Share

Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku
Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku
Penulis: Crispy Coco

Bab 1

Penulis: Crispy Coco
Sudut pandang Elara:

Selama tiga tahun pernikahan, kami hidup dalam pertengkaran dan keintiman di ranjang, seakan segalanya bergantung pada itu. Aku pikir itu memang gaya kami, hingga dia berkata bahwa selama ini hatinya hanya milik orang lain.

"Hanya begitu kemampuanmu?" kataku sambil terengah-engah. Keringat membasahi punggungku saat pria di bawah tubuhku memberikan dorongan terakhirnya. Tangan Dante mencengkeram pinggulku cukup keras hingga meninggalkan memar.

Beginilah kami. Bahkan di ranjang pun, semuanya terasa seperti pertempuran.

Aku bisa melihat dadanya bergetar pelan saat dia tertawa. Setelah mendorong lebih dalam, bibirnya menyentuh telingaku. "Elara, kamu selalu banyak bicara, tapi tubuhmu nggak pernah berbohong."

Aku menggigit bibirku, menolak membiarkan suara erangan keluar. Aku tidak akan memberinya rasa puas itu.

Namun, Dante sangat mengenal tubuhku. Dia tahu setiap titik sensitifku. Dia menelusuri leherku dengan kecupan-kecupan lembut, kontras yang mencolok dengan ritme brutal dan sempurna dari pinggulnya yang menghantamku. Semuanya berlangsung hingga kami berdua kelelahan. Aku tidak bisa menahan diri dan menancapkan kuku ke punggungnya yang lebar dan kuat.

"Puas, Elara?" tanya Dante sambil bangkit dan mengenakan kemejanya. Seperti biasanya, dia mengambil handuk basah untuk membersihkanku. Itu satu-satunya momen dia akan bersikap lembut.

Aku memaksakan diri agar rona di pipiku menghilang, lalu menyeringai dengan maksud menantang. "Hampir. Kamu cukup hebat."

Gerakan Dante terhenti, sorot matanya menajam. "Aku rasa aku harus berusaha lebih keras lagi lain kali."

"Aku akan pergi ke acara lelang bawah tanah malam ini."

Aku bangkit dari ranjang untuk berpakaian, lalu melanjutkan dengan suara yang sengaja dibuat terdengar santai dan bosan, "Ada sesuatu yang harus aku dapatkan."

"Apa itu?" tanya Dante.

Suaraku agak bergetar, tetapi aku menyembunyikannya. "Bros ibuku yang berlian."

Itu satu-satunya peninggalan ibuku untukku. Bros itu hilang tiga tahun yang lalu saat bentrokan keluarga, tetapi kini akhirnya muncul kembali di pasar gelap.

Dante mengancingkan mansetnya, lalu berkata dengan nada datar, "Kalau kamu nggak memenangkannya, aku akan membelikan yang lainnya untuk menggantinya."

Jantungku berdegup dan kehangatan menyebar di dadaku. Apa ini ... karena Dante peduli? Mungkin dia bukan sama sekali tidak berperasaan.

Acara lelang itu diadakan di sebuah pabrik terbengkalai di pinggiran kota. Lampu-lampu redup menembus kegelapan dan menerangi wajah para sosok paling berbahaya di kota.

Dengan mengenakan gaun hitam, aku duduk di sudut dan menunggu.

"Selanjutnya, bros berlian abad ke-19. Penawaran dimulai dari tujuh miliar lima ratus juta."

Saat suara juru lelang bergema, telapak tanganku mulai berkeringat.

"Sembilan miliar!"

"Sepuluh miliar lima ratus juta!"

"Lima belas miliar!"

Aku mengangkat papan tawarku dan berkata dengan suara yang jelas, "Dua puluh dua miliar lima ratus juta."

Suasana di ruangan itu langsung sunyi karena harga itu jauh melampaui nilai asli dari bros itu. Aku pikir bros itu sudah menjadi milikku, tetapi aku tiba-tiba melihat Dante dan seorang gadis berpenampilan lembut berdiri di samping Dante.

Gadis itu menghela napas. "Ya ampun, bros itu indah sekali. Kira-kira siapa yang cukup beruntung untuk memilikinya ya. Orang dengan latar belakang sepertiku ... mana pantas memiliki sesuatu seperti itu."

Dia menundukkan kepala dengan ekspresi yang terlihat polos dan patah hati.

Aku melihat Dante sempat melirik ke arahku. Tatapannya tidak terlihat terkejut, hanya ketenangan yang dingin dan penuh perhitungan. Setelah itu, dia mengangkat tangan dan berkata dengan suara yang rendah serta berwibawa, "Tiga puluh miliar."

Darahku terasa membeku. Aku mengentakkan kakiku, lalu bertanya dengan suara bergetar, "Dante, apa yang kamu lakukan?"

Dante mengabaikanku dan kembali mengangkat papan tawarnya. "Empat puluh lima miliar."

Tidak ada seorang pun yang berani menawar dan melawan pewaris Keluarga Taulany.

Aku menggertakkan gigi. "Enam puluh miliar."

Dante bahkan tidak menoleh ke arahku. "Tujuh puluh lima miliar."

"Terjual!"

Palu juru lelang seperti menghantam keras tepat ke jantungku.

Aku terpaku dan menatap Dante berjalan ke panggung untuk mengambil bros itu. Berlian merah muda itu terlihat berkilau di bawah cahaya. Itu adalah favorit ibuku.

Setelah itu, Dante berbalik dan menyematkan bros itu di dada gadis itu. Dia berkata dengan suara yang lebih lembut daripada yang pernah aku dengar sebelumnya, "Kalau kamu menginginkannya, siapa yang berani bilang kamu nggak pantas mendapatkannya?"

Gadis itu, Ava, tersenyum lebar. "Dante, kamu baik sekali padaku."

Terlihat Ava melirik ke arahku dengan tatapan penuh kemenangan. "Tapi ... bukankah ini bros milik ibunya Bu Elara?"

Saat itu, Dante akhirnya menatapku. "Ava menyukainya, bersikaplah murah hati dan biarkan dia memilikinya. Aku akan menggantinya dengan apa pun yang kamu mau."

Menggantinya?

Seolah-olah uang bisa menggantikan kenangan tentang ibuku. Pria yang dingin ini bukan Dante yang sama dengan pria yang memelukku satu jam yang lalu. Aku memaksa kata-kata keluar dari sela-sela gigi yang tertutup rapat. "Aku nggak mau yang lain. Aku mau bros ibuku."

Alis Dante mengkerut, wajahnya berubah serius. Kemudian, dia mengucapkan kata-kata yang seolah-olah menjatuhkanku ke neraka. "Jangan lupa apa arti dari pernikahan ini, Elara. Ini sebuah kesepakatan. Nggak lebih dari itu. Tapi, Ava itu berbeda. Dia adalah orang yang akan kulindungi seumur hidupku."

Tubuhku langsung gemetar. "Melindunginya seumur hidupmu .... Apa maksudmu?"

"Aku mencintai Ava. Dia adalah wanita yang benar-benar ingin kunikahi .... Elara, kamu nggak perlu terlihat begitu patah hati. Kita memang nggak pernah saling mencintai, 'kan? Aku tetap akan berperan sebagai suami yang baik, selama kamu nggak menggangguku dan Ava."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status