LOGINBaling-baling helikopter bermesin ganda itu perlahan melambat hingga akhirnya berhenti berputar sempurna di atas landasan beton helipad pribadi yang dikelilingi oleh barisan pohon kelapa melambai dan deburan ombak biru jernih.Pintu kabin terbuka dari dalam, membiarkan terpaan angin laut tropis beraroma garam menyapa wajah.Vanya melangkah turun lebih dulu dengan penuh antusias, mengenakan gaun musim panas putih dan kacamata hitam yang diselipkan di atas kepalanya.Di belakangnya, Dani melangkah turun dengan tenang, membawa tas ransel taktis miliknya dan koper berukuran sedang milik Vanya."Selamat datang di tempat peristirahatan pribadiku, Dani," kata Vanya sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memutar tubuhnya menghadap pemandangan laut lepas yang terbentang luas tanpa batas."Bagaimana? Jauh lebih baik daripada udara Jakarta yang penuh polusi dan bau asap knalpot koridor kantor, kan?"Dani mengedarkan pandangan elangnya ke sekeliling area pulau.Jejak kaki pertama mereka
Sinar matahari pagi menembus celah kaca jendela hanggar helikopter privat di kawasan Halim Perdanakusuma, memantulkan kilau keemasan di atas bodi helikopter bermesin ganda yang siap lepas landas.Suasana di dalam area landasan terasa sibuk namun teratur.Para teknisi berpakaian seragam tampak lalu-lalang melakukan pengecekan akhir pada rotor dan sistem navigasi udara, memastikan seluruh instrumen penerbangan berfungsi dengan sempurna tanpa celah sedikit pun.Meisya melangkah keluar dari dalam mobil sedan hitam berbalut kaca anti peluru, mengenakan setelan jas formal abu-abu tua dengan kacamata hitam yang membingkai wajah tegasnya.Di belakangnya, Dani berjalan tegap mengenakan kemeja taktis gelap dan celana kargo, membawa sebuah ransel militer berisi perlengkapan pribadi.Tidak jauh dari tangga helikopter, Vanya sudah berdiri lebih dulu sambil mengenakan gaun musim panas berwarna putih tulang dan kacamata hitam berbingkai besar, tampak tidak sabar untuk segera meninggalkan hiruk-pikuk
“Hah? Kamu ngomong apa tadi, Vanya?”Mendengar kalimat itu, otot-otot di sekujur tubuh Meisya menegang seketika.Gelombang posesif yang tajam dan panas langsung bergolak hebat di dalam dada wanita itu.“Mau minta izin kamu buat ajak Dani liburan seminggu di pulau pribadiku,” ucap Vanya dengan suara yang sengaja dibuat manja.Dalam sepersekian detik, Meisya menatap Vanya dengan iris mata menyipit tajam, berniat menolak mentah-mentah gagasan gila untuk membiarkan prianya dibawa pergi begitu saja ke tempat terpencil selama itu."Kamu sudah gila, Vanya?" sergah Meisya setengah mendesis, suaranya terdengar tajam meskipun masih melekat sisa-sisa keletihan di tenggorokannya."Seminggu penuh? Berdua saja dengan Dani di pulau pribadimu? Jangan menguji batas kesabaranku setelah apa yang kita lewati malam ini. Dia milikku."Vanya tidak gentar sedikit pun menghadapi kemarahan terselubung itu. Gadis berambut panjang tersebut justru tersenyum miring, merapikan helai rambutnya yang basah oleh kering
Suasana di dalam Presidential Suite kini telah berubah menjadi arena permainan absolut di mana Dani memegang kendali penuh atas raga dan jiwa tiga wanita telanjang di hadapannya.Meisya, Karen, dan Vanya sepenuhnya berada di bawah belas kasihan sang pengawal yang kini bertindak sebagai penguasa mutlak.Dani duduk bersandar tenang di atas sofa kulit raksasa, sementara ketiga wanita itu merangkak di sekelilingnya dengan napas memburu dan tatapan mata yang kabur karena puncak gairah. Dani mengulurkan tangannya, membiarkan jemarinya menyusup masuk ke dalam liang keintiman Vanya dengan gerakan yang perlahan namun mendalam.Vanya langsung melengkungkan punggungnya, mendesah panjang dengan mata terpejam rapat saat gesokan jari Dani menghantam dinding sensitifnya.Ritme itu semakin dipercepat, membuat Vanya merintih tertahan, merasakan gelombang orgasme yang sudah berada di ambang batas pintu keluar.Namun, tepat sepersekian detik sebelum Vanya mencapai titik pelepasan puncaknya, Dani dengan
Botol whisky kosong di atas meja kaca berputar kembali dengan cepat, menciptakan derit halus di tengah udara Presidential Suite yang kian memanas.Keempatnya masih terengah-engah dari tantangan sebelumnya, namun mata bertabur gairah dari tiga wanita di sekeliling Dani menandakan bahwa permainan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih liar.Botol perlahan melambat, meliuk tipis, dan berhenti dengan moncongnya mengarah lurus pada Meisya, sementara bagian bawahnya menunjuk ke arah Dani."Akhirnya..." gumam Dani rendah, kemudian menyunggingkan senyum tipis yang sarat dominasi.Ia bersandar nyaman di busa sofa sembari melipat kedua tangannya di atas sandaran."Meisya, Truth or Dare?"Meisya merapikan gaun marunnya yang agak berantakan, menatap Dani dengan sorot mata menantang meski pipinya bersemu merah."Dare, Dani. Jangan harap aku mau membuka rahasia di depan mereka berdua."Dani menatap Meisya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menelanjangi."Peraturan berubah un
Setelah seluruh sesi formalitas Gala Dinner selesai, empat orang penguasa baru bursa itu tidak beranjak pulang.Mereka bergerak menuju Presidential Suite di lantai paling atas Hotel Mulia Senayan, sebuah ruangan seluas rumah mewah dengan interior marmer, sofa kulit raksasa, dan dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu Jakarta dari ketinggian.Meisya melepaskan high heels-nya dan langsung duduk bersandar di sofa kulit. Namun, ia tidak duduk sendirian.Meisya menarik lengan tegap Dani agar duduk tepat di sampingnya, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang sang pengawal yang masih terbalut kemeja tuxedo tanpa dasi.Karen yang baru saja menuangkan empat gelas whisky berusia dua puluh tahun di meja bar kecil tertawa terkekeh melihat pemandangan itu.Ia membawa dua gelas di tangannya dan melangkah mendekati sofa, disusul Vanya yang berjalan santai sembari melonggarkan gaun malamnya."Astaga, Meisya," ledek Karen sambil menyerahkan satu gelas whisky pada Meisya."







