MasukSebenarnya, Adit bisa saja menolak. Tapi memang dasarnya dia tidak enakan. Dan ujung-ujungnya, dia melakukan saja apa yang diminta Clara. Dan ia memang percaya saja, sebab toh mereka sama-sama mengenakan masker, topi dan kacamata hitam. Mereka tak terlihat sebagai entah siapa.Clara mengambil beberapa foto dengan beberapa pose yang berbeda.Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dengan lalu lintas pusat kota yang mulai padat. Mereka mengobrol ringan sepanjang jalan, tentang respon positif film, tentang angka box office yang terus naik, tentang berbagai tawaran endorsement yang masuk untuk Clara, tentang rencana promosi selanjutnya di beberapa kota besar di Indonesia.Clara sangat pandai membuat percakapan tetap ringan dan menyenangkan, tidak ada yang terasa awkward atau terlalu serius. Ia tertawa di saat yang tepat, memberikan komentar yang tulus tapi tidak berlebihan, dan membuat Adit merasa... nyaman. Terlalu nyaman. Ya, selalu begitu pada akhirnya. Awalan boleh saj
Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, sebuah mobil mewah berwarna putih mutiara berhenti dengan mulus di depan gerbang rumah Adit.Adit yang sudah bersiap sejak pukul tujuh, mandi, sarapan ringan, dan berpakaian rapi dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana chino biru navy, keluar dari rumah dengan sedikit perasaan tidak nyaman yang masih mengganjal sejak kemarin.Vera yang juga ada di rumah sejak semalam, berdiri di pintu dengan tangan dilipat di dada, menatap mobil mewah itu dengan ekspresi yang sulit dibaca."Kamu yakin ini cuma breakfast meeting profesional?" tanyanya dengan nada skeptis."Iya, Ver. Clara bilang mau obrolin tawaran project baru. Satu jam doang," jawab Adit sambil mengambil tas selempang kecil yang berisi dompet dan ponsel."Hmm," gumam Vera sambil menggelengkan kepala kecil. "Ya sudah. Hati-hati. Jangan buat keputusan yang terburu-buru. Sebab seharusnya kalau soal deal-dealan kontrak, Clara juga melibatkan aku. Ya, anggap saja
Adit tahu, ia sendiri adalah seorang bajingan yang tak setia, yang diam-diam telah meniduri banyak perempuan lain tanpa sepengetahuan Larasati.Dulu mungkin ia merasa tak pantas menjadi pasangan Larasati. Perbedaan status sangat jauh. Tapi kini, setelah menjadi artis, setelah terkenal dan punya banyak penghasilan, Adit merasa layak dan ia sungguh ingin menjaga Larasati. Ia tahu, semua pencapaiannya itu berawal dari pertemuannya dengan Larasati.Jadi, Adir merasa emosional saat ia mendengar ucapan Laras."Itu nggak akan pernah terjadi," kata Adit sambil menghapus air mata Larasati dengan ibu jarinya. "Kita sudah terikat jiwa dan raga. Kita tak bisa menyangkal hal itu. Ikuti saranku, nggak usah buka sosmed. Jauhkan Hpmu. Cari kegiatan lain… masak kek. Enak nggak enak, pasti juga aku makan!”Larasati tertawa kecil di antara tangisnya; tawa yang campur dengan isak. "Kamu yakin?" ujarnya. Ia agak malu. Soal memasak ia memang payah."Sangat yakin."“Kalau mengerikan kayak kapan itu? Gosong?
Pagi itu, Adit mengendarai mobilbarunya Vera menuju ke rumah Nenek Delima; sebuah area yang lebih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, tempat di mana rumah-rumah tua dengan arsitektur klasik Belanda masih berdiri kokoh dengan taman yang rimbun dan jalanan yang teduh.Vera meminjamkan mobilnya tanpa banyak pertanyaan; ia tahu Adit butuh untuk menemui Larasati yang sedang dalam kondisi mental yang rapuh setelah kejadian viral semalam. Dan pagi ini, Vera memilih tinggal di rumah Adit, mengerjakan berbagai hal administratif yang menumpuk: membalas email dari brand yang menawarkan endorsement, menyusun jadwal untuk minggu-minggu ke depan, dan berkoordinasi dengan tim media sosial yang baru saja mereka rekrut untuk mengelola akun-akun Adit.Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan lalu lintas pagi yang padat. Adit menyalakan musik instrumental yang menenangkan di sound system mobil, mencoba menjernihkan pikirannya sendiri sebelum bertemu Larasati. Ia tahu pacarnya s
Tidak banyak orang yang tahu siapa Clara sebenarnya; siapa di balik persona publik yang anggun, profesional, dan humble itu.Di mata publik, Clara adalah aktris muda yang sukses besar lewat kerja keras dan bakat alami. Ia sudah membintangi lebih dari lima belas film dalam enam tahun karirnya, memenangkan berbagai penghargaan bergengsi, menjadi brand ambassador untuk puluhan brand internasional, dan memiliki fanbase yang fanatik.Tapi di balik Clara, tersembunyi tokoh-tokoh besar yang sangat powerful; tokoh-tokoh yang tidak pernah muncul di media, yang beroperasi di balik layar, yang mengontrol banyak hal di negara ini.Ayahnya, Gregorius Santoso, adalah salah satu konglomerat terkaya di Indonesia dengan bisnis yang membentang dari properti, perbankan, telekomunikasi, hingga media. Namanya tidak pernah masuk daftar orang terkaya versi Forbes atau majalah bisnis lainnya; bukan karena ia tidak cukup kaya, tapi karena ia dengan sengaja menjaga profil rendah dan memiliki cukup pengaruh unt
Keesokan harinya, dunia Larasati berubah total; berubah dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan, tidak pernah ia inginkan.Ia terbangun pagi dengan ponsel yang terus berbunyi tanpa henti. Notifikasi Instagram, Twitter, WhatsApp, bahkan SMS dari nomor-nomor yang tidak ia kenal, semuanya masuk secara bersamaan sampai ponselnya hampir hang karena tidak sanggup memproses semuanya.Dengan mata yang masih mengantuk dan bingung, Larasati membuka Instagram-nya. Dulu dia memang salebgram. Ia masih ingat berapa followernya dan ia sudah tidak aktif. Bahkan ia memprivate akun itu. Kini, followers-nya yang kemarin masih sekitar satu jutaan, kini meledak menjadi empat jutaan karena mereka kepo dan harus follow dulu untuk bisa melihat semua postingan Larasati. Angka itu membuat Larasati kaget. Dan angka itu terus naik setiap kali ia refresh."Apa yang terjadi?" gumamnya sambil duduk di tepi tempat tidur, jantung mulai berdebar dengan perasaan tidak enak.Ia membuka tab pencarian dan mengetik nama







