LOGINUdara di halaman Sekte Lembah Jiwa terasa tegang. Lingkaran para murid wanita yang mengelilingi Nasha dan Laqisha semakin rapat. Aura mereka saling bertabrakan, menciptakan tekanan yang cukup untuk membuat tanah di bawah kaki retak halus. Namun di tengah semua itu… Kedua gadis itu tetap tenang. Seolah semua tekanan itu tidak berarti apa-apa. Seorang gadis melangkah maju. Rambutnya pendek sebahu, sorot matanya tajam. Gadis itu Gina. Aura Raja Suci tahap awal terpancar dari tubuhnya. Ia menatap langsung ke arah Laqisha. “Kalau hanya bicara, semua orang bisa,” katanya dingin. “Tunjukkan kemampuanmu.” Laqisha tersenyum tipis. “Baik,” jawabnya santai. Tanpa banyak gerakan… Ia melangkah maju. Dalam sekejap, keduanya sudah saling berhadapan di tengah lingkaran. Tidak ada aba-aba. Tidak ada hitungan. Gina langsung bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat cepat, pedangnya menebas lurus ke arah leher Laqisha. Namun… Gerakan itu terlalu mudah dibaca. Laqisha hanya memiringkan
Ruang batu yang luas itu dipenuhi aura gelap yang menekan. Dindingnya dipenuhi ukiran kuno yang memancarkan energi asing, seolah menyimpan sejarah panjang yang penuh darah. Di tengah ruangan, tubuh Rania terbaring tak berdaya. Segel energi membungkus seluruh tubuhnya seperti rantai tak kasat mata, mengunci setiap aliran kekuatan di dalam dirinya. Aura Raja Suci tahap awal yang ia miliki sama sekali tidak bisa digunakan. Di hadapannya, seorang pria berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Tatapannya tajam dan dingin, seperti ular yang sedang mengamati mangsanya. Nara Aolong. Di sampingnya, Raka berdiri dengan ekspresi tenang, seolah semua ini hanyalah bagian dari rencana yang telah ia perhitungkan sejak awal. “Jadi ini gadis naga yang kau maksud?” Suara Nara rendah, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat. Tatapannya jatuh pada tubuh Rania."Iya Ayah." Beberapa saat Nara hanya diam, mengamati Rania tanpa berkedip. Lalu perlahan, alisnya men
Cahaya keemasan masih menyelimuti altar. Tenang. Hangat. Namun di tengah ketenangan itu… Waktu terasa berjalan sangat lambat. Nathan masih belum terbangun. Tubuhnya tetap terbaring di atas ranjang emas. Napasnya lemah. Namun stabil. Di sampingnya… Ravina tidak pernah menjauh. Sejak kesadarannya kembali… Ia terus berada di sana. Menjaga. Merawat. Dengan tangannya sendiri, ia membersihkan darah yang mengering di tubuh Nathan. Air hangat ia usapkan perlahan, hati-hati, seolah takut melukai pria itu lebih jauh. “Kapan kau akan bangun?” Bisiknya lirih, meski Nathan tidak bisa mendengar. Ia mengganti kain di tubuh Nathan, merapikan rambutnya, lalu menatap wajah pria itu lama. Seolah mencoba menghafal setiap detail. Kadang… Ia hanya duduk diam. Menggenggam tangan Nathan. Menempelkan pipinya di atas punggung tangan itu. “Aku di sini…” “Aku tidak akan pergi lagi…” Hari berlalu tanpa ia sadari. Ia tidak merasa lelah. Tidak merasa bosan. Karena untuk pertama kalinya
Cahaya keemasan memenuhi seluruh ruangan. Suasana di dalam altar itu tenang. Terlalu tenang. Di atas ranjang emas… Nathan masih terbaring tanpa kesadaran. Napasnya lemah. Hampir tak terasa. Luka di tubuhnya masih terlihat jelas. Namun perlahan… Cahaya di ruangan itu seolah meresap ke dalam tubuhnya. Menghangatkan. Menjaga. Di sampingnya… Ravina duduk diam. Tangannya menggenggam erat tangan Nathan. Sejak tadi… Ia tidak melepaskannya sedikit pun. Tatapannya tertuju pada wajah pria itu. Pucat. Diam. Tanpa respon. Namun kali ini… Ia tidak lagi panik seperti sebelumnya. Ia hanya diam. Menunggu. Dengan tekad yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. “Suamiku…” Suaranya lirih. Hampir seperti bisikan. “Aku di sini…” Ia menunduk perlahan. Menempelkan keningnya pada tangan Nathan. Air matanya masih jatuh. Namun tidak lagi penuh kepanikan. Melainkan… Kesabaran. Dan keyakinan. “Aku akan menunggumu bangun…” “Selama apa pun itu…” Cahaya keemasan berdenyut pelan.
Pria tua itu menatap Ravina dengan sorot mata yang dalam. "Jika kau benar-benar bersedia mengorbankan dirimu… maka aku akan memberimu kesempatan." Tangannya bergerak ringan. Sebuah tirai cahaya perlahan terbuka di hadapan Ravina. Cahaya itu berpendar lembut, namun terasa begitu dalam, seolah menyimpan sesuatu yang tak terjangkau oleh akal. "Masuklah." "Itu adalah pintu pengorbanan." "Jika kau benar-benar tulus… dan bersedia mengorbankan jiwamu, maka suamimu akan bangun." Ravina terdiam. Tatapannya bergetar. Keraguan sempat muncul di hatinya. Namun pria tua itu tiba-tiba tertawa kecil. "Hoho… kau pikir aku akan menipumu?" Ia menatap Ravina dengan santai. "Dengan kekuatanku, jika aku ingin membunuhmu, itu hanya soal satu jentikan jari." Ravina terdiam. Pikirannya berputar cepat. Ia tahu... Apa yang dikatakan pria tua itu benar. Jika pria itu berniat jahat, bahkan jika Nathan berada di kondisi puncaknya sekalipun… Mereka tetap tidak akan mampu melawannya. Namun... R
Tubuh Nathan meluncur cepat ke dalam jurang yang gelap dan seolah tak berdasar. Angin dingin mengiris kulitnya. Namun ia sudah tidak merasakannya lagi. Kesadarannya perlahan memudar. Dunia di sekelilingnya berubah menjadi gelap. Sunyi. Kosong. ... Di dalam ruang kesadarannya... Ravina tetap berdiri diam. Ia masih merajuk pada Nathan setelah perdebatan mereka sebelumnya tentang Raka. Namun sekarang... Tatapannya bergetar saat merasakan kondisi Nathan yang semakin melemah. Untuk pertama kalinya... Ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ketakutan. Namun bukan karena musuh. Melainkan karena kehilangan. Bayangan percakapannya dengan Nathan sebelumnya terlintas di benaknya. Ia memilih mempercayai Raka. Ia meragukan Nathan. Ia bahkan membantahnya. Dan sekarang... Nathan berada di ambang kematian. Karena dirinya. Tubuh Ravina bergetar. "Tidak..." Suaranya pelan. Penuh penyesalan. Ia menatap ke arah kegelapan di h
Nathan memang sengaja menggoda Alana, agar Alana lupa pada kecurigaannya dan tidak mengungkitnya lagi selama perjalanan. Dia memang berjanji menceritakan semua yang ingin Alana ketahui, tapi itu nanti, bukan sekarang. Nathan hanya tertawa geli melihat Alana yang saat ini sedang sangat kesal. Sifat
Di tengah tawa bahagia mereka semua dalam menikmati momen itu, tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar. Tepat saat itu sesosok pemuda berlari masuk dengan terburu-buru, dia adalah Andre, karyawan muda yang sebelumnya dibentak oleh Toni. “Ada apa, Ndre?” tanya Kamila bingung. “Begini, Bu, d
Nathan tidak mengatakan apa pun dan langsung ikut masuk. Setelah itu Billy dan yang lainnya juga mengikuti. Mereka tiba di sebuah ruang keluarga yang cukup besar. Kevin meminta semua orang duduk, sementara dirinya masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Kamila pergi ke dapur untuk membuat mi
"Nathan? Nama yang bagus, aku suka. Baiklah, sekarang ucapkan janjimu," pinta Nasha. "Kak, aku benar-benar tidak bisa melakukan itu. Aku sama sekali tidak punya perasaan padamu, dan aku juga sudah memiliki seseorang yang aku suka di hatiku," tolak Nathan tegas. "Baiklah... jika begitu, maka aku







