ANMELDEN"Eh masa sih?" tanya Dayat yang pura-pura tidak tahu sambil mengendus-endus jaketnya untuk mengulur waktu agar bisa menyusun alasan yang masuk akal di dalam kepalanya. Gita melangkah maju satu tapak, hidungnya kembali mendekat ke arah dada Dayat, lalu dia mendengus pelan dengan kedua tangan yang bersendekep di bawah dada. "Iya ini mas, ini parfumnya Mira,, kamu semalem abis nganter Mira mampir dulu yaa??" tanya Gita dengan mata yang menyipit tajam penuh selidik menatap langsung ke dalam manik mata kekasihnya. Dayat tertawa kaku, dia melepaskan jaket hitamnya dengan gerakan cepat, lalu melempar benda itu begitu saja ke atas sandaran sofa kayu ruang tamunya agar baunya tidak semakin tercium oleh Gita. "Ahh enggak kok,, orang semalem aku nginep dirumah Luki,, gara-gara keasikan ngobrol sama bahas kerjaan,," ucap Dayat berkilah dengan nada suara yang dibuat sesantai mungkin agar tidak terdengar gugup. Gita terdiam sejenak, wajahnya yang semula tegang perlahan melunak, digantikan o
"Eh, beneran ada Dayat disini," ucap Natasya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Clara dan menutup kembali pintu kayu tersebut. Dayat langsung bangkit berdiri dari kursi empuknya, lalu menganggukkan kepala ke arah wanita yang baru masuk tersebut. "Pagi bu," ucap Dayat dengan nada sopan. Natasya melirik jam tangan peraknya yang melingkar di pergelangan tangan kiri, lalu menatap wajah Dayat sambil tersenyum tipis. "Udah siang yat, kamu gimana sih," ucap Natasya dengan nada santai. Dayat hanya bisa tertawa kecil dan menyengir sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali karena merasa salah melihat waktu. Clara melambaikan tangannya ke arah pintu, lalu merapikan tumpukan kertas kontrak yang baru saja ditandatangani oleh Dayat di atas mejanya. "Yat, kamu ngopi aja dulu di kantin yaa sambil nunggu Astrid, nanti dia saya suruh kesana nyusul kamu," ucap Clara. Dayat mengambil tas berkasnya dari atas meja, lalu memasukkan pulpen hitam miliknya ke
"Halo mas dayat, Nanti jangan lupa jam sepuluh ke kantor yaa.." ucap astrid di seberang telpon dengan suara yang terdengar formal namun ramah. Dayat melirik sekilas jam dinding yang menunjukkan masih jam 8 kurang, tepatnya jarum panjang berada di angka sebelas dan jarum pendek di angka tujuh lebih sedikit. "Oke siap, nanti jam 10 aku udah disana,," ucap dayat memberikan kepastian agar sekretaris kantor tersebut tidak perlu merasa khawatir lagi. "Oke mas, sampe ketemu di kantor yaa,," ucap astrid, yang kemudian telpon terputus secara sepihak setelah Dayat memberikan jawaban persetujuannya. Dayat menurunkan ponselnya dari telinga, lalu menaruhnya kembali di atas meja makan bersebelahan dengan piring nasi gorengnya. Mira yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Dayat langsung membuka suara sambil mengunyah makanannya. "Siapa mas? Gita ya?" Tanya mira dengan mata yang menyipit penuh rasa penasaran. Dayat langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, tangan kanannya meraih send
Dayat mendorong rita ke ranjang tanpa membuang waktu lagi. Rita terjerembab di atas kasur tanpa seprai itu dengan posisi telungkup, lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap Dayat dengan napas yang mulai memburu. Namun, dengan gerakan yang cepat dan bertenaga, Dayat langsung membalikkan kembali tubuh rita hingga posisi tengkurap dan dengan cepat dayat melepaskan celana rita hingga cdnya dan menunggingkan tubuh rita di atas kasur kapuk tersebut. Dayat menahan kedua pinggul Rita yang kini sudah terekspos sepenuhnya di depan matanya. Dayat menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke daun telinga Rita yang mulai memerah karena hawa panas yang menjalar di dalam kamar kosong itu. "Menu utama baru di mulai," bisik dayat dengan suara yang rendah dan terdengar sangat mengintimidasi. "Aaahh! Mas, bentar, mas.. mhh,, jangan langsung--aaahhh!" teriak Rita tertahan saat merasakan ujung kejantanan Dayat yang besar mulai menekan area sensitifnya dari arah belakang. Dengan satu gerakan dayat d
"Pagi mas,," sapa gadis itu dengan senyuman tipis sambil merapikan rambut panjangnya yang agak berantakan di dekat meja makan. Dayat menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar, matanya berkedip beberapa kali melihat sosok asing yang duduk santai di ruang tengah rumah Mira pagi itu. "I-iya pagii.." sahut dayat dengan nada canggung, ia menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali. Mira yang sedang memotong sayuran di dapur kecilnya menoleh sekilas, lalu menunjuk ke arah gadis berkaus ketat di ruang tengah tersebut. "Oh iya mas, kenalin itu sepupuku namanya rita,," ucap mira dengan nada suara yang terdengar sangat santai tanpa beban. Rita bangkit dan melangkah pelan menghampiri dayat, langkah kakinya sengaja dibuat berayun lambat hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter saja. Dia mengamati wajah Dayat dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai, lalu mengulurkan tangannya, "Rita.." Dayat menyambut tangan Rita, membalas genggaman tangan gadis itu yang terasa halus
"Mas... pelan dikit mas,, i-ini dalem banget mas,, aaahh.. aaahhh.. ya ampun mas, ahh, ahh," bisik Mira di sela desahnya. "Eeemmmhh,, gak bisa pelan mir, badanmu padat banget,, rasanya aku gak bisa berhenti,," ucap Dayat di sela gerakannya yang tetap cepat dengan hentakannya yang keras. "Ahhh... ohh, mas, terus mas.. ahh, ahh, di situ mas, emmhh.. ughh, aaahhh! Lebih keras, Mas! Ahh, ahh!" desah Mira semakin keras, meremas sprei dengan kuku-kukunya sampai memutih karena tidak tahan menerima tusukan yang bertubi-tubi. "Oohh, iya, Mir? Ini udah keras belum? Hah? Emmhh!" tanya Dayat dengan suara berat, sambil terus menekan pinggul Mira dan menghantamnya tanpa ampun dari belakang. "Aaahh! Udah, Mas! Ahh, ahh, ughh, dalem banget, Mas! Terus, Mas, jangan berhenti, ahh, ahh!" sahut Mira dengan mata terpejam rapat dan dahi berkerut dalam karena kenikmatan yang memuncak. "Emmhh, jepit terus, Mir! Punya lo sempit banget, ahh!" seru Dayat dengan napas memburu, merasakan jepitan dinding







