LOGIN“Masih ada dua lagi?” tanya Alana yang pertama bereaksi. “Kenapa, kakak cantik? Apa kau keberatan?” tanya Chelyna menggoda. “Tidak juga, hanya saja aku berpikir, kak Nathan sialan ini selalu beruntung jika soal wanita,” jawab Alana dengan tatapan sinis ke arah Nathan. “Kau benar. Bocah mesum ini memang selalu beruntung jika soal wanita. Tapi bagaimanapun juga, sekarang dia adalah suamiku dan calon suami kalian juga, jadi belajarlah untuk bersabar,” gerutu Ravina yang hanya bisa didengar oleh Nathan. Hal itu membuat Nathan tersenyum canggung. “Sayang, apa yang kau bicarakan? Bukankah kakak selalu bersikap baik kepada kalian semua? Kenapa kamu malah begitu jahat pada kakak?” ujar Nathan dengan raut wajah sedih. Aktingnya berhasil membuat Rania dan Alena langsung luluh dan mendekat ke arahnya untuk menghibur. “Jangan sedih, kak. Kak Nathan masih punya kami…” “Benar kata Lena, kak. Nia juga akan selalu ada untuk kakak walaupun semua orang memusuhi kakak,” tambah Rania dengan
Setelah semua hal yang terjadi, satu-satunya orang yang tetap diam dan hanya memperhatikan dari kejauhan adalah Nasha. Dia hanya melihat semua yang terjadi, tanpa mengambil tindakan, bahkan tanpa berkomentar. Setelah semua beres, Nathan mengantar Roger dan Chelyna hingga ke tepi kawasan hutan tempat rombongan Marco telah menunggu. Udara pagi terasa tenang, seolah tidak pernah terjadi apa pun yang mengguncang dunia mereka beberapa hari sebelumnya. Marco berdiri paling depan. Begitu melihat Nathan mendekat, pria berpostur besar itu langsung memberi hormat dengan penuh hormat. Namun, sikap itu sama sekali tidak ia tunjukkan kepada Nasha. Tatapan yang ia arahkan justru dingin dan sinis, seolah menimbang sesuatu yang tidak ia sukai. Nathan mengenakan kemeja putih yang sedikit transparan karena cahaya matahari. Dari balik kain tipis itu, tiga tato gear di dadanya terlihat jelas. Mata Marco langsung membelalak. Ia mengenali simbol itu. Dalam sekejap, semua potongan teka-teki ters
Keheningan menggantung di udara setelah pertanyaan Chelyna terucap. Tatapan Chelyna tidak memelas, tidak memohon, dan tidak pula memaksa. Ada keberanian dalam pernyataannya, namun di baliknya tersembunyi ketakutan yang tidak dibuat-buat, ketakutan seorang gadis yang telah mempertaruhkan harga dirinya, namun masih ingin mendengar kepastian dengan kepala tegak. Nathan terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, pikirannya benar-benar kembali tenang. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebingungan, hanya satu kenyataan sederhana bahwa gadis di hadapannya tidak sedang bermain-main. Ia menarik napas panjang. “Chelyn,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan tenang. “Aku tidak bisa menjanjikan hubungan yang sederhana.” Chelyna mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu. “Hidupku tidak akan pernah normal,” lanjut Nathan. “Di masa depan, aku mungkin punya terlalu banyak musuh, terlalu banyak rahasia, dan terlalu banyak masalah yang akan menghantui setiap langkahku. Jika kau ingin p
"Eh, dari mana kau tahu kalau kami ada lima?" tanya Mila bingung. "Maaf kak Mila, aku sudah menyelidiki semua tentang kalian, dan aku memiliki data lengkap kalian. Karena itulah aku tahu jika kalian semua layak untuk menjadi para istri Kak Nathan, sekaligus menjadi kakak-kakakku," jawab Chelyna tampak tulus. "Hemh... jangan terlalu percaya padanya, dia itu rubah licik yang punya segala cara untuk memanipulasi seseorang," cibir Nasha. "Kak Nasha, kali ini aku serius. Kakak kenapa masih membenciku? Padahal kakak sendiri tahu, tiga tahun lalu tidak terjadi apa-apa antara aku dan Kak Nathan. Aku melakukannya karena aku benar-benar menyukai Kak Nathan dan ingin berada di sisinya. Bukankah kalian berlima juga melakukan hal yang sama? Jadi... di mana liciknya aku?" tanya Chelyna sambil menekankan beberapa kata, yang seketika membuat pipi kelima gadis itu kembali memerah. "Baiklah... baiklah, aku tidak akan menyebutmu rubah licik lagi. Tapi apa kau yakin tidak akan membuat masalah untuk N
Nathan melangkah santai, perlahan mendekati kedua gadis itu. “Aku suka kalian terus meningkatkan kemampuan bertarung, tapi aku tidak ingin kalian menggunakan senjata untuk saling menyakiti satu sama lain.” Nathan melambai ke arah Rania, dan ia segera mendekat. Nathan merengkuh pinggang rampingnya dan berkata, “Karena kita semua adalah keluarga.” Nathan melirik semua orang, dan perlahan ia tersenyum. “Mulai sekarang aku ingin kalian semua fokus berlatih kultivasi. Karena Marco, Roger, dan Chelyna juga sudah ada di sini, jadi akan ada lima mentor yang akan membimbing kalian semua untuk berlatih.” Ia melirik sekali lagi, lalu mulai membagi tugas mereka. “Rania, Mila, Alana, dan Alena, akan berlatih bersamaku. Billy akan berlatih dengan Roger, kalian berdua adalah saudaraku, jadi belajarlah untuk merasakan keakraban satu sama lain dan jadilah saudara. Marila, Mathilda, Laras, dan Bella berlatihlah dengan Nasha dan Chelyna. Braga, Richie, Reno, dan Seno, kalian ikuti Marco dan berla
“Aku pikir setelah tiga tahun berlalu, sikap tegasmu akan sedikit berubah, kak,” ujar Roger sambil tertawa kecil. “Kau sengaja mengejekku, kan?” omel Nathan. “Cepat katakan bagaimana kau bisa tiba dengan begitu cepat saat aku baru saja memanggilmu?” “Apa lagi, kak, tentu saja karena kekasih kecilmu memaksaku menemaninya untuk bertemu denganmu,” jawab Roger sembarangan. Saat itu mata Nasha langsung menyipit. Rania, Mila, Alana, dan Alena saling berpandangan dengan bingung. Menyadari dirinya salah bicara, Roger buru-buru memperbaiki kalimatnya. “Maksudku, adik kecilku mengajakku bertemu penyelamatnya.” “Sudahlah, Roger. Kau lihat tatapan mata Nasha,” ujar Nathan. “Apa kau kira penjelasanmu masih berguna?” “Hehehe… maaf, kak, aku keceplosan,” ujarnya canggung sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. “Di mana Chelyna?” tanya Nathan. Sebuah belati hitam dengan ukiran naga dan gantungan dua bunga merah muda tepat melesat ke arah Nathan pada saat itu. Tanpa menoleh, Nathan mengge







