Share

Syuting Iklan

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-31 16:58:09

Pagi itu, pukul tujuh tepat, Adit dan Vera sudah berangkat menuju lokasi syuting dan pemotretan iklan pertama Adit sebagai brand ambassador; sebuah produk minuman suplemen kesehatan yang cukup terkenal di pasaran.

Mereka menggunakan mobil baru pemberian Melinda. Vera yang menyetir, sesekali melirik interior mobil yang sangat mewah dengan pandangan yang penasaran.

"Enak juga ya mobil mahal…” kata Vera sambil mengoperasikan GPS di dashboard yang terlihat sangat canggih.

“Ya…” jawab Adit yang dudu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Naskah Diganti Lebih Berani

    Dan sebelum Adit sempat menjawab, Clara sudah melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih serius."Kali ini aku mau coba konsep latihan yang berbeda.""Konsep apa?" tanya Adit penasaran.Clara melirik Vera yang sedang membereskan tasnya. "Aku mau Vera nonton kita latihan. Seolah dia itu kru yang lagi ambil gambar."Vera yang mendengar namanya disebut langsung mendekat. "Hah?"Clara tersenyum pada Vera. "Iya Vera. Mau tidak kamu nonton kami latihan nanti? Seolah kamu kru. Duduk di samping, perhatiin kami akting."Vera mengerutkan kening. "Kenapa harus aku?""Biar kami terbiasa," jawab Clara dengan logika yang terdengar masuk akal. "Soalnya pas syuting nanti, jelas ada banyak mata yang melihat; sutradara, kameraman, kru, lighting, semua orang. Kalau kami udah terbiasa latihan di depan orang lain, nanti pas syuting tidak canggung."Vera menatap Clara dengan pandangan yang sedikit curiga, tapi logika Clara memang benar."Oke," jawab Vera akhirnya. "Terserah kalian aja!”Clara tersenyum p

  • Tukang Pijat Tampan   Meeting Sebelum Syuting

    Adit masih setia menemani Renata sampai keesokan harinya; hari di mana dokter akhirnya mengizinkan Renata dipindahkan ke ruang rawat biasa.Bukan ruang rawat biasa sebenarnya. Ruang yang digunakan Renata adalah ruang VVIP di lantai lima; ruangan luas dengan tempat tidur yang nyaman, sofa untuk tamu, televisi layar datar, dan bahkan kamar mandi pribadi yang bersih. Jauh lebih baik dari ruang ICU yang dingin dan steril.Proses pemindahan berjalan lancar. Renata sudah bisa duduk, meski masih dibantu, dan bahkan sudah bisa berbicara dengan suara yang lebih jelas meski masih lemah.Begitu Renata dipindahkan ke ruang VVIP, anak buahnya langsung mengamankan area. Belasan orang berjaga di luar, ada yang duduk di kursi tunggu, ada yang berdiri di dekat pintu, ada yang berkeliling koridor dengan wajah waspada.Semua bertampang sangar dan mengerikan; tubuh besar, tatapan tajam, beberapa dengan tato yang terlihat di lengan atau leher. Para perawat dan pengunjung lain yang lewat koridor itu langsu

  • Tukang Pijat Tampan   Lekas Sembuh!

    Dokter dan perawat masih sibuk memeriksa kondisi Renata; mengecek luka di dadanya, mengganti perban, mengatur dosis obat. Adit tetap berdiri di samping ranjang, memegang tangan Renata dengan lembut.Bayu yang mendengar kabar dari luar langsung masuk dengan wajah penuh harap. Begitu melihat Renata dengan mata terbuka, wajahnya langsung berubah, lega bercampur haru."Boss," panggilnya dengan suara bergetar.Renata menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis melihat Bayu.Bayu mendekat, tapi tidak terlalu dekat karena dokter dan perawat masih bekerja. "Syukurlah, Boss. Syukurlah..."Dokter akhirnya selesai dan berbalik ke Adit dan Bayu. "Kondisinya sudah jauh lebih stabil. Tapi dia masih perlu istirahat total. Jangan banyak bicara dulu, jangan banyak gerak. Kalau tidak ada komplikasi, mungkin besok atau lusa bisa dipindah ke ruang rawat biasa.""Terima kasih, Dok," kata Adit.Dokter mengangguk, lalu keluar bersama para perawat.Kini ruangan kembali hening; hanya tinggal Adit, Bayu, dan Renata.

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Siuman

    Adit terbangun dengan tubuh yang terasa... segar.Aneh, mengingat dia tidur di bangku panjang yang keras, dengan bantal seadanya, jaket yang dilipat dan selimut yang bahkan tidak ada. Tapi entah kenapa, tidurnya sangat nyenyak. Seperti tubuhnya tahu bahwa dia butuh istirahat total setelah menguras energi semalam.Dia membuka mata perlahan, menyesuaikan pandangan dengan cahaya pagi yang mulai masuk lewat jendela koridor. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi.Adit duduk perlahan, meregangkan tubuhnya yang kaku. Leher sedikit pegal, tapi secara keseluruhan dia merasa jauh lebih baik dari semalam.Dia melirik ke samping, Bayu tertidur di bangku seberang dengan posisi setengah duduk, kepala bersandar di dinding, mulut sedikit terbuka. Wajahnya terlihat lelah bahkan saat tidur.Beberapa anak buah lain juga masih tertidur di berbagai posisi, ada yang meringkuk di bangku, ada yang tidur dengan kepala di atas meja tunggu. Hanya dua orang yang masih terjaga, berdiri di dekat pintu dengan mat

  • Tukang Pijat Tampan   Treatmen ke Dua Yang Melelahkan

    Adit kembali duduk di bangku tunggu, pikirannya melayang jauh.Sungguh dia tidak mau terlibat lagi dalam urusan dunia hitam ini. Sudah. Dia sudah keluar. Sudah punya kehidupan baru; jadi aktor, punya karir yang cerah, punya nama yang bersih di mata publik.Tapi melihat Renata tertembak seperti ini... dia tidak bisa diam saja.Renata bukan hanya mantan bos. Dia orang yang pernah memberinya kesempatan ketika dia bukan siapa-siapa. Orang yang mempercayainya, yang membentuknya, yang mengajarkan banyak hal, baik dalam hal asmara hingga tentang kehidupan bawah tanah.Dan sekarang dia terbaring lemah, hidupnya bergantung pada mesin dan keajaiban.Adit merasa marah. Marah pada siapa pun yang melakukan ini. Marah pada dunia yang penuh dengan pengkhianatan dan kekerasan ini.Tapi dia juga tahu; marah saja tidak cukup.Dia harus berbuat sesuatu.Adit tahu ada banyak kelompok kriminal di kota ini. Lingkaran Merah memang yang paling terkenal; ormas besar yang punya cabang di banyak kota, punya kon

  • Tukang Pijat Tampan   Petunjuk Yang Buram

    Petang mulai menyelinap masuk lewat jendela koridor rumah sakit. Cahaya oranye keemasan menerangi wajah-wajah tegang para anak buah Renata yang masih setia berjaga. Adit duduk di bangku tunggu dengan kepala bersandar di dinding, mata memandang kosong ke arah pintu ruang ICU di mana Renata masih terbaring kritis.Ponselnya bergetar. Nama Vera muncul di layar.Adit mengangkat dengan suara pelan. "Halo, Ver.""Dit, kamu di mana? Udah mau maghrib. Kok belum pulang?" tanya Vera dengan nada khawatir.Adit menghela napas. "Aku di rumah sakit."Hening sejenak di ujung sana. "Rumah sakit? Kamu kenapa? Sakit?""Bukan aku yang sakit," jawab Adit sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Renata. Mantan bos aku. Dia ditembak orang. Sekarang lagi kritis.""Apa?!" Vera terdengar shock meski ia tak kenal siapa Renata. Namun ia hanya tahu dari cerita Adit, bahwa Renata adalah wanita pertama yang memperkenalkan Adit pada kehidupan semacam itu. "Ditembak? Siapa yang nembak?""Belum tahu pasti. Bang Bayu bil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status