Home / Rumah Tangga / Tukar Ranjang Puaskan Rasa / Bab 3 — Satu Kesepakatan

Share

Bab 3 — Satu Kesepakatan

Author: SamL9
last update publish date: 2026-06-30 00:57:07

Sejak percakapan singkat di koridor malam itu, Laura tidak lagi bisa memandang Faela seperti biasanya. Setiap kali perempuan muda itu menyuguhkan teh, menyapu lantai, atau sekadar menanyakan menu makan siang, pikiran Laura justru dipenuhi pertanyaan yang sama.

"Bagaimana rasanya menjadi Faela?" Pertanyaan itu terdengar gila. Bahkan Laura sendiri membencinya.

Dia memiliki semua yang diimpikan banyak perempuan. Rumah megah. Perhiasan mahal. Rekening yang tidak pernah kekurangan isi.

Namun, setiap malam dia tidur dengan perasaan hampa.

Sementara Faela ... Hidup sederhana. Tetapi sorot matanya selalu penuh kebahagiaan.

Sore itu hujan turun cukup deras.

Bald menelepon dari kantor. "Aku ada rapat dadakan. Mungkin pulang malam."

Laura menjawab singkat. "Iya."

Telepon ditutup. Rumah kembali sunyi.

Faela sedang mengepel lantai ruang keluarga ketika Laura memanggilnya. "Faela."

Perempuan itu segera menghentikan pekerjaannya. "Iya, Nyonya?"

"Temani saya minum teh."

Faela tampak bingung. Biasanya Laura menikmati waktu sendirian. Namun dia tetap mengangguk. "Baik."

Beberapa menit kemudian mereka duduk berhadapan di gazebo belakang rumah. Suasana hening. Hanya suara hujan yang membasahi taman.

Laura mengaduk tehnya pelan. "Sudah berapa lama kamu menikah?"

"Hampir tiga tahun."

"Belum punya anak?"

Faela tersenyum kecil. "Belum dikasih rezeki."

"Kalian sedih?"

"Kadang."

"Lalu?"

Faela memandang hujan. "Tapi Edward selalu bilang, selama kami masih bersama, kami masih punya alasan buat bersyukur."

Laura menundukkan kepala. Lagi. Nama Edward kembali muncul. Dan anehnya, setiap kali mendengar nama itu, dadanya terasa semakin sesak. "Kamu mencintai suamimu?"

Faela tertawa kecil. "Pertanyaan Nyonya aneh."

"Jawab saja."

"Sangat."

"Tidak pernah bosan?"

"Enggak."

"Kenapa?"

Faela berpikir sejenak. "Soalnya setiap hari Edward selalu bikin saya merasa dihargai."

Laura terdiam. Jawaban sederhana itu justru terasa seperti tamparan.

--------

Malam harinya ... Laura kembali gagal tidur. Dia membuka laci meja rias. Di dalamnya tersimpan hasil pemeriksaan dokter selama dua tahun terakhir.

Semua biaya. Semua obat. Semua terapi. Semuanya sudah dicoba. Namun hubungan mereka tetap terasa semakin jauh.

Laura mengusap wajahnya. Air mata perlahan menetes.

"Aku capek ...." Ucapan itu keluar begitu saja.

Dia tidak sadar sejak kapan dirinya mulai iri kepada perempuan yang hidup jauh di bawahnya.

---------

Keesokan paginya ... Edward mengantar Bald ke kantor. Rumah menjadi lebih lengang.

Laura berdiri cukup lama di depan jendela. Matanya mengikuti langkah Faela yang sedang menyiram bunga.

Entah dorongan apa yang akhirnya membuat Laura mengambil keputusan nekat. "Faela."

Perempuan itu menoleh. "Iya, Nyonya?"

"Masuk ke kamar saya."

Faela tampak heran. Namun dia tetap mengikuti. Begitu pintu kamar tertutup, Faela langsung berdiri kikuk.

"Nyonya ... ada yang salah?"

Laura menarik napas panjang. "Yang akan saya katakan... jangan sampai didengar siapa pun."

Wajah Faela mulai pucat. "Saya ... saya melakukan kesalahan?"

"Bukan."

"Lalu?"

Laura mengepalkan kedua tangannya. Tetapi keinginan itu sudah terlalu lama memenuhi pikirannya.

"Faela ...."

"Iya?"

"Saya mau meminta sesuatu."

Faela mengangguk pelan. "Kalau saya bisa, pasti saya bantu."

Laura tersenyum pahit. "Justru saya tidak yakin kamu akan mau."

Ruangan kembali sunyi. Laura memejamkan mata beberapa detik. Lalu mengucapkan kalimat yang selama berhari-hari hanya berputar di kepalanya.

"Aku ingin ... bertukar tempat denganmu."

Faela mengernyit. "Maksud Nyonya?"

Laura menatap lurus ke arahnya. "Hanya satu malam."

Faela masih belum memahami.

Laura akhirnya berkata lebih jelas. "Aku ingin kamu berada di kamar Bald."

Seketika wajah Faela kehilangan warna. Sedangkan Laura melanjutkan dengan suara yang bergetar.

"... dan aku berada di kamar Edward."

Cangkir teh yang dipegang Faela langsung terlepas.

Prang!

Pecahannya berserakan di lantai.

"A-apa?" Faela mundur beberapa langkah.

Wajahnya dipenuhi ketakutan. "Nyonya bercanda ... kan?"

Laura menggeleng pelan. "Aku serius."

"Tidak ... tidak mungkin ...." Faela bahkan merasa lututnya lemas. "Nyonya ... itu dosa."

"Aku tahu."

"Kalau Tuan tahu ...."

"Dia tidak akan tahu."

Faela menggeleng kuat-kuat. "Saya enggak bisa."

Laura mendekat. "Hanya satu malam."

"Tidak!"

"Saya mohon."

"Nyonya jangan seperti ini."

Faela benar-benar panik. Dia tidak pernah membayangkan perempuan yang selama ini dihormatinya justru mengucapkan permintaan seperti itu.

Laura memegang kedua tangan Faela. "Aku akan memberimu sepuluh juta."

Faela membelalakkan mata. "Sepuluh ... juta?"

"Hanya untuk satu malam."

Faela buru-buru menarik tangannya. "Bukan soal uang."

"Dua puluh juta."

"Nyonya!"

"Tiga puluh juta kalau perlu." Air mata Laura tiba-tiba mengalir.

"Aku cuma ingin tahu rasanya dicintai seperti kamu dicintai Edward."

Kalimat itu membuat Faela membeku. Untuk pertama kalinya dia melihat Laura bukan sebagai perempuan kaya. Melainkan seorang istri yang sedang putus asa.

Namun, seberapa pun kasihan yang dirasakan Faela, permintaan itu tetap tidak masuk akal. "Nyonya ...."

Suara Faela bergetar. "Edward bukan barang yang bisa dipinjam."

Laura langsung menundukkan kepala. "Aku tahu."

"Saya juga bukan perempuan seperti itu."

"Aku tahu."

"Tolong ... jangan minta saya lagi." Faela berbalik hendak keluar. Namun sebelum sempat menyentuh gagang pintu, suara Laura kembali menghentikannya.

"Kalau kamu menolak ...."

Faela perlahan menoleh.

"... aku tidak tahu apakah setelah ini aku masih bisa melihatmu bekerja di rumah ini."

Ruangan mendadak sunyi. Faela membeku. Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada mengancam. Justru terdengar lirih. Tetapi maknanya begitu jelas. Pekerjaan ini adalah satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Jika dipecat ... Edward dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Laura memejamkan mata. Dia membenci dirinya sendiri karena telah mengatakan itu. Namun rasa putus asa telah mengalahkan akal sehatnya.

Air mata Faela mulai jatuh. "Nyonya ...."

"Aku benar-benar minta maaf."

"Kenapa harus saya?"

Laura menjawab pelan. "Karena sejak malam itu ... aku tidak bisa melupakan kebahagiaan yang kulihat dalam rumah tangga kalian."

Tangis Faela pecah. Dia tidak tahu harus marah, takut, atau iba.

Sementara Laura hanya berdiri mematung. Dua perempuan dari dunia yang berbeda kini sama-sama terjebak dalam keputusasaan.

Dan tanpa mereka sadari ...

Di luar kamar, sebuah bayangan baru saja berhenti melangkah ketika mendengar suara pecahan cangkir dari dalam. Seseorang berdiri di balik pintu. Mengerutkan dahi. Lalu perlahan mendekat untuk mencoba mendengar apa yang sedang terjadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kwetiau jumbo
eh buset si nyonyaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 65 - Mahkota Tanpa Cela

    "Kalau aku jadi ratu ... kamu harus jadi rajanya." Guntur kembali menggelegar, menggetarkan kaca-kaca jendela penthouse mewah itu hingga berderak pelan. Namun di dalam ruangan, badai yang jauh lebih liar tengah berlangsung. Edward mengangkat tubuh Laura dengan mudah, menjauhkannya dari genangan darah yang perlahan meresap ke dalam karpet sutra. Ia membawa ratunya menuju ranjang king-size di kamar utama penthouse, membaringkan wanita itu dengan sentuhan yang memadukan kekasaran seorang pembunuh dan pemujaan yang buta. Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura dilucuti tanpa sisa kesabaran, robek di bagian bahu tatkala tangan kokoh Edward merenggutnya. Pria itu mengungkung tubuh Laura sepenuhnya, menatap setiap inci kulit wanita itu dengan mata yang gelap, lapar, dan sangat posesif. "Tidak akan ada lagi yang berani menatapmu, apalagi menyentuhmu," geram Edward rendah, napas panasnya menerpa dada Laura. "Malam ini, aku akan menghapus setiap ingatan tentang ayah maupun anak sialan it

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 64 - Darah di Atas Karpet Sutra

    "Dasar lelaki tak tahu diri! Sial!"Tubuh Victor menegang kaku bagaikan patung batu. Hawa dingin dari laras pistol peredam milik Edward yang menempel di tengkuknya seolah membekukan darah di pembuluhnya. Sisa-sisa arogansi yang beberapa detik lalu menguasai wajah pewaris Bald itu lenyap tak berbekas, digantikan oleh kepanikan instingtual seekor mangsa yang tertangkap masuk ke dalam perangkap."Kau ...." suara Victor bergetar, mencoba mempertahankan sisa wibawanya meski peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kau berani menarik pelatuk itu, video rekaman pembunuhan ayahku akan tersebar ke seluruh dunia. Sistem di ponselku ....""Sistem Dead Man's Switch milikmu yang terenkripsi itu?" potong Edward dengan nada mengejek yang sangat dingin.Dari sudut ruangan, Laura berjalan dengan langkah gemulai mendekati sofa. Ia memungut jas basah Victor, merogoh saku bagian dalamnya, dan mengeluarkan ponsel pintar milik pria itu. Dengan senyum seringai yang begitu mematikan, Laura mengetuk layar ya

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 63 - Memamerkan Tubuh

    Pukul sembilan tepat. Hujan badai yang mengguyur kota sejak sore belum juga mereda. Kilat sesekali menyambar, menerangi kaca jendela penthouse mewah di lantai empat puluh yang menjadi arena jebakan malam ini. Di dalam ruangan, lampu sengaja diredupkan, menyisakan pendaran keemasan dari lampu hias dan perapian elektrik. Alunan musik jazz klasik mengalun pelan, menyamarkan ketegangan yang mengudara kental.Pintu ganda penthouse terbuka dengan bunyi klik pelan. Victor Bald melangkah masuk, mengibaskan tetesan air hujan dari mantel panjangnya. Senyum pongah menghiasi wajah tirusnya yang angkuh. Matanya langsung tertuju pada sosok Laura yang tengah berdiri di dekat minibar, menuangkan cairan amber ke dalam dua gelas kristal.Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura menempel bak kulit kedua, mempertegas setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan gaun yang tinggi memamerkan paha putihnya yang jenjang setiap kali ia bergerak. Bagi Victor, pemandangan itu adalah trofi kemenangannya. Ia

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 62 - Candu Mengikat Jiwa

    Jarum jam di dinding marmer baru menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan deras yang mengguyur kota sejak senja kini berubah menjadi badai, menghantam kaca-kaca jendela mansion keluarga Bald dengan suara bergemuruh.Di ruang persenjataan bawah tanah yang tersembunyi di balik garasi utama, Edward berdiri di depan meja logam. Ia sedang memeriksa perangkat kloning peretas nirkabel seukuran kotak korek api, memastikan alat mematikan itu berfungsi sempurna sebelum pertemuan mereka dengan Victor pukul sembilan nanti. Pistol semi-otomatis dengan peredam suara sudah terselip rapi di balik jas hitamnya.Namun, indra predator Edward yang tajam tiba-tiba menangkap suara sekecil apa pun. Derit halus sol sepatu bot di atas lantai beton. Bukan hanya satu orang, melainkan tiga.Edward tidak membalikkan badan, tangannya tetap tenang merakit sisa peralatannya. "Kalian tahu, menyelinap di belakangku saat aku sedang memegang senjata adalah cara tercepat untuk mati."Tiga pria berseragam hitam melangkah kelu

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 61 - Umpan Berbisa Sang Ratu

    "Ternyata apa yang terlihat indah, terkadang tidak seindah itu ... apa aku sudah salah melangkah, ya?" batin Laura bergejolak.Pemandangan kota metropolitan yang membentang di bawah sana seakan menjadi saksi bisu dari keliaran yang meledak di lantai teratas menara Bald Corporation. Dinding kaca yang dingin berembun oleh napas Laura yang tersengal, berpadu dengan panas tubuh Edward yang mengungkungnya tanpa ampun. Setiap sentuhan, setiap ciuman yang dihujamkan Edward dipenuhi oleh rasa cemburu yang gelap, amarah yang mendidih, dan kepemilikan mutlak."Katakan padaku," geram Edward di sela-sela ciuman basahnya di leher Laura, jemarinya mencengkeram pinggul wanita itu dengan kuat, mengklaim setiap jengkal kulit yang berani ditatap oleh Victor beberapa menit lalu. "Katakan siapa penguasa tubuh ini, Laura.""Hanya kau... ahh... hanya kau, Edward," rintih Laura tertahan, jari-jarinya meremas erat rambut gelap pria itu, menariknya semakin dalam ke pusaran gairah yang menyesakkan dada.Penyat

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 60 - Ultimatum Sang Pewaris

    Ketegangan di ruang rapat lantai teratas itu terasa begitu pekat, seolah menyedot seluruh oksigen yang tersisa. Laras pistol Edward masih terarah kokoh di antara kedua mata Victor Bald. Jari telunjuk pengawal itu sudah menekan pelatuk setengah jalan. Satu tarikan napas saja, dan kepala pewaris sah keluarga Bald itu akan berlubang.Namun Laura, dengan ketenangan yang mengerikan, mengangkat tangan kirinya dan menyentuh lengan Edward yang tegang."Turunkan senjatamu, Edward," perintah Laura pelan, namun nadanya mutlak tak terbantahkan.Rahang Edward mengeras hingga otot-ototnya menonjol. Matanya memancarkan kilatan pembunuh yang haus darah. "Dia memegang bom waktu, Laura. Jika aku membunuhnya sekarang, kita bisa membersihkan tim IT-nya nanti.""Dan memicu protokol keamanan otomatis yang akan mengirimkan video itu ke seluruh dunia dalam hitungan menit?" sahut Victor dengan tawa meremehkan, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku mantel. "Oh, ayolah, anjing penjaga. Jangan bodoh. Kau pi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status