Masuk
~ PASANGAN BERZ!N4 ~
Rintik hujan yang turun tak menyurutkan hati seorang Cataleya untuk bertemu pujaan hatinya. Seminggu tak bertemu seperti sewindu saja rasanya. Setelah dua jam mengendarai mobil hitam yang menjadi teman setia akhirnya Leya sampai juga di dalam garasi rumah minimalis miliknya. Senyum ceria tak henti-henti terukir di wajahnya. "Mas Abram pasti senang dengan kejutanku ini, untung saja Mbak Sofa bisa diajak kerja sama. Jadi aku bisa izin pulang lebih cepat," gumam Leya sembari menggapai paperbag yang berisi cake kesukaan suaminya. Tak lupa sebuah buket rangkaian bunga Lili putih yang indah melambangkan kesetiaan. Hujan kembali menggelegar, kilatnya menyambar-nyambar seakan tengah murka pada dunia. "Astaghfirullah, kenapa cuaca semakin buruk sekali. Sepanjang jalan hujan saja, tapi untung aku sudah di rumah. Tapi ... apa mungkin Mas Abram sedang tidur?" Kening Leya terlipat dalam melihat suasana rumahnya yang tampak begitu sepi seakan tak berpenghuni. Dia mengeluarkan kunci dari dalam tas yang terlampir di bahunya. Dengan langkah pelan dia melangkah masuk ke dalam rumah yang minim pencahayaan. Leya tak ada niat untuk memanggil nama suaminya ataupun penghuni rumah yang lainnya. Dia ingin membuat kejutan spesial untuk suaminya di hari anniversary pernikahan mereka. Sebagai wanita karier yang memiliki kedudukan cukup tinggi di perusahaan mengharuskan dirinya selalu siap ditugaskan ke mana saja. Satu minggu Leya tak pulang ke rumah, dia harus menghandle anak cabang perusahaan di luar kota. Leya terus melangkah ke kamar dengan perasaan yang berdebar. Terbayang dalam benaknya saat ini bagaimana ekspresi sang suami yang terkejut dan bahagia. "Ahhh!" Suara rintihan terdengar sayup-sayup dari balik pintu membuat tubuh Leya terpaku sesaat. Dadanya berdesir dengan sejuta tanda tanya di dalam benaknya. Di balik pintu itu adalah ranjang peraduan miliknya dan juga Abram. Jika dia berada di sini lalu siapa yang ada di dalam sana? Suara rintihan itu semakin jelas terdengar di balik gemuruh hujan yang menggelegar saat langkah kakinya semakin mendekat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tubuhnya pun sedikit bergetar dengan kedua tangan menggenggam erat hadiah yang dia bawa. Leya bukanlah anak kecil yang tak tahu arti dari suara-suara yang dia dengar saat ini. Tetapi dirinya masih berusaha untuk menyangkal jika bukan suaminya yang ada di balik pintu itu. Tapi di detik Leya membuka celah pintu itu sedikit, saat itu juga pertahanan hatinya hancur. Air mata menetes tak dapat dia bendung. Rasa sakit kecewa bercampur menjadi satu saat melihat sepasang anak manusia tengah menikmati keindahan surga dunia. Keduanya tanpa busana tengah berpacu dengan liar untuk mencapai kepuasan. Lengkuhan-lengkuhan nikmat mengalun seperti ribuan anak panah yang terlepas dan menancap di tubuh Leya. Kepala wanita berambut panjang yang tengah berada di atas suaminya sedikit berbalik. Wajahnya terlihat nyata di mata Leya. Tubuh Leya terhuyung kebelakang dan membentur tembok. Kakinya gemetar seakan tak mampu menopang tubuh kurusnya itu. "Arsya dan Mas Abram," ucapnya lirih. Wajahnya tampak begitu pucat seakan darah tak mengalir di sana. Di bawah derasnya hujan suara rintihan dan jeritan itu kian bergema seakan hanya ada mereka berdua di rumah itu. Air mata Leya kian membanjiri pipi. "Di mana Bi Imah dan Pak Nanang? Apa mereka juga ikut menyembunyikan ini semua dariku?" gumam Leya yang merasa heran tak ada siapa-siapa di rumah itu. Dia bahkan baru sadar jika dari awal pintu pagar sudah terbuka tanpa adanya satpam yang biasa bertugas jaga. Leya berdiri dan bergegas pergi. Dirinya tak mampu lagi untuk mendengar suara-suara yang menyesakkan dadanya itu. Bodohnya dia, bukannya mendatangi dan menghajar pasangan Zina itu. Leya justru berlari keluar rumah membawa mobilnya kembali pergi melaju di bawah derasnya hujan. ~ ~ ~ Di antara hiruk pikuk jalan Suratna yang ada di tengah kota, terdapat Leya yang duduk termenung seorang diri sembari memeluk lututnya. Leya yang tak tahu harus pergi kemana akhirnya terdampar di sebuah hotel bintang lima yang di suguhi Pemandangan kota X di penuhi dengan gedung-gedung pencakar langit. Ponsel berdering berulang kali. Leya yang tidak tidur semalaman hanya melirik sekilas pada ponselnya yang ada di atas meja, lalu kembali menatap hampa ke arah luar balkon. Leya yang melamun pun tak menyadari seseorang kini telah menemaninya dan tengah berdiri di sampingnya. Usapan lembut di kepala menyadarkan Leya dan sontak dia menoleh. Menyadari siapa yang ada di sebelahnya, tanpa suara ataupun untaian kata. Wanita cantik yang sudah berumur 28 tahun itu langsung memeluk pinggul wanita yang lebih tua 4 tahun darinya dengan derai air mata yang kembali membanjiri. "Kau membuatku panik Leya. Sudah lama sekali sejak 13 tahun yang lalu kamu bersikap seperti ini. Ada apa?" tanya wanita tak kalah cantik itu padanya. Tangan wanita itu masih mengusap punggung Leya, memberikan jeda untuknya menenangkan diri agar dapat bercerita. "Di-dia ... Mas Abram, dia mengkhianatiku Asna. Dia menduakanku. Semalam aku tak sengaja memergokinya sedang tidur dengan sahabatku sendiri." Asna terkejut. Dia menarik dagu Leya untuk menatap wajahnya. Mata bengkak dan sembab Leya cukup menjelaskan sudah begitu lama wanita itu menangis. "Apa Arsya yang kamu maksud?" Leya menganggukkan kepala. "Lalu kamu hanya akan diam saja, menangis dan meratap seorang diri di sini dan membiarkan mereka bersenang-senang atas penderitaanmu!" "Lalu aku harus apa Asna? Aku harus apa?" tanya Leya frustasi. Otaknya terasa buntu dan tak mampu untuk berpikir. Semangat hidupnya seakan telah pergi jauh meninggalkannya begitu saja. "Hapus air matamu!" Asna menggerakkan kedua jempolnya untuk mengusap linangan air mata di kedua sisi pipi sepupunya. Tatapan wanita itu begitu dalam dan penuh amarah. "Satu tusukan yang mereka berikan padamu kembalikan puluhan kali lipat agar rasa sakitmu bisa mereka berdua rasakan hingga datang mengemis di bawah kakimu! Balas mereka Leya, jangan terpuruk sendiri seperti ini. Lakukan apa pun yang bisa membuat mereka meminta ampun padamu." "Caranya?" tanya Leya seperti orang bodoh. Asna mendekatkan bibirnya di telinga Leya. Mata Leya melebar sempurna mendengarnya, dia mulai membisikkan rencana yang sama sekali tak pernah terlintas di otak Cataleya. "Apa aku bisa?" Lagi-lagi Leya ragu pada dirinya sendiri. Terkadang dia tak punya keberanian sebesar yang Asna miliki. "Manfaatkan wajah cantikmu ini, lalaki mana yang tak akan tergoda. Rebut kembali apa yang sudah dia curi darimu dan ambil miliknya juga sekalian. Sisanya biar aku yang atasi," ucap wanita bertubuh langsing berbalut gaun seksi itu menghasut.Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Liliana duduk bersandar di sofa empuk sembari memeluk sebuah bantal kecil. Tatapannya mengarah ke televisi yang menayangkan acara hiburan malam, tetapi sorot matanya kosong. Sejak beberapa menit lalu, gambar di layar berganti berkali-kali tanpa benar-benar ia perhatikan. Pikirannya melayang entah ke mana.Ia mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.Sejak saat itu, putra semata wayangnya itu memang memastikan ia tidak pernah kekurangan apa pun. Seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi tanpa cela. Gaji para asisten rumah tangga dibayar tepat waktu, biaya dapur selalu tersedia, tagihan rumah dibereskan, bahkan kebutuhan sehari-harinya pun tak pernah terlupakan. Namun, ada satu hal yang membuat Liliana merasa hidupnya kehilangan warna.Dulu, hampir setiap minggu ia menghabiskan waktu berkeliling pusat perbelanjaan. Melihat etalase butik-butik mewah, mencoba tas keluaran terbaru, membeli sepatu,
Malam menyelimuti kota dengan langit yang dipenuhi taburan bintang. Dari balkon lantai dua, Nadira berdiri memeluk kedua lengannya sendiri. Angin malam mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya, sementara pandangannya lurus mengarah ke jalan raya di depan rumah.Lampu-lampu kendaraan membentuk garis cahaya yang terus bergerak tanpa henti. Sesekali suara klakson dan deru mesin memecah keheningan, tetapi tak satu pun mampu mengusir perasaan ganjil yang sejak beberapa hari terakhir mengganggu pikirannya.Entah mengapa, setiap kali ia berdiri di balkon itu, selalu muncul perasaan seolah ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.Tatapannya kembali menyapu seberang jalan.Deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang trotoar bergoyang pelan diterpa angin. Bayangan batang-batang pohon memanjang di bawah cahaya lampu jalan, menciptakan siluet yang membuat suasana terasa semakin sunyi.Nadira mengembuskan napas panjang."Mungkin aku hanya
Tekanan dan ancaman dari Sartika sama sekali tidak membuat Nirwan gentar. Ia justru menjadikannya sebagai pemicu untuk bergerak lebih cepat.Siang dan malam ia habiskan di kantor, menyusun strategi, menata ulang keuangan perusahaan, serta mengambil keputusan-keputusan besar yang penuh risiko.Hanya dalam hitungan beberapa hari, berkat kecerdasan, ketegasan, dan kepiawaiannya dalam memimpin, Nirwan berhasil membawa perusahaannya keluar dari ambang kebangkrutan. Operasional yang sempat lumpuh kini kembali berjalan normal. Kepercayaan para mitra perlahan pulih, sementara para karyawan akhirnya bisa bernapas lega.Meski demikian, badai yang sempat menerpa tetap meninggalkan luka. Kerugian finansial dalam jumlah besar tak mungkin dihindari. Namun, bagi Nirwan, kehilangan uang jauh lebih mudah dipulihkan daripada kehilangan orang yang ia cintai.Kini, setelah urusan perusahaan kembali stabil, tak ada lagi yang mampu menghalanginya untuk menuntaskan perhitungan dengan
Pagi itu, Liliana keluar dari rumah seorang diri dengan membawa tas belanja kain yang sudah cukup lama ia gunakan. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai perhitungan. Biasanya urusan berbelanja selalu dilakukan oleh pembantu rumah tangga. Namun, sejak ia tak lagi bisa leluasa menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang disukainya, ia memilih mengambil alih tugas berbelanja kebutuhan dapur. Setidaknya, berjalan menyusuri lorong-lorong supermarket dan memilih sendiri sayur-mayur mampu sedikit mengobati hobinya berbelanja.Di dalam dompetnya hanya tersimpan sejumlah uang yang telah ia sisihkan khusus untuk memenuhi kebutuhan rumah selama satu minggu.Sesampainya di supermarket, Liliana mendorong troli perlahan menyusuri setiap lorong. Tatapannya tak lagi tertuju pada merek-merek premium yang dahulu selalu menjadi pilihannya. Kini, ia justru sibuk membandingkan label harga satu per satu dengan cermat."Yang ini masih cukup sampai minggu depan," gu
Sinar mentari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menghangatkan kamar yang masih diselimuti suasana tenang. Nadira menggeliat pelan sebelum perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, menikmati pagi yang damai.Saat memiringkan tubuhnya, senyum tipis langsung menghiasi bibirnya.Di sisi tempat tidur, Nirwan masih terlelap. Wajah pria itu tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya, tetapi gurat kelelahan di bawah matanya begitu jelas terlihat. Jas kerjanya sudah berganti dengan pakaian tidur, sementara rambutnya masih sedikit berantakan, seolah semalam ia pulang dalam keadaan benar-benar kehabisan tenaga.Nadira mengamatinya dalam diam. Ia sama sekali tidak tahu Nirwan pulang pukul berapa. Semalam ia tertidur lebih dulu setelah menunggunya cukup lama. Rupanya, pria itu baru kembali ketika dirinya telah terlelap.Dengan hati-hati Nadira mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahi sua
Nirwan sedikit terkejut ketika pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan lebih dulu.Brak!Refleks ia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen di hadapannya. Alisnya berkerut saat mendapati sosok yang berdiri di ambang pintu ternyata adalah Liliana."Mama?" ucapnya dengan nada heran.Frederic yang sejak tadi berdiri di sisi meja kerja juga tampak terkejut. Ia segera menegakkan tubuh dan memberi salam hormat."Selamat malam, Nyonya."Namun, Liliana sama sekali tidak menggubris sapaan itu. Napasnya masih memburu, sementara sorot matanya langsung tertuju kepada Nirwan. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia datang bukan untuk sekadar berkunjung, melainkan untuk meminta penjelasan.Melihat raut wajah ibunya yang dipenuhi kemarahan, Nirwan perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya berubah lebih tajam, seolah sudah bisa menebak alasan kedatangan Liliana malam itu.Ruangan yang semula sunyi mendadak dipenuhi ketegangan yang begitu pekat.Nirw







