FAZER LOGINDi seluruh penjuru aula, perhatian yang sebelumnya terpecah kini langsung tertarik ke arah pintu. Percakapan yang sempat muncul perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan yang semakin menekan. Tidak ada satu pun yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi, namun insting mereka cukup untuk menyadari bahwa momen ini bukanlah hal biasa. “I-Itu, k-kau…” Irish akhirnya membuka suara setelah beberapa saat terdiam, napasnya sedikit tersendat seolah kalimat itu sulit untuk dipaksakan keluar. Tatapannya masih terpaku pada sosok di depan pintu, namun ada getaran halus yang tidak bisa ia sembunyikan. Sesaat kemudian, satu nama akhirnya terucap dari bibirnya dengan jelas, “T-Tuan Muda Nathan…” Nama itu jatuh begitu saja, namun dampaknya menyebar cepat di dalam aula. Di sisi lain, Dylan West yang sejak tadi berdiri sebagai pemimpin Sekte Lembah Jiwa justru tidak menunjukkan reaksi seperti biasanya. Tatapannya yang dalam langsung terkunci pada pemuda di ambang pintu itu, dan untu
“Jika dia seorang pria… tanpa memandang statusnya, aku akan mengabdi kepadanya sebagai seorang istri yang baik.” Suaranya tidak lagi bergetar. “Aku akan menjadikannya suami dan satu-satunya pria yang akan aku cintai sepanjang hidupku.” Ucapan itu menggema di seluruh aula. Beberapa penatua langsung mengernyit tipis. Janji seperti itu bukan sesuatu yang bisa dianggap ringan, terlebih diucapkan di hadapan begitu banyak orang. Tepat saat itu… Langkah kaki terdengar dari pintu masuk. Semua orang secara refleks menoleh. Penatua Pedang Malam dan Penatua Tengkorak Hitam memasuki aula dengan aura yang langsung mendominasi ruangan, diikuti oleh dua sosok muda di belakang mereka. Sandi dan Devan. Tatapan Devan langsung tertuju pada Irish. Matanya menyipit, dan senyum tipis muncul di sudut bibirnya, seolah ia baru saja melihat sesuatu yang sangat menarik. “Nona Irish… apakah kata-kata yang baru saja kau ucapkan… serius?” Suaranya tenang, namun cukup jelas untuk terdengar o
Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di sekte ini, ekspresinya berubah. Bukan tenang, bukan dingin, melainkan sedikit panik, seperti seseorang yang baru saja menyadari sesuatu yang seharusnya ia pahami sejak awal. Sementara itu, Irish akhirnya tiba di kamarnya. Ia menutup pintu dengan cepat, lalu bersandar di sana. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil, dadanya naik turun akibat terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat. Pikirannya terasa kacau. Namun di tengah kekacauan itu, satu hal kembali muncul dengan jelas. “Tuan Muda Nathan…” Nama itu terucap pelan dari bibirnya. Seseorang yang seharusnya asing, namun entah mengapa terasa tidak sepenuhnya asing. Alisnya sedikit berkerut ketika ia mencoba mengingat sesuatu yang terasa sangat dekat. “Suara itu…” gumamnya pelan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Seolah ada sesuatu yang perlahan tersusun di dalam pikirannya, potongan demi potongan yang mulai saling terhubung tanpa bisa dihentikan. Dalam sekejap, pipi
Pipi gadis itu perlahan memerah, bahkan hampir semerah kepiting rebus, sementara Nathan berusaha tetap menjaga ketenangannya meskipun situasi ini jelas tidak biasa. “M-maaf, Nona… aku tidak melihatmu datang,” ucap Nathan akhirnya, suaranya tetap terjaga meski ada sedikit jeda yang tidak biasa. Gadis itu sedikit tersentak, seolah baru kembali sadar dari keterkejutannya. “T-tidak, Tuan Muda… ini salahku. Aku yang terburu-buru. Aku sedang mencari sesuatu milikku yang sangat penting… itu hilang. Maaf, aku harus pergi.” Suaranya terdengar gugup, bahkan sedikit terburu-buru, seakan ia ingin segera mengakhiri momen itu sebelum pikirannya semakin kacau. Nathan mengangguk pelan dan berniat melepaskan pelukannya. Namun tepat saat itu, langkah kaki lain terdengar dari ujung lorong. Luna, Gina, dan Lauren muncul tidak jauh dari sana. Begitu mereka melihat posisi Nathan dan gadis itu, ketiganya langsung berhenti di tempat. Ekspresi terkejut jelas terlihat di wajah mereka. Jarak y
“Apa yang sebenarnya terjadi tadi…” gumamnya pelan, penuh dengan perasaan bingung, suaranya hampir tidak terdengar di tengah uap panas yang menyelimuti ruangan. Ia mencoba mengingat kembali setiap detail, gerakan, sentuhan, dan reaksi yang tidak bisa dihindari saat itu. Dalam sekejap, ekspresinya berubah lagi. Dari malu menjadi kesal. “Pria itu…” ucapnya pelan, nadanya mulai berubah. Namun ia terdiam. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal yang tidak bisa ia bantah. Kesalahan itu tidak sepenuhnya milik pria tersebut. Ia sendiri yang masuk tanpa memastikan keadaan. Ia sendiri yang tidak menyadari keberadaan orang lain di dalam kolam suci. Dan yang paling tidak bisa ia terima… Ia bahkan tidak sempat melihat wajah pria itu dengan jelas. Hanya bayangan dan suara yang tersisa di ingatannya. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya, menekan perasaan yang masih bergejolak di dalam dada. Namun tepat saat itu, sesuatu terasa hilang. Ekspresinya lang
Penjelasan dari Nathan membuat Penatua Embun Senja terdiam cukup lama. Ada banyak hal yang tidak ia duga sebelumnya, namun anehnya semuanya tetap terasa masuk akal ketika disusun satu per satu. Tidak ada celah yang benar-benar bisa ia bantah, dan justru itulah yang membuatnya semakin berhati-hati dalam menanggapi. Percakapan mereka pun perlahan beralih ke hal lain, yaitu tentang Rania. Nathan menjelaskan kondisi gadis itu dengan jujur, tanpa menyembunyikan apa pun, termasuk hilangnya ingatan yang ia alami. Ia tidak mencoba melebih-lebihkan situasi, juga tidak memohon dengan berlebihan, ia hanya menyampaikan apa adanya dengan satu harapan sederhana, agar ada cara untuk memulihkan kembali ingatan tersebut. Penatua Embun Senja terlihat berpikir cukup lama. Tatapannya sedikit menurun, seolah menelusuri berbagai kemungkinan yang ada di dalam benaknya. “Jika itu berkaitan dengan jiwa yang hilang akibat ritual…” ucapnya pelan, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya, “maka i
Tinggal beberapa jam sampai olimpiade antar kampus resmi dibuka. Namun konsentrasi Nathan sedikit terpecah karena aura aneh yang sempat ia rasakan dari Hansen dan Roni. Nathan melamun sendiri, tanpa sadar ia bergumam, "Aura itu terasa familiar, tapi bagaimana mungkin? Bukankah aku sudah melenyap
Pagi itu, halaman Universitas Negeri Senantara (UNS) di kota Metropolis jauh lebih ramai dari biasanya. Bus-bus besar dengan lambang universitas berjajar rapi. Spanduk keberangkatan tim olimpiade antar kampus berkibar tertiup angin. Mahasiswa yang tidak ikut pun berkumpul memberi semangat.
Beast Mountain perlahan kembali tenang. Aula utama League of Assassins telah bersih dari darah, namun bau besi masih menggantung di udara. Para petinggi berdiri berjajar, menunduk pada satu sosok di tengah ruangan. Nathan Ferdian. Ra’s Al Qatili yang baru. Namun… tak satu pun dari mereka
Benteng itu masih sama seperti dulu, tetapi auranya kini berbeda. Lebih dingin. Lebih ketat. Semua orang bersiaga penuh. “Penjagaan lebih tebal,” gumam Nasha sambil mengamati pergerakan para penjaga di menara. “Mereka benar-benar siap bertempur.” Nathan mengangguk pelan. “Berarti kita







