LOGINIvy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bisa fokus menghadapi jam pelajaran pertama yang diisi oleh pak guru paling galak di sekolah. Namun perlawanan Ivy akhirnya tumbang tak lama kemudian. Dia menjatuhkan kepala di atas tangannya yang terlipat. Mencoba memanfaatkan sisa waktu sebelum bel masuk berbunyi.
Baru saja kesadarannya menipis, sekelebat bayangan muncul secara paksa begitu kegelapan datang mengambil alih. Di balik kelopak mata yang terpejam, visual mimpi semalam kembali berputar. Kekacauan, suara teriakan, lalu wajah perempuan misterius yang mendadak muncul, membuat napasnya tertahan dan dia pun tersentak bangun. Tubuh Ivy menegak. Matanya bergerak liar, berusaha mencerna situasi sekeliling sampai dia sadar bahwa dirinya masih berada di dalam kelas. "Vy?" Di sampingnya, Nina menatap Ivy dengan penuh tanda tanya. Gerak tangannya yang hendak mengeluarkan buku dari dalam tas terjeda oleh gerakan tiba-tiba barusan. "Kamu kenapa? Sakit?" Ivy mendongak, membalas tatapan Nina dengan pandangan yang masih sedikit buram. Debaran tak beraturan di rongga dadanya membuat gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali dalam upaya mengusir sisa-sisa kengerian yang masih membekas. Baru setelah tubuhnya terasa lebih rileks, Ivy melemparkan senyum meminta maaf seraya berkata, "Tidak, kok. Cuma mimpi buruk saja." Nina terkekeh pelan. "Padahal cuma tidur sebentar. Kok bisa mimpi, sih? Memang kamu sebegitu takutnya sama Pak Darwin sampai terbawa mimpi segala?" "Bukaaann... ini bukan tentang Pak Darwin. Ini tentang..." "Hm? Tentang apa?" "Itu..." Ivy mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, ragu untuk bercerita karena mengingatnya saja sudah membuat sesak. "Yah... cuma mimpi aneh. Oh iya, Nin. Pulang sekolah nanti, bisa temani aku ke panti asuhan nenek tidak?" "Bukannya kamu sudah ke sana kemarin?" Setelah terdiam beberapa saat, Ivy mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin yang masih melingkar di jari manisnya kepada Nina. "Sebenarnya aku ingin mengembalikan ini." "Mengembalikan? Kamu mencuri?!" seru Nina spontan. "Sssttt!" Panik, Ivy buru-buru menutup mulut Nina lalu memperhatikan sekeliling. Setelah memastikan bahwa mereka tidak menjadi pusat perhatian, dia segera menarik tangannya sambil merengut. "Pelan-pelan dong! Kalau ada yang dengar, mereka bisa salah paham." "Oopss, sorry. Memangnya itu cincin siapa? Kok bisa ada di kamu?" Sekilas rasa bersalah berkelebat di wajah Ivy. Tatapannya menerawang menembus jendela kelas, membawa ingatannya kembali pada kejadian sore kemarin. ... Sore itu, suasana panti asuhan terasa lebih sibuk dari biasanya. Kedatangan para donatur membuat Ibu Carla, kepala panti yang baru, tidak bisa ditemui dengan segera sehingga atas saran salah seorang staf, Ivy memutuskan untuk menunggu di ruang seni yang terletak di ujung koridor barat. Sesampainya di sana, Ivy mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Suasana di dalam terasa lengang, menyisakan jejak aktivitas yang baru saja usai. Di salah satu sisi dinding, tergantung lukisan cat air hasil karya anak-anak panti. Meja panjang yang di atasnya terdapat beberapa kotak krayon, stoples berisi kuas, juga kertas origami, terlihat dirapikan dengan sedikit terburu-buru. Namun, di antara semua hal yang tertangkap matanya, ada sebuah objek yang keberadaannya membuat Ivy terpana—sebuah piano upright berwarna hitam pekat yang berdiri di dekat jendela. Instrumen itu tampak begitu kontras dengan kesederhanaan isi ruangan. Besar dan anggun. Permukaannya bersih tanpa cela. Memantulkan sisa cahaya matahari senja yang menerobos masuk dari balik tirai tipis. Seingat Ivy, piano itu belum ada saat ia terakhir kali datang berkunjung di usia delapan tahun. Didorong oleh rasa penasaran, Ivy mendekat, mengusap permukaan kayu piano lalu duduk di bangku. Jemarinya mulai menari mengalunkan melodi Canon in D yang sudah ia mainkan berkali-kali. Di denting nada terakhir, gadis itu memejamkan mata. Menikmati sisa gema lagunya dengan perasaan damai. Candu dengan kenyamanan menenangkan yang rasanya sudah lama tidak dia dapatkan, Ivy kembali meletakkan jemarinya di atas tuts hitam-putih itu. Membiarkan dirinya tersesat dalam melodi-melodi yang dia kuasai demi membunuh waktu. Senja kian menguning. Repertoar terakhirnya juga sudah selesai. Namun koridor di depan ruangan ini belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran seseorang yang dia tunggu sejak tadi. Ivy melirik ke arah jam di tangan kirinya. Berpikir bahwa dia masih bisa menunggu setengah jam lagi, gadis itu lantas membuka kompartemen di bawah bantalan duduk. Barangkali ada lembaran partitur atau buku musik yang tersimpan di sana dan bisa ia mainkan. Rasa penasaran Ivy terusik saat jemarinya tidak sengaja menyentuh sebuah benda asing bertekstur lembut di sela tumpukan kertas musik. Dia mengambil kotak kecil berbalut beludru tadi kemudian membukanya. Di sana, terpampang sebuah cincin emas putih yang menyerupai separuh lekukan hati dengan permata kecil di bagian tengah. Sebuah desain interaktif yang baru akan melahirkan simbol hati utuh jika pasangannya disatukan. A&L. Ukiran samar yang tertanam di lingkaran bagian dalam cincin itu membuat senyum Ivy mengembang tanpa sadar. Didorong oleh impresi janggal yang hadir secara tak terduga, Ivy menyematkan cincin tersebut ke jari manisnya sendiri. Untuk alasan tertentu, ia merasakan sebuah keterikatan asing—emosi yang begitu melekat sekaligus akrab, sampai-sampai ia mengurungkan niat untuk mengembalikan benda yang bukan miliknya ke tempat semula. Ivy tidak berniat mencurinya sama sekali. Dia hanya menundanya sebentar. Ingin rasa familier yang ganjil itu menetap di hatinya barang semenit atau dua menit lagi. Selain kotak beludru, atensi Ivy kembali tersita pada sebuah partitur usang. Tidak seperti yang lain, lembaran di tangan Ivy tidak memiliki judul. Hanya barisan not balok tulisan tangan dan mulai memudar, sehingga Ivy tergelitik memainkan lagu tanpa nama tersebut di sela waktu yang tersisa. Nada-nadanya dibuka dengan untaian melodi sederhana yang lembut dan berulang. Perlahan temponya naik, berubah menjadi untaian nada tinggi yang saling mengejar. Indah, namun menyimpan rasa kehilangan yang begitu pekat, seolah-olah penciptanya sedang menceritakan kisah tentang sebuah perpisahan yang dipaksakan. Dadanya bergemuruh hebat mengikuti ritme lagu yang kian menggebu. Anehnya, meski pelipisnya mulai berkeringat karena emosi yang menguras tenaga, tangan Ivy tidak bisa berhenti. Jemarinya menari dengan sangat fasih, mengikuti perpindahan akor seakan dia sudah mengenal melodi ini sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, kehangatan asing yang Ivy rasakan terus menjalar dari ujung jemarinya, menyebar ke seluruh tubuh, mengikat seluruh kesadarannya ke dalam bait demi bait seolah-olah dia sedang terhipnotis. Ivy bahkan tidak menyadari adanya kilau kecil yang keluar dari mata cincin itu di detik-detik berakhirnya lagu. Tanpa sadar, sudut matanya menghangat tepat di saat hantaman nada terakhirnya menyisakan keheningan yang mendadak terasa mencekam. ... Kriiinggggg! Suara nyaring bel sekolah yang menandakan jam pelajaran pertama dimulai, menarik paksa ingatan Ivy untuk kembali ke realitas ruang kelas yang mulai riuh. Ivy segera memusatkan fokus ke Nina yang sedang menepuk-nepuk pundaknya mencari perhatian. "Heh, malah melamun!" kata Nina gemas. "Ayo lanjut cerita mumpung Pak Darwin belum masuk!" "Yah, singkatnya aku tidak sengaja menemukan cincin ini waktu bermain piano di panti. Kemarin aku tidak sempat bicara banyak sama Bu Clara. Makanya pulang sekolah nanti, aku mau ajak kamu ke sana sekalian mengembalikan cincin." "Baiklah, nanti aku temani. Tapi kayanya sayang deh kalau dikembalikan. Kenapa tidak kamu pakai saja? Cantik soalnya." Ivy menyikut pelan lengan Nina. Raut wajahnya tampak tidak setuju. "Kalau begitu, rasanya aku benar-benar jadi pencuri." "Hehe, iya iya. Eh, tahu tidak? Katanya ada anak baru lho—" "Ssstt! Ssstt! Ada Pak Guru! Ceritanya nanti saja!" Kalimat Nina terputus oleh tepukan beruntun Ivy di pahanya. Mereka berdua langsung menghentikan pembicaraan seiring dengan perubahan atmosfer kelas dari yang tadinya ramai suara anak-anak mengobrol menjadi senyap begitu langkah berat Pak Darwin melewati ambang pintu. ... "Ah, sial sekali. Kenapa mesti lupa, sih? Padahal semalam sudah aku siapkan tugasnya. Kenapa tidak sekalian aku masukkan ke tas, sih? Argh, benar-benar deh. Sial sial sial!" Keluhan itu lolos begitu saja dari bibir Ivy, tertelan oleh sunyinya koridor sekolah yang lengang. Di sinilah dia sekarang, berada di luar kelas setelah diusir secara tidak hormat oleh Pak Darwin. Alasan pencetusnya sangat klise namun fatal—laporan praktikum biologi yang dia kerjakan dengan susah payah justru tertinggal di atas meja belajar rumah karena rasa kantuk yang luar biasa tadi pagi. Ivy menguap lagi, menyandarkan kepalanya yang terasa seberat bongkahan batu ke dinding koridor. Srettt. Pintu kelas tiba-tiba terbuka seiring meluncurnya keluhan yang tak kunjung habis itu. Menampilkan sosok tinggi Pak Darwin yang muncul di ambang pintu dan kini sedang memandang Ivy dengan tatapan menghunus. "Yang benar posisinya kalau masih mau ikut pelajaran saya!" tegur Pak Darwin, suaranya yang berat dan menggelegar membuat Ivy tersentak kaget. "I-iya, Pak. Maaf!" "Kalau saya belum suruh kamu berdiri, berarti kamu harus tetap seperti ini. Paham?" "Iya pahaaam," jawab Ivy, malas tapi pasrah. Gadis bersurai panjang itu buru-buru membetulkan posisinya. Duduk bersimpuh dengan kedua lutut menumpu beban tubuh, lalu mengangkat kedua tangannya lurus-lurus ke atas udara. Selain rasa pegal, Ivy pun harus lapang dada menerima tatapan mencemooh dan bisik-bisik dari beberapa siswa kelas lain yang kebetulan melintas di koridor.Beberapa anak laki-laki bahkan sengaja tertawa pelan sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya. Menolak menjadi tontonan gratis, Ivy langsung melemparkan tatapan tajam pada siapa pun yang berani mengejeknya, hingga membuat beberapa dari mereka buru-buru memalingkan wajah. Ayolah, dihukum di koridor saja sudah cukup memalukan bagi Ivy yang notabene merupakan siswi populer dan berprestasi di sekolah. Dia bahkan hampir tidak bisa mengangkat wajah gara-gara itu. Tapi dia tidak terima jika harus menerima tatapan kasihan atau cemoohan dari anak-anak lain yang menurutnya tidak tahu apa-apa. Jadi, lebih baik kalian diam dan lewat saja! Pikir Ivy. Seperti yang Ivy mau. Siswa-siswi yang melewati koridor hanya sebatas meliriknya lalu pergi. Namun ada sepasang sepatu yang membuat Ivy mengernyitkan dahi karena alih-alih pergi, sepatu itu justru diam cukup lama di hadapannya. Ivy mendengus. Darahnya mulai mendidih antara kesal sekaligus penasaran. "Kalau mau lewat lewat saja. Aku sedang dihukum jadi jangan pedulikan aku," kata Ivy sambil berusaha menekan intonasi. Dia tidak boleh marah-marah karena selain membuang energi, yang ada hukumannya justru akan ditambah. Namun, bukannya mengikuti intruksinya barusan, ujung sepatu yang dia lihat malah semakin mendekat. Pandangan Ivy mulai bergerak naik. Melewati celana seragam yang rapi, tas yang disampirkan di salah satu bahu, lalu terhenti di sepasang mata yang tengah menatapnya tajam. Untuk sesaat, Ivy merasakan disorientasi. Kata-kata sinis yang mengalir cepat di otaknya tiba-tiba berhenti di ujung lidah saat siswa asing itu memindahkan atensi dari wajahnya ke cincin yang ia pakai. "Lihat apa? Memangnya kamu tidak pernah dihukum? Memangnya kamu tidak pernah lupa membawa tugas? Pergi sana!" Ivy setengah berbisik, namun laki-laki itu tidak bergeming sama sekali. "Dapat dari mana cincin itu?" "A-apa?" Tanpa aba-aba, lengan Ivy ditarik dengan sentakan kuat yang bertenaga hingga dia terpaksa bangkit dari posisi bersimpuhnya dan berdiri tegak. "Eh, apa-apaan, sih?!" Ivy memprotes, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat Lucas—nama siswa laki-laki itu, justru melangkah lebar, menyeretnya membelah koridor menuju ke arah tangga darurat yang sepi di ujung gedung. Begitu mereka tiba di area tangga yang tersembunyi dari jangkauan ruang kelas, Lucas melepaskan cengkeramannya lalu bertanya dengan sinis, "Jadi, selain hobi main piano, kamu juga punya bakat mencuri, ya?"Cengkeraman tangan Lucas mendarat di lengan Ivy, memaksanya berdiri dengan tarikan kasar yang membuat sendi bahu gadis itu terasa mau lepas. Tanpa memberikan Ivy kesempatan untuk menyeimbangkan diri, Lucas menyeretnya menyusuri lorong menuju kamar tidur utama.Ivy tersandung-sandung, napasnya putus-putus menahan sakit dan panik, namun cengkeraman Lucas terlalu kuat layaknya borgol besi. Begitu mereka tiba di dalam kamar, Lucas menghempaskan tubuh Ivy ke atas ranjang dengan tenaga penuh.Tubuh Ivy memantul di atas matras empuk. Matanya membelalak ngeri melihat Lucas berdiri menjulang di kaki ranjang. Pria itu melepas jas mahalnya dengan gerakan lambat yang mematikan, membuangnya sembarangan ke atas lantai. Jari-jari panjangnya kemudian beralih membuka kancing manset di pergelangan tangan, lalu melipat lengan kemejanya hingga sebatas siku.Melihat pemandangan itu, darah Ivy terasa berhenti mengalir. Bayangan kelam masa lalu berkelebat cepat di benaknya. “Apakah Lucas akan memaksaku
Untuk sesaat Ivy hanya berdiri mematung. Pria itu sedang berbicara dengan seseorang di sebuah foyer kecil yang menjadi penghubung antara ruang makan dan lorong toilet, tetapi kemudian menoleh setelah merasa ada yang sedang memperhatikannya. Begitu mata mereka bertemu, Kevin tampak terkejut. Senyum ramah muncul di wajahnya usai memastikan bahwa ia tidak salah orang. “Ivy?” “Kevin.” Selagi Kevin mendekat, Ivy melirik ke belakang melalui celah bahu dengan ekspresi waspada. “Kebetulan sekali, ya. Kamu ke sini sama siapa?” Kevin melempar pandangannya ke arah meja-meja restoran, lalu kembali menatapnya. “Apa kau dipaksa mengikuti kencan buta lagi, sampai harus jauh-jauh datang ke sini?” tanyanya geli. Ivy tersenyum tipis lalu menjawab, “Tidak, kok. Aku… tidak sedang kencan buta. Kau sendiri?" “Aku habis ada acara. Tapi sekarang sudah selesai. Kau sudah makan? Kalau belum, mau bergabung denganku?” Ivy meremas-remas jarinya sendiri. Tampak gelisah, dan sering melirik ke ara
Percakapan di antara mereka—tepatnya antara Lucas dan Yurina, mengalir ringan. Yurina bercerita singkat tentang kesibukannya, mengomentari restoran yang ternyata cukup ramai malam itu, lalu sesekali melontarkan kenangan lama yang membuat suasana di meja mereka tampak seperti pertemuan tiga orang teman yang sudah lama tidak berjumpa.Namun, di sela-sela ocehannya, matanya terus bekerja. Ia memperhatikan gerak-gerik Ivy dengan detail. Mulai dari caranya duduk, ekspresi wajah, juga caranya berbicara yang begitu hati-hati sambil sesekali melirik ke arah Lucas guna melihat respons dari pria itu. “Sebenarnya aku penasaran sesuatu.” Yurina memindahkan pandangannya dari piring berisi makanan ke arah Ivy yang balas menatapnya. “Apa kalian berdua memiliki hubungan khusus yang lebih dari teman?”Mata Yurina menatap Ivy dengan binar keingintahuan yang tajam. Pertanyaannya terdengar ringan, tetapi jelas bukan sekadar basa-basi. Napas Ivy tertahan. Fokusnya tertumbuk pada mata Yurina sedikit lebi
Yurina berdiri di sisi meja mereka dengan gaun elegan yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Ia mendesah pelan, mengerucutkan bibir dengan raut kecewa yang dibuat-buat.“Aku baru saja dicampakkan bahkan sebelum kencanku dimulai. Menyebalkan sekali.” Ia melirik Lucas, lalu tersenyum. “Tapi sepertinya, keberuntunganku tidak seburuk itu. Aku malah bertemu denganmu di sini.”Kalimatnya menggantung ketika pandangan Yurina beralih kepada perempuan yang duduk di seberang Lucas. Wanita itu membeku sesaat. Matanya melebar, sementara satu tangannya spontan menutup mulutnya yang sedikit terbuka, sebelum buru-buru mengubahnya menjadi senyum cerah.“Ya ampun, Ivy? Ini benar kau, kan?”Ivy merasakan jantungnya berdegup keras. Ia mencoba membalas sapaan itu, tetapi senyum yang terangkat di sudut bibirnya terasa kaku dan canggung. “H-hai, Yurina.”“Sudah lama sekali.” Yurina semakin mendekat, matanya menyusuri wajah Ivy sejenak dengan ekspresi penuh keterkejutan yang tampak tulus. “Aku hamp
Kepanikan dalam suara Ivy memecah keheningan kamar. Namun, Lucas hanya berdiri di sana, menatapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah, dingin, dan tenang. “Aku tidak melakukan apa-apa.” “Lalu kenapa kau bilang nasib Tante Jasmine ada di tanganmu?!” Ivy melangkah maju, dadanya kembang kempis dengan cepat ketika udara yang ia hirup terasa semakin sulit mencapai paru-paru. “Lucas, kalau kau berani menyentuh Tante Jasmine—” “Aku tidak menyentuhnya, Ivy,” sergah Lucas cepat, memotong kalimat Ivy dengan nada datar yang terkesan menyiksa. “Lebih tepatnya belum.” Lucas menyeringai, menikmati ekspresi takut yang menyebar di paras cantik Ivy. “Semuanya tergantung bagaimana sikapmu kepadaku,” lanjut Lucas setelah jeda beberapa saat. Lucas mendekat ke arah Ivy. Bayangannya yang tinggi besar, perlahan mengurung gadis mungil itu. Tangannya terangkat, mengusap garis rahang Ivy dengan ibu jari, sebuah sentuhan lembut yang justru terasa seperti goresan duri. Ia sengaja membiarkan kalim
Namun, jauh di dalam hati, Yurina tahu bahwa ada sesuatu yang membuat kemunculan Ivy terasa jauh lebih mengusik daripada sekadar kemunculan seorang perempuan dari masa lalu.Selama ini, ia memang tidak pernah mendapatkan hati Lucas. Ia sudah mengutarakan perasaannya berkali-kali, tetapi pria itu selalu menolaknya dengan cara yang begitu lembut hingga Yurina memilih untuk tetap tinggal di sisinya, berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah di antara mereka.Ia bahkan beberapa kali menjalin hubungan dengan pria lain. Dan Nolan pernah menjadi salah satunya. Bukan karena perasaannya kepada Lucas telah hilang, melainkan karena bagi Yurina, mencintai pria itu dari dekat jauh lebih mudah daripada harus kehilangan tempat di hidupnya sama sekali.Lagipula, Lucas selalu memperlakukannya berbeda dari perempuan lain. Pria itu peduli, menjaganya, dan memberinya perhatian yang terkadang terasa terlalu istimewa untuk sekadar disebut sebagai persahabatan.Selama bertahun-tahun, tak ada perempuan lain
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang berte
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt
“Lucas... lepas!" Ivy kesulitan bicara dan suaranya terbata. Alih-alih menuruti permintaan itu, cengkeraman tangan Lucas justru pindah ke leher Ivy. Meski tahu apa yang dia perbuat sangatlah menyakiti gadis yang dulu pernah membuatnya jatuh hati setengah mati, Lucas tampak masa bodoh dan gilanya







