melihat sesuatu.

Sebuah motor berhenti di depan rel. Seorang laki-laki dan perempuan berboncengan. Mereka tertawa dan berpelukan mesra. Jifanya terpaku. Itu Fahar dan ATina.

Dua orang yang mengkhianatinya. Dua orang yang merusak hidupnya. Darahnya berdesir. Matanya menyipit menatap keduanya.

‘Aku tidak akan mati sia-sia hanya karena ulah dua manusia jahat ini,’ gumamnya dalam hati.

Langkah Jifanya berubah. Ia membalikkan badan dan berjalan menyusuri sisi rel, menjauh dari niatnya semula. Ia ingin menghilang, tapi bukan dalam bentuk kematian.

Namun, langkahnya yang tak tentu arah membuat orang-orang mulai memperhaTinannya. Dua polisi yang tengah istirahat di sebuah warung curiga melihat gadis itu. Salah satunya bangkit dan berjalan cepat ke arahnya.

“Eh! Tunggu… bukannya kamu istri Kenan?”

Jifanya mendongak, wajahnya kosong.

“Bukan. Salah orang,” jawabnya lalu berbalik dan berjalan menjauh.

Namun polisi itu mulai merasa ada yang tak beres. Ia segera menghubungi rekan kerjanya.

Dan sore itu, tanpa disadari Jifanya, satu rahasia akan segera terbongkar—tentang seorang istri yang mulai hilang arah, dan seorang suami yang diam-diam mencarinya.

"Namun polisi itu mulai merasa ada yang tak beres. Ia segera menghubungi rekan kerjanya... dan sore itu, tanpa disadari Jifanya, satu rahasia akan segera terbongkar."

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Aku Tak Pernah Pergi

    Pagi masih menyisakan sisa embun musim dingin. Di salah satu apartemen mewah di Roma, sinar matahari menyelinap malu-malu melalui tirai renda yang melambai pelan tertiup angin. Aroma kopi dan parfum mawar lembut berpadu dalam keheningan kamar tidur yang hangat.Jifanya baru saja terbangun. Rambut panjangnya tergerai acak, mata indahnya masih menyisakan kantuk. Ia tampak lelah, namun tetap menawan. Kecantikan itu seolah tak pernah luntur, bahkan semakin memesona seiring waktu.Hidup di antara keluarga bangsawan Turki membuat Jifanya harus menyesuaikan diri. Penampilannya kini selalu terlihat elegan dan muda. Tak sedikit yang mengira ia masih gadis dua puluhan. Padahal ia telah menjadi ibu dari seorang anak perempuan yang sebentar lagi berusia enam tahun.Ponselnya bergetar. Nama Aqila terpampang di layar.Dengan senyum mengembang, Jifanya menyentuh layar dan menjawab panggilan video itu lagi.“Mama! Apa aku bisa ikut dengan Papa?” suara Aqila yang ceria menyapa dari ujung layar.Jifany

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Lima Tahun Menunggumu

    Musim dingin menyelimuti kota tua Istanbul. Kabut tipis melayang di atas taman yang luas di kediaman keluarga Osmanoglu, tak jauh dari pusat kota tua. Salju yang turun sejak pagi membalut bunga-bunga musim gugur yang belum sepenuhnya gugur, meninggalkan kontras putih di atas merah dan jingga yang nyaris membeku. Di tengah hamparan itu, seorang gadis kecil berlari sambil tertawa riang.Dialah Aqila Fahira Yildiz, gadis kecil berwajah secantik boneka porselen, rambutnya hitam legam tergerai panjang, pipinya bersemu merah karena gigitan angin musim dingin. Ia cucu kesayangan di rumah megah itu. Putri dari Jifanya, wanita yang pernah jatuh dalam jurang luka, dan kini berdiri sebagai pribadi yang kuat dan tangguh.Aqila bermain dengan kakeknya, Emir Osmanoglu, pria paruh baya yang kini seakan menebus dosa masa lalunya dengan mencurahkan kasih tak terbatas kepada cucunya. Sementara itu, Jifanya duduk di balik kaca jendela besar ruang keluarga, matanya tak

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Pelukan Terakhir di Taman Kenangan

    Hari itu datang, seperti babak akhir dari sebuah sandiwara panjang yang melelahkan. Langit Jakarta mendung, awan kelabu menggantung di langit sore seolah turut merasakan beratnya hati Jifanya. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Wajah cantiknya tampak tegang, beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai dalam dadanya.Hari ini, ia akan bertemu dengan sosok yang selama ini menjadi bayangan gelap di hatinya, ayah kandungnya, Emir Yaslan Osmonoglu. Lelaki yang telah meninggalkannya dan ibunya tanpa jejak, meninggalkan luka yang bertahun-tahun ia coba sembuhkan sendiri.Di sisi lain, rumah keluarga Jifanya yang megah dan klasik mulai dipenuhi tamu-tamu penting. Termasuk keluarga Kenan yang untuk pertama kalinya datang secara resmi. Neha, sang ibu mertua yang dulunya sangat vokal merendahkan Jifanya, kini menunduk malu. Saat memasuki rumah yang megah bak istana, wajahnya pucat. Bahkan perhiasan yan

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ternyata Seorang Putri

    Semua keluarga panik mencari Jifanya dan Bayu yang menghilang tanpa kabar. Mereka bahkan belum tahu kalau Jifanya sudah melahirkan. Rupanya Kenan menolak menandatanganin surat cerai Jifanya. Itu artinya Bayu berbohong dan membawa kabur Jifanya.Kakek Ali sangat takut Jifanya diculik orang. Itu sebabnya dia bertindak sangat jauh. Ia akhirnya menelepon keluarga Jifanya.Keesokan harinya , Bandara Internasional Juanda, SurabayaBeberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Dua pria tinggi mengenakan setelan jas elegan turun. Kakek Ali dan Mustofa membungkuk dalam-dalam di hadapan mereka.“Kenan, cepa hormat,” bisik Mustofa menyenggol putranya. Walau bingung, Kenan ikut membungkuk. Ia merasa kecil, tak mengerti apa yang sedang terjadi.Percakapan pun berlangsung dalam bahasa Turki. Sorot mata Kenan tajam, namun penuh sesal. Ia tak pernah menyangka bahwa Jifanya yang dulu ia abaikan, yang pernah ia sakiti ternyata darah bangsawan.“Kenapa Anda menyembunyikan putri s

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Membawamu Pergi

    Pagi itu, Jipanya kembali masuk kantor karena Bayu menolak dia keluar dari pekerjaan, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut memantulkan perasaan Jifanya yang tengah keruh. Di dalam ruang kantor yang biasa riuh, Jifanya kini menjadi sosok yang sunyi. Jika dulu ia dikenal sebagai perempuan ceria yang mampu menghidupkan suasana, kini ia lebih banyak diam, menyembunyikan rasa kecewa dalam senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Bayu, yang selama ini menjadi tempat curhatnya, pun merasa kehilangan sosok Jifanya yang dulu.Ia mencoba segala cara, mulai dari membelikan makanan favoritnya, hingga mentraktir seluruh karyawan hanya demi melihat senyum Jifanya kembali merekah. Namun hasilnya nihil. Jifanya hanya mengangguk, makan secukupnya, lalu kembali tenggelam dalam pekerjaan.“Jifanya,” ujar Bayu suatu sore ketika wanita itu masuk ke ruangannya sambil membawa berkas desain. “Pertengkaran suami-istri itu wajar. Apalagi kamu sebentar lagi akan melahirkan. Kamu butuh Kenan.”Jifanya mele

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Di Antara Luka dan Cinta

    Senja mulai turun perlahan ketika Jifanya meninggalkan Kenan dengan wajah tanpa ekspresi. Hatinya remuk, namun ia tahu harus pergi. Ia tak membawa apapun, hanya dirinya dan luka yang semakin dalam. Ia melangkah ke rumah tua peninggalan orang tuanya, rumah kecil yang dulu penuh tawa dan kehangatan. Di sana, kenangan masa kecilnya kembali menyeruak, saat ayahnya masih ada, saat dunia terasa sederhana.Rumah itu sepi. Aroma kayu tua dan debu menyambutnya, namun Jifanya merasa damai. Ia duduk di lantai berdebu ruang tamu, memandangi foto usang ayah dan ibunya. Air matanya tumpah perlahan. Ia ingin sendiri, ingin diam, ingin menyatu dengan luka yang terlalu sesak untuk dipendam.Sementara itu, rumah keluarga besar geger. Tidak ada seorang pun yang tahu ke mana Jifanya pergi. Dila, yang biasanya tenang, panik bukan main. Dengan terpaksa, ia menghubungi Bayu, dan tanpa pikir panjang lelaki itu terbang kembali ke Indonesia. Di sisi lain, Pak Mustofa masih terbari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status