INICIAR SESIÓNPagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup W******p ibu-ibu PKK.
Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius. “Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?” “Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran. “Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas ditemukan dia ngelantur kayak orang gila saking sakitnya.” Warga yang mendengar langsung ngilu berjamaah. “Aduh… sadis banget. Itu pasti bukan manusia yang menghajar. Pasti kerjaan makhluk halus!” Kaelan berjalan melewati kerumunan itu dengan santai, mulutnya sibuk mengunyah permen karet. Seragamnya rapi, tas tersandang santai di satu bahu. Wajahnya datar banget, seolah keributan itu cuma angin lalu. Padahal di dalam hatinya, dia sedang tersenyum puas. 'Bagus,' batin Kaelan. 'Berarti tali bambu buatanku kuat juga. Dan kalau sampai warga bilang lukanya kayak perbuatan hantu, berarti nggak ada yang bakal curiga sama anak sekolah dasar.' Sesampainya di gerbang sekolah, Brad sudah menunggu. Anak bertubuh gempal itu kelihatan gelisah banget, mondar-mandir tidak jelas. Tapi begitu melihat Kaelan, matanya langsung berbinar. Dia lari menghampiri dengan napas ngos-ngosan saking semangatnya. “Bos! Woy, Bos! Gila! Bos dengar nggak? Satu kampung heboh!” seru Brad sambil celingukan, lalu merangkul Kaelan dan berbisik heboh. “Tadi pagi ada tiga penculik yang ditemukan di pinggir sungai, anunya pecah, Bos! Pecah beneran kayak telur jatuh! Terus ada yang punggungnya remuk! Sadis banget!” Kaelan cuma menaikkan alis sebelah, pura-pura kaget sedikit biar aktingnya meyakinkan. “Oh ya? Kata siapa?” “Kata Mr. Arthur! Tadi pagi kan ramai banget di sungai!” Brad bergidik ngeri tapi matanya antusias. “Kata orang-orang tua, ini pasti ulah Si Jampang dari desa sebelah yang katanya punya ilmu kebal! Atau jangan-jangan, penunggu Sungai ngamuk gara-gara wilayahnya diinjak-injek!” Kaelan menahan tawa dalam hati. 'Penunggu Sungai? Imajinasi warga memang liar.’ “Ya sudahlah, Brad. Mau hantu kek, mau preman sakti kek, biarin aja,” sahut Kaelan santai sambil membetulkan kerah bajunya. “Selama tuh hantu nggak minta jatah uang jajan kita, aman.” “Yee, si Bos mah santai banget! Ngeri tahu, Bos! Untung aku temenan sama Bos, coba kalau musuhan sama Penunggu Sungai, bisa habis masa depanku,” cengir Brad sambil memegangi celananya, masih parno mendengar cerita "telur pecah" tadi. “Sudah ah, masuk yuk. Nanti telat dimarahin Miss Bella lagi, berabe,” ajak Kaelan sambil melangkah masuk gerbang. Tapi baru beberapa langkah, dia berhenti dan menoleh ke Brad. “Eh, Brad. Nanti pulang sekolah jangan langsung kabur, ya. Ikut aku.” Brad melongo bingung. “Hah? Mau ke mana lagi, Bos? Mau benerin motor orang lagi?” “Bukan,” Kaelan tersenyum tipis, tipe senyum misterius yang bikin Brad penasaran setengah mati. “Kita cari cuan yang lebih gede. Ada harta karun nganggur yang perlu kita selamatkan.” “Harta karun? Ah elah, Bos… paling mulung besi tua lagi, kan? Uang kas kita kan sudah banyak, Bos.” “Ini beda level, Brad. Sudah nurut saja. Pokoknya kalau berhasil, besok kamu bisa makan burger sampai kenyang.” Kaelan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kelas. Dia tidak langsung masuk, melainkan menoleh ke arah perbatasan desa yang tampak gelap oleh rimbunan pohon, meski hari sudah pagi. Matanya menyipit, menatap satu titik di kejauhan yang tertutup pohon beringin besar. Di sanalah lokasi bangunan tua yang sering digunjingkan warga berada. Orang-orang menyebutnya 'Gudang Mayat'. Rumornya, tempat itu menyimpan energi jahat, tempat angker yang bahkan preman kampung pun enggan mendekat. Tangan kanan Kaelan terangkat perlahan, meraba tengkuk lehernya sendiri. Dingin. Dia menekan kulit lehernya agak keras, mencari sisa sensasi panas yang sempat meledak subuh tadi saat menghajar para penculik. Namun nihil. Kekuatan mengerikan yang sempat membuatnya bergerak secepat kilat itu kini tidur lelap, seolah tidak pernah ada. Ketidaktahuan ini menyiksanya. Dia butuh jawaban kenapa tubuhnya bisa berubah menjadi senjata mematikan saat terdesak. Dan dia punya teori: kekuatan itu butuh pemicu. Dia butuh rasa takut. Dia butuh tekanan energi jahat yang konon menyelimuti gudang tua itu untuk memancing "kekuatan" di dalam dirinya keluar lagi. Gudang angker itu adalah laboratorium yang sempurna. “Brad,” panggil Kaelan tanpa menoleh, matanya masih terkunci ke arah pohon beringin yang menjulang tinggi. “Kamu tahu gudang peninggalan era kolonial di perbatasan desa yang katanya angker itu, kan?” Brad langsung melotot. “Maksud Bos, gudang Mayat? Tahu lah! Gila aja kalau nggak tahu. Itu kan tempat paling horor di sini! Ngapain bahas gituan?” Kaelan menoleh ke Brad, wajah seriusnya seketika berubah menjadi senyum santai yang meyakinkan. Dia tidak akan membiarkan Brad tahu rencana gilanya untuk menguji nyawa. “Kita ke sana nanti sore.” “HAH?!” Brad hampir berteriak, untung Kaelan cepat-cepat membekap mulutnya. “Mmmph!” “Jangan berisik,” desis Kaelan, lalu melepaskan tangannya. “Dengar, Brad. Semakin angker tempatnya, semakin jarang orang berani masuk. Artinya apa? Artinya barang-barang berharga di sana masih utuh. Belum dijarah pemulung.” “T-tapi Bos, itu kan sarang hantu!” “Hantu nggak butuh duit, Brad. Tapi kita butuh. Dapur Mama atapnya bocor, kayunya sudah lapuk. Aku butuh uang banyak buat benerin itu sebelum musim hujan,” ucap Kaelan, setengah jujur, setengah manipulasi. “Kamu mau ikut jadi kaya dan makan enak, atau mau jadi penakut yang miskin? Lagian malu sama badanmu yang besar dan katanya pemberani.” Brad menolak ludah kasar. Rasa takutnya bertarung hebat dengan rasa serakah dan perutnya yang gampang lapar. “B-burger, sama kentang goreng?” tawar Brad ragu. “Dua porsi. Plus milkshake,” pungkas Kaelan. “Deal! Aku ikut!” *** Bel pulang sekolah berdentang, memecah konsentrasi para siswa. Tanpa membuang waktu, Kaelan memberi isyarat dagu pada Brad. Mereka tidak pulang ke rumah, melainkan menyusuri jalan setapak menuju perbatasan desa yang sunyi, wilayah yang ditandai oleh warga sebagai daerah terlarang secara tak tertulis. Tujuan mereka adalah sebuah bangunan kolonial tua yang tertutup akar beringin dan ilalang setinggi dada. Penduduk desa menyebutnya 'Gudang Mayat'. Konon bekas gudang penyimpanan hasil bumi milik tuan tanah yang mati gantung diri puluhan tahun lalu. Kaelan berjalan dengan rasa penasaran yang membuncah. Sejak kejadian subuh tadi saat melawan penculik, dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia ingat bagaimana dia bergerak lebih cepat dari pikiran, dan bagaimana tenaganya meledak tiba-tiba. Namun, sekarang dia merasa normal kembali. Tidak ada kekuatan super, tidak ada penglihatan tajam dalam gelap. Dia sengaja datang ke tempat ini untuk menguji sebuah hipotesis. Jika tubuhnya bereaksi saat ada bahaya, apakah tempat yang konon "berbahaya" ini bisa memancing reaksi yang sama? Kaelan menjadikan dirinya sendiri kelinci percobaan. Dia bingung, siapa dirinya sebenarnya? Apakah benar dia hanya anak biasa yang habis kecelakaan seperti kata Mamanya? Begitu sampai di depan gerbang besi yang berkarat, wajah Brad memucat. Kakinya gemetar hebat. “B-Bos, serius? Ini kan Gudang Mayat! Jangan gila dong, Bos! Mr. Arthur saja nggak berani lewat sini kalau malam Jumat! Katanya dulu Tuan Tanah itu penganut ilmu hitam!” Brad mundur selangkah. Nyalinya ciut seketika. Kaelan menatap bangunan itu. Matanya yang normal saat ini hanya melihat sebuah gedung tua yang lapuk, penuh lumut, dan menyedihkan. Tidak ada hantu yang terlihat, tidak ada aura warna-warni. Hanya tumpukan batu bata yang dimakan usia. “Kalau kamu takut, tunggu di sini. Aku cuma mau ngecek sebentar,” ucap Kaelan santai. Dia mendorong gerbang besi itu. KRIEEETT… Suara engsel berkarat terdengar menyayat. Kaelan melangkah masuk. “Tu-tunggu Bos! Jangan tinggalin aku!” Brad akhirnya terpaksa ikut masuk, mencengkeram ujung baju seragam Kaelan dengan erat karena takut ditinggal sendirian.“Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib
Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len
Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d
Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket
Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte
“Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La







