LOGINBeruntung toilet perempuan sedang sepi. Setidaknya di tempat ini, Ivy tidak perlu memasang wajah dingin atau berpura-pura bahwa semua bisikan tentang Lucas sama sekali tidak mengusiknya.“Omong kosong...” gumamnya lirih. “Siapa yang menyebarkan rumor sialan seperti ini?”“Apa ini ulahnya Jeno?”Ivy buru-buru mematikan layar ponselnya. Kedua tangannya bertumpu di pinggiran wastafel, sementara tatapannya yang dipenuhi kekesalan menatap lurus ke arah pantulan cermin. Setelah dia berhasil menguasai diri, Ivy keluar dari sana dengan topeng acuh tak acuh yang terpasang sempurna. Namun, semakin jauh ia melangkah menyusuri koridor, semakin banyak bisikan yang sampai ke telinga.“Itu Ivy, kan? Yang diperebutkan Lucas dan Jeno?”“Katanya Lucas hampir mati lho gara-gara tantangannya sendiri.”“Kan dia yang cari mati. Benar-benar tidak sadar diri.”Langkah Ivy mendadak terhenti. Oksigen yang ia hirup seolah tertahan di ten
Lucas tidak tahu bahwa di tempat lain, seseorang sedang berusaha keras memastikan dirinya tetap memiliki tempat di sekolah itu. Ruang kepala sekolah Kingsley Junior High School terasa sunyi. Ivy berdiri dengan wajah tegang di seberang meja kerja, sementara sebuah amplop tebal tergeletak di hadapannya. Kepala sekolah menatap benda yang Ivy sodorkan kepadanya selama beberapa saat sebelum mengangkat wajah dengan ekspresi yang sarat akan tanda tanya. “Apa ini, Ivy?”“Ini... seluruh tabungan yang saya punya, Pak.”Pak kepala sekolah menaikkan sebelah alisnya. Jari-jemarinya saling bertaut di atas meja, menunggu Ivy memberikan penjelasan lebih lanjut. Di sisi lain, Ivy menghela napas dalam-dalam. Ada perasaan takut yang sempat mengusik tatapannya, tetapi ia buru-buru menekannya kembali agar emosi itu tidak menguasai dirinya. Ia sudah mengambil keputusan, dan dia tidak boleh gagal. “Saya… saya ingin Lucas tetap bersekolah di sini.”
Yurina menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengembuskan napas berseling tawa sumbang yang dingin. Walau ia tidak mengetahui secara spesifik apa yang dipertaruhkan oleh Jeno dan Lucas, keberadaan Ivy di tepi kolam malam itu sudah cukup untuk menyambungkan semua titik di kepalanya. “Ini semua karena Ivy, bukan?” tebak Yurina tepat sasaran. Napas Lucas tertahan sejenak, namun ia tetap memilih untuk bungkam. Melihat reaksi tersebut, dada Yurina bergemuruh oleh campuran rasa kasihan dan amarah yang membakar. “Kamu benar-benar menyedihkan, Lucas,” cibir Yurina tanpa ampun. “Apa kamu sudah tidak memiliki harga diri lagi, sampai rela mengejar perempuan yang bahkan tidak mencintaimu hingga sebegitunya?” Rangkaian kata dari Yurina menerjang dada Lucas seperti pukulan benda tumpul. Setiap kalimatnya menguliti sisa-sisa harga diri yang selama ini berusaha ia pertahankan. Yurina bangkit dari duduknya, merapikan pakaiannya tanpa memandang Lucas lagi. “Pikirkan hal itu
Lucas perlahan membuka mata. Pandangannya masih kabur, sementara suara sirene terdengar samar dari balik kesadarannya yang masih setipis tisu. Ia merasakan tubuhnya terguncang mengikuti laju ambulans, dengan masker oksigen masih menutupi hidung dan mulut.“Lucas?”Mendengar namanya dipanggil, Lucas menggerakkan mata ke arah suara itu. Pandangannya berhenti pada wajah Yurina yang pucat. Rambutnya basah dan sebagian menempel di pipi serta lehernya, sementara gaun pesta yang dikenakannya tampak lembap dan melekat di beberapa bagian tubuh.“Yu...rina...”“Aku di sini.”Lucas menatapnya dalam diam. Kelopak matanya masih terasa berat, tetapi untuk beberapa detik, ia terus berusaha mempertahankan pandangan sebelum semuanya kembali hitam.— — —Lampu lorong IGD berpijar putih, menusuk mata Lucas yang perlahan membias dari kegelapan. Bau antiseptik yang pekat menyergap inderanya, diiringi bunyi bip... bip... konstan dari monitor
Kamar itu remang dan dingin. Ivy terduduk lemas di tepi tempat tidur, masih mengenakan gaun pestanya yang basah dan kusut berantakan. Tangisnya pecah tanpa suara, sementara kedua tangannya menggenggam erat kain gaun di atas pahanya, seolah-olah dia sedang menahan luka menganga yang tak kunjung mampu dia balut. Ivy tidak pernah menyangka bahwa hari ulang tahunnya yang seharusnya membahagiakan, akan menjadi salah satu malam paling traumatis di dalam hidupnya. Ia merasa menjadi manusia paling jahat di dunia. Ia merasa… semua hal yang dia lakukan selalu saja memperburuk keadaan. Ivy memandangi kedua tangannya yang tadi mendorong Lucas dengan tatapan nanar. Ini adalah jemari yang sama, yang beberapa menit kemudian dengan panik meraih tubuh pemuda itu dari dasar kolam.Seandainya ia bisa mengulang waktu, Ivy ingin menghapus amarah yang membuatnya kehilangan kendali. Dia juga ingin menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung demi tidak menyakiti Lucas. Karena membiarkan pria itu meren
Ivy terdiam. Bibirnya bergetar, tetapi tak ada satu pun kata yang mampu melepaskan diri dari sana. Ia hanya menunduk, berusaha meredam napasnya yang kacau di tengah himpitan rasa bersalah yang mencekik.“Kenapa kamu diam?!” Yurina kembali mendesak. “Jawab aku!”Sebelum retakan di antara mereka semakin dalam, seorang petugas medis menghampiri dengan langkah terburu-buru.“Nona, kami harus membawa pasien sekarang. Salah satu dari kalian yang ingin mendampingi ke rumah sakit, tolong segera bersiap.”Dua petugas dengan sigap memindahkan Lucas ke atas tandu. Tubuh pemuda itu terkulai lemas, hazelnya terpejam rapat, sementara masker oksigen mengembun di separuh wajahnya, menjadi satu-satunya bukti bahwa napasnya masih bertahan.“Lucas...” lirih Yurina.Tatapannya mengekor pada tandu yang mulai dibawa menjauh. Ada kepanikan yang menyuruhnya untuk segera berlari mengejar, namun deretan pertanyaan yang membakar menahan langkahnya untuk tetap di tempat. Sepeninggal para petugas menuju lobi, su
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang berte
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt







