Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / Mengabari Larasati

Share

Mengabari Larasati

Penulis: Black Jack
last update Tanggal publikasi: 2026-01-23 12:14:47

Sesampainya di rumah setelah pertemuan di studio produksi, Adit langsung naik ke kamarnya dengan langkah yang berat. Naskah film tebal itu masih ia genggam di tangan, tapi pikirannya sudah jauh melayang; ke arah seseorang yang harus ia beritahu tentang keputusan yang baru saja ia buat.

Larasati.

Ia harus memberitahu Larasati. Dan ini... ini adalah hal besar yang tidak bisa ia sembunyikan.

Adit meraih ponselnya, membuka kontak Larasati, dan menekan tombol panggilan. Telepon berdering beberapa ka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Survive Menyelamatkan Diri

    Ledakan masif berkekuatan jutaan ton TNT meledak tepat di jantung pulau. Ruang reaktor instan hancur menjadi debu. Gelombang EMP yang dahsyat memancar keluar, menguapkan seluruh sirkuit elektronik, menghancurkan satelit pemantau, dan memutus semua sinyal GPS dalam sekejap.Tekanan termal yang luar biasa menghantam pelindung energi Adit. Rasa sakit yang mendera seluruh sel tubuhnya membuat Adit mengerang, namun ia bertahan. Gelombang kejut ledakan itu melempar tubuhnya dengan kecepatan peluru, menjatuhkannya tepat ke dalam poros pembuangan air yang hancur, menyeret tubuhnya keluar dari perut bumi, dan menghempaskannya jauh ke dalam kegelapan laut lepas yang dingin.Di permukaan, seluruh pangkalan militer bawah tanah itu runtuh ke dalam dirinya sendiri. Langit-langit gua raksasa patah, menimbun Zhavia, Evan, Susi, Dokter Kenzi, dan seluruh Sekte Kegelapan di bawah jutaan ton batu batuan padat. Pulau itu berguncang hebat, sebelum akhirnya tenggelam perlahan ke dalam pelukan samudra, meni

  • Tukang Pijat Tampan   Hari Kiamat Di Pulau

    Tiga hari setelah pembantaian di arena latihan, atmosfer di Markas Besar Sekte Kegelapan terasa seperti benang yang ditarik terlalu tegang. Jumlah patroli prajurit Protokol Tabula Rasa di koridor-koridor bawah tanah digandakan. Meskipun Dokter Kenzi menjamin bahwa kepatuhan "Roni" berada di angka seratus persen, kewaspadaan instingtif Zhavia membuat seluruh kompleks militer itu berada dalam status siaga tinggi.Namun, bagi otak kuantum Adit, pengetatan penjagaan ini justru menjadi pola yang sangat mudah dibaca.Pukul 02.14 dini hari, kompleks militer itu memasuki fase pergantian shift patroli; celah waktu konstan selama empat puluh lima detik yang telah dihitung Adit selama tiga hari terakhir. Di dalam ruang isolasinya, Adit berdiri dari ranjang logam tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.Ia memejamkan mata, mengalirkan energi murni yang tipis ke ujung jemarinya, lalu menempelkannya pada panel kontrol pintu hidrolik di dinding. Menggunakan getaran frekuensi mikro dari manipulasi en

  • Tukang Pijat Tampan   Menunggu Waktu Yang Tepat

    Aura kematian yang ditinggalkan oleh dua puluh mayat prajurit elit di tengah lapangan masih terasa tak menyenangkan.Evan, yang beberapa menit lalu masih menyunggingkan senyum meremehkan, kini berdiri mematung dengan rahang mengeras. Di sebelahnya, Susi memalingkan wajah, tidak mampu menahan kengerian dari pemandangan pembantaian tak sampai tiga menit itu."Ini... ini tidak mungkin," bisik Evan, suaranya bergetar antara murka dan tidak percaya. "Mereka adalah prajurit Protokol Tabula Rasa! Bagaimana bisa satu orang menghancurkan mereka semua seperti mematahkan ranting kering?!"Berbeda dengan Evan, Dokter Kenzi justru melangkah maju hingga wajahnya hampir menyentuh kaca transparan podium. Matanya yang keriput melebar, memancarkan kepuasan yang mendekati kegilaan. Rasa takutnya kalah telak oleh ego ilmiahnya yang membubung tinggi."Luar biasa... Sempurna!" Kenzi tertawa melengking, menepuk kaca di depannya. "Kalian lihat itu?! Itu bukan sekadar refleks mekanis! Otak kuantumnya berhasil

  • Tukang Pijat Tampan   Demonstrasi Kekuatan

    Di tengah lapangan, Adit sudah berdiri tegak. Ia mengenakan seragam taktis hitam tanpa atribut. Di sekelilingnya, sebanyak seratus prajurit khusus sekte membentuk sebuah barisan dengan sangat ra[I dan teraturDokter Kenzi menggunakan mikrofon dari podium. "Roni! Berjalanlah ke tengah lingkaran!"Adit melangkah maju secara kaku, berhenti tepat di titik merah di tengah lapangan."Sore ini, kita akan menguji kalkulasi refleks dan kemampuan adaptasi tempur maksimalku," seru Kenzi. "Dua puluh prajurit baris depan, maju! Lumpuhkan Roni!"Dua puluh prajurit khusus bersenjata tongkat taktis baja langsung keluar dari barisan. Mereka menyebar, membentuk formasi lingkaran yang rapat, mengunci Adit dari segala penjuru. Tatapan mata mereka kosong, namun gerakan tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka adalah mesin pembunuh yang efisien.Di atas podium, Evan melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Dua puluh orang sekaligus tanpa senjata tajam? Dokter, apa kamu tidak takut mainan barumu ini h

  • Tukang Pijat Tampan   Latihan Sendiri

    "Masuklah ke dalam hutan itu, Roni," perintah Dokter Kenzi. "Jajahi setiap sudutnya. Pahami tubuhmu, sinkronisasikan memorimu dengan alam. Dan ingat, kamu harus kembali ke laboratorium sebelum jam makan siang pada pukul dua belas tepat. Apakah perintah ini dimengerti?"Adit menjeda selama dua detik, mempertahankan akting datarnya. "Perintah diterima, Dokter. Kembali sebelum pukul dua belas."Tanpa membuang waktu, Adit membalikkan tubuh dan melangkah konstan memasuki kelebatan vegetasi. Begitu bayangan pohon-pohon raksasa menyembunyikannya dari pandangan langsung Dokter Kenzi, barulah Adit mengizinkan sepasang matanya bergerak liar, menguliti lanskap di sekitarnya.Lagi-lagi, ia dibuat bergidik oleh isi kepalanya sendiri. Otaknya yang telah dipercanggih oleh komputer kuantum bekerja seperti mesin pemindai super cepat.Sreeek...Sebuah gesekan daun kering di atas tanah lateral kanan menarik perhatiannya. Seekor ular piton besar sedang melata di antara akar-akar pohon yang menonjol. Meli

  • Tukang Pijat Tampan   Memikirkan Rencana Untuk Kabur

    Dua hari pasca-aktivasi itu adalah masa uji coba yang membosankan sekaligus berbahaya bagi Adit. Selama empat puluh delapan jam terakhir, dinding laboratorium yang putih bersih dan bau antiseptik yang pekat menjadi seluruh dunianya. Di ruangan tertutup itu, ia hanya berinteraksi dengan satu manusia: Dokter Kenzi. Zhavia, Evan, maupun Susi belum menampakkan batang hidung mereka demi memberikan sang dokter ruang privat untuk menguji kelayakan 'mahakarya' barunya.Selama dua hari itu pula, Adit dipaksa menjalani serangkaian tes refleks, respons kognitif, dan simulasi taktis. Dokter Kenzi sungguh-sungguh memastikan apakah "Roni" berada di bawah kendali mutlaknya atau tidak.Bagi Adit, mempertahankan sandiwara ini adalah siksaan mental yang luar biasa membosankan. Ia harus menekan seluruh ekspresi alaminya, mengunci emosinya di balik topeng es, dan bertingkah seperti robot organik yang dingin. Ia hanya akan berbicara dengan suara yang datar jika diajak berinteraksi, mematuhi setiap instruk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status