MasukDua hari pasca-aktivasi itu adalah masa uji coba yang membosankan sekaligus berbahaya bagi Adit. Selama empat puluh delapan jam terakhir, dinding laboratorium yang putih bersih dan bau antiseptik yang pekat menjadi seluruh dunianya. Di ruangan tertutup itu, ia hanya berinteraksi dengan satu manusia: Dokter Kenzi. Zhavia, Evan, maupun Susi belum menampakkan batang hidung mereka demi memberikan sang dokter ruang privat untuk menguji kelayakan 'mahakarya' barunya.Selama dua hari itu pula, Adit dipaksa menjalani serangkaian tes refleks, respons kognitif, dan simulasi taktis. Dokter Kenzi sungguh-sungguh memastikan apakah "Roni" berada di bawah kendali mutlaknya atau tidak.Bagi Adit, mempertahankan sandiwara ini adalah siksaan mental yang luar biasa membosankan. Ia harus menekan seluruh ekspresi alaminya, mengunci emosinya di balik topeng es, dan bertingkah seperti robot organik yang dingin. Ia hanya akan berbicara dengan suara yang datar jika diajak berinteraksi, mematuhi setiap instruk
Mesin-mesin hidrolik berdesis konstan, mengiringi denyut lampu indikator yang berkedip di dalam laboratorium Sekte Kegelapan. Untuk kesekian kalinya, tubuh fisik Adit dipaksa terlelap. Namun, tidur kali ini bukan sekadar istirahat biologis; otaknya telah diubah menjadi sebuah hard drive organik yang sedang dipaksa menelan data dalam skala masif.Helm logam berserat karbon kembali mengunci kepalanya, mengalirkan ribuan kilobita data per detik melalui impuls listrik frekuensi rendah. Pengetahuan militer, taktik infiltrasi, peta geopolitik global, sandi-sandi rahasia, hingga kefasihan belasan bahasa asing dipompakan tanpa henti ke dalam korteks serebralnya. Identitas lamanya sebagai seorang megabintang dikubur dalam-dalam di bawah lapisan data baru. Kini, di dalam sistem komputer Sekte Kegelapan, ia memiliki nama baru: Roni.Dua minggu adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan instalasi kognitif total tersebut. Bagi manusia biasa, banjir informasi sebesar itu akan menghanguskan ja
Bzzzzzt... klak!Helm logam berserat karbon di atas kepala Adit terangkat secara otomatis dengan suara mendesis. Lampu neon biru sian di dalam ruang sterilisasi nomor nol kembali berganti menjadi cahaya putih terang yang menyengat mata.Adit merasakan kelopak matanya terasa sangat berat, seperti direkatkan oleh cairan pekat. Ketika ia akhirnya berhasil membuka mata, hal pertama yang menyambutnya adalah bau menyengat dari cairan antiseptik, ozon, dan kilatan lampu yang membuat kepalanya berdenyut hebat.Di sekeliling ranjang logamnya, beberapa sosok berdiri mengitari bagai burung hering yang mengawasi mangsa.Dokter Kenzi berdiri paling dekat, memegang sebuah tablet digital dengan senyum puas yang tersungging di bibirnya. Di sampingnya, Zhavia melipat tangan di dada dengan tatapan sedingin es. Di belakang mereka, tampak Evan dan Susi, serta beberapa orang berjubah hitam yang mengamati indikator biometrik pada layar monitor.Dokter Kenzi menekan tombol pada instrumen di dekat ranjang, m
Di luar dimensi fisik, di sebuah ruang yang tidak tersentuh oleh waktu maupun pancaran gelombang elektromagnetik laboratorium Sekte Kegelapan, kesunyian membentang tanpa batas. Tempat itu bagaikan samudra kabut berwarna kelabu keperakan. Di situlah Laras kembali menemui Adit.Tepat setelah mesin biometrik di ruang sterilisasi nomor nol meredup dan Protokol Tabula Rasa dinyatakan selesai, roh Larasati menembus batas dimensi. Jembatan astral yang ia bangun dengan meditasi mendalam malam itu membawanya langsung ke titik koordinat jiwa Adit.Larasati melangkah di atas hamparan kabut. Di hadapannya, roh Adit melayang pasrah.Wujud astral Adit tampak sangat rapuh, hampir transparan dengan pendaran cahaya yang meredup di bagian dada. Wajahnya kosong. Matanya terbuka, namun tidak ada daya hidup di dalamnya; Adit hanya diam, tidak bicara, tidak bergerak, membiarkan dirinya hanyut dalam arus sunyi dimensi astral.Melihat kondisi sang kekasih, dada Larasati berdenyut nyeri. Tanpa membuang waktu,
Keheningan di dalam apartemen itu terasa mencekik sejak Adit diculik malam itu. Bagi Vera, setiap sudut tempat tinggalnya kini hanya menyisakan gema dari kejayaan masa lalu sang megabintang yang mendadak lenyap ditelan bumi. Vera memang memutuskan untuk tidak lagi menumpang di rumah Renata; ia memilih mengurung diri di apartemennya sendiri, tempat di mana ia bisa menjaga seluruh sisa hidup Adit yang tertinggal.Di atas meja kerjanya, tertata rapi beberapa dokumen krusial: sertifikat rumah, dompet, ponsel pribadi Adit, hingga akses penuh ke seluruh rekening manajemen keuangan yang pernah ia kelola. Semua itu adalah amanah besar yang langsung diberikan oleh Larasati kepadanya sejak Adit merangkak naik menjadi artis papan atas. Vera adalah jangkar finansial dan hukum bagi Adit, namun kini, semua angka di dalam rekening dan lembar sertifikat itu terasa tak berarti menghadapi kekuatan gelap yang menculik sahabatnya.Sore itu, demi mencari titik terang, Vera memutuskan menemui Larasati. Buk
Tiga hari telah berlalu sejak operasi itu selesai. Bagi tim medis konvensional, rekonstruksi total struktur wajah dan osifikasi akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih, itu pun dengan risiko komplikasi yang masif. Namun, Adit bukanlah manusia biasa.Ketika Dokter Hanna perlahan menggunting dan mengelupas perban gel polimer yang membungkus kepala Adit, ruangan itu diselimuti keheningan yang tegang. Lembar demi lembar gel transparan itu terlepas, dan apa yang ada di baliknya membuat Hanna menahan napas.Tidak ada pembengkakan. Tidak ada rona kebiruan akibat hematoma, ataupun tanda-tanda infeksi sekecil apa pun. Kulit wajah baru Adit terlihat sangat sehat, segar, dan beradaptasi dengan sempurna pada implan serat karbon di bawahnya. Seolah-olah, struktur wajah yang tajam, dingin, dan mengintimidasi itu memang rupa aslinya sejak lahir. Kemampuan regenerasi seluler tubuh pria itu berada di tingkat yang hampir mustahil."Apakah kamu merasakan sesuatu yang tidak nyaman? Ada sensasi







