Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Kembali Ke Kasus Sandi

Share

Kembali Ke Kasus Sandi

Author: Black Jack
last update Last Updated: 2025-09-25 09:47:44

Adit segera kembali ke café begitu Vera sudah lenyap dari tempat itu. Langkahnya terburu-buru begitu ia tiba di parkiran dan langsung menuju ke lantai dua. Nafasnya sedikit memburu dan keringat dingin membasahi keningnya. Ia bertemu dengan beberapa anak buahnya, menanyakan situasi, dan semua berjalan aman saat Adit tadi pergi. Di café pun, Adit juga tidak lama, sebab kemudian tempat itu akhirnya tutup juga. Lampu-lampu mulai dimatikan satu per satu, lantai dan ruangan-ruangan dibersihkan. Semua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Berhasil Siuman

    Vera langsung menangkap Laras sebelum jatuh. "Ras! Kamu oke?!"Laras hanya bisa mengangguk lemah, tidak bisa bicara, terlalu lelah.Dan tepat saat itu, pintu ICU terbuka.Seorang perawat muda masuk dengan wajah terkejut melihat dua orang asing berdiri di samping ranjang pasien."Hei! Kalian siapa?! Tidak boleh masuk sembarangan ke sini!" tegur perawat dengan nada keras tapi juga volume pelan.Vera langsung panik, tapi berusaha tetap tenang. "Maaf! Maaf! Kami... kami keluarga pasien. Kami cuma mau liat sebentar, ""Tidak bisa! Ini ICU! Akses terbatas! Kalian harus keluar sekarang!"Vera mengangguk cepat sambil menopang Laras yang hampir tidak bisa berdiri. "Oke, oke. Maaf. Kami keluar sekarang."Dia memapah Laras dengan susah payah, tubuh Laras lemas seperti boneka kain, kaki terseret di lantai.Mereka keluar dari ICU dengan tergesa-gesa, melewati perawat yang menatap dengan curiga.Begitu di luar, Vera membawa Laras ke bangku tunggu di koridor, mendudukkannya dengan hati-hati.Laras t

  • Tukang Pijat Tampan   Laras Mencoba Menyembuhkan Adit

    Mobil Vera melaju dengan kecepatan tinggi memasuki area parkir Rumah Sakit Harapan Kita. Dia memarkirkan mobil dengan tergesa-gesa, bahkan tidak terlalu rapi, lalu langsung turun bersama Laras.Laras sudah mengenakan masker hitam yang menutupi hidung dan mulutnya, mata merah dari menangis sepanjang perjalanan. Tubuhnya gemetar, bukan karena kedinginan, tapi karena ketakutan yang luar biasa."Ayo, Ras. Kita harus cepat," kata Vera sambil memegang tangan Laras dengan erat.Mereka berlari masuk ke lobby rumah sakit yang sepi di dini hari, hanya ada beberapa perawat jaga dan satu dua pengunjung yang duduk menunggu dengan wajah lelah.Vera membawa Laras langsung menuju lift, menekan tombol lantai tiga di mana ruang ICU berada. Pintu lift tertutup, dan mereka naik dengan hati yang berdebar keras.Laras menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap, wajahnya pucat, mata bengkak, tangan gemetar. Dia mencoba mengatur napas, menarik napas dalam, menghembuskan perlahan, berusaha menena

  • Tukang Pijat Tampan   Menghubungi Laras

    Ambulans tiba di UGD Rumah Sakit Harapan Bangsa, salah satu rumah sakit besar di kota itu. Adit langsung dibawa ke ruang trauma dengan tim medis yang sudah standby.Dokter jaga malam, seorang pria muda bernama dr. Rizky, langsung memeriksa kondisi Adit dengan cepat tapi teliti."Trauma kepala berat. Gegar otak kemungkinan besar. Luka robek di dahi dan pelipis. Tulang rusuk mungkin retak, harus rontgen. Tekanan darah rendah. Detak jantung lemah. Status: kritis."Perawat di sampingnya mencatat semua dengan cepat sambil memasang monitor jantung dan oksigen pada Adit."Kita bawa ke ruang ICU. Sekarang. Siapkan CT scan kepala dan rontgen dada," perintah dr. Rizky dengan tegas."Siap, Dok."Adit dibawa ke ruang ICU; ruangan steril dengan berbagai mesin medis yang berdering dan berkedip. Dia dibaringkan di ranjang ICU dengan berbagai kabel dan selang terpasang di tubuhnya.Kondisinya sangat kritis. Nyawanya tergantung pada benang tipis.***Sekitar pukul satu dini hari, rumah sakit dan polis

  • Tukang Pijat Tampan   Masih Ada Harapan

    Tiga orang turun dari truk dengan gerakan yang cepat tapi hati-hati. Mereka semua mengenakan masker hitam yang menutupi hidung dan mulut, topi baseball yang ditarik rendah menutupi dahi, dan jaket berwarna gelap. Wajah terlindung sempurna. Identitas tersamar tanpa celah.Mereka berjalan mendekat ke mobil Adit yang ringsek terjepit di pembatas jalan, body mobil hancur, kaca depan pecah berantakan, asap mengepul dari kap mesin yang penyok.Salah satu dari mereka, pria bertubuh besar, mengintip ke dalam mobil melalui jendela yang pecah. Dia melihat Adit tergeletak di kursi pengemudi dengan kepala bersandar, wajah penuh darah, mata tertutup, tubuh tidak bergerak."Dia sudah mati harusnya," katanya dengan nada datar.Pria kedua, bertubuh lebih kurus, ikut mengintip. "Iya. Lihat tuh... udah tidak gerak. Tidak usah diapa-apain lagi."Pria ketiga yang berdiri sedikit di belakang menatap sekeliling dengan gelisah. "Sekarang bagaimana?""Ayo kita pergi saja," jawab pria pertama sambil berbalik

  • Tukang Pijat Tampan   Kecelakaan

    Perjalanan kembali ke kota memakan waktu yang sama; sekitar dua jam. Mereka tiba di pinggiran kota sekitar pukul sebelas siang, dan perut keduanya sudah mulai keroncongan."Ver, mampir makan dulu yuk. Aku lapar," kata Adit sambil mengelus perutnya.Vera mengangguk. "Oke. Ada rumah makan di depan yang lumayan enak. Kita beli buat dibawa pulang aja ya.""Boleh."Vera memarkirkan mobilnya di parkiran rumah makan yang cukup ramai. Sebelum turun, mereka berdua saling berpandangan, lalu dengan kompak mengambil perlengkapan penyamaran.Adit mengenakan topi baseball hitam, masker hitam yang menutupi hidung dan mulut, dan kacamata hitam. Vera juga melakukan hal yang sama—topi, masker, kacamata."Kita kayak mau merampok bank aja," gumam Adit sambil tertawa kecil.Vera tersenyum di balik maskernya. "Daripada diserbu orang orang terus malah ribet. Kamu kan sekarang artis terkenal."Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah makan dengan langkah santai, berusaha tidak terlihat mencurigaka

  • Tukang Pijat Tampan   Bakat Menembak

    Dengan sangat yakin Adit menarik pelatuk pistol itu, perlahan, seperti instruksi Vera. Dan hasilnya…DOOORRRPistol meledak di tangannya dengan hentakan balik, mendorong tangannya ke atas cukup kuat. Adit sedikit terkejut dengan kekuatan hentakan itu. Dia tak mengira akan seperti itu.“Anjirr… kaget aku… kok bisa ya…”“Ya bisa aja… Kamu kaget sama hentakannya kan? Itu wajar. Kamu belum tahu soalnya. Kalau sudah tahu sekali gini, tubuhmu merekam. Nanti akan punya kira-kira sendiri…”Dan mereka melihat hasilnya; Peluru meleset, mengenai tanah sekitar satu meter di sebelah kiri pohon."Tapi menurutku, cukup bagus sih untuk tembakan pertama!" kata Vera dengan senyum. " Coba lagi. Kali ini siap dengan hentakannya, tapi jangan terlalu berlebihan. Biarkan tangan kamu menangani secara alami."Adit mengangguk, lalu mengambil posisi lagi.Dia membidik pohon yang sama, kali ini lebih fokus, lebih santai. Lebih menikmati prosesnya. Dan sedikit banyak ia tahu juga, meski dari film, jika gravitasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status