Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Mengabari Larasati

Share

Mengabari Larasati

Author: Black Jack
last update Huling Na-update: 2026-01-23 12:14:47

Sesampainya di rumah setelah pertemuan di studio produksi, Adit langsung naik ke kamarnya dengan langkah yang berat. Naskah film tebal itu masih ia genggam di tangan, tapi pikirannya sudah jauh melayang; ke arah seseorang yang harus ia beritahu tentang keputusan yang baru saja ia buat.

Larasati.

Ia harus memberitahu Larasati. Dan ini... ini adalah hal besar yang tidak bisa ia sembunyikan.

Adit meraih ponselnya, membuka kontak Larasati, dan menekan tombol panggilan. Telepon berdering beberapa ka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tukang Pijat Tampan   Semuanya Menderita

    Vera memanjat ke atas ranjang dengan gerakan yang kaku, seolah-olah permukaan kasur itu terbuat dari kaca yang mudah retak. Di tangannya, sebuah bantal sofa ia dekap erat; sebuah pengganti kamera yang terasa konyol sekaligus menyedihkan.Ia berdiri di lututnya, tepat di belakang punggung lebar Adit yang kini bertelanjang dada. Dari posisi ini, Vera bisa melihat butiran keringat mulai muncul di tengkuk Adit. Aroma maskulin Adit bercampur dengan parfum mawar milik Clara yang memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan."Kamera rolling... siap?" Suara Vera bergetar, namun ia berdeham untuk menguatkan wibawanya yang tersisa. "Action."Begitu kata itu terucap, suasana berubah. Adit merunduk, menyatukan bibirnya dengan Clara dalam pagutan yang lebih menuntut dari sebelumnya. Sesuai instruksi, Adit mulai menggerakkan pinggulnya. Gerakan itu ritmis, berat, dan menciptakan bunyi gesekan kain pakaian dalam yang terdengar sangat jelas di telinga Vera yang hanya berjarak beberapa senti.

  • Tukang Pijat Tampan   Latihan Ugal-Ugalan

    Keheningan di kamar tamu itu hanya diisi oleh suara napas yang tidak teratur dan debar jantung yang masing-masing dari mereka coba sembunyikan.Vera duduk di kursi sudut dengan postur yang kaku. Matanya menatap ke arah Adit dan Clara yang masih di sofa; berciuman dengan penuh gelora.Delapan menit.Vera melirik jam di ponselnya sekali lagi, memastikan angka itu benar.Delapan menit.Dia hampir tidak percaya. Rasanya seperti baru beberapa detik, tapi juga sekaligus seperti berjam-jam. Vera tidak tahu mana yang lebih mengganggu; fakta bahwa mereka berciuman selama delapan menit tanpa sadar, atau fakta bahwa dia duduk di sana menonton semuanya tanpa bersuara."Cut," kata Vera akhirnya. Suaranya keluar lebih pelan dari yang dia maksud.Adit dan Clara tersentak. Mereka terpisah dengan gerakan yang agak tergesa; seperti dua orang yang baru tersadar dari mimpi.Clara menghirup napas panjang, merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Pipinya memerah; bukan karena malu, Vera bisa melihat i

  • Tukang Pijat Tampan   Naskah Diganti Lebih Berani

    Dan sebelum Adit sempat menjawab, Clara sudah melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih serius."Kali ini aku mau coba konsep latihan yang berbeda.""Konsep apa?" tanya Adit penasaran.Clara melirik Vera yang sedang membereskan tasnya. "Aku mau Vera nonton kita latihan. Seolah dia itu kru yang lagi ambil gambar."Vera yang mendengar namanya disebut langsung mendekat. "Hah?"Clara tersenyum pada Vera. "Iya Vera. Mau tidak kamu nonton kami latihan nanti? Seolah kamu kru. Duduk di samping, perhatiin kami akting."Vera mengerutkan kening. "Kenapa harus aku?""Biar kami terbiasa," jawab Clara dengan logika yang terdengar masuk akal. "Soalnya pas syuting nanti, jelas ada banyak mata yang melihat; sutradara, kameraman, kru, lighting, semua orang. Kalau kami udah terbiasa latihan di depan orang lain, nanti pas syuting tidak canggung."Vera menatap Clara dengan pandangan yang sedikit curiga, tapi logika Clara memang benar."Oke," jawab Vera akhirnya. "Terserah kalian aja!”Clara tersenyum p

  • Tukang Pijat Tampan   Meeting Sebelum Syuting

    Adit masih setia menemani Renata sampai keesokan harinya; hari di mana dokter akhirnya mengizinkan Renata dipindahkan ke ruang rawat biasa.Bukan ruang rawat biasa sebenarnya. Ruang yang digunakan Renata adalah ruang VVIP di lantai lima; ruangan luas dengan tempat tidur yang nyaman, sofa untuk tamu, televisi layar datar, dan bahkan kamar mandi pribadi yang bersih. Jauh lebih baik dari ruang ICU yang dingin dan steril.Proses pemindahan berjalan lancar. Renata sudah bisa duduk, meski masih dibantu, dan bahkan sudah bisa berbicara dengan suara yang lebih jelas meski masih lemah.Begitu Renata dipindahkan ke ruang VVIP, anak buahnya langsung mengamankan area. Belasan orang berjaga di luar, ada yang duduk di kursi tunggu, ada yang berdiri di dekat pintu, ada yang berkeliling koridor dengan wajah waspada.Semua bertampang sangar dan mengerikan; tubuh besar, tatapan tajam, beberapa dengan tato yang terlihat di lengan atau leher. Para perawat dan pengunjung lain yang lewat koridor itu langsu

  • Tukang Pijat Tampan   Lekas Sembuh!

    Dokter dan perawat masih sibuk memeriksa kondisi Renata; mengecek luka di dadanya, mengganti perban, mengatur dosis obat. Adit tetap berdiri di samping ranjang, memegang tangan Renata dengan lembut.Bayu yang mendengar kabar dari luar langsung masuk dengan wajah penuh harap. Begitu melihat Renata dengan mata terbuka, wajahnya langsung berubah, lega bercampur haru."Boss," panggilnya dengan suara bergetar.Renata menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis melihat Bayu.Bayu mendekat, tapi tidak terlalu dekat karena dokter dan perawat masih bekerja. "Syukurlah, Boss. Syukurlah..."Dokter akhirnya selesai dan berbalik ke Adit dan Bayu. "Kondisinya sudah jauh lebih stabil. Tapi dia masih perlu istirahat total. Jangan banyak bicara dulu, jangan banyak gerak. Kalau tidak ada komplikasi, mungkin besok atau lusa bisa dipindah ke ruang rawat biasa.""Terima kasih, Dok," kata Adit.Dokter mengangguk, lalu keluar bersama para perawat.Kini ruangan kembali hening; hanya tinggal Adit, Bayu, dan Renata.

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Siuman

    Adit terbangun dengan tubuh yang terasa... segar.Aneh, mengingat dia tidur di bangku panjang yang keras, dengan bantal seadanya, jaket yang dilipat dan selimut yang bahkan tidak ada. Tapi entah kenapa, tidurnya sangat nyenyak. Seperti tubuhnya tahu bahwa dia butuh istirahat total setelah menguras energi semalam.Dia membuka mata perlahan, menyesuaikan pandangan dengan cahaya pagi yang mulai masuk lewat jendela koridor. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi.Adit duduk perlahan, meregangkan tubuhnya yang kaku. Leher sedikit pegal, tapi secara keseluruhan dia merasa jauh lebih baik dari semalam.Dia melirik ke samping, Bayu tertidur di bangku seberang dengan posisi setengah duduk, kepala bersandar di dinding, mulut sedikit terbuka. Wajahnya terlihat lelah bahkan saat tidur.Beberapa anak buah lain juga masih tertidur di berbagai posisi, ada yang meringkuk di bangku, ada yang tidur dengan kepala di atas meja tunggu. Hanya dua orang yang masih terjaga, berdiri di dekat pintu dengan mat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status