공유

Di Bioskop

작가: Black Jack
last update 게시일: 2025-05-14 08:26:59

Renata terpaku untuk beberapa saat, matanya menatap Adit dengan ekspresi kompleks; campuran keterkejutan, kebingungan, dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih intens.

"Keamanan," akhirnya ia berkata, suaranya tenang namun tegas, "Bawa mereka keluar dari properti kita. Pastikan tidak ada yang melihat."

Dua pria berbadan kekar yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung bergerak, menyeret tubuh-tubuh yang tergeletak itu keluar ruangan. Salah satu dari mereka berbisik di telinga Renata se
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Tukang Pijat Tampan   Kesempatan Untuk Diterima

    Setelah piring terakhir dikosongkan, Bu Sarah dengan sigap menyuguhkan segelas teh hangat manis yang mengepulkan aroma wangi melati. Pak Hermawan menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Adit dengan tatapan kebapakan yang penuh rasa ingin tahu."Maaf ya nak Adit, masakannya hanya sederhana. Hehehe. Semoga berkenan…" tanya Pak Hermawan ramah."Wah ini sangat istimewa, Pak. Masakan ibu luar biasa. Saya makan sampai kayak orang tidak pernah makan seenak ini. Terima kasih banyak atas kebaikan Bapak dan Ibu," jawab Adit sopan, sembari meletakkan gelas tehnya. Di dalam kepalanya, otak Adit telah selesai bekerja menyusun ratusan opsi latar belakang palsu, memilih opsi yang paling dramatis namun sulit dilacak agar memicu empati maksimal.Bu Sarah ikut duduk di samping suaminya. "Nak Adit, kalau boleh Ibu tahu, kota asalmu di mana? Dan bagaimana ceritanya anak muda sepertimu bisa terombang-ambing begitu jauh?"Adit menunduk sejenak, memasang raut wajah yang tampak getir dan sarat akan beban

  • Tukang Pijat Tampan   Di Rumah Pak Kades Yang Baik Hati

    Adit menarik kembali tangannya dengan tenang, menyembunyikan sisa kehangatan energi murni ke balik saku celana taktisnya yang robek. Ia berdiri, membantu Pak Kades bangkit berdiri disusul sorak lega dari warga sekitar yang mengerubungi mereka."Hanya pertolongan pertama, Pak. Kebetulan saya sedikit paham tentang pijat stimulasi jantung," jawab Adit bohong. Suaranya terdengar datar namun berwibawa, membuat orang-orang di sekitarnya seolah enggan membantah.Pak Kades membersihkan debu di kain batiknya, lalu mengulurkan tangan dengan senyum tulus yang amat lebar. "Nama saya Hermawan. Saya Kepala Desa di sini. Waduh, saya benar-benar berterima kasih, Nak...?""Adit," jawab Adit singkat, menyambut jabat tangan hangat pria itu.Mata Pak Hermawan beralih menatap penampilan Adit dari atas ke bawah. Seragam taktis hitam yang compang-camping, kerak garam laut yang mengering di kulitnya, dan kaki telanjang tanpa alas. Jelas sekali anak muda di hadapannya ini baru saja melewati sesuatu yang tidak

  • Tukang Pijat Tampan   Terdampar di Suatu Pulau

    Perahu darurat itu meluncur mulus ke atas permukaan air laut, memecah buih ombak pantai dengan suara riak yang halus. Adit berdiri tegak di atas dek kayu kecilnya, tangannya mencengkeram tali kendali layar terpal dengan erat. Begitu angin malam yang kencang menghantam bentangan terpal, perahu itu melesat maju, meninggalkan bayangan hitam tebing batu basal yang perlahan mengecil di belakangnya.Malam itu, samudra tampak seperti karpet hitam tanpa ujung. Tanpa kompas magnetik, tanpa GPS, dan tanpa alat navigasi modern apa pun, seorang pelaut biasa akan langsung tersesat di tengah hamparan air ini dalam hitungan jam. Namun, Adit bukanlah manusia biasa.Ia mendongak, menatap langit malam yang bersih. Matanya bergerak liar, memindai ribuan titik cahaya yang bertaburan di angkasa.Otaknya langsung memetakan rasi bintang menjadi kompas digital yang super presisi di dalam ruang kesadarannya. Setiap pembiasan cahaya bulan pada permukaan air laut ia kalkulasi untuk mendeteksi arah arus bawah la

  • Tukang Pijat Tampan   Survive Menyelamatkan Diri

    Ledakan masif berkekuatan jutaan ton TNT meledak tepat di jantung pulau. Ruang reaktor instan hancur menjadi debu. Gelombang EMP yang dahsyat memancar keluar, menguapkan seluruh sirkuit elektronik, menghancurkan satelit pemantau, dan memutus semua sinyal GPS dalam sekejap.Tekanan termal yang luar biasa menghantam pelindung energi Adit. Rasa sakit yang mendera seluruh sel tubuhnya membuat Adit mengerang, namun ia bertahan. Gelombang kejut ledakan itu melempar tubuhnya dengan kecepatan peluru, menjatuhkannya tepat ke dalam poros pembuangan air yang hancur, menyeret tubuhnya keluar dari perut bumi, dan menghempaskannya jauh ke dalam kegelapan laut lepas yang dingin.Di permukaan, seluruh pangkalan militer bawah tanah itu runtuh ke dalam dirinya sendiri. Langit-langit gua raksasa patah, menimbun Zhavia, Evan, Susi, Dokter Kenzi, dan seluruh Sekte Kegelapan di bawah jutaan ton batu batuan padat. Pulau itu berguncang hebat, sebelum akhirnya tenggelam perlahan ke dalam pelukan samudra, meni

  • Tukang Pijat Tampan   Hari Kiamat Di Pulau

    Tiga hari setelah pembantaian di arena latihan, atmosfer di Markas Besar Sekte Kegelapan terasa seperti benang yang ditarik terlalu tegang. Jumlah patroli prajurit Protokol Tabula Rasa di koridor-koridor bawah tanah digandakan. Meskipun Dokter Kenzi menjamin bahwa kepatuhan "Roni" berada di angka seratus persen, kewaspadaan instingtif Zhavia membuat seluruh kompleks militer itu berada dalam status siaga tinggi.Namun, bagi otak kuantum Adit, pengetatan penjagaan ini justru menjadi pola yang sangat mudah dibaca.Pukul 02.14 dini hari, kompleks militer itu memasuki fase pergantian shift patroli; celah waktu konstan selama empat puluh lima detik yang telah dihitung Adit selama tiga hari terakhir. Di dalam ruang isolasinya, Adit berdiri dari ranjang logam tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.Ia memejamkan mata, mengalirkan energi murni yang tipis ke ujung jemarinya, lalu menempelkannya pada panel kontrol pintu hidrolik di dinding. Menggunakan getaran frekuensi mikro dari manipulasi en

  • Tukang Pijat Tampan   Menunggu Waktu Yang Tepat

    Aura kematian yang ditinggalkan oleh dua puluh mayat prajurit elit di tengah lapangan masih terasa tak menyenangkan.Evan, yang beberapa menit lalu masih menyunggingkan senyum meremehkan, kini berdiri mematung dengan rahang mengeras. Di sebelahnya, Susi memalingkan wajah, tidak mampu menahan kengerian dari pemandangan pembantaian tak sampai tiga menit itu."Ini... ini tidak mungkin," bisik Evan, suaranya bergetar antara murka dan tidak percaya. "Mereka adalah prajurit Protokol Tabula Rasa! Bagaimana bisa satu orang menghancurkan mereka semua seperti mematahkan ranting kering?!"Berbeda dengan Evan, Dokter Kenzi justru melangkah maju hingga wajahnya hampir menyentuh kaca transparan podium. Matanya yang keriput melebar, memancarkan kepuasan yang mendekati kegilaan. Rasa takutnya kalah telak oleh ego ilmiahnya yang membubung tinggi."Luar biasa... Sempurna!" Kenzi tertawa melengking, menepuk kaca di depannya. "Kalian lihat itu?! Itu bukan sekadar refleks mekanis! Otak kuantumnya berhasil

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status