LOGINHalooo, aku mau kabarin bab 21-39 sudah fix ya revisiannya. Boleh dicek biar alurnya nyambung lagi. Maaf bikin pusing :")) happy re-read ^ ^
“Kalau kamu tidak mencoba menghentikkan permainan, aku tidak akan kalah, Erin.”Begitu menyusul Erin masuk ke ruang fisioterapi, Rama tidak segan menyuarakan kekesalannya. Namun, dia sengaja menjaga jarak, seakan tidak ingin kekesalannya memuncak.Erin yang sedang menyiapkan alat terapi di dekat salah satu bed menatap Rama setengah tidak percaya. “Dalam situasi tadi, kamu masih memikirkan hal itu?”Tidak hanya Rama yang kesal. Erin pun sama. Kedua alisnya bertaut tidak kalah tajam. “Kalau cederamu memburuk, kamu bisa absen bertanding berbulan-bulan.”Bukan hanya proses terapinya yang akan berjalan lebih lama, tetapi juga kesempatan Rama untuk kembali bermain di lapangan. Tidakkah seharusnya pria itu menyadari hal tersebut?Keduanya masih saling bertatapan sengit sampai akhirnya Rama yang lebih dulu membuang pandangan. Dia mendengus pelan. “Kamu tidak mengerti.”“Apa yang tidak aku mengerti?” balas Erin seakan menantang Rama.Apa yang dia lakukan adalah mencoba memahami pria keras kepa
Apa mau dikata, Erin tidak punya pilihan lain selain berlari ke tengah lapangan, tepat di mana baik Rama maupun Sena masih sibuk memperebutkan bola.“Fisio Erin, apa yang kamu lakukan?” Coach Teknik terdengar panik begitu melihat wanita itu berada di jalur permainan, seakan memaksa kedua pria itu untuk menyadari kehadirannya.Sebenarnya Rama langsung bisa merasakan kehadiran sosok lain. Dari suara yang terdengar menyerukan nama Erin, demi memastikan Rama sempat menolehkan pandangan dan menukikkan alis saat benar-benar melihat wanita itu tepat ada di sampingnya.“Berikan bolanya padaku,” pinta Erin sambil mengulurkan kedua tangannya pada Sena.Mendengarnya, Sena yang sedang menggiring bola tertawa pelan. Selama lebih dari lima belas menit berduel dengan Rama, Coach Teknik yang sejak tadi berusaha menghentikkan mereka pun hanya bisa memanggil dari pinggir lapangan.Apa yang membuat fisioterapis tim ini sampai nekad untuk menghentikkan mereka?“Kamu mau ikut bermain, Fisio Erin?” goda Se
Di sisi Erin menikmati makan malamnya di kamar asrama, di sisi lain Rama juga memutuskan pergi ke kamarnya. Namun, kurang dari dua menit berada di dalam, pria itu kembali ke luar.Diam-diam Rama melangkah menuju lorong belakang yang mengarah ke tempat pembuangan sampah. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siapa pun di sana.Baru setelah itu, Rama mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Dia mengambil satu batang dan menyelipkannya di antara bibir. Satu tangan yang lain mengeluarkan pemantik.Dengan satu kali gesekan, api kecil itu menyala, dan perlahan membakar ujung rokok yang diapitnya.Rama mengisapnya dalam-dalam. Batang rokok itu berpindah, terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya sesaat sebelum dia mengembuskan asap tipis itu ke udara. Begitu seterusnya, berulang kali Rama mengulanginya.Tubuhnya dibiarkan bersandar di dinding bangunan. Sepasang matanya terus menatap langit dengan ekspresi keras, seakan tengah berusaha mengusir sesua
Gerakan mendadak Erin itu membuat bagian tubuh Rama ikut menegang.Bagaimana tidak? Dalam satu kali hentakan, Erin mengangkat tubuhnya dan kini kembali mendarat di pangkuannya.Refleks, tangannya mencengkeram lengan Erin sedikit lebih erat lantas melepaskannya.“Erin, rambutmu tersangkut,” beritahu Rama dengan suara yang terdengar berat. Dengan ekspresi yang kesulitan dia menatap Erin tajam. “Jadi, jangan bergerak.”Erin menganggukkan kepala. “O–oke.”Sejujurnya Erin tidak habis pikir. Bagaimana bisa rambutnya itu tersangkut? Meski berusaha menenangkan diri, jari-jarinya tampak gemetar saat mencoba melepaskan helaian rambut yang terlilit di salah satu kancing polo Rama.“Bisa lebih cepat?” desak Rama.Siapa yang bilang dia nyaman dengan posisi ini?Semalam dia memang sempat memangku Erin. Namun, saat itu tubuhnya hampir mati rasa karena dingin. Dia tidak berpikir apa pun selain mendapatkan kehangatan untuk tubuhnya dari Erin.Dan sekarang, situasinya jelas berbeda ‘kan?Rama berada da
“Kalau memang tidak menghindar, kenapa sampai melewatkan makan malam?” dengus Rama.Dia sendiri sebenarnya yakin kalau Erin memang menghindarinya. Setelah dari ruang rapat, Rama bahkan tidak melihat keberadaan fisioterapis pribadinya itu lagi.Kakinya yang panjang kembali melangkah mendekat. Tangannya kemudian meletakkan kotak makanan yang sedari tadi dibawanya ke atas meja.Melihat kotak makanan itu, Erin mengernyitkan dahi. Dia sampai tidak menyadari kalau Rama membawa sesuatu di tangannya.Baru akan bertanya, pria itu lebih dulu menjelaskan, “Dokter Tim menitipkan makanan untukmu. Sekalian aku diminta mengambil obat.”Tadi di kafetaria Rama sempat bertemu dengan Dokter Tim. Setelah memeriksa lututnya yang kembali terasa nyeri, dokter itu menyuruh Rama mengambil obat ke ruang fisioterapi. Kebetulan, Dokter Tim juga menitipkan satu kotak makanan untuk Erin yang sejak tadi belum terlihat di kafetaria.“Obat apa?” tanya Erin. Dia langsung bangkit dari duduknya. “Biar aku ambilkan.”“Pe
Menyadari dirinya baru saja membaca pesan yang bukan untuknya, Erin buru-buru menutup ruang percakapan itu. Telapak tangan yang tengah memegang ponsel mulai terasa lembap oleh keringat.“Apa ini? Kenapa aku malah membuka pesan ini?” tanyanya pada diri sendiri dengan perasaan yang gelisah.Erin kembali melihat ke arah layar ponsel. Di sudut percakapan tertera keterangan bahwa pesan tersebut hanya dapat dilihat dalam waktu tertentu. Ya … pesan berwaktu.Tanpa sadar, Erin menggigit pipi bagian dalamnya.Bagaimana sekarang? Pesan itu jelas ditujukan untuk Rama. Itu berarti … Rama harus melihatnya.Tapi, bagaimana? Erin baru saja membuka pesan itu tanpa sengaja. Kalau pesan berwaktu itu hilang dalam waktu dua puluh empat jam, bukankah itu artinya Rama tidak akan sempat membacanya?“Astaga … tidak bisakah satu hari saja berlalu tanpa masalah?” gerutu Erin.Biasanya Erin tidak terbiasa menyalahkan orang lain. Tapi, kali ini dia sangat ingin menyalahkan dirinya sendiri.Dilihat dari isi pesan
Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—” “Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan mena
“Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan.Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya.“Tolong, maafkan
Lahir di keluarga yang cukup harmonis dan penuh cinta kasih, membuat Erin pernah berandai-andai, apa rasanya jatuh cinta dan dicintai seseorang?Sampai ketika dirinya masuk SMA, Erin bertemu dengan seorang Rama Mahanta. Dari sejumlah teman, Erin mengetahui satu-dua hal tentang pemuda itu. Tampan,
Erin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi. Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain.Kesehatan







