LOGINSejak percakapan singkat di koridor malam itu, Laura tidak lagi bisa memandang Faela seperti biasanya. Setiap kali perempuan muda itu menyuguhkan teh, menyapu lantai, atau sekadar menanyakan menu makan siang, pikiran Laura justru dipenuhi pertanyaan yang sama.
"Bagaimana rasanya menjadi Faela?" Pertanyaan itu terdengar gila. Bahkan Laura sendiri membencinya. Dia memiliki semua yang diimpikan banyak perempuan. Rumah megah. Perhiasan mahal. Rekening yang tidak pernah kekurangan isi. Namun, setiap malam dia tidur dengan perasaan hampa. Sementara Faela ... Hidup sederhana. Tetapi sorot matanya selalu penuh kebahagiaan. Sore itu hujan turun cukup deras. Bald menelepon dari kantor. "Aku ada rapat dadakan. Mungkin pulang malam." Laura menjawab singkat. "Iya." Telepon ditutup. Rumah kembali sunyi. Faela sedang mengepel lantai ruang keluarga ketika Laura memanggilnya. "Faela." Perempuan itu segera menghentikan pekerjaannya. "Iya, Nyonya?" "Temani saya minum teh." Faela tampak bingung. Biasanya Laura menikmati waktu sendirian. Namun dia tetap mengangguk. "Baik." Beberapa menit kemudian mereka duduk berhadapan di gazebo belakang rumah. Suasana hening. Hanya suara hujan yang membasahi taman. Laura mengaduk tehnya pelan. "Sudah berapa lama kamu menikah?" "Hampir tiga tahun." "Belum punya anak?" Faela tersenyum kecil. "Belum dikasih rezeki." "Kalian sedih?" "Kadang." "Lalu?" Faela memandang hujan. "Tapi Edward selalu bilang, selama kami masih bersama, kami masih punya alasan buat bersyukur." Laura menundukkan kepala. Lagi. Nama Edward kembali muncul. Dan anehnya, setiap kali mendengar nama itu, dadanya terasa semakin sesak. "Kamu mencintai suamimu?" Faela tertawa kecil. "Pertanyaan Nyonya aneh." "Jawab saja." "Sangat." "Tidak pernah bosan?" "Enggak." "Kenapa?" Faela berpikir sejenak. "Soalnya setiap hari Edward selalu bikin saya merasa dihargai." Laura terdiam. Jawaban sederhana itu justru terasa seperti tamparan. -------- Malam harinya ... Laura kembali gagal tidur. Dia membuka laci meja rias. Di dalamnya tersimpan hasil pemeriksaan dokter selama dua tahun terakhir. Semua biaya. Semua obat. Semua terapi. Semuanya sudah dicoba. Namun hubungan mereka tetap terasa semakin jauh. Laura mengusap wajahnya. Air mata perlahan menetes. "Aku capek ...." Ucapan itu keluar begitu saja. Dia tidak sadar sejak kapan dirinya mulai iri kepada perempuan yang hidup jauh di bawahnya. --------- Keesokan paginya ... Edward mengantar Bald ke kantor. Rumah menjadi lebih lengang. Laura berdiri cukup lama di depan jendela. Matanya mengikuti langkah Faela yang sedang menyiram bunga. Entah dorongan apa yang akhirnya membuat Laura mengambil keputusan nekat. "Faela." Perempuan itu menoleh. "Iya, Nyonya?" "Masuk ke kamar saya." Faela tampak heran. Namun dia tetap mengikuti. Begitu pintu kamar tertutup, Faela langsung berdiri kikuk. "Nyonya ... ada yang salah?" Laura menarik napas panjang. "Yang akan saya katakan... jangan sampai didengar siapa pun." Wajah Faela mulai pucat. "Saya ... saya melakukan kesalahan?" "Bukan." "Lalu?" Laura mengepalkan kedua tangannya. Tetapi keinginan itu sudah terlalu lama memenuhi pikirannya. "Faela ...." "Iya?" "Saya mau meminta sesuatu." Faela mengangguk pelan. "Kalau saya bisa, pasti saya bantu." Laura tersenyum pahit. "Justru saya tidak yakin kamu akan mau." Ruangan kembali sunyi. Laura memejamkan mata beberapa detik. Lalu mengucapkan kalimat yang selama berhari-hari hanya berputar di kepalanya. "Aku ingin ... bertukar tempat denganmu." Faela mengernyit. "Maksud Nyonya?" Laura menatap lurus ke arahnya. "Hanya satu malam." Faela masih belum memahami. Laura akhirnya berkata lebih jelas. "Aku ingin kamu berada di kamar Bald." Seketika wajah Faela kehilangan warna. Sedangkan Laura melanjutkan dengan suara yang bergetar. "... dan aku berada di kamar Edward." Cangkir teh yang dipegang Faela langsung terlepas. Prang! Pecahannya berserakan di lantai. "A-apa?" Faela mundur beberapa langkah. Wajahnya dipenuhi ketakutan. "Nyonya bercanda ... kan?" Laura menggeleng pelan. "Aku serius." "Tidak ... tidak mungkin ...." Faela bahkan merasa lututnya lemas. "Nyonya ... itu dosa." "Aku tahu." "Kalau Tuan tahu ...." "Dia tidak akan tahu." Faela menggeleng kuat-kuat. "Saya enggak bisa." Laura mendekat. "Hanya satu malam." "Tidak!" "Saya mohon." "Nyonya jangan seperti ini." Faela benar-benar panik. Dia tidak pernah membayangkan perempuan yang selama ini dihormatinya justru mengucapkan permintaan seperti itu. Laura memegang kedua tangan Faela. "Aku akan memberimu sepuluh juta." Faela membelalakkan mata. "Sepuluh ... juta?" "Hanya untuk satu malam." Faela buru-buru menarik tangannya. "Bukan soal uang." "Dua puluh juta." "Nyonya!" "Tiga puluh juta kalau perlu." Air mata Laura tiba-tiba mengalir. "Aku cuma ingin tahu rasanya dicintai seperti kamu dicintai Edward." Kalimat itu membuat Faela membeku. Untuk pertama kalinya dia melihat Laura bukan sebagai perempuan kaya. Melainkan seorang istri yang sedang putus asa. Namun, seberapa pun kasihan yang dirasakan Faela, permintaan itu tetap tidak masuk akal. "Nyonya ...." Suara Faela bergetar. "Edward bukan barang yang bisa dipinjam." Laura langsung menundukkan kepala. "Aku tahu." "Saya juga bukan perempuan seperti itu." "Aku tahu." "Tolong ... jangan minta saya lagi." Faela berbalik hendak keluar. Namun sebelum sempat menyentuh gagang pintu, suara Laura kembali menghentikannya. "Kalau kamu menolak ...." Faela perlahan menoleh. "... aku tidak tahu apakah setelah ini aku masih bisa melihatmu bekerja di rumah ini." Ruangan mendadak sunyi. Faela membeku. Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada mengancam. Justru terdengar lirih. Tetapi maknanya begitu jelas. Pekerjaan ini adalah satu-satunya sumber penghasilan mereka. Jika dipecat ... Edward dan dirinya harus memulai semuanya dari nol. Laura memejamkan mata. Dia membenci dirinya sendiri karena telah mengatakan itu. Namun rasa putus asa telah mengalahkan akal sehatnya. Air mata Faela mulai jatuh. "Nyonya ...." "Aku benar-benar minta maaf." "Kenapa harus saya?" Laura menjawab pelan. "Karena sejak malam itu ... aku tidak bisa melupakan kebahagiaan yang kulihat dalam rumah tangga kalian." Tangis Faela pecah. Dia tidak tahu harus marah, takut, atau iba. Sementara Laura hanya berdiri mematung. Dua perempuan dari dunia yang berbeda kini sama-sama terjebak dalam keputusasaan. Dan tanpa mereka sadari ... Di luar kamar, sebuah bayangan baru saja berhenti melangkah ketika mendengar suara pecahan cangkir dari dalam. Seseorang berdiri di balik pintu. Mengerutkan dahi. Lalu perlahan mendekat untuk mencoba mendengar apa yang sedang terjadi.Perintah itu adalah pelatuk yang meledakkan kewarasan Edward. Sang algojo mengaum rendah, mengangkat tubuh Laura dari lantai dan membantingnya dengan kasar namun penuh perhitungan ke atas ranjang kabin yang luas. Jubah sutra hitam itu terlepas sepenuhnya, mengekspos kemolekan sempurna Laura di bawah cahaya temaram pesawat.Edward merobek sisa pakaiannya sendiri, memperlihatkan otot-ototnya yang bergemuruh tegang dan kejantanannya yang telah mengeras buas, berkedut menuntut pelampiasan dari rasa frustrasi dan protektivitas yang membakar dadanya.Pria itu merangkak naik, mengungkung tubuh Laura layaknya predator yang mengunci mangsanya. "Dia hanya masa lalu yang sudah membusuk, Laura. Sementara aku... aku adalah masa depanmu. Aku adalah kenyataanmu!"Edward menunduk, menghisap salah satu payudara Laura dengan rakus, menggigit putingnya yang mengeras hingga Laura menjerit nikmat. Tangan Edward yang besar dan kapalan menyusuri paha jenjang sang Ratu, secara paksa melebarkan kedua kaki wan
Di tengah layar merah itu, sebuah video perlahan muncul. Kualitasnya sangat jernih, direkam dalam sebuah ruangan kerja bergaya klasik yang sangat familiar bagi mereka berdua.Di dalam video itu, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam pinstripe, menghisap cerutu Kuba dengan keangkuhan seorang kaisar. Matanya yang tajam dan dingin menatap lurus menembus lensa kamera.Itu adalah Silas Bald. Ayah Laura.Edward menahan napas. Jantung Laura berdetak satu ketukan lebih cepat. Silas telah mati, tubuhnya telah mereka lihat sendiri, namun hantu penguasa lama itu kini menatap mereka dari balik alam kubur."Jika rekaman ini diputar, itu berarti dua hal," suara bariton Silas yang berat dan berwibawa menggema di dalam kabin jet. "Pertama, Ordo Bayangan telah runtuh. Kedua, putriku, Laura... kau telah mengambil alih takhta dan memegang Apex Drive."Silas dalam video itu menghembuskan asap cerutunya pelan."Kau mungkin mengira kau sudah menang, Putriku. Kau mengira dengan membunuh par
Kobaran api dari reruntuhan kendaraan taktis milisi menjilat langit malam gurun, mengubah kanvas gelap itu menjadi lautan jingga yang membara. Di tengah pusaran debu, asap mesiu, dan bau daging terbakar, ciuman beringas antara Laura dan Edward menjadi satu-satunya sumber kehidupan, sebuah sirkuit gairah yang menyedot energi dari kematian di sekeliling mereka.Tangan besar Edward yang berlumuran darah segar merengkuh pinggang Laura, mengangkat tubuh Ratu-nya hingga kaki jenjang wanita itu melingkar erat di pinggangnya. Sang algojo berjalan menembus panggung pembantaian itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka, membawa Laura kembali ke dalam perut jet supersonik yang mesinnya masih menderu konstan.Begitu pintu hidrolik pesawat tertutup, mengunci hawa panas gurun dan pemandangan neraka di luar sana, Edward menjatuhkan punggung Laura ke dinding panel kabin."Kau selalu tahu cara membuatku gila, Laura," geram Edward parau. Ia mencium rahang wanita itu, turun ke lehernya, menghisap kulit p
Udara malam di atas perairan internasional Mediterania terasa membekukan, namun di dalam kabin jet supersonik yang melesat membelah awan menuju Timur Tengah, suhu terasa mendidih.Laura duduk bersandar di kursi kulit Nappa, membiarkan Edward membalutkan kembali perban baru di perutnya yang masih menyisakan nyeri tumpul. Sang algojo melakukan tugasnya dengan kehati-hatian seorang pemuja, jemarinya yang kapalan menyentuh kulit pucat sang Nyonya Besar seringan bulu."Timur Tengah bukanlah arena bermain seperti Eropa atau Amerika, Laura," suara Edward mengalun berat, memecah kesunyian kabin yang hanya diisi dengung pelan mesin jet. Matanya tak lepas dari luka Laura, namun pikirannya membedah setiap ancaman yang menanti mereka. "Di sana, uang dan ancaman politik tidak selalu berarti. Faksi-faksi ini digerakkan oleh fanatisme dan darah. Mereka tidak peduli jika kau memegang Interpol di tanganmu."Laura tersenyum miring, senyum sosiopat yang selalu berhasil memabukkan akal sehat Edward. Ia m
Hanya butuh waktu enam puluh lima menit bagi Edward untuk melintasi langit malam dari Washington D.C. kembali ke Manhattan menggunakan jet tempur siluman berkecepatan supersonik yang dulu menjadi mainan rahasia Dewan Eropa. Di bawah sana, dunia sedang terbakar oleh kepanikan massal. Berita kematian Senator Sterling menyiarkan teror tanpa henti, memicu kejatuhan pasar saham global dan status siaga militer tingkat tertinggi.Namun di lantai sembilan puluh sembilan Bald Tower, kesunyian yang mencekik hanya dipecahkan oleh suara desisan pelan pintu lift pribadi.Edward melangkah keluar dari kabin lift. Setelan jas hitamnya yang mewah kini kusut, kemeja putihnya ternoda oleh percikan darah Sterling yang telah mengering, dan aroma mesiu serta besi menguar pekat dari pori-porinya. Sang algojo berjalan melewati pilar-pilar marmer dengan langkah berat nan beringas, matanya yang kelam menyapu kegelapan penthouse mencari tuhan satu-satunya.Laura masih berada di atas sofa kulit Nappa, jubah sutr
Lampu sorot berkekuatan ribuan watt menyapu kemegahan aula National Building Museum di Washington D.C. Ribuan pasang mata, kamera televisi dari seluruh jaringan media nasional, dan riuh rendah tepuk tangan menyambut langkah tegap Senator Robert Sterling menuju mimbar. Spanduk merah, putih, dan biru raksasa membentang di belakangnya, menggemakan slogan kampanye kepresidenan yang menjanjikan era baru tanpa korupsi dan bayang-bayang masa lalu.Sterling tersenyum lebar, melambaikan tangannya kepada para pendukungnya. Di balik senyum karismatik itu, dada sang senator bergemuruh oleh kelegaan yang luar biasa. Ia telah mendengar rumor dari Eropa dan New York. Silas Bald telah mati. Tujuh penguasa Ordo Bayangan telah menjadi abu. Rantai tak kasatmata yang mencekik lehernya selama satu dekade terakhir kini telah hancur. Ia merasa tak tersentuh. Ia merasa menjadi tuhan atas nasibnya sendiri.Tiga ratus enam puluh mil dari sana, di dalam kemewahan penthouse lantai sembilan puluh sembilan Bald To







