登入Keheningan malam yang hanya diiringi sisa rintik hujan membuat suasana di dalam kamar itu terasa sangat tenang. Gita menyandarkan kepalanya di dada bidang Dayat, membiarkan tubuh polosnya didekap hangat oleh pria yang baru saja membuatnya tak berdaya.
"Aku gak nyangka ada cowok yang bisa kasih aku servis sampe begini," bisik Gita tulus. Sorot matanya menunjukkan rasa kagum sekaligus pengakuan atas kehebatan Dayat. Dayat terkekeh pelan, tangannya masih setia mengu“Yat, katanya kamu lagi di rumah Natasya ya?” begitu isi pesan singkat yang muncul di layar. Dayat mengernyitkan dahi sejenak, jarinya bergerak lincah di atas papan ketik virtual. “Eh, iya nih Tan, kok tahu sih?” balasnya singkat. Tidak butuh waktu lama bagi status pesan tersebut untuk berubah menjadi centang biru. “Iya, tadi si Luki yang kasih tahu...” Clara membalas hampir seketika. “Oh gitu, iya Tan,” jawab Dayat lagi. Ia sudah bisa menebak kalau Luki memang tipe teman yang tidak bisa memegang rahasia lokasi, terutama jika yang bertanya adalah sang atasan. Pesan berikutnya dari Clara masuk dengan nada yang lebih serius. “Yat, saya minta tolong boleh?” “Apa tuh Tan? Boleh saja kok,” balas Dayat tanpa ragu. Ia memang terbiasa membantu wanita itu untuk berbagai urusan, dari yang teknis hingga urusan rumah tangga lainnya. “Tolong kamu bawa berkas yang ada di Natasya ya, nanti antar ke rumahku. Biar aku WA Natasya sekarang supaya disiapkan sama dia.” “Oke siap Tan,” pung
"Cepat masuk, Mas. Ibu sudah bolak-balik nanya kamu dari tadi," bisik Ning dengan nada cemas yang tertahan. Suaranya terdengar seperti peringatan darurat bagi Dayat. "Iya, Ning. Aman, tenang saja," jawab Dayat pendek sambil menepuk pundak Ning sekilas untuk menenangkan diri mereka berdua. Langkah kaki Dayat menggema di lorong rumah yang dingin dan berlantai marmer itu. Di ruang tengah, Natasya sudah berdiri dengan tangan bersedekap, menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Begitu melihat Dayat datang, ia langsung memberi isyarat dengan kepalanya untuk mengikuti ke arah halaman belakang. "Lihat itu, Yat," ucap Natasya sesampainya mereka di area taman belakang. Ia menunjuk ke arah sudut plafon teras tempat sebuah kamera kecil menempel kaku. "Posisinya sudah menghadap ke tembok sejak kemarin sore. Saya jadi tidak bisa lihat apa-apa dari aplikasi. Kamu pasangnya kurang kencang atau bagaimana?" Dayat mendongak, matanya bertemu dengan kamera yang memang dengan sukses merekam
"Nggun, mending kamu nggak usah banyak omong kalau masih mau diservis sama aku. Kalau kamu makin bawel soal semalam, Aku pastiin aku nggak bakal mau lagi servis urusan listrik atau apa pun di rumah kamu. Paham?"Anggun yang tadinya tampak ingin terus menggoda, mendadak membeku. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh gurat kecemasan yang tipis. Ia menatap mata Dayat yang tampak sangat serius, jauh dari kesan santai yang biasa pria itu tunjukkan. Anggun menelan ludah, ia merasa sedikit terintimidasi dengan ancaman yang keluar dari mulut Dayat. Ia hanya bisa mengangguk kecil dengan raut wajah yang sedikit pucat.Gita yang baru saja selesai memotret, menoleh ke arah mereka berdua dengan dahi berkerut. Ia menangkap gelagat aneh dari posisi berdiri Dayat yang terlalu dekat dengan sahabatnya."Eh, ngapain sih kalian bisik-bisik gitu? Mencurigakan banget deh," tanya Gita sambil melangkah mendekat, matanya bergantian menatap Dayat dan Anggun dengan penuh selidik.Anggun buru
"Duduk dulu, Git. Jangan berdiri terus begitu, nanti makin emosi kamunya," ucap Dayat dengan nada setenang mungkin. Gita menurut, meski ia duduk dengan punggung tegak dan tangan bersedekap di dada. "Ya habisnya Mas aneh. Ngapain coba jam sepuluh malam ada di hotel? Anggun sampai heran pas cerita ke aku tadi." "Tadi itu aku dipanggil mendadak sama pihak hotel, Git," Dayat memulai alibinya, tangannya bergerak seolah-olah sedang menjelaskan teknis pekerjaan. "Ada pemanas air di salah satu kamar VIP yang bermasalah. Mereka butuh orang yang cepat, makanya mereka hubungi aku." "Masa harus malam-malam banget begini sih, Mas? Memangnya nggak bisa besok pagi?" Gita menyipitkan mata, bibirnya mengerucut tanda ia belum sepenuhnya yakin. "Mas jangan macam-macam ya, atau jangan-jangan Mas janjian sama siapa gitu di sana? Ngaku deh." Dayat menatap langit-langit sejenak, dalam hati ia bergumam, "Nih anak sebenarnya bukan siapa-siapa gue, pacar juga bukan, tapi kok protektif banget." N
"Eh, Yat! Aku nggak tahu! Sumpah, itu baru kok kondomnya!" Linda berseru dengan suara melengking yang pecah oleh kepanikan. Ia langsung terduduk tegak, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sambil menatap benda karet di tangan Dayat dengan mata membelalak. "Tadi kamu belinya di mana? Kok bisa sampai sobek begini?" tanya Dayat, suaranya terdengar berat dan parau. Ia membuang benda itu ke tempat sampah di samping nakas dengan perasaan campur aduk. Linda mulai terisak, tangannya gemetar hebat saat merapikan rambutnya yang berantakan. "Tadi aku beli di minimarket depan hotel, Yat. Aku nggak tahu kalau bakal begini. Terus... terus ini gimana, Yat? Kalau aku sampai hamil gimana?" Dayat mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menjernihkan pikirannya yang mendadak buntu. Ia menoleh ke arah meja kecil di sudut kamar, melihat botol air mineral yang masih tersegel. Dengan langkah cepat, ia meraih botol itu dan membukanya, lalu menyodorkannya ke arah Linda. "Nih, minum yang banyak
"Mas Dayat? Ngapain di hotel jam segini? Jam sepuluh malam lho ini, lagi ada kerjaan servis mendadak ya?" tanya Anggun. Matanya menyipit, memindai penampilan Dayat yang tidak membawa tas perkakas andalannya.Dayat berdeham, mencoba mengatur raut wajahnya agar tetap terlihat tenang dan profesional. "Eh, Mbak Anggun. Enggak, Mbak, ini... ada perlu sebentar saja sama orang di dalam," jawab Dayat pendek, berusaha tidak memberikan detail apa pun.Anggun melipat tangan di dada, senyum penuh selidik menghiasi bibirnya yang dipulas lipstik tipis. "Ada perlu apa janjian sama orang di hotel malam-malam begini? Jangan-jangan mau ketemu Gita di sini? Atau malah... janjian sama cewek lain?"Jantung Dayat mencelos mendengar tebakan itu. Ia buru-buru menggelengkan kepala dengan gestur yang sedikit berlebihan. "Ngaco kamu, Mbak. Gita saja lagi di rumah Mbak Niken. Masak iya janjian di hotel? Bukan, bukan sama cewek kok."Melihat kecurigaan Anggun yang belum surut, Dayat segera memutar otak untuk meng







