Share

Bonus Spesial

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-04-24 11:00:18

"Permisi Mbaakk.." ucap Dayat sambil mengetuk pintu kamar Shasa dengan pelan. Tangannya terasa sedikit dingin, bukan karena AC, tapi karena rasa cemas yang nggak bisa dia sembunyikan.

​"Masuk aja Mas," sahut Shasa dari dalam dengan nada yang terdengar sangat santai.

​Dayat menarik napas panjang, mencoba menetralkan pikirannya sebelum memutar gagang pintu. Saat pintu terbuka, ia melangkah masuk dengan sangat hati-hati. Pandangannya langsung ia buang ke arah bawah,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Efek Kopi Yang Tak Biasa

    Dayat berdehem pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai tidak karuan melihat wujud Clara dalam balutan daster transparan itu. "Ehemm... Tan, tanpa mengurangi rasa hormat dan mengacuhkan pemandangan yang indah ini, izinkan saya untuk fokus sejenak ke *project* ini," ucap Dayat, berusaha tetap profesional meski matanya sesekali masih "nakal". Clara tersenyum puas mendengar pujian terselubung itu. "Oke... nggak apa-apa, Sayang..." jawab Clara dengan nada manja. Ia memajukan tubuhnya ke arah meja, membuat daster tipisnya semakin turun di bagian dada. Jari-jarinya yang lentik menunjuk satu lembar kertas yang berisi daftar proyek besar. "Ini kerjaan di villa Natasya, terus ini kerjaan di kosan elit punya Resti, dan dua lainnya nanti kita bahas," ucap Clara menjelaskan. Dayat mencoba menajamkan penglihatannya pada poin-poin di kertas itu. "Hmmm... kerjaan di kosan ini cuma renovasi jalur listrik, sama

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan Satin Menerawang

    Dayat berdiri di depan cermin kontrakannya yang agak buram, kancing kemejanya dirapikan dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Setelah mengisi paket data di konter tadi, HP-nya langsung meledak dengan puluhan notifikasi masuk—hampir semuanya dari Tante Clara. ​"Duhh, perasaan gue gak enak nih," gumam batin Dayat. Ia menarik napas panjang, mencoba menghilangkan bayangan wajah marah Clara yang tadi ia lihat di jalan. Ada rasa was-was yang luar biasa, apalagi badannya masih terasa sisa-sisa capek setelah melayani Gita semalam. ​Namun, Dayat langsung menggeleng keras, mencoba menguatkan mentalnya. "Gas aja lahh, dia sumber project gue!!" gumamnya tegas. Ia sadar, kehilangan Clara berarti kehilangan akses ke proyek-proyek besar di komplek mewah itu. ​Tanpa buang waktu lagi, Dayat meraih kunci motornya yang tergeletak di atas meja kayu, lalu melangkah keluar dengan terburu-buru. Ia memacu motornya menembus udara malam yang masih terasa lemb

  • Tukang Servis Spesialis   Tidak Aktif

    Keheningan malam yang hanya diiringi sisa rintik hujan membuat suasana di dalam kamar itu terasa sangat tenang. Gita menyandarkan kepalanya di dada bidang Dayat, membiarkan tubuh polosnya didekap hangat oleh pria yang baru saja membuatnya tak berdaya. "Aku gak nyangka ada cowok yang bisa kasih aku servis sampe begini," bisik Gita tulus. Sorot matanya menunjukkan rasa kagum sekaligus pengakuan atas kehebatan Dayat. Dayat terkekeh pelan, tangannya masih setia mengusap bahu Gita. "Aku ini kan tukang servis, Git... ya udah pasti memuaskan servisku," sahut Dayat dengan nada bercanda namun penuh percaya diri. Gita terdiam sejenak, pikirannya menerawang. Sebagai wanita yang cukup mandiri, ia merasa ada sesuatu yang harus ia berikan sebagai imbalan. "Aku harus bayar berapa buat jasa servismu ini, Mas?" tanya Gita sambil menatap wajah Dayat. "Halaahhh, gak usah... gratis kok. Aman," ucap Dayat santai. Baginya, kepuasan menaklukkan G

  • Tukang Servis Spesialis   Kepuasan Hasrat Yang Angkuh

    Dayat berdiri di tengah kesunyian kamar yang hanya diisi oleh suara hujan yang masih menderu di luar. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, sesekali terdengar suara gemericik air dari dalam. ​"Ngapain sih tuh anak? Mandi apa gimana?" gumam Dayat heran. Rasanya sudah cukup lama Gita di dalam sana, padahal tadi bilangnya cuma sebentar. ​Ia pun melangkah ke ruang depan, mengambil bungkus rokok di atas meja lipat dan menyulut sebatang. Asap rokok mengepul pelan, sedikit memberikan kehangatan di tengah udara dingin yang masuk dari sela-sela ventilasi. Dayat berjalan menuju jendela, sedikit menyibakkan gorden untuk mengintip situasi di luar. "​Ujan belom berenti juga... gimana gue balik ini," gumam batin Dayat. Jalanan di depan kosan sudah tampak seperti sungai kecil, air mengalir deras dan pandangan pun terbatas karena lebatnya hujan. Kilatan petir masih sesekali terlihat di kejauhan. Asap rokok terakhi

  • Tukang Servis Spesialis   Menjinakkan Hasrat Yang Liar

    Dayat terkekeh kecil, merasa tertantang dengan keberanian Gita yang sepertinya memang punya nyali lebih besar dibanding sahabatnya. Ia menatap Gita sejenak sebelum bangkit berdiri. ​"Mending kamu siap-siap. Aku mau kencing dulu," ucap Dayat sambil melangkah santai menuju kamar mandi. ​Gita yang masih terduduk di tempat tidur langsung menyahut dengan nada menantang yang tidak surut sedikit pun. "Siap-siap? Apa aku harus pakai daster dinas kayak punya Anggun biar kamu nafsu?" ​Dayat hanya menoleh sedikit, memberikan senyum miring penuh arti tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, lalu menutup pintu kamar mandi. ​Mendengar suara gemericik air dari dalam, Gita segera bangkit. Ia melangkah cepat menuju pintu depan kamarnya, memastikan gerendel terkunci rapat agar tidak ada gangguan dari tetangga kos lainnya. Setelah yakin privasinya aman, ia kembali ke ruang tengah. ​Gita duduk di tepi ranjang, merapikan dasternya ya

  • Tukang Servis Spesialis   Tantangan Di Tempat Baru

    "Sini Mas, masuk ke dalem... kok malah diem di situ," ucap Gita saat menoleh, melihat Dayat masih mematung di depan pintu kamar kosnya yang terbuka. ​"Oke, oke..." sahut Dayat sambil melangkah masuk, menghindari angin yang mulai membawa masuk uap air. "Gila, malah tambah deres ujannya," gumamnya pelan. ​Gita tidak terlalu menanggapi, ia sibuk mengambil handuk. "Duduk di mana aja Mas, maaf berantakan," ucapnya sambil berlalu ke area belakang atau kamar mandi kecil di dalam kosnya. ​Dayat mengedarkan pandangan. Berantakan amat ini kamar perempuan, gumam batin Dayat. Baju-baju yang tersampir di kursi dan tumpukan buku di pojokan membuatnya merasa kamar ini lebih mirip markas daripada kamar gadis manis. Ia akhirnya memilih duduk di lantai beralaskan karpet tipis dekat meja lipat. ​Di luar, suara hujan menghantam atap seng terdengar gaduh, sesekali dibarengi suara angin yang melolong. Suasana di dalam kamar mendadak terasa sanga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status