Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Ancaman Lain Yang Datang

Share

Ancaman Lain Yang Datang

Author: Black Jack
last update publish date: 2025-12-16 20:06:20

Bayu terlihat dalam kondisi yang sungguh tidak bagus; wajahnya berdarah, bajunya sobek, ia berusaha melawan namun tenaganya sudah hampir habis. Setiap kali ia mencoba berdiri, seseorang akan memukulnya lagi, menjatuhkannya kembali ke tanah. Ia sengaja permainkan oleh banyak orang itu. Mungkin semacam ‘diberi pelajaran’ dan Adit tahu pasti Bayu memang bersikeras dan tak mau menyerah sejak awal.

"Bang Bayu...!" teriak Adit, suaranya keras, memecah keheningan malam.

Semua orang di sana menoleh; te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Seno Menyerah

    Lelaki tua itu hanya bisa diam dengan kepala tertunduk dalam-dalam seperti orang linglung. Langkah kakinya terseret tak berdaya saat Adit mendorongnya turun ke lantai bawah. Lampu-lampu yang tadi sengaja dipadamkan kini kembali menyala, menerangi ruangan dengan cahaya putih yang keras dan tanpa ampun.Seno berdiri di sana, matanya memindai seluruh ruangan secara perlahan. Anak buahnya berserakan di mana-mana; ada yang meringkuk di sudut, ada yang terlentang di tengah ruangan, ada yang masih mencoba bangkit namun hanya mampu bertumpu pada satu lutut. Tak ada satu pun yang tampak baik-baik saja.Wajah-wajah itu penuh lebam, napas mereka tersengal-sengal. Beberapa masih memegangi bagian tubuh yang terasa nyeri. Seno terhenyak. Bukan hanya karena kondisi anak buahnya yang menyedihkan itu; melainkan karena ia baru saja mengetahui bahwa semua kehancuran ini hanya dikerjakan oleh empat orang. Hanya empat orang.Bimo, Arman, dan Steven bergerak dengan gesit dan tenang, mengamankan situasi tan

  • Tukang Pijat Tampan   Naik Ke Lantai 2

    Di atas, situasinya tidak lebih tenang.Dua belas orang berdesakan di lorong lantai dua; semua bersenjata, sebagian besar sudah mengokang senjata mereka sejak tadi. Mereka menghadap ke bawah dari balik pagar balkon, mengintip ke ruangan di bawah dengan ekspresi yang campuran antara marah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.Di ujung lorong, di balik pintu kamar yang setengah terbuka, Seno berdiri.Usianya sekitar enam puluhan. Tubuhnya tidak besar, tapi cara ia berdiri menunjukkan seseorang yang sudah lama terbiasa dihormati. Rambutnya sudah lebih banyak putihnya. Di tangannya ada pistol yang ia pegang dengan cara seseorang yang pernah tapi tidak sering memakainya."Pak Seno," bisik salah satu pengawalnya. Pemuda bertubuh kekar dengan senjata laras panjang yang terlihat terlalu besar untuk lorong sesempit ini. "Kita tembak saja dari sini. Mereka cuma sedikit orang.""Kamu sudah hitung yang di bawah?" balas Seno pelan.Pemuda itu tidak menjawab."Puluhan orang di bawah sana," kata

  • Tukang Pijat Tampan   Membereskan Yang Di Ruang Tamu

    Dua langkah Adit masuk ke ruang depan rumah megah itu, orang-orang bersenjata tajam segera menyerbunya. Dua orang pertama dari arah kanan dan kiri telah sampai; mengayunkan pedang panjang dengan penuh emosi dan hampir bersamaan.Di mata mereka, Adit tiba-tiba hilang dan itu sungguh mengagetkan. Sebetulnya yang terjadi tidaklah begitu. Adit hanya bergerak dengan sangat cepat dan seolah-olah ia menghilang, lalu tiba-tiba muncul di sisi kanan ruangan itu, di tempat yang kosong dari orang-orang yang memusat di tengah.Di sana, Adit mengangkat sebuah sofa dengan begitu mudahnya, lalu melemparkan sofa itu seolah ia sedang melemparkan bantal.Sofa panjang dan besar yang bobotnya mungkin 50an Kg itu menghantam kerumunan. Tak semua bisa menghindar dan mereka tertimpa.Terdengar suara jeritan dan umpatan. Saat mereka kembali menatap Adit, sofa-sofa lain sudah menyusul beterbangan ke berbagai arah.Kepanikan dan keributan langsung pecah dan di situasi seperti itu, Adit kembali bergerak dengan be

  • Tukang Pijat Tampan   Sudah Diwarnai Ledakan Senjata

    Teriakan pendek itu ternyata memicu reaksi berantai yang tak terelakkan. Tak butuh waktu lama, lampu di lantai dua bangunan utama mendadak menyala terang, membelah kegelapan malam. Dari dalam rumah, suara langkah kaki yang tergesa-gesa menggema, disusul suara pintu samping yang dihempaskan terbuka dengan kasar.Empat orang muncul sekaligus dari balik pintu. Dua di antaranya langsung mengangkat senjata dengan sigap, menodongkan moncong hitamnya ke arah kegelapan yang tak pasti, seolah mencoba mengancam bayangan yang bersembunyi di sana."Siapa di sana!" teriak salah satu dari mereka, suaranya parau tertahan ketegangan.Namun, kegelapan tidak memberi jawaban. Alih-alih suara, yang datang justru sebuah serangan dari arah yang sama sekali tak terduga; bukan dari depan, bukan pula dari samping, melainkan dari atas kepala mereka.Adit melompat turun dari loteng teras bangunan dengan gerakan yang hampir tak bersuara. Meski ketinggiannya tidak seberapa, gravitasi memberikan momentum yang cuku

  • Tukang Pijat Tampan   Masih Berusaha Senyap

    Halaman itu ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat di foto udara. Adit berjalan merapat ke sisi tembok. Ia memanfaatkan bayangan pohon yang jatuh miring di bawah cahaya bulan sebagai pelindung. Matanya menyapu area depan dengan waspada. Di sayap kanan bangunan, ia menangkap satu titik cahaya yang bergerak.Seseorang sedang berpatroli. Orang itu membawa senter kecil yang nyalanya justru lebih mengkhianati posisinya daripada menerangi jalan.Adit berhenti. Ia menunggu dalam diam.Penjaga itu berjalan santai dengan langkah yang tidak waspada. Itu adalah langkah seseorang yang sudah terlalu bosan melakukan rutinitas yang sama setiap malam. Cahaya senternya menyapu dinding, lalu menyapu tanah, dan sesekali berhenti di udara kosong.Ketika penjaga itu memutar badan untuk berbalik arah, Adit sudah berada tepat di belakangnya.Dengan satu gerakan, tangan kiri Adit membekap mulut pria itu dengan kuat, sementara tangan kanannya bekerja di titik saraf yang tepat pada sisi leher. Dalam d

  • Tukang Pijat Tampan   Mulai Beraksi

    Adit berhenti tepat di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Akar pohon yang perkasa itu menyembul keluar hingga mengangkat permukaan trotoar di sekelilingnya. Cabang-cabang pohon tersebut menjulur panjang ke arah tembok rumah Seno. Meskipun tidak sampai melewati garis tembok, posisi dahan-dahannya sudah cukup dekat untuk dijadikan pijakan.Sebelum memulai aksi, Adit menoleh sejenak ke arah tiga rekannya yang bersiaga di belakang. Tidak ada instruksi verbal yang keluar dari mulutnya. Ia hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang langsung dipahami sepenuhnya oleh Arman, Bima, dan Steven sebagai tanda dimulainya penyerbuan.Dengan satu gerakan eksplosif, Adit melompat ke arah pohon tersebut. Tangannya meraih cabang pertama dengan akurasi yang luar biasa, seolah ia sudah mengukur setiap inci jaraknya. Tubuhnya terangkat dengan ringan, kakinya berputar lincah, dan dalam satu gerakan mengalir yang menyerupai air, ia sudah berpindah ke cabang yang lebih tinggi. Tidak ada

  • Tukang Pijat Tampan   Tak Pernah Bisa Menolak Renata

    Renata tersenyum melihat Adit sedang berpikir, lalu melanjutkan."Dulu aku tidak bisa terang-terangan memberikan hadiah-hadiah menarik untukmu. Aku takut ketahuan suamiku. Tapi kini aku bebas. Aku bisa memberimu posisi bagus sebagai wakilku. Tidak usah bekerja keras. Hanya tinggal menyuruh dan meng

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Tukang Pijat Tampan   Deal Memainkan Film Dewasa

    "Tapi..." Adit bersuara pelan. "Ini tantangan juga sih. Dan kayaknya aku butuh pelatih khusus deh buat latihan akting harian. Soalnya tokoh di film ini beda banget sama film pertama."Vera tersenyum tipis. "Itu gampang. Nanti kita carikan acting coach yang bagus. Mungkin bisa latihan sama coach-nya

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Tukang Pijat Tampan   Bayu Dikeroyok

    Adit berhasil membuat Renata terkapar tidur setelah bercinta dengan dahsyat. Tubuh wanita itu terbaring lemas di atas kasur king size dengan sprei yang kusut. Napasnya masih terengah-engah, dada naik turun dengan ritme yang tidak teratur, keringat membasahi seluruh tubuhnya yang telanjang. Wajahnya

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Tukang Pijat Tampan   Bersedia

    Melalui telefon, Adit menceritakan soal orang-orang TV itu kepada Pak Robert. Lelaki paruh baya itu mengatakan akan segera sampai di markas. Dia meminta Adit menunggu.Tidak sampai sepuluh menit, Pak Robert akhirnya tiba juga di markas. Ia langsung ke ruang tengah dan di sana Adit sedang menunggu s

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status