LOGINBeberapa waktu kemudian, kelima orang itu tiba di kediaman keluarga Smith.
Brian dan ketiga rekannya membawa Nathan masuk melalui gerbang rumah keluarga Smith. Meski tubuhnya kini sudah mengenakan pakaian milik Billy, rambut dan janggutnya yang acak-acakan tetap membuatnya mencolok dan menjadi pusat perhatian. Penjaga, pelayan, tukang kebun, sopir, dan seluruh staf yang berada di halaman menatapnya dengan rasa penasaran yang jelas terpancar di wajah masing-masing. Nathan hanya berjalan tertunduk di belakang Billy, satu-satunya orang yang benar-benar ia percayai saat ini. Sampai di depan pintu, Brian menekan tombol sistem otomatis dan mengirim pesan ke istrinya. “Sayang, buka pintu. Aku sudah kembali dan kami menemukan seseorang yang selamat dari pulau asing. Kita perlu memberinya perawatan.” Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Laila, yang tampak masih berusia tiga puluhan, menatap Nathan dengan ekspresi terkejut. “Sayang, siapa yang kau selamatkan? Kenapa kau bawa dia ke rumah kita?” tanyanya, suaranya bercampur antara bingung dan cemas. Sejenak Nathan menatapnya dengan mata yang masih waspada. Ia merasakan kehangatan dari tatapan Laila, namun ia juga merasa malu dan canggung karena kondisi dirinya yang lusuh dan kotor setelah bertahan hidup di pulau terpencil selama lima tahun. Sementara itu, Laila jelas merasa heran kenapa suaminya membawa orang asing kembali ke rumah mereka. Sebenarnya siapapun orangnya, pasti akan memiliki pemikiran yang sama dengan yang Laila pikirkan sekarang, saat berada di kondisi serupa. Keempat pria itu juga bukannya tidak memahami hal itu, hanya saja ada sesuatu yang menggugah jiwa kelelakian mereka dan membuat mereka terobsesi. Mereka menghormati keberanian dan kemampuan Nathan untuk bertahan hidup sejak berusia 14 tahun di pulau liar itu sendirian. Bagi mereka, sosok Nathan adalah bukti nyata dari ketahanan dan kekuatan yang jarang dimiliki oleh seseorang dan bahkan jarang ditemui di dunia. Selain itu, mereka berempat juga tahu tentang pencarian besar-besaran lima tahun lalu saat perahu Norman dinyatakan hilang. Pencarian perahu Norman Ferdian lima tahun lalu melibatkan keluarga terkaya dan paling berkuasa di Kota Metropolis, keluarga Middleton. Mereka sendiri belum mengetahui mengapa keluarga nomor satu itu mau mengerahkan seluruh armada besar keluarganya hanya untuk menemukan sebuah perahu nelayan kecil. Sebenarnya itu karena ada rahasia besar yang tersembunyi di balik identitas Nathan. Tidak banyak orang yang tahu jika ibu kandung Nathan, Kate Middleton, adalah putri tertua Reynand Middleton, kepala keluarga Middleton saat ini. Pernikahan Norman dan Kate yang sederhana tidak disetujui Reynand, karena Reynand tidak ingin putri sulung kesayangannya menderita jika hidup bersama seorang nelayan yang hanya tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran kota. Namun Reynand tidak tahu jika takdir akan mengantarkan putrinya kepada kebahagiaan sejati. Kate benar-benar hidup bahagia bersama pria sederhana yang mencintainya dengan tulus hingga akhir hayatnya. Karena tak kunjung mampu meyakinkan ayahnya, Kate akhirnya memutuskan pergi dari rumah dan tinggal bersama Norman. Setelah beberapa tahun, dengan usaha Sarah, akhirnya Reynand menerima keputusan putrinya. Saat itu ia akhirnya menyadari bahwa sikapnya memang terlalu keras. Kate yang tetap bertahan bersama suaminya menunjukkan bahwa Norman benar-benar pria yang baik dan bisa membahagiakan putrinya. Karena terlalu malu, Reynand tidak meminta Kate kembali. Ia hanya menugaskan Sarah untuk pergi ke Desa Amaris dan tinggal di sebelah rumah Kate, serta diam-diam membantu perekonomian keluarga mereka. Ketika Kate berpulang, Reynand merasakan kesedihan yang luar biasa. Ia secara pribadi datang dan meminta maaf kepada Norman. Ia tahu keputusan yang salah telah membuat luka yang sangat dalam di hati putri sulungnya. Sejak itu ia memutuskan akan merawat menantu dan cucunya dengan menggunakan seluruh harta kekayaan dan kekuasaan keluarganya, namun Norman yang sudah terbiasa hidup sederhana langsung menolak dengan hormat dan memilih tetap hidup sederhana. Puncaknya, saat perahu Norman dinyatakan hilang dan Nathan juga ada di dalamnya, Reynand melakukan pencarian besar-besaran seperti orang gila, mengerahkan seluruh armada besar keluarga Middleton demi menemukan cucu kesayangannya. Dan begitulah sejarah itu terukir. … Kembali ke rumah keluarga Smith, Laila menoleh ke Nathan, mengernyitkan dahi, dan berkata pelan, “Brian, siapa pemuda ini? Aku…” “Sayang, bisakah kita masuk dulu, kita bicarakan di dalam,” potong Brian cepat, menenangkan istrinya. “Baiklah, ayo masuk,” jawab Laila, masih terlihat bingung. Setelah duduk di ruang tamu yang luas, Brian dan teman-temannya mulai menceritakan kejadian yang dialami Nathan di pulau itu. Laila, yang tadinya kaku, kini meneteskan air mata. Kepeduliannya muncul karena rasa iba terhadap nasib Nathan dan ayahnya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara motor sport di halaman. “Sayang, Mila kembali...” kata Laila gugup. Brian menatap ke arah jendela, melihat dua sosok gadis cantik muncul. Billy tersenyum tipis, “Dia kembali bersama Rania. Kau cepat sambut mereka dan beritahukan tentang Nathan. Jika tidak, mereka mungkin akan kaget… tapi kita juga harus pastikan Nathan akan tetap tenang.” Brian menunduk sedikit, mengamati Nathan saat ia menoleh, wajahnya masih waspada tapi ada kilatan rasa ingin tahu. Franky menepuk bahu Billy, “Dia mulai menyesuaikan diri sedikit… lihat, dia tidak begitu tegang seperti sebelumnya.” Paul menatap Nathan sambil berkata dalam hati, “Lima tahun di pulau itu… kau benar-benar bertahan, nak. Semua ini, setiap detail, akan kami jaga untukmu. Kami akan menemukan keluargamu dan mengantarmu kembali pada mereka.” Sementara itu, Billy menatap Nathan dan berkata lembut, “Kawan, kau harus ikut aku. Kita akan membersihkan dirimu dulu. Setelah keluargamu datang, kita akan temui mereka, dan kau bisa kembali ke rumahmu jika mau.” Nathan mengangguk pelan, “Terima kasih, Bil,” ucapnya, suaranya pelan tapi tulus. Billy tersenyum, mengetahui bahwa Nathan benar-benar mempercayainya. Ketika Nathan mengikuti Billy ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Brian, Franky, dan Paul tetap memantau dari jauh, memastikan setiap langkah Nathan aman. Mereka tahu ini baru permulaan. Selanjutnya, mereka bertiga dengan segera meminta beberapa bawahan untuk berangkat ke kediaman keluarga Ferdian, memberi kabar tentang keberadaan Nathan sekaligus menjemput keluarga Nathan melalui alamat yang tertera di kartu identitas Norman. … Di luar kediaman keluarga Smith, dua gadis cantik sedang berdiri merapikan pakaian mereka. Mereka terlihat seperti dua dewi yang memiliki kepribadian berbeda namun sama-sama memancarkan aura kecantikan sempurna. Seorang gadis dengan jaket kulit, rambut panjang yang terikat di belakang, menggunakan celana jeans panjang dan sepatu sporty menampilkan sosok wanita tangguh dan mandiri. Dia adalah Mila Smith, putri tunggal Brian dan Laila. Gadis yang satunya adalah gambaran seorang peri yang lebih lembut. Dia menggunakan baju kaos lengan panjang yang tampak sopan, dengan sebuah map dalam pelukannya, memakai kacamata modis dan rok berbunga selutut, membuatnya tampak sangat cantik alami dan elegan. Dia adalah Rania, putri sulung Paul dengan istrinya Naina, teman sekampus sekaligus sahabat Mila.Nathan melangkah santai, perlahan mendekati kedua gadis itu. “Aku suka kalian terus meningkatkan kemampuan bertarung, tapi aku tidak ingin kalian menggunakan senjata untuk saling menyakiti satu sama lain.” Nathan melambai ke arah Rania, dan ia segera mendekat. Nathan merengkuh pinggang rampingnya dan berkata, “Karena kita semua adalah keluarga.” Nathan melirik semua orang, dan perlahan ia tersenyum. “Mulai sekarang aku ingin kalian semua fokus berlatih kultivasi. Karena Marco, Roger, dan Chelyna juga sudah ada di sini, jadi akan ada lima mentor yang akan membimbing kalian semua untuk berlatih.” Ia melirik sekali lagi, lalu mulai membagi tugas mereka. “Rania, Mila, Alana, dan Alena, akan berlatih bersamaku. Billy akan berlatih dengan Roger, kalian berdua adalah saudaraku, jadi belajarlah untuk merasakan keakraban satu sama lain dan jadilah saudara. Marila, Mathilda, Laras, dan Bella berlatihlah dengan Nasha dan Chelyna. Braga, Richie, Reno, dan Seno, kalian ikuti Marco dan berla
“Aku pikir setelah tiga tahun berlalu, sikap tegasmu akan sedikit berubah, kak,” ujar Roger sambil tertawa kecil. “Kau sengaja mengejekku, kan?” omel Nathan. “Cepat katakan bagaimana kau bisa tiba dengan begitu cepat saat aku baru saja memanggilmu?” “Apa lagi, kak, tentu saja karena kekasih kecilmu memaksaku menemaninya untuk bertemu denganmu,” jawab Roger sembarangan. Saat itu mata Nasha langsung menyipit. Rania, Mila, Alana, dan Alena saling berpandangan dengan bingung. Menyadari dirinya salah bicara, Roger buru-buru memperbaiki kalimatnya. “Maksudku, adik kecilku mengajakku bertemu penyelamatnya.” “Sudahlah, Roger. Kau lihat tatapan mata Nasha,” ujar Nathan. “Apa kau kira penjelasanmu masih berguna?” “Hehehe… maaf, kak, aku keceplosan,” ujarnya canggung sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. “Di mana Chelyna?” tanya Nathan. Sebuah belati hitam dengan ukiran naga dan gantungan dua bunga merah muda tepat melesat ke arah Nathan pada saat itu. Tanpa menoleh, Nathan mengge
Gudang tua di Kota Heaven akhirnya benar-benar sunyi. Api telah padam, jeritan telah hilang, dan yang tersisa hanyalah noda darah yang mengering di lantai beton retak. Namun kesunyian itu bukanlah kedamaian, melainkan sisa getaran dari kemarahan besar yang baru saja dilepaskan ke dunia. Nathan berdiri sendirian di lantai utama gudang, punggungnya tegak, sorot matanya tenang. Amarahnya telah mereda, disegel rapi seperti pedang yang kembali ke sarungnya. Saat itulah Ravina kembali berbisik di dalam kesadarannya. “Masih ada satu orang tersisa.” Nathan tidak menoleh, tidak bereaksi berlebihan. “Dia bersembunyi di lantai paling atas,” lanjut Ravina. “Dialah pelaku utama. Yang mengeksekusi penculikan kekasih kecilmu.” Langkah Nathan beralih ke tangga besi di sudut gudang. Tangga itu berderit pelan saat ia menaikinya, setiap langkah terdengar jelas di kesunyian yang mencekam. Di lantai paling atas, sebuah ruangan kecil terbuka, gelap, sempit, penuh dengan ketakutan. Di sana
Gudang itu bergetar. Bukan karena ledakan. Bukan pula karena helikopter yang masih meraung di langit. Melainkan karena dua aura yang saling menekan, saling menguji, seperti dua bencana alam yang dipaksa berada dalam satu ruang sempit. Pria itu berdiri santai di hadapan Nathan, tangan dimasukkan ke saku celana, seolah puluhan mayat di sekeliling mereka hanyalah dekorasi tak berarti. “Dendam,” ulang Nathan pelan. “Dendam siapa?” Senyum pria itu melebar tipis. “Dendam keluarga,” jawabnya. “Hatani.” Udara langsung membeku. Nama itu jatuh seperti palu godam. Nathan tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Namun di balik ketenangannya, sesuatu bergerak… dan bangkit. “Jadi kau putra pertama keluarga Hatani,” ucap Nathan datar. “Benar.” Pria itu melangkah perlahan. “Elang Hatani adalah adikku. Yang kau hancurkan. Yang kau buat kehilangan segalanya.” Nathan menatapnya tanpa berkedip. “Salahkan dirinya karena berani mengusik gadis yang tak seharusnya ia dekati sejak awal,” balas Natha
Langit malam di atas Kota Heaven terbelah oleh deru baling-baling. Puluhan helikopter melintas rendah, membentuk formasi rapi seperti kawanan predator yang baru dilepaskan dari rantainya. Lampu sorot menyapu gudang-gudang tua di kawasan industri terbengkalai, membuat bayangan bangunan tua itu tampak seperti bangkai raksasa yang menunggu untuk dikoyak. Di dalam salah satu helikopter terdepan, Nathan berdiri tanpa duduk. Matanya dingin. Tenang. Namun siapa pun yang mengenalnya tahu… Ketenangan itu adalah tanda paling berbahaya. Nasha berdiri di sampingnya, rambut peraknya diikat rapi, ekspresinya datar. Tangannya sudah memegang sepasang jarum perak, berkilau samar di bawah lampu kabin. “Lokasi target?” tanya Nathan singkat. Roger menjawab lewat komunikasi terenkripsi. “Gudang sektor timur Heaven. Tiga lapis penjagaan. Ada sekitar empat puluh orang bersenjata. Tidak ada warga sipil.” Nathan mengangguk kecil. “Bagus.” Satu kata itu membuat udara di kabin terasa membeku. “Tid
Alena menjerit sambil berlari ke arah saudarinya itu, tanpa memedulikan situasi di sekelilingnya. Ia berlutut, tangannya gemetar mencoba menekan luka kakaknya. “Tolong… tolong bangun… jangan tidur…” Air matanya jatuh tanpa henti. Saat itulah seseorang melangkah maju. Tinggi. Berpakaian hitam. Wajahnya tertutup topeng. Alena menatapnya dengan mata penuh air mata. “Tolong… kakakku… dia berdarah…” Untuk sesaat… Hanya sesaat… Stuart ragu. Ia menatap Alana yang bersimbah darah. Napasnya tertahan. Ada rasa asing yang menekan dadanya. Rasa kasihan yang tidak ia inginkan. Namun kemudian… Wajah Nathan terlintas di benaknya. Sorakan. Tepuk tangan. Tatapan jijik orang-orang padanya. Harga diri yang diinjak-injak. “Ini salahnya,” bisik suara dalam kepalanya. Tangannya mengepal. Rasa kasihan itu dipatahkan dengan paksa. “Diam. Kau harus ikut kami sekarang.” Plak. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Alena. Tubuh gadis itu terhuyung, lalu ambruk







