INICIAR SESIÓNLima Belas Tahun yang Lalu.
“Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang bertengkar hebat untuk ke sekian kali. “Jangan terlalu mendramatisir, Sara! Itu hanya masalah kecil.” "Selingkuh sampai gundikmu hamil kamu bilang masalah kecil?! Dimana otakmu?!" Jeff malah memutar malas kedua bola matanya. “Ya memang kecil. Aku cuma menghamili perempuan lain, bukan membunuh orang. Lagi pula, selama aku masih membiayai keluarga ini, apa yang kamu ributkan?" “Aku istrimu, Jeff! Kamu pikir uangmu bisa mengganti kehormatanku yang kamu injak-injak? Kamu pikir makan enak dan rumah mewah ini cukup untuk membayar rasa malu karena suamiku punya anak haram di luar sana?! Tidak hanya memiliki anak haram, kau bahkan ingin membawanya ke sini. Kurang gila apalagi coba?!" “Tutup mulutmu, Sara! Dia hamil, aku harus tanggung jawab. Sesimpel itu! Dia kesini hanya untuk sementara saja. Aku akan membawanya ke tempat lain kalau semuanya sudah siap!" bentak Jeff, mulai kehilangan kesabaran. 'Sesimpel itu katanya?' Sara tercengang. Dadanya naik turun cepat dipacu emosi dan dia hampir kehilangan keseimbangan merasakan dunia di sekitarnya seperti berputar menggulungnya masuk ke pusaran. Ucapan itu keluar begitu mudah dari bibir Jeff, ayah Ivy. Dingin, acuh tak acuh, tanpa sedikitpun rasa bersalah, seolah-olah perselingkuhan dan kehamilan wanita lain hanyalah kesalahan sepele yang tak perlu direspon secara berlebihan. Memang, ini bukan pertama kalinya Jeff mengkhianati Sara. Selama bertahun-tahun, Sara sudah dipaksa menelan terlalu banyak hal. Dia sudah kenyang memergoki suaminya selingkuh dengan wanita lain di setiap kesempatan. Dia juga sudah terbiasa dianggap sebatas pajangan yang harus ada hanya sebagai formalitas. Semua itu pernah menghancurkannya sedikit demi sedikit sampai Sara yakin tidak ada lagi yang tersisa untuk disakiti. Dia pikir dirinya sudah mati rasa. Tapi ternyata belum. Karena begitu dia tahu bahwa selingkuhan suaminya hamil—hal yang tidak pernah terjadi di pengkhianatan-pengkhianatan sebelumnya, bahkan sampai berniat menikahi gundik itu secara resmi di luar negeri, Sara baru mengerti arti dari benar-benar tidak sanggup menerima guncangan lain lebih dari ini. "Lalu, apa tanggung jawabmu ke aku hanya sebatas uang?" Suara Sara mulai melemah. "Bertahun-tahun, Jeff... Kamu menyakiti aku selama bertahun-tahun! Bagaimana kamu mau membayar semua kejahatan itu, hah?" "Kamu mau kompensasi apa kali ini? Tinggal bilang padaku dan aku akan menurutinya asal kamu berhenti mencampuri urusanku." "AKU MAU KAMU BERHENTI SELINGKUH, JEFF! AKU INGIN KAMU JADI SUAMI YANG BAIK SEPERTI DULU!" "Sudahlah," Jeff mengibaskan tangannya di depan wajah, "jangan membesar-besarkan masalah. Kamu hanya perlu menutup mata seperti biasanya. Lagipula, Stella bukan tipe perempuan ambisius yang akan merecoki posisimu sebagai nyonya rumah. Tidak ada yang perlu ditakutkan," tambah Jeff, kemudian berbalik meninggalkan istri sahnya menuju pintu. Jeff hanya melirik sekilas ke arah Ivy yang sedang menatapnya dengan tajam, dengan mata memerah dan berkaca-kaca saat mereka berpapasan. Masa bodoh terhadap Sara yang meraung penuh sumpah serapah di belakang punggungnya. .... Ivy berdiri rapuh di antara ketidakpedulian dan ketidakberdayaan kedua orang tuanya. Menyaksikan dalam diam kehancuran yang sudah dimulai dari lama. Di hadapannya, Sara terduduk lemas sambil menangis pilu. Kepalanya tertunduk dalam sambil memegangi dadanya yang terasa remuk. Ivy tahu sebuah pelukan darinya mungkin tidak berarti banyak. Namun, dia tetap melakukannya karena jika dia pergi begitu saja, Ivy takut ibunya merasa sendirian, tidak memiliki pegangan, dan tidak dicintai oleh satu orang pun di dunia ini. "Ma, jangan pedulikan aku. Kalau Mama mau pergi, pergi saja. Aku tidak apa-apa." Sara mendongak. Memandangi lekat-lekat wajah putri semata wayangnya yang cantik. "Maaf, Vy... harusnya kamu tidak lahir di keluarga yang berantakan seperti ini." Ivy menggeleng lemah. Menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi mengalihkan fokus dari sesak yang menikamnya tanpa ampun. Pandangannya yang memburam karena genangan air mata tanpa sengaja jatuh pada sebuah pigura kayu yang kini tergeletak mengenaskan tak jauh dari tempat mereka berada. Kaca di atasnya pecah berserakan, membelah wajah Ayah, Mama, dan Ivy kecil yang sedang tertawa lebar. Retakan yang seolah berbicara bahwa takdir memang sudah lama ingin memutus hubungan ini. "Ini bukan saatnya menyalahkan diri sendiri. Ayo kemasi barang, Mama. Kita pergi dari rumah ini sekarang juga!" Sara terdiam. Isakannya terhenti, namun matanya bergerak-gerak gelisah. Ia menatap sekeliling—ke pilar-pilar rumah yang megah, lampu kristal yang mahal, dan segala kemewahan yang selama ini membungkus luka mereka sebelum kembali fokus ke wajah Ivy. "Pergi?" suara Sara bergetar. "Mau ke mana, Vy? Kakekmu sudah meninggal dan rumahnya sudah dijual untuk biaya pengobatan kakek. Kita tidak punya tempat lain selain di sini." "Kita bisa pergi ke panti asuhan milik Nenek! Status kepemilikannya memang sudah berubah semenjak nenek meninggal. Tapi Bibi Carla masih ada di sana. Dia pasti mau membantu kita sampai kita bisa mandiri.” Melihat keraguan yang tercetak jelas di mata sang ibu, Ivy kembali meyakinkan. “Mama tidak akan pernah hidup bahagia kalau masih sama Papa! Makanya kita harus pergi." Setelah termenung beberapa saat, Sara mengelus pipi Ivy dengan tatapan nanar. Meraih tangan putrinya, menggenggamnya dengan jemari yang dingin. Bukannya dia tidak mau pergi. Tapi hidup harus realistis. Selama ini, Sara telah mengurung dirinya sendiri dalam sebuah menara ilusi yang ia bangun dengan susah payah. Dia pernah percaya bahwa pernikahannya adalah sebuah dongeng, bahwa suaminya adalah pangeran yang hanya sedang kehilangan arah, dan suatu saat, jika ia cukup bersabar, pangeran itu akan kembali dan memulihkan kebahagiaan mereka. Namun, kenyataan hari ini menghantamnya telak. Dongeng itu sudah lama mati, dan ia hanyalah seorang wanita yang bertahan di antara reruntuhan narasi kosong. Baginya, keluar dari rumah ini tanpa harta bukan sekadar tentang kemerdekaan diri, tapi tentang menyeret Ivy masuk ke dalam jurang kemiskinan yang ia tahu sangat kejam. Sara tidak rela jika tangan halus Ivy yang tidak pernah dipaksa untuk bekerja keras demi sesuap nasi, harus bergulat dengan keringat dan debu. Daripada melihat Ivy kehilangan masa depannya, Sara lebih memilih membiarkan dirinya layu dalam kemewahan yang menyesakkan ini. Sara menarik napas panjang, mencoba menstabilkan gemetar di bahunya. Sara tahu, berdebat soal harta dan kemiskinan dengan Ivy yang keras kepala hanya akan menemui jalan buntu. Ivy adalah tipe yang akan dengan senang hati tidur di kolong jembatan asalkan mereka bersama. Namun, Sara tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan pernah! "Vy, dengar Mama," ucap Sara lembut, suaranya kini sengaja dibuat tenang, seolah badai besar baru saja berlalu. Ia merangkum wajah cantik putrinya itu dengan kedua tangannya. "Mama tidak akan ke mana-mana. Mama akan tetap di sini, menemanimu." "Tapi, Ma—" "Ssst..." Sara memotong cepat, senyumnya masih bertahan meski matanya berkaca-kaca. "Kita akan pergi, Nak. Tapi bukan sekarang. Papamu selalu memakai uang supaya kita tidak mengganggu kesenangannya. Karena Papa maunya begitu, ya sudah. Kita ikuti saja alurnya sambil mengumpulkan aset sebanyak mungkin." Ivy mengernyit. Merasa tidak yakin dengan senyum yang mekar di wajah ibunya. Menjamah keraguan itu, Sara pun lanjut berkata, "Dunia ini hanya menghormati orang yang punya kuasa, Nak. Mama sudah kalah, tapi kamu tidak boleh. Kamu harus punya 'senjata' supaya suatu saat nanti, tidak ada satupun pria yang bisa merendahkanmu seperti papa merendahkan Mama hari ini. Kamu harus punya masa depan yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun." Sara melepaskan tangannya, menyisakan dingin yang menjalar di pipi Ivy. Di ruangan yang megah namun hampa itu, Ivy tersadar. Ibunya tidak sedang mengajaknya bertahan, melainkan sedang menyerahkan diri untuk menjadi tumbal di rumah ini, asalkan Ivy tetap punya mahkota.Cengkeraman tangan Lucas mendarat di lengan Ivy, memaksanya berdiri dengan tarikan kasar yang membuat sendi bahu gadis itu terasa mau lepas. Tanpa memberikan Ivy kesempatan untuk menyeimbangkan diri, Lucas menyeretnya menyusuri lorong menuju kamar tidur utama.Ivy tersandung-sandung, napasnya putus-putus menahan sakit dan panik, namun cengkeraman Lucas terlalu kuat layaknya borgol besi. Begitu mereka tiba di dalam kamar, Lucas menghempaskan tubuh Ivy ke atas ranjang dengan tenaga penuh.Tubuh Ivy memantul di atas matras empuk. Matanya membelalak ngeri melihat Lucas berdiri menjulang di kaki ranjang. Pria itu melepas jas mahalnya dengan gerakan lambat yang mematikan, membuangnya sembarangan ke atas lantai. Jari-jari panjangnya kemudian beralih membuka kancing manset di pergelangan tangan, lalu melipat lengan kemejanya hingga sebatas siku.Melihat pemandangan itu, darah Ivy terasa berhenti mengalir. Bayangan kelam masa lalu berkelebat cepat di benaknya. “Apakah Lucas akan memaksaku
Untuk sesaat Ivy hanya berdiri mematung. Pria itu sedang berbicara dengan seseorang di sebuah foyer kecil yang menjadi penghubung antara ruang makan dan lorong toilet, tetapi kemudian menoleh setelah merasa ada yang sedang memperhatikannya. Begitu mata mereka bertemu, Kevin tampak terkejut. Senyum ramah muncul di wajahnya usai memastikan bahwa ia tidak salah orang. “Ivy?” “Kevin.” Selagi Kevin mendekat, Ivy melirik ke belakang melalui celah bahu dengan ekspresi waspada. “Kebetulan sekali, ya. Kamu ke sini sama siapa?” Kevin melempar pandangannya ke arah meja-meja restoran, lalu kembali menatapnya. “Apa kau dipaksa mengikuti kencan buta lagi, sampai harus jauh-jauh datang ke sini?” tanyanya geli. Ivy tersenyum tipis lalu menjawab, “Tidak, kok. Aku… tidak sedang kencan buta. Kau sendiri?" “Aku habis ada acara. Tapi sekarang sudah selesai. Kau sudah makan? Kalau belum, mau bergabung denganku?” Ivy meremas-remas jarinya sendiri. Tampak gelisah, dan sering melirik ke ara
Percakapan di antara mereka—tepatnya antara Lucas dan Yurina, mengalir ringan. Yurina bercerita singkat tentang kesibukannya, mengomentari restoran yang ternyata cukup ramai malam itu, lalu sesekali melontarkan kenangan lama yang membuat suasana di meja mereka tampak seperti pertemuan tiga orang teman yang sudah lama tidak berjumpa.Namun, di sela-sela ocehannya, matanya terus bekerja. Ia memperhatikan gerak-gerik Ivy dengan detail. Mulai dari caranya duduk, ekspresi wajah, juga caranya berbicara yang begitu hati-hati sambil sesekali melirik ke arah Lucas guna melihat respons dari pria itu. “Sebenarnya aku penasaran sesuatu.” Yurina memindahkan pandangannya dari piring berisi makanan ke arah Ivy yang balas menatapnya. “Apa kalian berdua memiliki hubungan khusus yang lebih dari teman?”Mata Yurina menatap Ivy dengan binar keingintahuan yang tajam. Pertanyaannya terdengar ringan, tetapi jelas bukan sekadar basa-basi. Napas Ivy tertahan. Fokusnya tertumbuk pada mata Yurina sedikit lebi
Yurina berdiri di sisi meja mereka dengan gaun elegan yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Ia mendesah pelan, mengerucutkan bibir dengan raut kecewa yang dibuat-buat.“Aku baru saja dicampakkan bahkan sebelum kencanku dimulai. Menyebalkan sekali.” Ia melirik Lucas, lalu tersenyum. “Tapi sepertinya, keberuntunganku tidak seburuk itu. Aku malah bertemu denganmu di sini.”Kalimatnya menggantung ketika pandangan Yurina beralih kepada perempuan yang duduk di seberang Lucas. Wanita itu membeku sesaat. Matanya melebar, sementara satu tangannya spontan menutup mulutnya yang sedikit terbuka, sebelum buru-buru mengubahnya menjadi senyum cerah.“Ya ampun, Ivy? Ini benar kau, kan?”Ivy merasakan jantungnya berdegup keras. Ia mencoba membalas sapaan itu, tetapi senyum yang terangkat di sudut bibirnya terasa kaku dan canggung. “H-hai, Yurina.”“Sudah lama sekali.” Yurina semakin mendekat, matanya menyusuri wajah Ivy sejenak dengan ekspresi penuh keterkejutan yang tampak tulus. “Aku hamp
Kepanikan dalam suara Ivy memecah keheningan kamar. Namun, Lucas hanya berdiri di sana, menatapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah, dingin, dan tenang. “Aku tidak melakukan apa-apa.” “Lalu kenapa kau bilang nasib Tante Jasmine ada di tanganmu?!” Ivy melangkah maju, dadanya kembang kempis dengan cepat ketika udara yang ia hirup terasa semakin sulit mencapai paru-paru. “Lucas, kalau kau berani menyentuh Tante Jasmine—” “Aku tidak menyentuhnya, Ivy,” sergah Lucas cepat, memotong kalimat Ivy dengan nada datar yang terkesan menyiksa. “Lebih tepatnya belum.” Lucas menyeringai, menikmati ekspresi takut yang menyebar di paras cantik Ivy. “Semuanya tergantung bagaimana sikapmu kepadaku,” lanjut Lucas setelah jeda beberapa saat. Lucas mendekat ke arah Ivy. Bayangannya yang tinggi besar, perlahan mengurung gadis mungil itu. Tangannya terangkat, mengusap garis rahang Ivy dengan ibu jari, sebuah sentuhan lembut yang justru terasa seperti goresan duri. Ia sengaja membiarkan kalim
Namun, jauh di dalam hati, Yurina tahu bahwa ada sesuatu yang membuat kemunculan Ivy terasa jauh lebih mengusik daripada sekadar kemunculan seorang perempuan dari masa lalu.Selama ini, ia memang tidak pernah mendapatkan hati Lucas. Ia sudah mengutarakan perasaannya berkali-kali, tetapi pria itu selalu menolaknya dengan cara yang begitu lembut hingga Yurina memilih untuk tetap tinggal di sisinya, berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah di antara mereka.Ia bahkan beberapa kali menjalin hubungan dengan pria lain. Dan Nolan pernah menjadi salah satunya. Bukan karena perasaannya kepada Lucas telah hilang, melainkan karena bagi Yurina, mencintai pria itu dari dekat jauh lebih mudah daripada harus kehilangan tempat di hidupnya sama sekali.Lagipula, Lucas selalu memperlakukannya berbeda dari perempuan lain. Pria itu peduli, menjaganya, dan memberinya perhatian yang terkadang terasa terlalu istimewa untuk sekadar disebut sebagai persahabatan.Selama bertahun-tahun, tak ada perempuan lain
"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!" BANG! BANG! BANG! Rentetan tembakan yang memekakkan telinga itu menyambar kesadaran Ivy. Tubuhnya tersentak. Terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, sementara kepalanya berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus korn
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt







