LOGIN"Muncak?" dani bertanya untuk memastikan.Dani memiringkan kepalanya sedikit, menatap Venny dengan alis yang terangkat tipis.Venny mengangguk antusias kemudian mendekati dani dan berbisik, kalau di puncak itu kan suasananya beda. nyari tempat yang sejuk yang bergairah.Dengan langkah yang disengaja gemulai, Venny memangkas jarak di antara mereka. Ujung heels merahnya berhenti tepat di depan sepatu kulit Dani.Ia berjinjit sedikit, mensejajarkan bibir bergincu merah gelapnya di dekat cuping telinga sang pengawal, biarkan hembusan uap napas hangatnya yang beraroma parfum floral mahal menyapu kulit leher tegap Dani secara terang-terangan."Pikirin deh, Dani..." bisik Venny dengan nada suara yang teramat manja, serak, dan penuh pancingan gatal."Di sana udaranya dingin banget, beda sama Jakarta yang sumpek. Kita butuh kehangatan ekstra di tempat yang tenang... cuma ada kita, keheningan, dan gesekan kulit."Mata indah Meisya mendadak menyipit tajam. Lipatan tangan di dadanya makin kencang
Suasana pusat perbelanjaan kelas atas siang itu membendung kemewahan yang tenang.Dani benar-benar ikut mengawal mereka yang lagi belanja di mall bahkan seringkali venny godain dani, biar beli apa aja yang dani mau, nanti biar venny aja yang bayar.Pria tegap itu melangkah dua tapak di belakang Meisya dan Venny. Kemeja taktis hitam yang melekat di tubuh berototnya tampak menonjol di antara lalu-lalang pengunjung mall.Venny, yang berjalan di samping Meisya, berkali-kali sengaja memelankan langkahnya.Wanita bergaun blazer merah itu berbalik, melayangkan tatapan penuh gairah pada pengawal tegap di belakang mereka."Mas Dani, coba deh lihat jam tangan Rolex di etalase itu," goda Venny dengan vokal manja yang disengaja, lalu menghentikan langkahnya tepat di depan toko perhiasan mewah."Pilih aja yang kamu suka. Mau setelan baju, jam tangan, atau sepatu paling mahal di sini, bilang aja. Biar aku yang bayar semuanya."Ego meisya tersindir mendengarnya dan bilang kalau meisya juga bisa beli
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika gemerincing bel pintu depan kediaman megah itu bergema nyaring, memecah kesunyian koridor marmer.Meisya yang baru saja meminum habis ramuan penawar alkohol buatan Dani di ruang tengah, dibuat mengerutkan dahi saat mendengar pintu utama terbuka.Tanpa pemberitahuan, tanpa pesan singkat, sosok wanita bergaun blazer merah menyala melangkah masuk dengan santai, mengayunkan tas kulit mahalnya seolah-olah rumah itu miliknya sendiri."Selamat pagi, Nyonya Besar. Gimana kepalanya? Masih menyatu sama leher?" cetus Venny dengan nada menyindir yang amat renyah, melangkah makin dekat mendekati sofa tempat Meisya duduk.Meisya mendongak, matanya sedikit membelalak kaget melihat kehadiran kawan sosialitanya yang paling tajam itu.Rasa terkejutnya seketika mencair menjadi senyuman tipis nan menyeringai di bibirnya yang masih agak pucat.Meisya nyengir lebar, mencoba menutupi sisa rasa paniknya dengan tawa renyah yang terdengar sangat santai."Venny? Oh m
Sinar matahari pagi yang terik menerobos dari sela-sela tirai beludru kamar tidur utama, menusuk menyengat kelopak mata Meisya.Ruangan berukuran luas nan megah itu terasa teramat dingin dan mencekam. Wangi wewangian kamar yang mahal tak sanggup menutupi uap alkohol yang masih menguar samar dari tubuh Meisya.Meisya terbangun dengan kepala yang teramat berat, tenggorokan kering, dan ingatan samar yang menyiksa tentang aksinya menggoda Dani secara terang-terangan di depan publik semalam."Nghh, kepala aku," rintih Meisya parau seraya memegangi pelipisnya yang berdenyut kencang bagai dihantam palu.Nyonya muda itu memicingkan mata, mencoba mengingat potret kejadian semalam di VIP lounge.Namun, potongan-potongan ingatan yang berkelebat di benaknya justru membuat darahnya seketika mendidih dingin: bayangan jemari lentiknya yang menarik kerah kemeja Dani di tengah keriuhan pesta, bisikan sensualnya di leher sang pengawal, hingga tatapan mata puluhan tamu VIP yang melotot kaget melihat keb
SUV hitam melaju mulus membelah keheningan jalanan ibu kota di tengah malam yang sunyi.Di dalam kabin belakang yang kedap suara dan berpendingin udara temaram, nuansa hening berganti menjadi ruang intim yang sarat akan dominasi dan godaan berkelas.Meisya, yang masih setengah mabuk, bergerak gelisah di jok kulitnya. Kemeja taktis Dani yang berotot menjadi sasaran jemari lentiknya yang meraba-raba tanpa arah."Dani, dingin, aku mau dipeluk sama kamu, Dani," rengek Meisya pasrah dengan suara parau yang amat manja.Melihat nyonyanya terus merengek dan memohon perhatian, Dani tak tinggal diam. Pria itu melepaskan kuncian sabuk pengaman Meisya secara perlahan.Dengan satu gerakan bertenaga namun teramat lembut, Dani mengangkat tubuh mulus Meisya, memindahkannya hingga wanita itu kini duduk mengangkang pasrah di atas pangkuannya.Sret,"Duduk yang diam di pangkuan saya, Nyonya," pangkas Dani serak dengan vokal berat yang bertengger kaku di udara.Dani mulai mengubah gaya penanganannya. Pri
Pintu darurat privat di samping VIP lounge terbuka pelan.Dengan satu dekapan kencang di pinggang ramping sang nyonya, Dani membimbing langkah Meisya yang sempoyongan membelah area parkir khusus VIP yang sepi dan remang-remang.Langkah kaki Dani yang tegap dan mantap dengan sigap menyangga tubuh mulus Meisya yang hampir kehilangan tumpuan.Begitu sampai di samping SUV hitam yang terparkir strategis, Dani menempelkan kartu aksesnya.Pintu belakang mobil mewah itu terbuka otomatis, memancarkan pencahayaan temaram bernuansa biru keemasan dari dalam kabin."Tahan sebentar, Nyonya," geram Dani serak, mengikis jarak saat ia mendudukkan Meisya secara perlahan di jok kulit bagian belakang.Dani mendorong tubuh Meisya ke dalam kabin yang dingin oleh hembusan AC, lalu ikut merangkak masuk menyusulnya.Tangan tegap sang pengawal dengan cepat menutup pintu berat tersebut dari dalam.Brak! Klek!Sistem pengunci otomatis berbunyi nyaring, memutus total suara hiruk-pikuk club dari luar.Keheningan y







