Compartir

Chapter 7

Autor: Rik_Da
last update Fecha de publicación: 2026-09-04 21:53:37

Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya.

“Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti.

Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya.

“Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.”

Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut.

“Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ketiga penculik itu sudah ku ikat di pohon pinus pinggir sungai. Jadi harus bergegas menangkap mereka dan membawa mereka ke kantor Sheriff.”

Kaelan menurunkan anak kecil itu dengan hati-hati, meletakkannya di dekat wanita tersebut. Setelah itu, ia meraih tali yang mengikat wanita itu. Ia melepas simpulnya satu per satu, memastikan wanita itu tidak terjatuh mendadak.

Begitu tali terakhir terlepas, wanita itu langsung merosot sedikit karena kakinya lemas. Namun nalurinya bergerak lebih cepat dari rasa lelahnya. Ia segera meraih anaknya, memeluk tubuh kecil itu dengan erat.

“Anakku … anakku …” tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Ia menekan wajahnya ke kepala anak itu, seolah memastikan putranya benar-benar ada dan tidak hilang.

Baru setelah itu ia menatap Kaelan. Wajahnya basah oleh air mata, dadanya naik turun cepat, dan tubuhnya masih gemetar. Ia seperti ingin bersujud sebagai bentuk terima kasih yang besar.

Namun Kaelan buru-buru menghentikannya, mengangkat tangannya sedikit sebagai isyarat menahan.

“Nyonya, aku bukan Tuhan, jadi jangan bersujud padaku. Sekarang Nyonya kembalilah. Tetapi ini harus jadi pelajaran, jangan sampai ini terulang lagi.”

Wanita itu mengangguk cepat, tangisnya belum berhenti. Ia tetap memeluk anaknya, seolah takut melepaskan walau sedetik.

“Terima kasih, Tuan Muda. Tuan Muda sudah menolong anak saya,” ucapnya terisak, suaranya serak setelah lama tertahan lakban. “Dia anak satu-satunya. Saya bisa mati jika ditinggalkan olehnya.”

Di balik penutup wajah, Kaelan tersenyum tipis. Ia tidak memperlihatkan wajahnya, namun nada suaranya menandakan ia mengerti.

“Aku mengerti,” jawab Kaelan singkat.

Setelah mengatakan itu, Kaelan langsung berbalik. Ia memilih berjalan cepat menjauh, lalu berlari mengambil jalan yang acak. Ia sengaja tidak memilih jalur yang biasa penduduk desa lewati, agar wanita itu tidak mengetahui arah kepergiannya, dan tidak bisa menebak siapa dirinya.

Di tengah larinya, Kaelan bergumam pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.

“Tuan Muda … biasanya panggilan hormat untuk anak bangsawan, tapi orang-orang di sini sering menggunakannya untuk menunjukkan rasa hormat yang tinggi. Tidak buruk, aku yang memang anak Raja dipanggil seperti itu,” gumam Kaelan sambil tersenyum dan berlari semakin kencang.

Setibanya di rumah, Evelyn belum kembali dari pasar. Rumah itu terasa sunyi, hanya ada suara kecil dari lingkungan luar yang samar-samar masuk lewat celah dinding. Kaelan melangkah masuk dengan napas yang masih belum sepenuhnya stabil, lalu menutup pintu pelan.

Namun, baru saja dia benar-benar berada di dalam rumahnya, kepalanya kembali terasa sakit.

Rasa nyeri itu datang begitu tiba-tiba, seperti hantaman yang menusuk dari dalam, membuat tubuhnya menegang seketika.

“Aahhh… sakit,” lirih Kaelan sambil memegangi kepalanya.

Walaupun hanya sepersekian detik, keringat dingin langsung membasahi wajahnya. Tangan Kaelan menekan pelipis, seolah ingin menahan rasa sakit itu agar tidak menjalar. Pandangannya sempat bergetar, napasnya terdengar berat, lalu rasa nyeri itu perlahan mereda.

Ketika rasa sakit yang menyiksa kepalanya akhirnya menghilang, Kaelan justru merasakan hal lain. Tubuhnya terasa begitu lelah, seolah tenaga yang tadi sempat memenuhi dirinya sudah ditarik pergi.

Energi yang barusan memenuhi tubuhnya menghilang.

Tidak menghilang sepenuhnya, tetapi perbedaannya sangat jelas. Otot-ototnya terasa berat, napasnya tidak lagi terasa ringan, dan langkahnya yang tadi begitu gesit kini berubah lebih lamban.

Kaelan berdiri mematung beberapa saat, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Wajahnya menegang, matanya menyipit, lalu ia berbisik seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Sebenarnya kekuatan apa itu? Mengapa aku memiliki kekuatan seperti itu?”

Namun, semakin ia mencoba mencari jawaban, semakin pikirannya berputar. Belum sempat ia mengingat lebih jauh, kepalanya kembali seperti memberi peringatan. Nyeri samar mulai muncul lagi, cukup untuk membuatnya menahan napas.

Kaelan langsung berhenti memikirkan kekuatan aneh dalam tubuhnya. Ia menarik napas, memaksa pikirannya tenang.

Ia berjalan menuju kamar mandi. Begitu masuk, ia segera membersihkan diri. Air yang membasahi tubuhnya terasa menenangkan, menurunkan sisa ketegangan yang tadi menempel di bahu dan lehernya.

Setelah mandi, Kaelan mengenakan baju seragam sekolah. Ia merapikan kerahnya, menarik ujung bajunya agar tidak kusut, lalu menghela napas pelan. Setidaknya untuk saat ini, ia bisa kembali menjadi Kael yang tampak seperti anak sekolah biasa.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari luar.

Evelyn pulang dari pasar.

Kaelan langsung keluar menghampirinya. Begitu melihat ibunya muncul di ambang pintu dengan bawaan belanjaan, wajah Kaelan berubah. Ketegangan yang tadi ada di tubuhnya seolah luruh, berganti menjadi lega yang jujur.

“Ma, syukurlah sudah kembali,” ucap Kaelan cepat.

Ia langsung memeluk Evelyn. Sikap itu begitu kontras dibandingkan saat ia menghadapi ketiga penculik. Di hadapan ibunya, Kaelan kembali menjadi anak seusianya, yang masih membutuhkan perhatian dan kehadiran orang yang paling ia sayangi.

Evelyn tersenyum dan membalas pelukan Kaelan. Tangannya mengusap punggung Kaelan singkat, menenangkan, seolah meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Tentu saja mama baik-baik saja,” ucap Evelyn lembut. “Sekarang mama masak dulu, ya. Tunggu di meja makan, tidak lama kok.”

Kaelan mengangguk. Ia melepas pelukan itu, lalu menatap ibunya beberapa saat, memastikan wajah Evelyn tidak terlihat lelah berlebihan.

“Baik, Ma,” jawab Kaelan pelan.

Ia kemudian melihat Evelyn berjalan menuju dapur.

Dapur itu terlihat sudah lapuk. Beberapa bagian kayu tampak keropos, dan beberapa sudut terlihat siap jatuh kapan saja. Jaring laba-laba menggantung di beberapa sisi, sudah menghitam karena terlalu lama dibiarkan. Suasana dapur itu tidak memberi rasa nyaman, tetapi Evelyn tetap bergerak seperti biasa, seolah sudah terbiasa dengan keadaan yang ada.

Kaelan menatap punggung ibunya yang sibuk menaruh barang belanjaan. Dalam diam, ada tekad yang menguat di dalam dirinya.

“Aku harus punya uang, agar bisa membantu Mama. Aku tidak boleh membiarkan kata miskin terus disematkan pada Mama.”

Kaelan menonton Evelyn memasak, aroma wangi makanan langsung membuat perutnya keroncongan. “Masakan Mama memang terbaik, bahkan sebelum matang, sudah bisa membuatku sangat lapar.”

Evelyn memang sangat pandai memasak, dan saking enak masakannya, Raja Alaric menugaskan Evelyn sebagai satu-satunya juru koki untuk melayani Kaelan. Jadi Evelyn bukan baru membuat masakan untuk Kaelan, dia lah yang melayani Kaelan dari kecil.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 10

    “Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 9

    Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 8

    Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 7

    Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 6

    Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 5

    “Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status