Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / 'Tamu' Mencari Adit

Share

'Tamu' Mencari Adit

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-29 10:24:18

Pukul dua lewat dan hampir setengah tiga sore, hawa sejuk dari pendingin ruangan masih menusuk kulit. Renata dan Adit sudah siap untuk berangkat setelah selesai mandi dan berpakaian.

Celina masih terlelap pulas, napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, menunjukkan betapa lelap tidurnya. Dia tetap harus dibangunkan, meskipun tak perlu kembali ke tempat kerja.

"Bangun Cel, kami mau balik!" Renata mengguncang pelan bahu Celina, nada suaranya sedikit malas namun ada gurat geli.

"Eh... hoh... jam berapa ini?" Celina menggeliat, kelopak matanya berkedut sebelum terbuka perlahan. Matanya mengerjap-ngerjap, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya remang ruangan.

"Kamu tidur aja. Kami naik taksi!" Renata bersiap meraih tasnya.

"Aduh... masak naik taksi..." Celina mencoba bangkit, mengusap wajahnya yang masih terasa lengket dan lelah. Setiap otot di tubuhnya serasa ditarik ulur, lemas tak bertenaga. "Duh maaf ya... pegel banget kakiku. Lemes... kok bisa capek kayak gini ya... kamu nggak cap
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Putus Dengan Laras?

    Adit kembali ke ruang tamu dengan langkah gontai, wajahnya suram seperti langit mendung yang siap menurunkan hujan. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya menyeret beban seberat gunung.Di ruang tamu, semua mata langsung tertuju padanya. Larasati yang duduk di sofa dengan tubuh tegang, Nyonya Sukmasari yang menatap khawatir, Nenek Delima yang menghela napas panjang, dan Vera yang berdiri dengan ekspresi bertanya-tanya.Pak Sudirman masuk beberapa detik setelahnya, wajahnya datar tapi ada kepuasan tersembunyi di matanya; kepuasan bahwa ia sudah menyampaikan apa yang harus disampaikan, dan Adit sudah mengerti pesannya.Adit berdiri di tengah ruangan, tangannya terkepal di samping tubuh, rahangnya mengeras. Ia menatap Larasati yang balas menatapnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, seolah ia sudah tahu apa yang akan Adit katakan."Laras..." suara Adit pelan, hampir berbisik, tapi cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu.Larasati berdiri perlahan, tubuhnya berg

  • Tukang Pijat Tampan   Tak Ada Pilihan Lain

    Pak Sudirman berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu berbalik menatap Adit dengan pandangan yang sangat serius."Tapi fans dan ketenaranmu itu bukanlah satu-satunya masalah. Ada masalah yang jauh lebih besar. Masalah yang bisa mengancam keselamatan Larasati.""Maksud Bapak?"Pak Sudirman menatap Adit dengan tajam. "Jenderal Guntur. Kamu pikir dia sudah lupa? Kamu pikir dia sudah memaafkan kamu yang membuat anaknya masuk penjara, ia masuk penjara dan membuat namanya tercoreng di publik?"Adit terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan itu lagi belakangan ini."Selama ini kamu aman karena kamu low profile. Kamu cuma mantan kepala keamanan klub yang hidup tenang. Tapi sekarang? Kamu terkenal. Wajahmu ada di mana-mana. Namamu viral. Dan orang-orang seperti Jenderal Guntur... mereka punya mata dan telinga di mana-mana," kata Pak Sudirman dengan nada yang semakin dingin.Ia melangkah lebih dekat ke Adit."Dan sekarang, mereka juga tahu siapa Larasati. Mereka tahu dia pacarmu. Mereka t

  • Tukang Pijat Tampan   Pembicaraan Lelaki

    Adit melangkah memasuki halaman rumah Nenek Delima dengan napas yang tertahan. Vera berjalan di sampingnya, memberikan kehadiran moral yang Adit sangat butuhkan saat ini.Nenek Delima sudah menunggu di teras, wajahnya menunjukkan campuran kekhawatiran dan harapan. "Adit…masuk," sapanya dengan suara yang lembut tapi serius."Selamat siang, Nenek," sapa Adit sambil sedikit membungkuk hormat. Vera pun juga bersikap serupa.Mereka masuk ke ruang tamu. Di sana, Larasati duduk di sofa dengan mata yang sembab; jelas baru selesai menangis. Di sampingnya duduk seorang wanita anggun yang meski terlihat lelah, tetap memancarkan aura keanggunan dan kelas; Nyonya Sukmasari.Dan di sofa single, duduk seorang pria paruh baya dengan postur tegap, wajah tegas, dan tatapan yang menusuk; Pak Sudirman.Begitu mata Pak Sudirman dan Adit bertemu, ada ketegangan yang langsung terasa.Adit menelan ludah, tapi ia memaksakan dirinya untuk tidak menunduk. Ia menatap balik dengan sopan tapi tidak kalah teguh."S

  • Tukang Pijat Tampan   Pak Sudirman Ingin Bertemu Adit

    Larasati terdiam. Mulutnya terbuka, ingin membantah, tapi tidak ada suara yang keluar. Air matanya mengalir deras.Nyonya Sukmasari juga menangis, tapi ia mengangguk mendukung keputusan suaminya. "Ini demi kebaikanmu, sayang. Percaya sama Papa dan Mama."Nenek Delima hanya bisa menghela napas panjang. Ia paham kekhawatiran Pak Sudirman. Benar, resiko berpacaran dengan Adit sangat besar, resiko keamanan karena musuh lama Adit, resiko privasi karena ketenaran Adit, resiko emosional karena dunia entertainment yang penuh godaan.Tapi di sisi lain, ia juga paham perasaan Larasati. Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dimatikan dengan perintah. Cinta itu tumbuh di hati, dan hati tidak selalu mendengarkan logika."Sudirman," kata Nenek Delima pelan. "Apa kamu yakin ini cara yang benar?"Pak Sudirman menatap ibu mertuanya dengan pandangan yang lelah tapi tetap teguh."Ibu, saya harus melindungi anak saya. Dengan cara apa pun."Ia berdiri, menghampiri Larasati yang masih duduk dengan tubuh berget

  • Tukang Pijat Tampan   Dilarang Pacaran Dengan Adit

    Larasati melepaskan pelukan ibunya dan menatap ayahnya dengan mata yang mulai basah. "Papa... jangan bilang seperti itu. Adit bukan laki-laki sembarangan kok… dia itu…""Dia artis yang terlalu terkenal," potong Pak Sudirman dengan nada yang lebih keras. "Dia orang yang pernah punya konflik besar dengan Jenderal Polisi. Kamu tahu apa artinya itu, Laras? Kamu tahu resikonya?""Papa, itu sudah berlalu. Kasusnya sudah selesai. Adit menang di pengadilan…""Menang di pengadilan bukan berarti aman, Laras!" Pak Sudirman melangkah lebih dekat, suaranya meninggi tapi masih terkontrol. "Kamu pikir seorang Jenderal yang anaknya kalah dan dia sendiri terseret kasus akan begitu saja melupakan orang yang membuatnya malu? Kamu pikir mereka akan diam saja?"Nenek Delima yang berdiri di dekat pintu ruang tamu, menghela napas panjang. Ia paham. Ia paham sekali kekhawatiran menantunya ini."Dirman, duduk dulu. Kita bicarakan baik-baik," kata Nenek Delima dengan suara yang lembut tapi tegas.Pak Sudirman

  • Tukang Pijat Tampan   Laras Bertemu Orang Tuanya

    Akhirnya mereka memesan. Adit memilih yang paling "murah" meski tetap saja satu setengah juta untuk sarapan terasa gila dan meski ia bukan lagi orang miskin. Jadi, ia hanya memesan makanan dengan nama asing: eggs benedict dengan smoked salmon dan asparagus, plus jus jeruk segar.Clara memesan yang lebih mewah: French omelet dengan truffle hitam, croissant butter Prancis, dan champagne. Ya, champagne untuk sarapan, karena kenapa tidak!Setelah pelayan pergi dengan pesanan mereka, Clara bersandar di kursi dengan postur yang rileks, menatap Adit dengan senyum yang hangat."Jadi," katanya sambil menyilangkan tangan di atas meja dengan elegan, "ada yang mau aku obrolin sama kamu. Soal tawaran project baru."Adit mengangguk, mencoba fokus pada urusan profesional dan mengabaikan perasaan lain di luar urusan itu. "Iya, kamu bilang ada produser yang mau kita main bareng lagi?""Yup," kata Clara sambil mengeluarkan tablet dari tasnya. Ia membuka beberapa file dan memutar tablet agar Adit bisa m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status