Accueil / Fantasi / Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz / Bab 5. Sebuah Keluarga yang Saling Merindukan

Partager

Bab 5. Sebuah Keluarga yang Saling Merindukan

last update Date de publication: 2025-11-18 16:44:49

Benda yang jatuh adalah gelas yang dipegang Sarah. Saat dia hendak melihat siapa yang datang karena kedua putrinya berbincang cukup lama, dia tanpa sengaja mendengar berita tentang Nathan yang ditemukan. Hal itu membuatnya sempat gemetaran dan lemas beberapa saat hingga gelas yang digenggamnya terlepas.

Alana dengan cepat menoleh ke arah ibunya, “Ada apa, Bu, apa yang terjadi?”

Namun Sarah sama sekali tak menanggapi pertanyaan putrinya. “A... apa, apakah kalian benar-benar menemukan Nathan? Apakah dia baik-baik saja?”

...

Lima tahun yang lalu.

Sore hari di tanggal 29 Desember 2019.

Norman baru saja membawa Nathan dan kedua sepupu kembarnya kembali dari sekolah.

Setelah itu Norman mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya berlayar malam ini.

“Kak Norman, kau harus hati-hati saat berlayar. Ingat untuk menelponku saat kakak kembali, dan kakak tidak boleh pergi terlalu jauh. Sebelum tahun baru kakak sudah harus berada di rumah,” pesan Sarah pada kakak iparnya itu.

Belum sempat Norman menjawab, tiba-tiba ponsel miliknya berdering, dan Norman pun segera mengangkatnya.

“Halo Kevin, ada apa? Aku baru saja akan berangkat.”

“Man, maafkan aku... mungkin kali ini kita gak jadi berlayar. Kamila saat ini sedang kontraksi, Man, anak yang sudah aku tunggu-tunggu selama belasan tahun akan segera lahir. Jadi bagaimana bisa aku meninggalkan momen sepenting itu? Tapi Man, jika aku tidak berangkat berlayar, aku juga tidak tahu bagaimana cara membayar biaya persalinan istriku. Aku sangat bingung, Man,” suara penuh penyesalan dan kebingungan Kevin sahabatnya terdengar dari seberang telepon.

“Vin, tenang dulu. Kau tidak perlu khawatir. Untuk biaya persalinan Kamila, kamu bisa pakai tabunganku dulu. Soal berlayar... mungkin aku akan berangkat sendiri. Sayang jika orderan yang sudah kita terima dibatalkan begitu saja.”

“Tapi Man...”

“Sudahlah, jangan banyak tapi. Kau jaga saja Kamila istrimu dan juga calon buah hati kalian.”

“Terima kasih, Man. Kau memang saudara terbaikku. Kau harus hati-hati saat berlayar, Man. Aku akan tutup dulu teleponnya, sepertinya Kamila memanggilku.”

“Baiklah, sampaikan salamku pada istrimu,” ucap Norman sambil mengakhiri panggilan itu.

“Bagaimana, Kak? Kevin bilang apa?”

“Dia bilang Kamila akan segera melahirkan, jadi dia tidak bisa ikut berlayar. Jadi aku akan berangkat sendiri.”

“Kak Norman, apa tidak sebaiknya kakak tunda dulu beberapa hari sampai anak Kevin lahir, baru kalian berangkat?” saran Sarah dengan wajah yang tampak khawatir.

“Tidak bisa, Sar. Orderan yang masuk tidak bisa menunggu selama itu. Lagi pula ini adalah anak pertama Kevin, aku tidak mau memaksanya untuk meninggalkan istri dan anaknya begitu cepat. Mereka memerlukan waktu untuk merawat anak mereka bersama-sama.”

Mendengar jawaban Norman, akhirnya Sarah hanya bisa pasrah. Dia yakin apa pun yang dia katakan sekarang tidak akan bisa menghentikan kakak iparnya itu untuk tetap berangkat.

Saat itu Nathan yang baru saja selesai bermain dengan Alana dan Alena tiba-tiba masuk dan mendengar percakapan ayah dan bibinya.

“Ayah, kenapa ayah tidak bawa aku saja? Lagi pula sekolah sudah diliburkan sampai tahun baru nanti, jadi aku bisa mengisi liburanku dengan ikut melaut bersama Ayah,” pinta Nathan.

“Jangan, Nak. Kau tinggal saja di rumah bibimu bersama Alana dan Alena,” jawab Norman.

“Kak Norman, aku rasa saran Nathan ada baiknya, Kak. Daripada kau pergi sendiri, kan lebih baik Nathan ikut, jadi dia bisa dapat pengalaman dan kakak juga jadi ada teman. Tapi ingat, kalian harus hati-hati.”

“Benar Ayah, aku akan mencarikan sendiri bintang laut untuk Lena,” imbuh Nathan.

“Benar ya Kak Nathan, tapi Lena tidak ingin Kak Nathan pergi,” ujar Lena dengan tidak rela.

“Tentu saja, Kakak berjanji akan membawakan bintang laut yang indah untuk Lena.”

“Lalu untuk Lana, Kak?!” kata Alana menuntut.

“Iya untuk Lana juga.”

“Tapi aku tidak ingin bintang laut, itu terlalu kekanak-kanakan,” ejek Lana mencibir.

“Ish... Lana, kau ini keterlaluan sekali,” tegur Alena.

“Baiklah sudah-sudah. Kalau begitu bagaimana kalau Kakak buatkan Lana kalung indah dari kerang? Satu lagi, berjanjilah kalian tidak akan bertengkar lagi. Kalau tidak, Kakak tidak akan kembali untuk membawakan kalian hadiah.”

“Iya Kak Nathan, Lana mau hadiah kalung itu.”

“Lena tetap bintang laut ya, Kak.”

“Baiklah, kalau begitu kalian penuhi dulu janji kalian.”

“Baik, Kak Nathan,” jawab dua gadis kecil itu serempak.

Membuat Norman dan Sarah hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Baiklah kalau begitu, siapkan pakaianmu dan jangan lupa bawa foto kedua pacarmu ini supaya kamu tidak merindukan mereka saat kita berlayar,” goda Norman.

“Ayah, mereka bukan pacarku! Mereka itu adikku,” jawab Nathan malu.

“Oh ya?! Tapi aku kira mereka itu menyukaimu.”

“Benar Paman, Lana suka Kak Nathan,” kata Alana mantap, penuh keyakinan.

Dengan malu-malu Alena juga menjawab, “Lena juga menyukai Kak Nathan.”

Jawaban dan ekspresi kedua gadis itu berhasil membuat Norman dan Sarah tertawa bahagia.

Lalu Nathan dan kedua gadis itu pergi ke kamar dan mempersiapkan pakaian Nathan.

Sementara di ruang tamu, Norman dan Sarah masih tersenyum. “Kak Norman, jika Nathan bersedia menikahi salah satu putriku, aku akan sangat bahagia, Kak. Jika pun dia menyukai kedua putriku aku juga tidak akan keberatan, asalkan mereka semua bahagia.”

“Sar, kau berpikir terlalu jauh. Mereka itu masih muda. Masa depan mereka masih panjang. Tapi jika perkataanmu menjadi kenyataan di masa depan, aku akan menyuruh Nathan menikahi keduanya,” ujar Norman tulus.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka bertiga keluar dari kamar Nathan, dan benar saja, Alana dan Alena memaksa Nathan membawa foto mereka.

Bahkan mereka berdua memberikan ciuman lembut di pipi Nathan saat ia dan ayahnya berangkat, membuat wajah Nathan memerah karena malu, sementara Norman dan Sarah hanya bisa tertawa.

...

Kembali ke masa sekarang.

“Benar, Nyonya. Sekarang Tuan Muda Nathan sedang berada di kediaman Tuan kami di kota. Kami ke sini karena diperintahkan untuk mengabari keluarganya dan sekaligus menjemput untuk ikut bersama kami menemui Tuan Muda Nathan.”

“Baik, tunggu sebentar. Aku akan memberitahu ayahku dan kita akan berangkat segera,” ujar Sarah antusias dan penuh semangat.

Saat Reynand diberi tahu, dia bahkan langsung melompat dari tempat tidurnya.

Tanpa banyak basa-basi, mereka berenam langsung pergi ke kota, menuju kediaman keluarga Smith.

...

Di rumah keluarga Smith.

Nathan yang sudah berpakaian langsung melompat dari lantai dua dan mendarat mantap di depan semua orang. Semua orang yang menatapnya terkesima dengan ketampanan Nathan. Tidak satu pun dari mereka mampu mengalihkan pandangan dari wajah Nathan.

Sampai kemudian Nathan berseru, “Maaf jika aku merepotkan keluarga kalian. Aku akan segera pergi dari sini. Terima kasih atas bantuan Tuan-tuan. Suatu hari aku akan kembali untuk membalas kebaikan kalian.”

Saat itu semua orang tertegun, termasuk Mila yang tadi sangat agresif. Saat Nathan ingin berlari keluar, tiba-tiba sebuah suara lembut memanggilnya.

“Kak Nathan, apakah itu kau?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 400. Awal dari Segalanya

    Malam kembali turun di Kota Metropolis. Lampu-lampu kota bersinar indah di bawah langit gelap, sementara angin malam berembus pelan melewati atap vila Nathan. Suasana terasa tenang. Terlalu tenang. Nathan berdiri sendirian di atas atap sambil memandang langit malam yang dipenuhi bintang. Di belakangnya, Kuali Emas Shandong melayang perlahan sambil memancarkan cahaya keemasan lembut yang sesekali berdenyut seperti memiliki kehidupan sendiri. Nathan mengangkat tangannya perlahan. Energi spiritual di sekitar vila langsung bergerak mengikuti pikirannya. Aliran energi itu membentuk pusaran kecil di udara sebelum kembali menghilang. Namun perhatian Nathan sama sekali tidak tertuju pada hal tersebut. Tatapannya justru terus memandang bulan di langit. Entah sejak kapan... Perasaan gelisah di dalam dirinya semakin sering muncul. Bukan rasa takut. Bukan juga firasat buruk biasa. Melainkan sesuatu yang terasa seperti panggilan. Seolah ada sesuatu yang jauh di luar

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 399. Cahaya di Vila Nathan

    Dua hari kemudian, Nathan dan yang lainnya akhirnya telah kembali ke Kota Metropolis. Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih tenang dibanding keberangkatan mereka sebelumnya. Tidak ada lagi tekanan mengerikan, tidak ada pertarungan besar, dan tidak ada suasana tegang seperti saat mereka memburu jejak Malik dan Shafira. Seolah semua kekacauan itu hanya mimpi buruk singkat yang kini sudah berlalu. Berita tentang kehancuran Organisasi Ular Putih sendiri tidak pernah benar-benar menyebar ke publik. Semua jejak pertempuran telah dibersihkan. Markas mereka menghilang tanpa sisa. Mayat-mayat dibawa pergi. Dan pihak tertentu dari dunia bawah dengan cepat menutup seluruh informasi yang mungkin bocor ke masyarakat. Pada akhirnya... Dunia tetap berjalan seperti biasa. Orang-orang tetap pergi bekerja. Lampu kota tetap menyala. Mahasiswa tetap memenuhi kampus. Dan kehidupan Nathan di Universitas Nasional Senantara kembali terlihat normal. Namun berbeda dengan suasana

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 398. Pulang

    Malam perlahan mulai berakhir. Langit yang sebelumnya gelap pekat kini berubah menjadi kebiruan samar, menandakan fajar akan segera tiba. Angin dingin berembus pelan melewati reruntuhan markas Organisasi Ular Putih yang kini telah hancur total akibat pertarungan besar sebelumnya. Api masih menyala di beberapa sudut bangunan. Asap tipis membubung ke udara. Sementara tanah di sekitar area itu dipenuhi retakan besar akibat benturan energi para kultivator tingkat tinggi. Nathan dan yang lainnya berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan langkah perlahan. Malik dan Shafira berhasil diselamatkan. Meskipun kondisi keduanya masih sangat lemah, setidaknya nyawa mereka sudah tidak lagi berada dalam bahaya setelah Nathan memberi mereka pil pemulihan tingkat tinggi. Tubuh Malik masih dipenuhi luka sobek dan bekas benturan. Sedangkan Shafira terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Namun dibanding keadaan mereka saat pertama ditemukan... Kondisi itu sudah jauh lebih baik.

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 397. Keputusasaan Shen Ryu

    Keheningan menyelimuti seluruh area setelah Raja Raksasa Ilusi tersedot masuk ke dalam Kuali Emas Shandong. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Semua orang masih memproses apa yang baru saja terjadi. Sosok yang sejak awal datang dengan penuh kesombongan, seorang Raja Raksasa yang berdiri di puncak kekuatan Alam Langit, kini justru dikurung hidup-hidup di dalam artefak yang selama ini ia banggakan sendiri. Nathan berdiri tenang di udara. Jubah hitamnya berkibar perlahan tertiup angin malam, sementara Kuali Shandong melayang di sampingnya dengan cahaya emas samar yang perlahan meredup. Beberapa detik kemudian Nathan mengangkat tangan dan menarik kembali kuali itu. Clang. Suara logam bergema pelan. Aura menekan yang sebelumnya memenuhi area perlahan menghilang, membuat Kuali Shandong kembali terlihat seperti kuali biasa. Namun sekarang... Tidak ada seorang pun yang cukup bodoh untuk benar-benar menganggapnya biasa. Tatapan semua orang dipenuhi ket

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 396. Lahap

    Semua orang di sekitar medan pertempuran mendadak terdiam. Kuali Emas Shandong kini melayang tenang di sisi Nathan, memancarkan cahaya emas lembut yang berbeda jauh dari sebelumnya. Jika tadi aura yang keluar terasa liar dan menekan, sekarang aura itu justru terasa hangat dan sejuk, seolah artefak tersebut akhirnya menemukan tempat yang benar-benar cocok untuknya. Bahkan angin di sekitar Nathan mulai berubah lembut. Cahaya emas tipis berputar mengelilingi tubuhnya, membuat sosoknya terlihat semakin misterius. Raja Raksasa Ilusi membelalak tidak percaya. "Itu tidak mungkin..." gumamnya lirih. Ia sudah menggunakan artefak itu selama beberapa waktu, namun benda tersebut tidak pernah menunjukkan reaksi seperti sekarang. Tidak pernah terasa hidup. Tidak pernah memperlihatkan emosi. Namun saat berada di tangan Nathan... Kuali itu justru terlihat seperti makhluk hidup yang merasa nyaman berada di dekat tuannya. Ravina memandang pemandangan itu dengan mata berbinar kecil

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 395. Kuali yang Menemukan Tuannya

    Langit di atas Negara Lunar terus berguncang hebat. Pertarungan antara Nathan dan Raja Raksasa Ilusi telah mencapai titik yang bahkan sulit dipahami oleh para kultivator biasa. Setiap benturan energi menciptakan ledakan besar yang mengguncang bumi hingga puluhan kilometer jauhnya. Boom! Nathan mundur beberapa langkah di udara setelah menerima hantaman telapak tangan raksasa yang diperkuat aura ilusi. Di sisi lain, Raja Raksasa Ilusi juga terpental akibat pukulan Nathan yang menghancurkan lapisan pertahanan energinya. Keduanya kembali menjaga jarak. Napas Raja Raksasa Ilusi mulai berat, namun wajahnya justru dipenuhi kegembiraan liar. "Bagaimana?" ejeknya sambil tertawa keras. "Sekarang kau mulai merasakan kekuatan artefak kuasi suci ini?" Aura emas dari Kuali Shandong terus mengalir ke tubuhnya. Meski ia tidak memahami fungsi asli artefak tersebut, energi yang dipancarkan kuali itu tetap memberikan peningkatan luar biasa pada kekuatannya. Bahkan Nathan harus mengakui... Peni

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status