Home / Rumah Tangga / Tukar Ranjang Puaskan Rasa / Bab 1 — Desah Di Balik Dinding

Share

Tukar Ranjang Puaskan Rasa
Tukar Ranjang Puaskan Rasa
Author: SamL9

Bab 1 — Desah Di Balik Dinding

Author: SamL9
last update publish date: 2026-06-29 01:56:11

Suara mesin mobil perlahan mati tepat di garasi rumah megah milik keluarga Bald. Edward mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggungnya di jok.

Sejak pukul enam pagi dia sudah mengantar Tuan Bald ke kantor, menghadiri rapat di beberapa tempat, lalu menjemput Nyonya Laura dari salon dan pusat perbelanjaan. Baru sekarang, hampir pukul sembilan malam, pekerjaannya selesai.

Dia melirik rumah tiga lantai yang berdiri anggun di hadapannya. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya hangat dari balik jendela besar. Halaman dipenuhi bunga yang selalu dirawat tukang kebun.

Rumah itu bahkan lebih mirip hotel berbintang daripada tempat tinggal.

Edward tersenyum tipis. "Semoga suatu hari nanti aku bisa punya rumah sendiri. Tidak perlu sebesar ini. Yang penting milik sendiri."

Dia mengambil tas kecilnya lalu berjalan menuju bangunan belakang, tempat para asisten rumah tangga tinggal.

Baru saja membuka pintu, aroma tumisan bawang langsung menyeruak. "Kamu pulang juga."

Faela keluar dari dapur mungil sambil mengusap kedua tangannya dengan celemek. Senyum perempuan itu langsung membuat lelah Edward seakan menguap.

"Kok belum tidur?" tanya Edward.

"Nunggu kamu."

Edward mendekat. "Kamu capek?"

Faela menggeleng pelan. "Capek, sih. Tapi kalau belum lihat kamu pulang rasanya belum tenang."

Edward terkekeh pelan sebelum mengusap kepala istrinya. "Kamu selalu begini."

"Memangnya salah?"

"Enggak."

Mereka memang bukan pasangan yang hidup berkecukupan. Edward hanyalah sopir pribadi. Sedangkan Faela bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang mengurus kebersihan rumah, mencuci pakaian, sekaligus membantu memasak jika koki sedang libur.

Penghasilan mereka cukup untuk menyewa rumah kecil di pinggiran kota. Namun, demi menghemat ongkos dan memudahkan pekerjaan, pasangan itu memilih tinggal sementara di kamar asisten rumah tangga yang telah disediakan majikan.

Kamarnya sederhana. Hanya ada ranjang kayu berukuran sedang, lemari kecil, kipas angin tua, dan meja lipat.

Jauh berbeda dengan kamar utama milik Bald dan Laura yang luasnya bahkan lebih besar daripada seluruh bangunan tempat tinggal para pekerja.

Akan tetapi, Edward tidak pernah mengeluh. Baginya, selama masih bisa pulang dan melihat Faela tersenyum, hidup sudah terasa cukup.

"Aku masak nasi goreng."

"Wah ... harum."

Faela terkekeh.

"Cepat mandi dulu."

"Iya, Sayang."

Mereka makan malam berdua di meja kecil. Sesekali Edward menceritakan tingkah lucu Tuan Bald yang hampir salah masuk ruang rapat karena sibuk menerima telepon.

Faela ikut tertawa sampai matanya menyipit. "Kasihan juga sebenarnya Tuan."

"Kenapa?"

"Soalnya tadi siang Nyonya Laura kelihatan kesal."

Edward mengangkat alis. "Lagi bertengkar?"

"Aku enggak tahu. Tapi waktu makan siang, Nyonya diam terus."

Edward hanya mengangguk. Sebagai pekerja, mereka tahu batas. Tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga majikan.

Setelah makan, Faela segera membereskan piring. Edward membantu mencuci.

"Kamu enggak usah bantu, Sayang."

"Biar cepat, Sayang."

Mereka saling melempar senyum. Tak ada pembagian tugas yang kaku dalam rumah tangga mereka. Apa yang bisa dikerjakan bersama, mereka kerjakan bersama.

Sementara itu ....

Di kamar utama lantai dua ....

Laura berdiri di depan cermin besar. Gaun tidur berbahan satin jatuh lembut membalut tubuhnya. Dia sebenarnya masih tampak cantik. Kulitnya putih bersih. Rambut panjangnya terurai rapi.

Namun, wajah itu sama sekali tidak memancarkan kebahagiaan. Pintu kamar mandi terbuka.

Bald keluar sambil mengeringkan rambut. "Aku capek sekali hari ini."

Laura hanya menoleh sekilas. "Hmm ...."

Bald menghampiri istrinya. "Kamu masih marah?"

"Aku cuma lelah."

Pria itu memeluk pinggang Laura dari belakang. "Besok kita jalan-jalan."

Laura tidak menjawab. Pelukan itu terasa hangat. Tetapi entah mengapa, hatinya tetap kosong.

Bald mencium pelipis istrinya dengan lembut. "Kita tidur, ya."

Laura kembali mengangguk. Lampu kamar diredupkan. Suasana menjadi sunyi.

Tak lama kemudian ....

Bald kembali mencoba mendekati istrinya. Laura membalas pelukan itu dengan harapan yang sudah berkali-kali dia pupuk. Namun, harapan itu lagi-lagi kandas.

Bald berhenti. Menghela napas panjang. Lalu memijat pelipisnya sendiri. "Aku ... maaf."

Laura memejamkan mata. "Tidak apa."

"Besok kita ke dokter lagi."

"Terserah."

Bald menggenggam tangan istrinya. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah.

Laura tahu suaminya juga tersiksa. Masalah ini bukan sesuatu yang diinginkan.

Sudah hampir dua tahun mereka berpindah dari satu dokter ke dokter lain. Mengonsumsi berbagai vitamin. Mengikuti terapi. Namun, hasilnya belum juga berubah.

Akhirnya Bald hanya memeluk Laura sampai tertidur. Sedangkan Laura tetap membuka mata menatap langit-langit kamar. Air matanya perlahan mengalir. Bukan karena marah. Melainkan karena kecewa pada keadaan.

------------

Hampir tengah malam, Laura terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Dia turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air.

Rumah begitu sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak perlahan. Saat melewati koridor menuju dapur belakang, langkahnya terhenti.

Ada suara pelan dari arah kamar para pembantu. Bukan suara bertengkar. Bukan pula suara televisi. Melainkan percakapan lirih yang terdengar samar karena jendela kamar sedikit terbuka.

Laura sebenarnya berniat langsung pergi. Namun, tanpa sengaja salah satu kalimat membuat langkahnya membeku.

"Sayang ... sudah, nanti kamu capek." Itu suara Faela.

Laura spontan menoleh. Dia tidak berniat menguping. Tetapi suara berikutnya kembali terdengar.

"Aku enggak capek, Sayang. Ahh, enak banget. Aku masih kuat beberapa puluh menit lagi." Suara Edward terdengar pelan diselingi tawa kecil.

"Kamu itu memang ...."

"Aku cuma kangen."

Laura berdiri diam. Ada kehangatan dalam nada bicara pasangan muda itu. Hangat. Sederhana. Namun terdengar begitu tulus.

Faela terkikik pelan. "Kalau begini terus, besok aku bangun kesiangan. Nanti lecet juga."

"Aku bantu bangunin besok "

"Ih, Sayang ...."

Suara tawa mereka kembali terdengar.

Laura menelan ludah. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Bukan karena kata-kata itu terdengar vulgar. Justru karena kasih sayang yang mengalir begitu alami.

Mereka hidup sederhana. Tidur di kamar sempit. Tidak punya kasur mahal. Tidak punya pendingin ruangan. Tetapi mereka masih bisa saling bercanda seperti sepasang pengantin baru.

Laura menundukkan kepala. Sedangkan dirinya ... Memiliki rumah mewah. Perhiasan. Mobil. Liburan ke luar negeri. Namun, setiap malam justru diisi keheningan yang menyakitkan.

Dari balik jendela kembali terdengar suara Faela, kali ini disertai tawa malu. "Edward ... kamu ini memang kuat sekali. Aku benar-benar enggak nyangka."

Edward tertawa pelan. "Baru begitu saja sudah menyerah?"

"Ih ... jangan godain terus."

Laura menggigit bibir bawahnya. Pipi perempuan itu terasa menghangat. Kalimat sederhana itu justru membuat imajinasinya bekerja sendiri.

Dia buru-buru menggeleng. "Apa yang kupikirkan?"

Dia seharusnya pergi. Namun kedua kakinya seolah sulit bergerak.

Percakapan kecil penuh kemesraan itu terus terdengar samar. Bukan isi percakapannya yang membuat Laura terpaku. Melainkan kebahagiaan yang terdengar jelas di balik suara mereka. Sesuatu yang sudah lama hilang dari rumah tangganya sendiri.

Laura akhirnya menarik napas panjang. Dia melangkah ke dapur, mengambil segelas air, lalu kembali ke kamar.

Namun sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi bayangan pasangan sederhana itu.

Sesampainya di kamar, Bald masih tertidur pulas. Laura memandang wajah suaminya cukup lama. Pria itu baik. Penyayang. Tidak pernah kasar. Tidak pernah selingkuh.

Tetapi ada ruang kosong yang semakin hari semakin membesar di dalam hatinya.

Laura mematikan lampu samping tempat tidur. Lalu berbaring. Anehnya ... Setiap kali memejamkan mata.... Yang terngiang justru suara tawa Edward dan Faela dari balik dinding.

Sebuah pikiran yang seharusnya tidak pernah muncul perlahan menyelinap ke dalam benaknya.

"Bagaimana rasanya ... bila hidupku seperti Faela?" Laura langsung membuka mata.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia buru-buru mengusir pikiran itu. Namun, semakin berusaha melupakan, rasa penasaran itu justru semakin tumbuh.

Di luar kamar ....

Angin malam berembus pelan.

Tak seorang pun menyadari bahwa percakapan sederhana dari kamar pembantu baru saja menjadi awal dari sebuah keinginan terlarang yang kelak akan menghancurkan hidup empat orang sekaligus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kwetiau jumbo
seruu nih kayaknya ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 65 - Mahkota Tanpa Cela

    "Kalau aku jadi ratu ... kamu harus jadi rajanya." Guntur kembali menggelegar, menggetarkan kaca-kaca jendela penthouse mewah itu hingga berderak pelan. Namun di dalam ruangan, badai yang jauh lebih liar tengah berlangsung. Edward mengangkat tubuh Laura dengan mudah, menjauhkannya dari genangan darah yang perlahan meresap ke dalam karpet sutra. Ia membawa ratunya menuju ranjang king-size di kamar utama penthouse, membaringkan wanita itu dengan sentuhan yang memadukan kekasaran seorang pembunuh dan pemujaan yang buta. Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura dilucuti tanpa sisa kesabaran, robek di bagian bahu tatkala tangan kokoh Edward merenggutnya. Pria itu mengungkung tubuh Laura sepenuhnya, menatap setiap inci kulit wanita itu dengan mata yang gelap, lapar, dan sangat posesif. "Tidak akan ada lagi yang berani menatapmu, apalagi menyentuhmu," geram Edward rendah, napas panasnya menerpa dada Laura. "Malam ini, aku akan menghapus setiap ingatan tentang ayah maupun anak sialan it

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 64 - Darah di Atas Karpet Sutra

    "Dasar lelaki tak tahu diri! Sial!"Tubuh Victor menegang kaku bagaikan patung batu. Hawa dingin dari laras pistol peredam milik Edward yang menempel di tengkuknya seolah membekukan darah di pembuluhnya. Sisa-sisa arogansi yang beberapa detik lalu menguasai wajah pewaris Bald itu lenyap tak berbekas, digantikan oleh kepanikan instingtual seekor mangsa yang tertangkap masuk ke dalam perangkap."Kau ...." suara Victor bergetar, mencoba mempertahankan sisa wibawanya meski peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kau berani menarik pelatuk itu, video rekaman pembunuhan ayahku akan tersebar ke seluruh dunia. Sistem di ponselku ....""Sistem Dead Man's Switch milikmu yang terenkripsi itu?" potong Edward dengan nada mengejek yang sangat dingin.Dari sudut ruangan, Laura berjalan dengan langkah gemulai mendekati sofa. Ia memungut jas basah Victor, merogoh saku bagian dalamnya, dan mengeluarkan ponsel pintar milik pria itu. Dengan senyum seringai yang begitu mematikan, Laura mengetuk layar ya

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 63 - Memamerkan Tubuh

    Pukul sembilan tepat. Hujan badai yang mengguyur kota sejak sore belum juga mereda. Kilat sesekali menyambar, menerangi kaca jendela penthouse mewah di lantai empat puluh yang menjadi arena jebakan malam ini. Di dalam ruangan, lampu sengaja diredupkan, menyisakan pendaran keemasan dari lampu hias dan perapian elektrik. Alunan musik jazz klasik mengalun pelan, menyamarkan ketegangan yang mengudara kental.Pintu ganda penthouse terbuka dengan bunyi klik pelan. Victor Bald melangkah masuk, mengibaskan tetesan air hujan dari mantel panjangnya. Senyum pongah menghiasi wajah tirusnya yang angkuh. Matanya langsung tertuju pada sosok Laura yang tengah berdiri di dekat minibar, menuangkan cairan amber ke dalam dua gelas kristal.Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura menempel bak kulit kedua, mempertegas setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan gaun yang tinggi memamerkan paha putihnya yang jenjang setiap kali ia bergerak. Bagi Victor, pemandangan itu adalah trofi kemenangannya. Ia

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 62 - Candu Mengikat Jiwa

    Jarum jam di dinding marmer baru menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan deras yang mengguyur kota sejak senja kini berubah menjadi badai, menghantam kaca-kaca jendela mansion keluarga Bald dengan suara bergemuruh.Di ruang persenjataan bawah tanah yang tersembunyi di balik garasi utama, Edward berdiri di depan meja logam. Ia sedang memeriksa perangkat kloning peretas nirkabel seukuran kotak korek api, memastikan alat mematikan itu berfungsi sempurna sebelum pertemuan mereka dengan Victor pukul sembilan nanti. Pistol semi-otomatis dengan peredam suara sudah terselip rapi di balik jas hitamnya.Namun, indra predator Edward yang tajam tiba-tiba menangkap suara sekecil apa pun. Derit halus sol sepatu bot di atas lantai beton. Bukan hanya satu orang, melainkan tiga.Edward tidak membalikkan badan, tangannya tetap tenang merakit sisa peralatannya. "Kalian tahu, menyelinap di belakangku saat aku sedang memegang senjata adalah cara tercepat untuk mati."Tiga pria berseragam hitam melangkah kelu

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 61 - Umpan Berbisa Sang Ratu

    "Ternyata apa yang terlihat indah, terkadang tidak seindah itu ... apa aku sudah salah melangkah, ya?" batin Laura bergejolak.Pemandangan kota metropolitan yang membentang di bawah sana seakan menjadi saksi bisu dari keliaran yang meledak di lantai teratas menara Bald Corporation. Dinding kaca yang dingin berembun oleh napas Laura yang tersengal, berpadu dengan panas tubuh Edward yang mengungkungnya tanpa ampun. Setiap sentuhan, setiap ciuman yang dihujamkan Edward dipenuhi oleh rasa cemburu yang gelap, amarah yang mendidih, dan kepemilikan mutlak."Katakan padaku," geram Edward di sela-sela ciuman basahnya di leher Laura, jemarinya mencengkeram pinggul wanita itu dengan kuat, mengklaim setiap jengkal kulit yang berani ditatap oleh Victor beberapa menit lalu. "Katakan siapa penguasa tubuh ini, Laura.""Hanya kau... ahh... hanya kau, Edward," rintih Laura tertahan, jari-jarinya meremas erat rambut gelap pria itu, menariknya semakin dalam ke pusaran gairah yang menyesakkan dada.Penyat

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 60 - Ultimatum Sang Pewaris

    Ketegangan di ruang rapat lantai teratas itu terasa begitu pekat, seolah menyedot seluruh oksigen yang tersisa. Laras pistol Edward masih terarah kokoh di antara kedua mata Victor Bald. Jari telunjuk pengawal itu sudah menekan pelatuk setengah jalan. Satu tarikan napas saja, dan kepala pewaris sah keluarga Bald itu akan berlubang.Namun Laura, dengan ketenangan yang mengerikan, mengangkat tangan kirinya dan menyentuh lengan Edward yang tegang."Turunkan senjatamu, Edward," perintah Laura pelan, namun nadanya mutlak tak terbantahkan.Rahang Edward mengeras hingga otot-ototnya menonjol. Matanya memancarkan kilatan pembunuh yang haus darah. "Dia memegang bom waktu, Laura. Jika aku membunuhnya sekarang, kita bisa membersihkan tim IT-nya nanti.""Dan memicu protokol keamanan otomatis yang akan mengirimkan video itu ke seluruh dunia dalam hitungan menit?" sahut Victor dengan tawa meremehkan, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku mantel. "Oh, ayolah, anjing penjaga. Jangan bodoh. Kau pi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status