Home / Rumah Tangga / Tukar Ranjang Puaskan Rasa / Bab 2 — Keinginan Yang Tak Pantas

Share

Bab 2 — Keinginan Yang Tak Pantas

Author: SamL9
last update publish date: 2026-06-29 10:19:41

Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela besar ruang makan. Meja sepanjang tiga meter telah dipenuhi berbagai hidangan. Roti panggang, telur setengah matang, salad, buah-buahan segar, hingga kopi hitam kesukaan Bald telah tertata rapi.

Faela berdiri beberapa langkah di belakang Nyonya Laura. Seperti biasa, dia menunggu jika majikannya membutuhkan sesuatu. Namun, pagi ini suasananya terasa berbeda.

Laura tampak lebih banyak diam. Tatapannya kosong, sesekali justru mengarah ke halaman depan melalui jendela kaca.

"Laura?" Suara Bald membuyarkan lamunannya.

"Hmmm?"

"Kamu sakit?"

Laura menggeleng. "Enggak."

"Kamu enggak makan?"

"Nanti saja."

Bald menatap istrinya beberapa saat. Kalau biasanya Laura cerewet menanyakan jadwalnya atau mengingatkan agar tidak melewatkan makan siang, hari ini perempuan itu bahkan hampir tidak mengucapkan sepuluh kalimat.

"Kamu masih kepikiran semalam?"

Laura tersentak. Semalam ... Bukan kegagalan suaminya untuk urusan ranjang yang memenuhi pikirannya. Melainkan suara tawa dari kamar pembantu.

Dia segera menggeleng. "Aku baik-baik saja."

Bald menghela napas. "Sepulang kantor kita ke dokter lagi, ya?"

Laura hanya mengangguk.

Tak lama kemudian Edward datang membawa tas kerja Bald menuju mobil. Melalui kaca ruang makan, Laura melihat pria itu sedang membuka pintu kendaraan dengan sigap. Wajahnya terlihat segar. Sesekali dia tersenyum ketika Bald mengatakan sesuatu.

Laura mengalihkan pandangan. "Aku ini kenapa?"

Dia bahkan tidak mengenal Edward lebih jauh. Yang dia tahu, pria itu sopan, rajin bekerja, dan sangat menyayangi istrinya. Hanya itu. Namun entah mengapa, sejak semalam bayangan suara pasangan itu terus mengganggu pikirannya.

------------

Mobil perlahan keluar dari halaman rumah.

Laura masih berdiri di balik tirai.

Tak lama kemudian Faela menghampiri. "Nyonya ... ruang makan sudah saya bereskan."

Laura menoleh. "Oh ... iya."

Faela tersenyum ramah. "Nyonya mau dibuatkan teh?"

"Boleh."

"Iya."

Perempuan muda itu segera menuju dapur.

Laura memperhatikannya dari belakang. Tubuh Faela sebenarnya biasa saja. Tidak tinggi. Tidak pula berpakaian mahal. Rambutnya hanya diikat sederhana. Wajahnya bahkan tanpa riasan.

Namun, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Perempuan itu terlihat begitu hidup. Setiap tersenyum, matanya ikut berbinar.

Setiap berbicara tentang Edward, nada suaranya selalu berubah menjadi lebih lembut.

Laura pernah memiliki sorot mata seperti itu. Beberapa tahun lalu. Sebelum pernikahannya dipenuhi jadwal konsultasi dokter. Sebelum setiap malam berubah menjadi rutinitas yang melelahkan.

Faela kembali membawa secangkir teh hangat. "Silakan, Nyonya."

"Terima kasih." Laura menerima cangkir itu.

Namun sebelum Faela pergi, tanpa sadar dia bertanya, "Faela."

"Iya, Nyonya?"

"Kamu ... bahagia menikah dengan Edward?" Pertanyaan itu membuat Faela tersenyum malu.

"Iya, Nyonya."

"Padahal hidup kalian sederhana."

Faela tertawa kecil. "Justru karena sederhana, kami belajar bersyukur."

Laura terdiam. "Edward orangnya baik."

Faela mengangguk mantap. "Edward enggak pernah bikin saya merasa sendirian."

Kalimat itu menghantam Laura tepat di dada. Tak pernah merasa sendirian. Sederhana. Tetapi begitu berarti.

Setelah Faela pergi, Laura kembali memandangi teh yang mulai mengeluarkan uap tipis. Entah sejak kapan dirinya merasa kesepian di rumah sebesar ini.

-----------

Siang harinya, Laura memutuskan pergi ke taman belakang. Dia duduk di gazebo sambil membaca buku. Namun baru beberapa halaman, pikirannya kembali melayang. Dari kejauhan terdengar suara mesin mobil.

Edward baru saja pulang sebentar untuk mengambil dokumen yang tertinggal.

Laura tanpa sadar mengangkat kepala.

Edward turun dari mobil, lalu berjalan cepat menuju rumah.

Ketika melewati taman, pria itu melihat Laura. "Permisi, Nyonya." Edward membungkukkan badan dengan sopan.

Laura tersenyum tipis. "Kamu kembali?"

"Ada berkas Tuan yang tertinggal."

"Oh."

Edward tidak banyak bicara. Dia segera masuk ke dalam rumah.

Laura memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu. Tidak ada yang istimewa. Sikapnya profesional. Tatapannya bahkan tidak pernah berani menatap Laura terlalu lama.

Namun justru kesopanan itu membuat Laura merasa semakin bersalah pada pikirannya sendiri.

Beberapa menit kemudian Edward keluar lagi. Saat hendak menuju mobil, Faela menghampiri sambil membawa kotak makan.

"Mas!"

Edward berhenti.

"Lupa bawa bekal." Faela menyerahkan kotak makan itu. "Kamu pasti nanti telat makan."

Edward tersenyum lebar. "Terima kasih."

"Harus dihabiskan."

"Iya."

Faela merapikan sedikit kerah baju suaminya. Gerakan yang sederhana. Begitu wajar bagi pasangan suami istri.

Namun Laura yang melihat dari kejauhan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan iri pada kemesraan itu. Melainkan iri karena perhatian kecil seperti itu sudah lama tidak dia rasakan.

Bald terlalu sibuk. Bahkan kadang lupa menanyakan apakah dia sudah makan.

Edward melambaikan tangan sebelum kembali masuk ke mobil. Sedangkan Faela berdiri sampai kendaraan itu menghilang dari gerbang.

Laura memejamkan mata. "Kenapa aku memperhatikan mereka terus?"

---------

Malam kembali datang. Bald pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya terlihat sangat lelah. "Maaf."

Laura membantu melepaskan jas suaminya. "Kerjaan banyak?"

"Iya."

"Kamu makan dulu."

"Aku enggak selera."

Laura mengangguk pelan.

Setelah mandi, Bald duduk di tepi ranjang. "Aku sudah buat janji dengan dokter spesialis."

Laura tersenyum hambar. "Lagi?"

"Kita belum boleh menyerah."

Laura menatap wajah suaminya. Dia tahu Bald benar-benar berusaha. Semua dilakukan demi mempertahankan rumah tangga mereka. Namun setiap kegagalan justru membuat hubungan mereka semakin canggung. Seolah setiap malam berubah menjadi ujian. Bukan lagi ungkapan kasih sayang. Melainkan beban.

Malam itu Bald kembali memeluk istrinya. Laura mencoba membalas. Tetapi lagi-lagi semuanya berhenti di tengah jalan.

Setelah pemanasan yang menderu, tetap saja junior milik Bald tidak bisa berdiri tegak. Itu menyakiti perasaan Laura yang berharap mendapatkan kepuasan rasa.

Pria itu memukul pelan kasur dengan kesal. "Sial."

Laura segera menggenggam tangannya. "Sudah."

"Aku benar-benar gagal jadi suami."

"Jangan bilang begitu."

"Aku bikin kamu menderita."

Laura tersenyum getir. "Kita sama-sama berjuang."

Bald akhirnya memeluk Laura erat. Namun setelah beberapa menit, pria itu tertidur karena kelelahan.

Laura tetap terjaga. Dadanya terasa sesak. Perlahan dia bangkit dari ranjang. Kembali menuju dapur untuk mengambil air. Langkahnya melambat ketika melewati bangunan belakang.

Malam begitu sunyi. Tidak terdengar suara apa pun.

Laura mengembuskan napas pelan. Ada sedikit rasa kecewa yang bahkan dia sendiri tidak mengerti asalnya.

"Aku ini benar-benar aneh."

Saat hendak berbalik, pintu kamar pembantu terbuka. Faela keluar sambil membawa ember berisi pakaian yang baru selesai dicuci.

Melihat Laura berdiri di sana, Faela tampak terkejut. "N-Nyonya?"

Laura ikut tersentak. "Oh ... aku mau ambil minum."

"Maaf, saya kira ada siapa."

Laura mengangguk. "Lagi mencuci malam-malam?"

"Iya. Besok pagi banyak pekerjaan."

Laura memperhatikan wajah Faela yang masih menyimpan senyum tipis. Senyum yang sama seperti pagi tadi. Senyum perempuan yang merasa dicintai.

Entah dorongan dari mana, Laura tiba-tiba bertanya pelan, "Faela ...."

"Iya, Nyonya?"

"Kalau ... seandainya kamu diberi uang yang sangat banyak ..."

Faela mengernyit bingung.

"... apa kamu mau melakukan apa saja demi uang itu?"

Faela tertawa kecil. "Kalau melanggar hati nurani, saya enggak berani, Nyonya." Jawaban itu membuat Laura membeku.

Faela lalu berpamitan kembali ke kamarnya.

Sementara Laura tetap berdiri seorang diri di koridor. Angin malam meniup lembut rambutnya. Pertanyaan itu sebenarnya belum selesai. Masih ada kalimat lain yang sejak semalam berputar-putar di kepalanya. Kalimat yang begitu gila hingga dia sendiri takut mengucapkannya.

Laura mengepalkan tangan. Lalu berbisik lirih kepada dirinya sendiri, "Kalau satu malam saja ... apakah semuanya akan berubah?"

Begitu kalimat itu keluar dari bibirnya, Laura langsung menutup mulutnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang. Dia tahu.

Sejak malam itu ...

Sebuah keinginan yang tak pantas mulai tumbuh, dan perlahan menguasai akal sehatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kwetiau jumbo
waduuh, mau ngapain nyonya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 66 - Noda Darah

    "Kamu akan menjadi milikku selamanya ...."Sepuluh menit tepat setelah panggilan Edward ditutup, bel pintu penthouse berbunyi dengan nada datar. Tidak ada ketukan, tidak ada suara langkah kaki yang terburu-buru. Edward membuka pintu, mempersilakan empat pria berpakaian serba hitam dengan peralatan khusus masuk ke dalam ruangan. Wajah mereka tertutup masker respirator tebal, pandangan mereka sepenuhnya kosong, layaknya mesin yang diprogram hanya untuk satu tujuan: melenyapkan jejak.Mereka bekerja dalam keheningan mutlak. Tubuh kaku Victor Bald dimasukkan ke dalam kantong kedap udara berlapis tebal. Karpet sutra yang ternoda darah digulung rapi dan disegel. Percikan darah di sofa dan meja kaca dibersihkan menggunakan cairan kimia korosif yang langsung menghilangkan DNA tanpa sisa, meninggalkan aroma klorin dan mint yang tajam untuk menutupi bau anyir kematian.Laura duduk di kursi bar dengan kaki menyilang anggun, menyesap segelas air es sambil menyaksikan prosesi itu bak seorang ratu

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 65 - Mahkota Tanpa Cela

    "Kalau aku jadi ratu ... kamu harus jadi rajanya." Guntur kembali menggelegar, menggetarkan kaca-kaca jendela penthouse mewah itu hingga berderak pelan. Namun di dalam ruangan, badai yang jauh lebih liar tengah berlangsung. Edward mengangkat tubuh Laura dengan mudah, menjauhkannya dari genangan darah yang perlahan meresap ke dalam karpet sutra. Ia membawa ratunya menuju ranjang king-size di kamar utama penthouse, membaringkan wanita itu dengan sentuhan yang memadukan kekasaran seorang pembunuh dan pemujaan yang buta. Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura dilucuti tanpa sisa kesabaran, robek di bagian bahu tatkala tangan kokoh Edward merenggutnya. Pria itu mengungkung tubuh Laura sepenuhnya, menatap setiap inci kulit wanita itu dengan mata yang gelap, lapar, dan sangat posesif. "Tidak akan ada lagi yang berani menatapmu, apalagi menyentuhmu," geram Edward rendah, napas panasnya menerpa dada Laura. "Malam ini, aku akan menghapus setiap ingatan tentang ayah maupun anak sialan it

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 64 - Darah di Atas Karpet Sutra

    "Dasar lelaki tak tahu diri! Sial!"Tubuh Victor menegang kaku bagaikan patung batu. Hawa dingin dari laras pistol peredam milik Edward yang menempel di tengkuknya seolah membekukan darah di pembuluhnya. Sisa-sisa arogansi yang beberapa detik lalu menguasai wajah pewaris Bald itu lenyap tak berbekas, digantikan oleh kepanikan instingtual seekor mangsa yang tertangkap masuk ke dalam perangkap."Kau ...." suara Victor bergetar, mencoba mempertahankan sisa wibawanya meski peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kau berani menarik pelatuk itu, video rekaman pembunuhan ayahku akan tersebar ke seluruh dunia. Sistem di ponselku ....""Sistem Dead Man's Switch milikmu yang terenkripsi itu?" potong Edward dengan nada mengejek yang sangat dingin.Dari sudut ruangan, Laura berjalan dengan langkah gemulai mendekati sofa. Ia memungut jas basah Victor, merogoh saku bagian dalamnya, dan mengeluarkan ponsel pintar milik pria itu. Dengan senyum seringai yang begitu mematikan, Laura mengetuk layar ya

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 63 - Memamerkan Tubuh

    Pukul sembilan tepat. Hujan badai yang mengguyur kota sejak sore belum juga mereda. Kilat sesekali menyambar, menerangi kaca jendela penthouse mewah di lantai empat puluh yang menjadi arena jebakan malam ini. Di dalam ruangan, lampu sengaja diredupkan, menyisakan pendaran keemasan dari lampu hias dan perapian elektrik. Alunan musik jazz klasik mengalun pelan, menyamarkan ketegangan yang mengudara kental.Pintu ganda penthouse terbuka dengan bunyi klik pelan. Victor Bald melangkah masuk, mengibaskan tetesan air hujan dari mantel panjangnya. Senyum pongah menghiasi wajah tirusnya yang angkuh. Matanya langsung tertuju pada sosok Laura yang tengah berdiri di dekat minibar, menuangkan cairan amber ke dalam dua gelas kristal.Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura menempel bak kulit kedua, mempertegas setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan gaun yang tinggi memamerkan paha putihnya yang jenjang setiap kali ia bergerak. Bagi Victor, pemandangan itu adalah trofi kemenangannya. Ia

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 62 - Candu Mengikat Jiwa

    Jarum jam di dinding marmer baru menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan deras yang mengguyur kota sejak senja kini berubah menjadi badai, menghantam kaca-kaca jendela mansion keluarga Bald dengan suara bergemuruh.Di ruang persenjataan bawah tanah yang tersembunyi di balik garasi utama, Edward berdiri di depan meja logam. Ia sedang memeriksa perangkat kloning peretas nirkabel seukuran kotak korek api, memastikan alat mematikan itu berfungsi sempurna sebelum pertemuan mereka dengan Victor pukul sembilan nanti. Pistol semi-otomatis dengan peredam suara sudah terselip rapi di balik jas hitamnya.Namun, indra predator Edward yang tajam tiba-tiba menangkap suara sekecil apa pun. Derit halus sol sepatu bot di atas lantai beton. Bukan hanya satu orang, melainkan tiga.Edward tidak membalikkan badan, tangannya tetap tenang merakit sisa peralatannya. "Kalian tahu, menyelinap di belakangku saat aku sedang memegang senjata adalah cara tercepat untuk mati."Tiga pria berseragam hitam melangkah kelu

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 61 - Umpan Berbisa Sang Ratu

    "Ternyata apa yang terlihat indah, terkadang tidak seindah itu ... apa aku sudah salah melangkah, ya?" batin Laura bergejolak.Pemandangan kota metropolitan yang membentang di bawah sana seakan menjadi saksi bisu dari keliaran yang meledak di lantai teratas menara Bald Corporation. Dinding kaca yang dingin berembun oleh napas Laura yang tersengal, berpadu dengan panas tubuh Edward yang mengungkungnya tanpa ampun. Setiap sentuhan, setiap ciuman yang dihujamkan Edward dipenuhi oleh rasa cemburu yang gelap, amarah yang mendidih, dan kepemilikan mutlak."Katakan padaku," geram Edward di sela-sela ciuman basahnya di leher Laura, jemarinya mencengkeram pinggul wanita itu dengan kuat, mengklaim setiap jengkal kulit yang berani ditatap oleh Victor beberapa menit lalu. "Katakan siapa penguasa tubuh ini, Laura.""Hanya kau... ahh... hanya kau, Edward," rintih Laura tertahan, jari-jarinya meremas erat rambut gelap pria itu, menariknya semakin dalam ke pusaran gairah yang menyesakkan dada.Penyat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status