Share

Bab 2

Penulis: Crispy Coco
Aku tidak menangis saat berjalan keluar dari acara lelang itu, tetapi dadaku terasa seperti muncul sebuah lubang hitam. Kata-kata Dante masih terus berputar-putar di benakku saat aku tersandung menuruni tangga.

Saat itu, ada seorang pria muda berseragam pelayan yang berlari melewatiku dengan membawa nampan di tangannya dan bahunya menghantam tubuhku dengan keras.

"Ah!"

Aku menjerit karena kehilangan keseimbangan, lalu menggelinding menuruni tangga. Punggungku menghantam sudut tangga yang tumpul, lalu disusul dengan kram di perutku. Aku terbaring di tanah yang dingin dan pandanganku menjadi kabur. Saat kesadaranku samar-samar, aku sempat mengira aku melihat Dante menerobos keluar melalui pintu.

Ava yang berada di sisi lain ruangan berteriak dan terduduk di lantai, lalu memegang pergelangan kakinya. "Dante ... pergelangan kakiku ... sakit sekali ...."

Aku melihat tatapan Dante berpindah-pindah antara aku dan Ava.

Namun, Dante hanya ragu selama satu detik, lalu segera mendekati Ava. Dia menggendong tubuh Ava, lalu berkata dengan suara tegang dan penuh kekhawatiran, "Sialan. Kenapa kamu begitu ceroboh? Ayo, kita ke rumah sakit."

Setelah mengatakan itu, Dante bahkan tidak menoleh lagi dan langsung pergi.

Saat itu, ada genangan cairan hangat yang menyebar di bawah tubuhku dan menodai marmer putih dengan warna merah.

"Nyonya! Nyonya, kamu berdarah!" teriak seorang pelayan.

Setelah itu, semuanya langsung menjadi gelap.

Saat bangun, aku sudah berada di rumah sakit dan rasa sakit yang luar biasa masih terasa mengoyak perutku.

Dante berdiri di samping ranjangku dengan ekspresi bercampur antara rasa iba dan sesuatu yang tidak bisa aku pahami. "Elara, kamu sudah hamil."

"Apa?" seruku yang tidak percaya. Aku pernah bermimpi untuk memiliki anak bersama Dante, tetapi itu tentu saja tidak harus terjadi sekarang saat aku akhirnya tahu dia tidak mencintaiku.

Selain itu, bagian terburuknya ....

"Kamu kehilangan bayi karena jatuh terlalu parah," kata Dante.

Aku hampir tidak bisa bernapas. "Nggak, nggak .... Pasti ada caranya. Dante, kamu harus menyelamatkan bayi kita."

Aku meraih tangan Dante dan menggenggamnya dengan putus asa.

Namun, Dante hanya menggelengkan kepala dan berkata dengan nada dingin, "Kamu harus menerimanya. Mungkin bayi ini memang nggak ditakdirkan untuk lahir."

Setelah itu, Dante menoleh ke arah pintu. "Dokter, bawa dia untuk melakukan prosedurnya."

"Aku nggak mau ...."

Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, para dokter dan perawat langsung mengerubungiku untuk menahan lengan dan kakiku. Dante hanya menjadi seorang penonton atas pergumulanku. Saat itu, aku langsung tahu dia tidak mencintaiku, sehingga tidak merasakan apa-apa terhadap anak kami.

Aku sadar di sepanjang proses itu, sehingga aku bisa merasakan ada sesuatu yang diambil dari tubuhku. Saat aku siuman, Dante masih berada di ruangan itu. Namun, aku hanya menatap Dante dalam diam.

Dante melangkah maju dan mengulurkan tangannya, seolah-olah ingin menyeka keringat di keningku.

Aku langsung memalingkan wajahku. Itu pertama kalinya sentuhannya terasa menjijikkan.

Dante berkata dengan pelan, "Dokter bilang operasinya berhasil."

Berhasil? Berhasil membunuh anak kami?

"Aku sudah mengurus pria yang menabrakmu. Sebagai kompensasi, aku bisa menyerahkan wilayah di distrik utara pada Keluarga Nugroho. Nilainya lima belas triliun. Itu seharusnya sudah cukup untuk menutupi kehilangan ini," lanjut Dante.

"Aku nggak mau wilayahmu. Aku hanya ingin kamu menjawab satu pertanyaan," kataku pelan dengan suara serak.

"Apa?" tanya Dante.

Aku menatap mata Dante. "Saat aku terluka, kenapa kamu memilih menolong Ava? Bukankah aku istrimu?"

Dante terdiam, lalu ekspresinya mengeras. Dia melepaskan tanganku. "Jadi, ini masalahnya. Itu kecelakaan, Elara. Ava rapuh. Dia perlu dijaga. Kalau kamu masih belum puas, aku bisa menambah kompensasinya."

Aku langsung tertawa getir, sebuah penghormatan bagi anakku yang telah hilang. Anak yang keberadaannya jelas tidak penting dibandingkan dengan pergelangan kaki gadis itu.

"Bersikaplah rasional, Elara."

Dante berdiri dan merapikan mansetnya, lalu melanjutkan, "Pernikahan kita adalah aliansi politik. Jangan dipersulit dengan perasaan."

Dia berhenti sejenak di ambang pintu. "Dan ada satu hal lagi. Aku ingin kamu merahasiakan soal kehamilan ini. Menikah denganmu saja sudah melukai Ava. Kalau dia sampai tahu kamu pernah hamil, perasaannya pasti akan hancur."

Ternyata inilah tujuan Dante yang sebenarnya.

Aku tersenyum hampa, lalu memalingkan wajahku ke arah dinding. "Baiklah, kalau itu memang maumu. Pergilah."

Dante mengernyit, tetapi akhirnya berbalik dan melangkah menuju pintu. "Aku akan mengirim dokter dan perawat terbaik untuk merawatmu. Istirahatlah."

Setelah melangkah keluar, terdengar Dante berbicara di telepon dengan suara yang tiba-tiba menjadi lembut. "Ava? Ada apa, Sayang? Jangan menangis, aku dalam perjalanan ke sana ...."

Seminggu kemudian, aku diperbolehkan keluar rumah sakit.

Selama tujuh hari itu, Dante tidak pernah menjengukku. Seorang perawat sempat memberitahuku ada seseorang yang mengirim makanan terbaik dan bunga segar setiap harinya, tetapi orang itu bukan Dante. Aku tahu selama itu Dante sedang sibuk menghibur Ava, sibuk memberikan semua kelembutan yang selama ini kudambakan pada Ava.

Suasana di vila itu tetap sama, dingin dan mewah.

Aku membuka pintu ruang kerja Dante. Ini adalah tempat suci Dante yang dipenuhi koleksi barang antik dan seninya. Piala-pialanya diletakkan di rak, sementara foto-foto bersama para politisi dan foto pernikahan kami tergantung di dinding.

Di foto itu, aku terlihat berseri dalam gaun putih. Sementara itu, ekspresi Dante yang mengenakan setelan rapi terlihat datar, tetapi setidaknya dia masih memainkan perannya sebagai suami yang berbakti. Kami terlihat begitu sempurna, meskipun semua itu hanya bohong.

Aku meraih sebuah vas kristal dari meja Dante dan melemparkannya ke rak buku dengan sekuat tenaga sampai suara pecahannya bergema di ruangan yang sunyi itu. Setelah itu, aku melempar satu lagi dan satu lagi. Aku menghancurkan setiap koleksi berharganya, lalu merobek setiap foto di dinding. Pada akhirnya, aku berdiri di depan foto pernikahan kami dan menatap gadis polos di foto itu.

"Kamu benar-benar bodoh, Elara," bisikku pada pengantin wanita itu, lalu merobek foto itu hingga hancur.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status