Se connecterBegitulah… Kabar menghilangnya Nathan menyebar dengan cepat. Mahasiswa paling bersinar dari Universitas Negeri Senantara, pemenang olimpiade antar kampus, tiba-tiba tidak muncul tanpa penjelasan. ... Sore itu… Di kota Heaven. Di lingkungan Central Heaven University. Seorang gadis berdiri di depan jendela asrama, menatap langit yang mulai meredup. Elvira Colin. Ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat tatapannya berubah. Eva Mclycon. Ia langsung mengangkatnya. “El, kamu sudah dengar kabar tentang Nathan?” Suara di seberang terdengar serius. Elvira menghela napas pelan. “Sudah, Ev. Aku bahkan sudah mengajukan cuti selama satu pekan. Aku akan berangkat ke Metropolis sore ini juga. Kamu bagaimana?” Hening sejenak. Lalu suara Eva kembali terdengar. “Aku juga sudah mengajukan cuti.” Tidak perlu penjelasan panjang. Tidak perlu perdebatan. Keduanya saling memahami. Karena ini tentang satu orang. Nathan. Pria yang tanpa mereka sadari… sudah
Sementara itu di Bumi Tengah... Langit di atas Universitas Negeri Sentantara tampak cerah seperti biasa. Namun suasana di dalamnya justru terasa berbeda. Sejak pagi, bisikan mulai menyebar di antara para mahasiswa. Awalnya hanya percakapan ringan, namun perlahan berubah menjadi kegelisahan yang sulit disembunyikan. “Nathan belum kembali?” “Bukannya hari ini harusnya ada penyambutan resmi?” “Kenapa tidak ada pengumuman apa pun dari kampus?” Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan. Namun tidak ada satu pun yang mampu memberikan jawaban. Karena bahkan pihak kampus sendiri pun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Nathan, mahasiswa paling berprestasi yang menjadi kebanggaan kampus, seharusnya hari ini berdiri di atas panggung kehormatan. Kemenangannya dalam olimpiade antar kampus seharusnya dirayakan dengan meriah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia menghilang. Tanpa jejak. Tanpa penjelasan. Dan bukan hanya dia. Dua mahasiswi terbaik yang dikenal dekat d
Udara di halaman Sekte Lembah Jiwa terasa tegang. Lingkaran para murid wanita yang mengelilingi Nasha dan Laqisha semakin rapat. Aura mereka saling bertabrakan, menciptakan tekanan yang cukup untuk membuat tanah di bawah kaki retak halus. Namun di tengah semua itu… Kedua gadis itu tetap tenang. Seolah semua tekanan itu tidak berarti apa-apa. Seorang gadis melangkah maju. Rambutnya pendek sebahu, sorot matanya tajam. Gadis itu Gina. Aura Raja Suci tahap awal terpancar dari tubuhnya. Ia menatap langsung ke arah Laqisha. “Kalau hanya bicara, semua orang bisa,” katanya dingin. “Tunjukkan kemampuanmu.” Laqisha tersenyum tipis. “Baik,” jawabnya santai. Tanpa banyak gerakan… Ia melangkah maju. Dalam sekejap, keduanya sudah saling berhadapan di tengah lingkaran. Tidak ada aba-aba. Tidak ada hitungan. Gina langsung bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat cepat, pedangnya menebas lurus ke arah leher Laqisha. Namun… Gerakan itu terlalu mudah dibaca. Laqisha hanya memiringkan
Ruang batu yang luas itu dipenuhi aura gelap yang menekan. Dindingnya dipenuhi ukiran kuno yang memancarkan energi asing, seolah menyimpan sejarah panjang yang penuh darah. Di tengah ruangan, tubuh Rania terbaring tak berdaya. Segel energi membungkus seluruh tubuhnya seperti rantai tak kasat mata, mengunci setiap aliran kekuatan di dalam dirinya. Aura Raja Suci tahap awal yang ia miliki sama sekali tidak bisa digunakan. Di hadapannya, seorang pria berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Tatapannya tajam dan dingin, seperti ular yang sedang mengamati mangsanya. Nara Aolong. Di sampingnya, Raka berdiri dengan ekspresi tenang, seolah semua ini hanyalah bagian dari rencana yang telah ia perhitungkan sejak awal. “Jadi ini gadis naga yang kau maksud?” Suara Nara rendah, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat. Tatapannya jatuh pada tubuh Rania."Iya Ayah." Beberapa saat Nara hanya diam, mengamati Rania tanpa berkedip. Lalu perlahan, alisnya men
Cahaya keemasan masih menyelimuti altar. Tenang. Hangat. Namun di tengah ketenangan itu… Waktu terasa berjalan sangat lambat. Nathan masih belum terbangun. Tubuhnya tetap terbaring di atas ranjang emas. Napasnya lemah. Namun stabil. Di sampingnya… Ravina tidak pernah menjauh. Sejak kesadarannya kembali… Ia terus berada di sana. Menjaga. Merawat. Dengan tangannya sendiri, ia membersihkan darah yang mengering di tubuh Nathan. Air hangat ia usapkan perlahan, hati-hati, seolah takut melukai pria itu lebih jauh. “Kapan kau akan bangun?” Bisiknya lirih, meski Nathan tidak bisa mendengar. Ia mengganti kain di tubuh Nathan, merapikan rambutnya, lalu menatap wajah pria itu lama. Seolah mencoba menghafal setiap detail. Kadang… Ia hanya duduk diam. Menggenggam tangan Nathan. Menempelkan pipinya di atas punggung tangan itu. “Aku di sini…” “Aku tidak akan pergi lagi…” Hari berlalu tanpa ia sadari. Ia tidak merasa lelah. Tidak merasa bosan. Karena untuk pertama kalinya
Cahaya keemasan memenuhi seluruh ruangan. Suasana di dalam altar itu tenang. Terlalu tenang. Di atas ranjang emas… Nathan masih terbaring tanpa kesadaran. Napasnya lemah. Hampir tak terasa. Luka di tubuhnya masih terlihat jelas. Namun perlahan… Cahaya di ruangan itu seolah meresap ke dalam tubuhnya. Menghangatkan. Menjaga. Di sampingnya… Ravina duduk diam. Tangannya menggenggam erat tangan Nathan. Sejak tadi… Ia tidak melepaskannya sedikit pun. Tatapannya tertuju pada wajah pria itu. Pucat. Diam. Tanpa respon. Namun kali ini… Ia tidak lagi panik seperti sebelumnya. Ia hanya diam. Menunggu. Dengan tekad yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. “Suamiku…” Suaranya lirih. Hampir seperti bisikan. “Aku di sini…” Ia menunduk perlahan. Menempelkan keningnya pada tangan Nathan. Air matanya masih jatuh. Namun tidak lagi penuh kepanikan. Melainkan… Kesabaran. Dan keyakinan. “Aku akan menunggumu bangun…” “Selama apa pun itu…” Cahaya keemasan berdenyut pelan.
Tiba-tiba Nathan merasakan ada sesuatu yang lembut menyentuh bagian sensitifnya. Perlahan, sentuhan itu mulai makin intens, sampai akhirnya Nathan membuka mata dan sangat terkejut. Saat itu, ia melihat Nasha sedang menikmati "barang berharga" milik Nathan dengan mulutnya. "Nasha, apa yang sedang
"Terima kasih atas pengertianmu, Rian. Tentu saja aku bersedia untuk menjadi sahabatmu," jawab Rania polos. "Kalau begitu, kalian lanjutkan makan dulu. Aku akan ke kamar mandi sebentar," ujar Rian masih dengan sangat sopan. Saat Rian berlalu, Mila segera menegur Rania, "Ran, kenapa kamu tega me
"Terima kasih, sayang. Kau sangat baik padaku, aku benar-benar tidak salah memilih dirimu sebagai calon suami," puji Nasha. "Bukannya biasanya aku ini pria jahat? Kalau dipikir-pikir, sebenarnya yang jahat itu kau. Tega-teganya kau manfaatkan aku di saat aku tak berdaya," gerutu Nathan. "Bukannya
"Kebetulan sekali, jadi kau adalah kekasih dari dua gadis itu. Sekarang kau bisa melihat pertunjukan yang bagus. Kami semua akan menikmati dua gadis kesayanganmu itu di depan matamu," ujar Anton yang ketenangannya sudah kembali. Dia tidak lagi merasakan ancaman dari Nathan. Bagaimanapun mereka men







