Share

Kabur

Author: DewaRa
last update publish date: 2026-08-21 12:00:43

​"Kamu sudah kubeli mahal! Kamu tidak punya hak untuk menolak!" geram Gray, hendak melancarkan aksinya kembali.

​"T-Tuan, saya mohon... kasihanilah saya!" tangis Lily pecah, suaranya melengking pilu memenuhi seluruh ruangan. Kedua tangannya terangkat gemetaran, memohon di hadapan dada bidang Gray. "Saya cuma anak yatim piatu, Tuan... Saya hidup sendirian, berjuang sendiri hanya demi bertahan hidup dan bisa kuliah... Tolong jangan rusak saya..."

​Kata-kata itu menghantam Gray tepat di dadanya.

​Gerakan Gray seketika membeku. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi amarah murka mendadak meredup, tergantikan oleh kilatan bayangan masa lalu yang paling ingin ia lupakan.

​Anak yatim piatu... Hidup sendirian...

​Kalimat itu memicu ingatan kelam dalam kepalanya. Gray teringat pada dirinya sendiri di masa kecil—saat sang ibu tega pergi meninggalkannya begitu saja demi pria lain, meninggalkan ia dan sang ayah dalam kemelaratan hingga ayahnya jatuh stres parah lalu meninggal dunia. Gray tahu betul betapa hancur dan menyakitkannya berjuang sendirian di dunia yang kejam ini.

​Iblis di dalam diri Gray perlahan menyurut. Dengan napas memburu, ia melepaskan cengkeramannya dari tubuh Lily.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gray bangkit dari atas kasur. Ia menyambar celananya, lalu melangkah lebar menuju pintu dan memukul pintunya hingga tertutup keras.

​BAM!

​Suara dentuman pintu yang membanting memecah keheningan. Lily yang masih terguncang dan gemetaran merengkuh tubuhnya sendiri di atas kasur, menangis terisak hingga rasa lelah yang luar biasa perlahan membawanya tertidur dalam ketakutan.

####

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan pintu yang teratur membangunkan Lily dari tidur lelapnya.

​​"Nona, Tuan Gray sudah berangkat ke kantor sejak pagi," ujar seorang pelayan paruh baya dengan ramah.

"Beliau berpesan agar Anda sarapan terlebih dahulu, dan pakaian ganti anda, saya letakkan di depan pintu."

​Lily menghela nafas, lalu dia turun dan mengambil baju gantinya.

Setelah bersih, Lily keluar dan melangkah menuruni tangga megah mansion, netranya bergerak liar meneliti setiap sudut ruangan. Ia tidak sudi menjadi tawanan di tempat ini. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal yaitu melarikan diri.

​Usai mengisi perutnya sedikit, kesempatan yang ditunggunya akhirnya datang. Sebuah mobil boks pengirim barang terparkir di pintu samping mansion. Memanfaatkan kelengaian para penjaga, Lily mengendap-endap dan menyelinap masuk ke dalam bagian belakang mobil boks tersebut.

​Dada Lily berdebar kencang saat mesin mobil menyala dan perlahan bergerak meninggalkan area mansion. Begitu gerbang utama terlewati, rasa senang dan lega membuncah di dadanya.

​Saat mobil boks berhenti di lampu merah, Lily dengan sigap melompat keluar lalu berlari sekuat tenaga. Tujuannya hanya satu, kantor polisi terdekat.

​Napasnya memburu saat tiba di kantor polisi.

"Pak polisi tolong saya." Netranya menatap kedua polisi yang sedang bertugas.

Lily menceritakan penculikan dan penyekapan yang dialaminya secara histeris. Awalnya, para petugas menanggapi laporannya dengan serius.

"Dasar, kamu tenang saja biar kami yang akan urus. Siapa nama pria yang menculikmu Nona?" Tanya salah satu polisi.

"Gray Pak Polisi."

Begitu nama Gray tersebut dari bibir Lily, raut wajah para polisi itu seketika berubah tegang.

Tawaran perlindungan yang menggebu kini menguap entah kemana. Polisi itu saling pandang dengan raut wajah yang berubah.

​"Nona, lebih baik Anda kembali saja ke mansion Tuan Gray," saran seorang polisi dengan helaan napas pasrah. "Di bawah perlindungan pria berkuasa seperti dia, hidupmu pasti dijamin enak."

​"Tapi saya diculik! Saya dijual oleh mantan pacar saya!" jerit Lily bersikeras.

​"Kami tidak bisa ikut campur urusan Tuan Gray kalau masih sayang nyawa," sahut polisi itu dingin. "Sebaiknya Nona pergi dari sini sekarang sebelum kami yang kena masalah."

​Lily berjalan keluar dari kantor polisi dengan langkah gontai dan pikiran berkecamuk. Hukum seolah tidak berlaku bagi pria itu. Ke mana lagi ia harus pergi?

​Di sisi lain di ruang kerja yang luas dan mewah, Gray menerima laporan dari anak buahnya bahwa Lily telah kabur. Cangkir kopi di tangannya seketika ia letakkan dengan kasar. Amarahnya membakar seketika.

​"Kalian semua tidak berguna!" bentak Gray murka pada asistennya. "Kuberi waktu satu jam! Cari dan bawa dia kembali ke mansion!"

​Gray memutuskan untuk segera pulang. Rasa kesal menggerogoti dadanya. Ia merasa bodoh karena sudah berbaik hati melepaskan gadis itu semalam, namun balasan yang diterimanya justru pengkhianatan.

​Benar saja, tak sampai satu jam, anak buah Gray berhasil menyeret Lily kembali ke mansion.

​"Keluar semua!" titah Gray dingin kepada para pengawalnya begitu mereka tiba di ruang utama.

​Pintu tertutup rapat. Gray melangkah mendekati Lily dengan tatapan membunuh.

​"Sepertinya pengampunanku semalam membuatmu lupa diri, bocah!" geram Gray. "Beraninya kamu mencoba kabur dariku!"

​Lily tersentak ketakutan saat Gray mencengkeram lengannya dan melempar tubuh mungilnya ke atas sofa secara kasar.

​Gray membungkuk, menatap lurus ke dalam mata Lily yang bergetar hebat.

Tangan Gray mencengkeram dagu Lily kasar, "Kalau kamu berani kabur sekali lagi," bisik Gray dengan suara berat yang penuh ancaman, "Jangan salahkan kalau tubuhmu ini....!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
waw grey mafia
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Bak Diwawancarai Dosen Killer

    Sore itu, Lily duduk di teras mansion yang megah. Ia sengaja menunggu kedatangan Gray di luar karena ingin meminta izin untuk mewawancarai Jack demi tugas kampusnya yang ditolak dosen.​Beberapa saat menunggu, terdengar suara klakson nyaring di depan gerbang utama. Tak lama kemudian, mobil mewah hitam milik Gray melesat masuk dan terparkir rapi di halaman.​"Tuan Gray!" panggil Lily antusias, segera bangkit dari duduknya untuk menyambut pria itu.​Gray yang baru saja turun dari mobil mengernyit heran. "Tumben kamu berada di luar? Ada apa?"​"Saya sengaja menunggu Anda, Tuan," jawab Lily jujur.​"Kenapa tidak tunggu di dalam kamar saja? Udara di luar sangat dingin," ujar Gray lembut seraya merangkul hangat pundak Lily, membawanya berjalan mendekati pintu masuk.​"Tuan... bolehkah saya meminta izin untuk mewawancarai Tuan Jack?" tanya Lily hati-hati.​Mendengar nama asistennya disebut, Gray seketika menghentikan langkah. Ia melepas rangkulannya dari pundak Lily, lalu menatap dua netra g

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Jangan Lupa Traktirannya

    "Lily, di sini aku dosennya, bukan kamu! Aku perintahkan kamu untuk wawancara ulang, ya wawancara ulang! Atau kalau tidak, nilaimu akan langsung aku beri C!" ancam dosen paruh baya itu tegas, sama sekali tak memberi celah untuk protes.​Lily mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak amarah dan kekecewaan yang membakar dadanya. Dengan hati yang remuk, ia menarik kembali lembar laporan wawancaranya lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Ia sungguh tak menyangka ada dosen yang sepicik dan tak adil ini. Jelas-jelas hasil wawancaranya sangat sempurna dan valid langsung dari mulut sang bos besar, tapi malah ditolak mentah-mentah hanya demi membela Bianca yang merupakan anak rektor.​Setibanya di dalam kelas, Lily menghempaskan tubuhnya dan duduk dengan kasar di kursinya. Raut wajahnya terlipat sedih.​Mia yang menyadari ekspresi bersungut-sungut sahabatnya langsung berjalan mendekat. "Kenapa, Li? Ada masalah apa di ruang dosen?" tanyanya cemas.​"Pak dosen benar-benar pilih kas

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Harga Diri Mafia Dingin Dikuliti Habis Tanpa Sisa

    "Apa perlu kita kembali, Tuan? Mumpung mobilnya masih belum terlalu jauh," tanya Jack dari balik kemudi, melirik ragu lewat kaca spion.​Gray menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah Lily yang masih sesenggukan menatap keluar jendela. Harga diri seorang mafia besar memang tinggi, tapi melihat air mata wanitanya jauh lebih menyiksa.​"Ya sudah, putar arah. Kita kembali saja," sahut Gray akhirnya mengalah.​Jack langsung memutar balik mobil mewah itu. Tak butuh waktu lama, mereka kembali tiba di depan food truck penjual burger tersebut. Jack turun atas perintah Gray, lalu tak lama kemudian kembali dengan membawa bungkusan pesanan hangat yang tadi sempat ditinggalkan.​"Coba kamu makan dulu untuk memastikan makanan ini aman dikonsumsi," ujar Gray dingin kepada asistennya.​Tanpa pikir panjang, Jack langsung membuka bungkusan itu dan menggigit satu porsi burger di tangan. Seketika itu juga, mata Jack membelalak lebar.​"Tuan... Ini ternyata sangat lezat!" seru Jack takjub.​Selama

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Kenapa Anda Tidak Mengerti!

    "Maaf, Tuan..." cicit Jack pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyelamatkan nyawanya dari tatapan tajam sang bos.​"Sudahlah. Ayo kita keluar," ajak Gray seraya berdiri dari kursi kebesarannya dan merapikan kemeja mewahnya.​Jack mengernyit bingung. "Ke mana, Tuan? Bukankah jadwal hari ini sudah kosong dan tidak ada meeting dengan siapa pun?"​"Jemput Lily," jawab Gray singkat sambil melangkah menuju pintu.​"Jemput Nona Lily?" ulang Jack terperanjat, melirik jam tangannya. "Tapi Tuan... jam pulang kuliah Nona Lily masih dua jam lagi."​"Kita berkeliling saja dulu," balas Gray santai.​Jack semakin tak mengerti dengan jalan pikiran bosnya akhir-akhir ini. Biasanya, Gray adalah sosok pebisnis yang sangat menghargai waktu secara efisien. Pria itu jauh lebih senang ditunggu daripada harus menunggu orang lain. Bahkan untuk pertemuan bisnis yang sangat penting sekalipun, Gray selalu berangkat pas di menit-menit terakhir. Namun sekarang, demi menjemput gadis kecilnya,

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Apa Kamu Sudah Tidak Sayang Dengan Nyawamu!

    Melihat Lily yang terus menundukkan kepala, Gray sadar bahwa gadis kecilnya merasa tidak nyaman dan malu dengan kehadirannya di tengah koridor kampus. Gray menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat, lalu berbalik menatap Pak Rektor.​"Aku harus segera kembali ke kantor. Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan," ujar Gray dingin.​"Baik, Pak Gray. Terima kasih banyak atas kunjungannya hari ini," sahut Pak Rektor dengan tawa semringah. "Mari, saya antar sampai ke area parkiran."​Gray dan Jack melangkah lebih dulu di depan, sementara Pak Rektor berjalan mengikut di belakang. Begitu rombongan itu menghilang di ujung koridor, Lily seketika bernapas lega. Ia mengelus dadanya yang tadi berdegup kencang.​"Syukurlah... dia akhirnya pergi juga," gumam Lily penuh rasa lega.​"Siapa yang kamu maksud, Li?" sahut Mia yang duduk di sampingnya, menoleh bingung.​"Tuh... si—eh, maksudku Tuan Gray," potong Lily cepat, hampir saja keceplosan memanggil pria itu dengan sebutan lain.​Di dalam ha

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Berkeliling Kampus

    Jam istirahat akhirnya tiba. Di ruang rektorat, perbincangan antara Gray dan Pak Rektor baru saja usai. Namun, bukannya langsung pergi meninggalkan area kampus bersama Jack, Gray justru berdiri dan meluruskan kemejanya. Pria itu punya misi tersendiri: ia ingin melihat keberadaan gadis kecilnya.​"Aku ingin berkeliling kampus ini sebentar. Aku ingin melihat-lihat fasilitasnya," ujar Gray dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.​Pak Rektor seketika terperangah kaget. Ia tak menyangka sosok bos besar yang biasanya sangat sibuk dan tak tersentuh itu mendadak berminat menyusuri koridor kampus. Sesaat kemudian, asumsi liar mendadak melintas di benak Pak Rektor.​Apakah ini ada hubungannya dengan Bianca? Apa Pak Gray tadi diam-diam tertarik saat melihat putriku? batin Pak Rektor kegirangan.​Dengan senyum merekah penuh percaya diri, Pak Rektor langsung membungkuk hormat. "Tentu saja, Tuan Gray! Merupakan suatu kehormatan. Mari, saya sendiri yang akan mendampingi Anda berkeliling."​Gray han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status