แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Crispy Coco
Puing-puing di ruang kerja masih berserakan di lantai saat ponselku bergetar. Itu adalah pesan dari Dante.

[ Sudah selesai mengamuknya? Aku akan suruh orang mengganti semuanya. Semua ini berakhir sekarang. ]

Berakhir sekarang?

Saat menatap kata-kata itu, rasa tidak masuk akal langsung membuat kepalaku pusing. Aku yang kehilangan bayi kami dan menghancurkan ruang kerjanya, semua itu hanya amukan yang perlu diakhiri baginya.

Tanganku yang memegang ponsel bergetar, bukan karena merasa marah, melainkan putus asa. Hatiku pun mati rasa, seolah pisau yang sebelumnya menancap hatiku dicabut dan meninggalkan lubang menganga yang tak pernah bisa tertutup lagi. Aku menelepon nomor pengacara Keluarga Nugroho. "Pak Peterson, ini Elara. Aku mau kamu menyiapkan surat cerai."

Orang di seberang telepon terdiam sejenak. "Nyonya, kamu yakin? Ini bisa berdampak pada aliansi bisnis antara kedua keluarga ...."

"Aku yakin. Tolong lakukan secepat mungkin," kataku dengan suara yang sangat tenang hingga terasa dingin.

Peterson terlihat ragu. "Dan ... mengenai pembagian aset itu bagaimana? Perjanjian pranikah menyatakan kalau kamu yang mengajukan perceraian ...."

Aku langsung menyela, "Ikuti perjanjian pranikah itu. Rumah, mobil, saham .... Aku nggak menginginkan satu pun dari itu. Yang aku inginkan hanya kebebasanku."

Peterson jelas terkejut, tetapi dia adalah seorang pengacara profesional. Dia pun tidak mengajukan pertanyaan lagi. "Baik, Nyonya Elara. Aku akan segera menyiapkan dokumennya."

Aku menutup telepon, lalu berjalan menuju kamar tidur kami atau lebih tepatnya kamarku. Dante jarang tidur di sini. Kalaupun dia melakukannya, itu semata-mata untuk menjalankan kewajibannya sebagai suami sebelum kembali ke kamar tamu.

Aku membuka lemari dan mulai berkemas. Setelah tiga tahun pernikahan, aku hampir tidak pernah mendapatkan apa pun dari Dante. Sebagian besar barang-barang di kamarku adalah barang yang aku bawa dari kediaman Keluarga Nugroho. Baguslah, itu akan membuat kepergianku jauh lebih mudah.

Saat Dante pulang pukul sepuluh malam, aku sudah menunggunya di sofa ruang tamu dengan tiga rangkap perjanjian perceraian yang tersusun rapi di atas meja kopi.

Dante masuk dan terpaku di tempat saat melihat dokumen-dokumen itu. "Apa ini?"

"Surat cerai. Tinggal tanda tangan," kataku sambil menunjuk ke arah meja.

Dante mendekat dan mengambil dokumen-dokumen itu, lalu melirik sekilas dan mencibir, "Elara, kamu pikir kita sedang main sinetron? Tiga tahun sudah berlalu, kamu masih tetap anak manja."

Saat mengatakan itu, Dante melempar dokumen itu kembali ke meja.

Anak manja?

Setelah ibuku meninggal, aku harus mengenakan topeng wanita kuat hanya untuk bertahan hidup. Namun, setelah menikah dengan Dante, aku perlahan-lahan menurunkan pertahananku karena terbuai oleh momen-momen kelembutannya yang langka. Aku terus mengalah, berharap suatu hari nanti aku akan menjadi istri yang diinginkannya. Terlihat jelas, Dante pun tidak pernah menyadarinya.

Aku menelan semua kepahitan itu. "Aku serius."

"Serius?"

Dante duduk di hadapanku, lalu menyilangkan kaki dengan postur yang santai sekaligus mengancam. "Kalau begitu, aku akan mengingatkanmu dengan serius. Kerja sama antara Keluarga Nugroho dan Keluarga Taulany adalah kesepakatan bernilai triliun. Kamu benar-benar berpikir ayahmu akan membiarkanmu membuangnya hanya karena kamu mengamuk?"

Aku hanya menatap Dante dalam diam.

"Dan satu hal lagi."

Dante melanjutkan dengan suara yang makin dingin, "Biaya pengobatan saudarimu, Luna, 15 miliar per bulan. Rumah sakit swasta kami memberinya obat dan peralatan terbaik di dunia. Kamu pikir Keluarga Nugroho yang sekarang bisa menanggung itu tanpa aku?"

Saat Dante berdiri dan mengintimidasiku, hatiku sakit. Namun, aku memaksakan diri untuk tersenyum, senyuman yang selalu aku pakai setiap kali kami berperang. "Kedengarannya kamu sangat percaya diri, tapi bagaimana dengan Ava kesayanganmu? Apa kamu nggak peduli? Kalau kita nggak bercerai, dia hanya akan jadi simpananmu selamanya. Sepertinya kamu juga nggak begitu mencintainya, Dante."

Kami saling menatap dan suasana di tengah kami terasa tegang.

Dante akhirnya meraih sebuah pulpen dan tanda tangan, lalu melemparkan berkas-berkas itu ke arahku. Setelah itu, dia mengambil jaketnya. "Puas sekarang? Hentikan drama nggak penting ini. Jangan lupa, adikmu masih membutuhkanku. Aku masih ada urusan bisnis."

Pintu dibanting tutup dengan keras, meninggalkanku sendirian di ruang tamu yang luas dan kosong. Aku menatap berkas-berkas yang sudah ditandatangani di atas meja, lalu air mataku akhirnya mengalir. Namun kali ini, aku menangis karena merasa lega.

Dante tidak tahu Luna sudah dikeluarkan enam bulan yang lalu. Aku menggunakan uangku untuk mencarikan dokter terbaik untuknya, lalu mengirimnya ke Pirankis. Kini, dia berada di Partis untuk belajar seni dan hidup sehat serta bahagia. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun, bahkan ayahku. Aku tahu selama Luna sakit, itu akan menjadi tali kekang yang mengikatku pada pernikahan ini.

Namun, kini aku akhirnya mengerti aku bisa bertahan sebenarnya bukan karena adikku, melainkan karena hatiku yang bodoh. Aku pikir suatu hari nanti Dante akan melihatku dan mencintaiku sebagai seorang istri. Fantasi yang menyedihkan.

Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan pada Peterson.

[ Berkas sudah ditandatangani. Besok ajukan ke pengadilan. ]
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status