LOGINTak terasa, lembar kalender sudah berganti. Satu bulan penuh Adit menghabiskan waktu di desa pesisir pantai nelayan itu. Dalam waktu yang relatif singkat, namanya melesat menjadi buah bibir. Bukan hanya di antara penduduk setempat, melainkan merambah ke desa-desa tetangga.Kemampuan jemari Adit seperti memiliki sihir tersendiri; traktor bajak yang mati total, mesin pompa air yang karatan, hingga televisi tabung kuno yang sudah bertahun-tahun jadi pajangan ruang tamu, semua bisa hidup kembali setelah ia perbaiki. Bagi orang desa, Adit adalah pemuda kota berkaos oblong yang ramah dan luar biasa jenius.Namun, soal kemampuan medisnya yang ajaib tetap terkunci rapat dalam peti rahasia. Hanya segelintir orang yang tahu.Setelah momen di rumah sakit waktu itu, Dokter Adrian sempat meminta bantuan Adit satu kali lagi untuk kasus kritis yang serupa. Dan di momen kedua itu, sang dokter itu tidak mau kecolongan. Ia telah mempersiapkan segalanya dengan matang: sebuah amplop cokelat tebal berisi
Tubuh Adit terasa seperti mesin yang bekerja melewati batas RPM tertinggi. Selain denyut nyeri di pelipis, perutnya kini mulai berbunyi, disusul rasa haus yang membakar tenggorokan. Menguras hawa murni hingga ke tingkat mikroskopis demi menyelamatkan nyawa ternyata membutuhkan kalori yang luar biasa besar. Jauh lebih besar dari energi yang bisa ia gunakan dalam pertarungan.Ia segera melangkah menuju ruang ganti tempat tadi ia bersama Adrian mendapatkan baju medis tersebut. Di sana ia melepas seluruh atribut medis steril yang menyiksanya, dan kembali mengenakan pakaian aslinya: kaos dan celana jeans. Penyamarannya sebagai dokter ahli telah selesai. Kini ia kembali menjadi Adit si pemuda bengkel yang sedang lapar berat.Maka dari itu, Adit memang tak akan langsung memesan ojek dan pulang. Ia harus makan dulu. Ia pun menuntun langkahnya turun ke lantai bawah, menuju kantin rumah sakit. Aroma kuah kaldu yang gurih langsung menyergap indra penciumannya begitu ia melangkah masuk. Tanpa bas
Pintu ganda Ruang Operasi Utama terbuka dengan desis hidrolik yang menciptakan kesan dingin. Suasana di dalam ruangan langsung menyergap indra: aroma tajam cairan antiseptik, kilatan perak dari deretan instrumen bedah yang tertata kaku, dan yang paling dominan; bunyi pip... pip... pip... dari monitor hemodinamik yang beritme cepat dan dangkal, menandakan sebuah kehidupan yang sedang berada di ujung tanduk.Adit melangkah masuk dengan gaun medis hijau tua yang sedikit longgar di tubuhnya. Masker tebal dan face shield yang ia kenakan terasa asing, namun di balik pelindung itu, sepasang matanya menatap tajam ke arah meja operasi. Di sana, seorang bocah berusia sembilan tahun terbaring, dikelilingi oleh empat orang kru medis yang tampak tegang: dua perawat instrumen, satu perawat anestesi, dan seorang dokter asisten muda bernama dr. Rian."Selamat pagi, Dok," sapa dr. Rian dengan nada sangat segan saat melihat Adit masuk bersama dr. Adrian. Di matanya, pria yang mendampingi seniornya ini
Suara klakson sepeda motor di depan pagar membuyarkan lamunan Adit. Tanpa sempat menghabiskan kopinya, ia langsung menyambar jaket dan bergegas keluar. Sepanjang perjalanan di atas motor ojek daring yang melaju zig-zag membelah kemacetan kota, pikiran Adit berkecamuk.Ia tahu, melangkah kembali ke rumah sakit itu artinya ia sedang menyerempet bahaya besar; baik bagi reputasinya yang ingin hidup tenang, maupun bagi hukum medis. Namun, bayangan nyawa yang berada di ujung tanduk tidak membiarkannya diam di rumah.Begitu motor berhenti di lobi depan rumah sakit, Adit langsung turun setelah membayar ongkos.Di dekat pilar besar lobi yang ramai oleh hilir mudik pengunjung, Dr. Adrian sudah menunggu dengan gelisah. Dokter muda itu tidak memakai jas putih kebanggaannya, melainkan hanya kemeja formal yang lengannya digulung hingga siku; tampaknya sengaja agar tidak terlalu memancing perhatian. Mata dr. Adrian langsung berbinar lega saat menangkap sosok Adit."Mas Adit! Terima kasih sudah datan
Di lorong rumah sakit yang dingin, tiga orang yang sejak tadi mondar-mandir dengan wajah cemas langsung berhamburan mendekat. Pak Kades memimpin di depan, disusul oleh sepasang suami istri paruh baya yang matanya sudah sembap karena air mata."Adit! Bagaimana? Bagaimana keadaan Desi, Dit?" tanya Pak Kades, suaranya bergetar, mencengkeram kedua bahu Adit dengan erat.Sebelum Adit sempat menjawab, pintu di belakangnya kembali terbuka. Dr. Adrian melangkah keluar, melepas masker medisnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Wajah dokter muda itu tidak lagi tegang, melainkan dipenuhi sisa rasa takjub yang mendalam."Pak, Bu..." dr. Adrian memotong lembut, menatap orang tua Desi. "Ini... sebuah mukjizat. Kondisi kritis putri Anda sudah lewat. Semua tanda vitalnya kembali normal, bahkan stabil tanpa perlu operasi kraniotomi. Dia sedang beristirahat sekarang."Mendengar hal itu, ibu Desi langsung lemas dan hampir terduduk di lantai jika tidak segera ditangkap oleh suaminya. Tangis yang
Pintu kaca ruangan itu bergeser terbuka dengan desis halus, memutus perdebatan yang baru saja terjadi di sana.Dokter muda itu, dr. Adrian namanya, menatap Adit dengan binar mata yang merupakan campuran antara ketakutan terhadap hal yang tidak diketahuinya, skeptisisme medis yang runtuh, dan sisa rasa takjub dari tubuhnya yang mendadak bugar."Lima menit," bisik dr. Adrian, suaranya parau namun tegas. Ia menahan lengan salah satu perawatnya yang masih hendak memprotes. "Saya akan ikut masuk. Saya yang memegang tanggung jawab atas pasien ini. Jika monitor mendeteksi adanya anomali yang membahayakan, atau jika Anda melakukan satu saja gerakan yang saya anggap mengancam nyawa pasien... saya sendiri yang akan menyeret Anda keluar, persetan dengan bagaimana Anda menyembuhkan mag saya tadi."Adit tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk sekali, sebuah gestur tenang yang memancarkan keyakinan mutlak.Saat melangkah melewati ambang pintu ruang isolasi kritis IGD, aroma tajam alkoh







