LOGINGudang tua di Kota Heaven akhirnya benar-benar sunyi. Api telah padam, jeritan telah hilang, dan yang tersisa hanyalah noda darah yang mengering di lantai beton retak. Namun kesunyian itu bukanlah kedamaian, melainkan sisa getaran dari kemarahan besar yang baru saja dilepaskan ke dunia. Nathan berdiri sendirian di lantai utama gudang, punggungnya tegak, sorot matanya tenang. Amarahnya telah mereda, disegel rapi seperti pedang yang kembali ke sarungnya. Saat itulah Ravina kembali berbisik di dalam kesadarannya. “Masih ada satu orang tersisa.” Nathan tidak menoleh, tidak bereaksi berlebihan. “Dia bersembunyi di lantai paling atas,” lanjut Ravina. “Dialah pelaku utama. Yang mengeksekusi penculikan kekasih kecilmu.” Langkah Nathan beralih ke tangga besi di sudut gudang. Tangga itu berderit pelan saat ia menaikinya, setiap langkah terdengar jelas di kesunyian yang mencekam. Di lantai paling atas, sebuah ruangan kecil terbuka, gelap, sempit, penuh dengan ketakutan. Di sana
Gudang itu bergetar. Bukan karena ledakan. Bukan pula karena helikopter yang masih meraung di langit. Melainkan karena dua aura yang saling menekan, saling menguji, seperti dua bencana alam yang dipaksa berada dalam satu ruang sempit. Pria itu berdiri santai di hadapan Nathan, tangan dimasukkan ke saku celana, seolah puluhan mayat di sekeliling mereka hanyalah dekorasi tak berarti. “Dendam,” ulang Nathan pelan. “Dendam siapa?” Senyum pria itu melebar tipis. “Dendam keluarga,” jawabnya. “Hatani.” Udara langsung membeku. Nama itu jatuh seperti palu godam. Nathan tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Namun di balik ketenangannya, sesuatu bergerak… dan bangkit. “Jadi kau putra pertama keluarga Hatani,” ucap Nathan datar. “Benar.” Pria itu melangkah perlahan. “Elang Hatani adalah adikku. Yang kau hancurkan. Yang kau buat kehilangan segalanya.” Nathan menatapnya tanpa berkedip. “Salahkan dirinya karena berani mengusik gadis yang tak seharusnya ia dekati sejak awal,” balas Natha
Langit malam di atas Kota Heaven terbelah oleh deru baling-baling. Puluhan helikopter melintas rendah, membentuk formasi rapi seperti kawanan predator yang baru dilepaskan dari rantainya. Lampu sorot menyapu gudang-gudang tua di kawasan industri terbengkalai, membuat bayangan bangunan tua itu tampak seperti bangkai raksasa yang menunggu untuk dikoyak. Di dalam salah satu helikopter terdepan, Nathan berdiri tanpa duduk. Matanya dingin. Tenang. Namun siapa pun yang mengenalnya tahu… Ketenangan itu adalah tanda paling berbahaya. Nasha berdiri di sampingnya, rambut peraknya diikat rapi, ekspresinya datar. Tangannya sudah memegang sepasang jarum perak, berkilau samar di bawah lampu kabin. “Lokasi target?” tanya Nathan singkat. Roger menjawab lewat komunikasi terenkripsi. “Gudang sektor timur Heaven. Tiga lapis penjagaan. Ada sekitar empat puluh orang bersenjata. Tidak ada warga sipil.” Nathan mengangguk kecil. “Bagus.” Satu kata itu membuat udara di kabin terasa membeku. “Tid
Alena menjerit sambil berlari ke arah saudarinya itu, tanpa memedulikan situasi di sekelilingnya. Ia berlutut, tangannya gemetar mencoba menekan luka kakaknya. “Tolong… tolong bangun… jangan tidur…” Air matanya jatuh tanpa henti. Saat itulah seseorang melangkah maju. Tinggi. Berpakaian hitam. Wajahnya tertutup topeng. Alena menatapnya dengan mata penuh air mata. “Tolong… kakakku… dia berdarah…” Untuk sesaat… Hanya sesaat… Stuart ragu. Ia menatap Alana yang bersimbah darah. Napasnya tertahan. Ada rasa asing yang menekan dadanya. Rasa kasihan yang tidak ia inginkan. Namun kemudian… Wajah Nathan terlintas di benaknya. Sorakan. Tepuk tangan. Tatapan jijik orang-orang padanya. Harga diri yang diinjak-injak. “Ini salahnya,” bisik suara dalam kepalanya. Tangannya mengepal. Rasa kasihan itu dipatahkan dengan paksa. “Diam. Kau harus ikut kami sekarang.” Plak. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Alena. Tubuh gadis itu terhuyung, lalu ambruk
Malam itu terlalu sunyi. Tampak bayangan dua orang yang sedang berbincang di sebuah sudut gang. “Apa rencanamu?” tanya Stuart. “Hahaha, aku sangat senang karena kau sama sekali tidak menutupi ketertarikanmu,” jawab pria misterius itu. “Dia pria yang kuat dan tangguh. Tidak mudah bagi kita untuk mengalahkannya. Namun, ada banyak orang di sekitarnya yang bisa kita gunakan untuk menyerangnya. Sehebat apa pun dia, dia hanya satu orang. Tidak mungkin baginya melindungi semua orang.” … Malam itu mereka pulang cukup larut. Lampu-lampu taman kampus menyala redup, memantulkan bayangan panjang di aspal basah sisa hujan sore. “Kalian pergilah ke mobil Rania. Biar aku yang ambil motormu,” perintah Nathan pada Rania, Mila, dan Nasha. Mereka mengangguk pelan dan melakukan apa yang diperintahkan Nathan. Rania berjalan pelan di antara dua sosok yang menemaninya, Nasha di sisi kanan dan Mila di sisi kiri, menuju tempat parkir. “Tenang saja,” ujar Nasha santai. “Tak ada orang yang c
Perayaan masih berlangsung. Lapangan basket kampus dipenuhi tawa, tepuk tangan, dan wajah-wajah yang berseri. Kemenangan hari itu bukan sekadar soal skor, melainkan simbol runtuhnya satu generasi lama dan lahirnya yang baru. Nathan berdiri di tengah semua itu, dengan Rania di sisinya. Tangannya masih terasa hangat oleh genggaman gadis itu. Senyum Rania tulus, matanya berbinar, sebuah pemandangan yang seharusnya menenangkan hati siapa pun. Namun entah kenapa… Ada rasa asing yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. Bukan firasat biasa. Melainkan tekanan halus, seperti udara sebelum badai besar turun. Langkah Nathan melambat. Sorakan di sekelilingnya perlahan meredam, seolah suara dunia ditarik menjauh dari kesadarannya. “Jangan lengah.” Suara itu terdengar jelas di dalam kepalanya. Nathan mengerutkan kening. Ravina. Bayangan wanita berambut panjang dengan tatapan dingin muncul samar di sisi jiwanya. Ekspresinya tidak bercanda, tidak pula sarkastik seperti biasanya







