Partager

Tuan Perkasa, Aku Kecanduan
Tuan Perkasa, Aku Kecanduan
Auteur: DewaRa

Dijual

Auteur: DewaRa
last update Date de publication: 2026-08-21 11:44:37

​"Ini, Tuan, gadis virgin yang saya janjikan," kata Justin seraya sedikit mendorong tubuh Lily.

​Rasa takut membakar dada Lily seketika. Dia enggan melepas genggamannya, justru semakin erat memeluk lengan Justin.

​"Justin, aku takut! Kenapa kamu bawa aku ke sini?" bisik Lily.

​"Duduk di sana bersama Tuan Muda Gray! Jangan bikin malu aku dengan sikap kamu," bisik Justin penuh penekanan sambil menahan geram.

​Lily menggeleng kuat. "Ngapain duduk di sana, Justin? Ayo kita pulang! Ini sudah malam!"

​Justin menghempaskan cengkeraman tangan Lily secara kasar, membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan. "Tuan Gray sudah menunggu. Jangan buat dia murka!"

​"Aku nggak mau!" tolak Lily tegas.

​Melihat penolakan itu, Justin berbalik menatap pria berjas mahal yang duduk di sofa mewah. Pria itu sibuk menyesap cerutunya dengan aura yang sangat mengintimidasi.

​"Dia baru berusia dua puluh tahun, Tuan Gray. Masih kuliah semester empat dan sangat polos," ujar Justin dengan menyunggingkan senyum licik. "Selama berpacaran dengannya, jangankan ditiduri, ciuman saja dia selalu menolak. Saya jamin, dia masih utuh dan virgin untuk Anda."

​Mata Lily membelalak lebar. "Kamu menjual aku, Justin?!" teriaknya histeris. Kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong.

​"Kurang lebih begitu. Anggap saja ini balasan karena kamu selalu sok suci padaku yang kerap kali menolak keinginanku," sahut Justin santai.

​Dia kemudian melangkah mendekati meja Gray, membungkuk sedikit dengan patuh. "Jadi bagaimana, Tuan Gray? Dengan memberikan gadis ini, utang bisnis narkoba saya sebesar tiga miliar dianggap lunas, kan? Kita sudah impas?"

​Gray menghembuskan asap cerutu pekat dari mulutnya. Matanya yang tajam bak elang menatap Justin dengan kilat kekejaman.

​"Lunas?" Gray terkekeh dingin, suara beratnya memenuhi ruangan privat yang hening itu. "Wanita ini hanya jaminan awal agar kepalamu tidak kupisah dari lehermu malam ini, Justin. Jangan pernah mengajari aku cara berhitung."

​Justin menelan saliva kasar karena ketakutan setengah mati. Namun sebelum dia sempat memprotes, Gray mengibaskan tangannya pelan memberikan isyarat kepada kedua pengawalnya.

​Dua pria bertubuh tegap langsung mencengkeram lengan Justin dan menyeretnya paksa.

​"T-Tuan Gray! Tapi janji Anda…"

​"Seret dia keluar," titah Gray datar.

​"Lepaskan dia!" teriak Lily histeris saat melihat Justin diseret pergi.

​Dia meronta ingin mengejar, tetapi cengkeraman anak buah Gray di kedua sisinya menahan tubuh mungilnya.

​Dengan tubuh bergetar hebat, Lily berpaling menatap sosok di sofa. Pria itu memiliki garis wajah tegas, sempurna, namun dipenuhi aura kegelapan.

​"Tuan, saya mohon izinkan saya pergi. Saya tidak tahu-menahu soal utang Justin!" pinta Lily dengan air mata yang mulai merembes keluar.

​Gray mematikan cerutunya di asbak lalu berdiri. Ketukan sepatu pantofelnya menggema penuh ancaman saat dia melangkah mendekat.

​"Melepaskanmu?" terkekeh sinis Gray. "Setelah uang miliaran melayang karena bisnis kekasihmu yang gagal? Kamu pikir kamu siapa?"

​"Saya tidak ada hubungannya dengan bisnis itu, Tuan! Saya cuma mahasiswa biasa!" jerit Lily.

​"Kalau kamu mau bebas, bayar tiga miliar dulu," ucap Gray sedingin es.

​Tangis Lily pecah. Angka itu terlampau gila bagi seorang mahasiswi yatim piatu yang harus membanting tulang bekerja paruh waktu hanya demi membiayai kuliah dan makan sehari-hari.

​Melihat celah saat para pengawal sedikit lengah, Lily menggunakan sisa tenaganya untuk nekat berbalik dan mengambil langkah seribu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jarinya menyentuh gagang pintu, tubuhnya sudah terangkat dan dihempaskan kembali ke lantai oleh pengawal pribadi Gray.

​BRUK!

​"Aww!" Lily meringis kesakitan, memegangi sikunya yang beradu dengan kerasnya lantai.

​Gray berlutut di hadapan Lily, jari kokohnya mencengkram rahang gadis itu cukup kuat, memaksanya menatap lurus ke dalam manik matanya. "Semua wanita merangkak memohon tempat di ranjangku, tapi kamu malah berusaha lari."

​"Tuan, saya mohon, lepaskan saya..." tangis Lily kian histeris.

​"Bawa dia ke mobil. Kita kembali ke mansion sekarang," perintah Gray dingin kepada anak buahnya, mengabaikan ratapan pilu gadis itu.

​Di sepanjang perjalanan menuju mansion, Lily tak berhenti menangis di kursi belakang. Suara isakan Lily membuat amarah Gray membuncah.

​"Diam! Atau aku lempar kamu keluar dari mobil ini!" bentak Gray murka.

​Seketika Lily bungkam. Dia meremas jarinya sendiri yang basah oleh keringat dingin.

​Sesampainya di mansion raksasa yang tampak seperti benteng terisolasi, Gray menyeret lengan Lily masuk ke kamar utamanya.

​BUK!

​Dengan kuat pria itu melempar tubuh Lily ke atas tempat tidur.

​"Tetap di situ!"

​Begitu Gray melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Lily memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menuju pintu kamar.

​Namun ketika pintu dibuka, tiga pria kekar berpakaian serba hitam dengan senjata terselip di pinggang sudah berdiri melotot ke arahnya.

​Lily memundurkan langkah, menutup pintu kembali dengan rapat, lalu merosot di lantai.

​"Aku ingin pulang..." bisiknya lirih dengan air matanya membasahi pipi.

​Tak lama kemudian, Gray keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk melilit pinggangnya, memamerkan dada bidang berukir tato yang mengintimidasi.

​"Mau kabur lagi?" Gray berjalan santai lalu duduk di sofa. "Kabur saja, tapi hadapi dulu peluru anak buahku di luar."

​Lily hanya berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Sepertinya untuk bisa kabur dari sini sangatlah sulit.

​"Kamu sudah dijaminkan padaku, jadi jangan coba-coba lari. Sekarang kemarilah dan layani aku!" tatapan Gray menajam, memberi perintah tegas.

​"Layani?" tanya Lily heran.

​"Ya, memangnya apa lagi?" jawab Gray.

​Lily yang merasa ambigu hanya diam di tempat sehingga membuat Gray kesal.

​"Cepat!" teriaknya.

​Perlahan dan dengan langkah berat, Lily berjalan mendekat, berdiri berjarak satu meter di hadapan Gray.

​"Buka pakaianmu," titah Gray singkat.

​Mata Lily membelalak terkejut. "T-Tuan, apa maksud Anda?"

​"Tugasmu sekarang melayani aku di tempat tidur," jawab Gray.

​Air mata Lily kembali merembes keluar, hatinya meronta, dia tidak mau memberikan pelayanan seperti ini.

​"Tidak!" Lalu dengan lantang dia menolak kemauan Gray.

​Kesabaran Gray sudah di ambang batas. Dengan kasar dia menarik tangan Lily dan sekali lagi melemparnya ke kasur.

​"Aku tidak pernah menerima penolakan!" geramnya.

​Tanpa aba-aba, Gray menindih tubuh mungil itu dan mencium kasar bibir Lily. Sedangkan Lily sekuat tenaga menolak dengan mendorong dada tegap pria itu.

​Tak berhasil dengan tangan, Lily dengan berani menggigit bibir Gray hingga terasa asin darah di indra pengecapnya.

​"Gadis sialan!" pekik Gray seraya melepaskan ciumannya dan mengusap bibirnya yang berdarah.

​"Saya tidak mau, Tuan. Tolong jangan..." Lily memohon, merapatkan kedua tangannya di depan dada dengan nafas memburu.

​Pemandangan darah di bibirnya justru makin membakar iblis di dalam diri Gray. Matanya berkilat murka. Tanpa mendengarkan ratapan itu lagi, tangan kekar Gray merenggut dan merobek pakaian yang melekat di tubuh Lily secara kasar. Bunyi kain tersobek beradu dengan jeritan histeris Lily yang berusaha menutupi tubuhnya.

​"Kamu sudah kubeli mahal! Kamu tidak punya hak untuk menolak!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
ya ampun sedih banget ni novel
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Bak Diwawancarai Dosen Killer

    Sore itu, Lily duduk di teras mansion yang megah. Ia sengaja menunggu kedatangan Gray di luar karena ingin meminta izin untuk mewawancarai Jack demi tugas kampusnya yang ditolak dosen.​Beberapa saat menunggu, terdengar suara klakson nyaring di depan gerbang utama. Tak lama kemudian, mobil mewah hitam milik Gray melesat masuk dan terparkir rapi di halaman.​"Tuan Gray!" panggil Lily antusias, segera bangkit dari duduknya untuk menyambut pria itu.​Gray yang baru saja turun dari mobil mengernyit heran. "Tumben kamu berada di luar? Ada apa?"​"Saya sengaja menunggu Anda, Tuan," jawab Lily jujur.​"Kenapa tidak tunggu di dalam kamar saja? Udara di luar sangat dingin," ujar Gray lembut seraya merangkul hangat pundak Lily, membawanya berjalan mendekati pintu masuk.​"Tuan... bolehkah saya meminta izin untuk mewawancarai Tuan Jack?" tanya Lily hati-hati.​Mendengar nama asistennya disebut, Gray seketika menghentikan langkah. Ia melepas rangkulannya dari pundak Lily, lalu menatap dua netra g

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Jangan Lupa Traktirannya

    "Lily, di sini aku dosennya, bukan kamu! Aku perintahkan kamu untuk wawancara ulang, ya wawancara ulang! Atau kalau tidak, nilaimu akan langsung aku beri C!" ancam dosen paruh baya itu tegas, sama sekali tak memberi celah untuk protes.​Lily mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak amarah dan kekecewaan yang membakar dadanya. Dengan hati yang remuk, ia menarik kembali lembar laporan wawancaranya lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Ia sungguh tak menyangka ada dosen yang sepicik dan tak adil ini. Jelas-jelas hasil wawancaranya sangat sempurna dan valid langsung dari mulut sang bos besar, tapi malah ditolak mentah-mentah hanya demi membela Bianca yang merupakan anak rektor.​Setibanya di dalam kelas, Lily menghempaskan tubuhnya dan duduk dengan kasar di kursinya. Raut wajahnya terlipat sedih.​Mia yang menyadari ekspresi bersungut-sungut sahabatnya langsung berjalan mendekat. "Kenapa, Li? Ada masalah apa di ruang dosen?" tanyanya cemas.​"Pak dosen benar-benar pilih kas

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Harga Diri Mafia Dingin Dikuliti Habis Tanpa Sisa

    "Apa perlu kita kembali, Tuan? Mumpung mobilnya masih belum terlalu jauh," tanya Jack dari balik kemudi, melirik ragu lewat kaca spion.​Gray menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah Lily yang masih sesenggukan menatap keluar jendela. Harga diri seorang mafia besar memang tinggi, tapi melihat air mata wanitanya jauh lebih menyiksa.​"Ya sudah, putar arah. Kita kembali saja," sahut Gray akhirnya mengalah.​Jack langsung memutar balik mobil mewah itu. Tak butuh waktu lama, mereka kembali tiba di depan food truck penjual burger tersebut. Jack turun atas perintah Gray, lalu tak lama kemudian kembali dengan membawa bungkusan pesanan hangat yang tadi sempat ditinggalkan.​"Coba kamu makan dulu untuk memastikan makanan ini aman dikonsumsi," ujar Gray dingin kepada asistennya.​Tanpa pikir panjang, Jack langsung membuka bungkusan itu dan menggigit satu porsi burger di tangan. Seketika itu juga, mata Jack membelalak lebar.​"Tuan... Ini ternyata sangat lezat!" seru Jack takjub.​Selama

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Kenapa Anda Tidak Mengerti!

    "Maaf, Tuan..." cicit Jack pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyelamatkan nyawanya dari tatapan tajam sang bos.​"Sudahlah. Ayo kita keluar," ajak Gray seraya berdiri dari kursi kebesarannya dan merapikan kemeja mewahnya.​Jack mengernyit bingung. "Ke mana, Tuan? Bukankah jadwal hari ini sudah kosong dan tidak ada meeting dengan siapa pun?"​"Jemput Lily," jawab Gray singkat sambil melangkah menuju pintu.​"Jemput Nona Lily?" ulang Jack terperanjat, melirik jam tangannya. "Tapi Tuan... jam pulang kuliah Nona Lily masih dua jam lagi."​"Kita berkeliling saja dulu," balas Gray santai.​Jack semakin tak mengerti dengan jalan pikiran bosnya akhir-akhir ini. Biasanya, Gray adalah sosok pebisnis yang sangat menghargai waktu secara efisien. Pria itu jauh lebih senang ditunggu daripada harus menunggu orang lain. Bahkan untuk pertemuan bisnis yang sangat penting sekalipun, Gray selalu berangkat pas di menit-menit terakhir. Namun sekarang, demi menjemput gadis kecilnya,

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Apa Kamu Sudah Tidak Sayang Dengan Nyawamu!

    Melihat Lily yang terus menundukkan kepala, Gray sadar bahwa gadis kecilnya merasa tidak nyaman dan malu dengan kehadirannya di tengah koridor kampus. Gray menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat, lalu berbalik menatap Pak Rektor.​"Aku harus segera kembali ke kantor. Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan," ujar Gray dingin.​"Baik, Pak Gray. Terima kasih banyak atas kunjungannya hari ini," sahut Pak Rektor dengan tawa semringah. "Mari, saya antar sampai ke area parkiran."​Gray dan Jack melangkah lebih dulu di depan, sementara Pak Rektor berjalan mengikut di belakang. Begitu rombongan itu menghilang di ujung koridor, Lily seketika bernapas lega. Ia mengelus dadanya yang tadi berdegup kencang.​"Syukurlah... dia akhirnya pergi juga," gumam Lily penuh rasa lega.​"Siapa yang kamu maksud, Li?" sahut Mia yang duduk di sampingnya, menoleh bingung.​"Tuh... si—eh, maksudku Tuan Gray," potong Lily cepat, hampir saja keceplosan memanggil pria itu dengan sebutan lain.​Di dalam ha

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Berkeliling Kampus

    Jam istirahat akhirnya tiba. Di ruang rektorat, perbincangan antara Gray dan Pak Rektor baru saja usai. Namun, bukannya langsung pergi meninggalkan area kampus bersama Jack, Gray justru berdiri dan meluruskan kemejanya. Pria itu punya misi tersendiri: ia ingin melihat keberadaan gadis kecilnya.​"Aku ingin berkeliling kampus ini sebentar. Aku ingin melihat-lihat fasilitasnya," ujar Gray dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.​Pak Rektor seketika terperangah kaget. Ia tak menyangka sosok bos besar yang biasanya sangat sibuk dan tak tersentuh itu mendadak berminat menyusuri koridor kampus. Sesaat kemudian, asumsi liar mendadak melintas di benak Pak Rektor.​Apakah ini ada hubungannya dengan Bianca? Apa Pak Gray tadi diam-diam tertarik saat melihat putriku? batin Pak Rektor kegirangan.​Dengan senyum merekah penuh percaya diri, Pak Rektor langsung membungkuk hormat. "Tentu saja, Tuan Gray! Merupakan suatu kehormatan. Mari, saya sendiri yang akan mendampingi Anda berkeliling."​Gray han

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status