Compartir

Chapter 6

Autor: Rik_Da
last update Fecha de publicación: 2026-09-04 21:53:35

Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada.

“Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil.

“Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat.

Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan.

“Berhenti!”

Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka.

Namun begitu melihat siapa yang berteriak, ketiganya justru menyeringai.

“Walaupun dia bukan anak-anak yang menjadi target kita, paru-paru dan jantungnya masih bisa dijual. Apalagi ginjalnya. Kita benar-benar untung kali ini,” ujar salah satu penculik sambil melirik temannya, matanya berbinar serakah.

“Hahaha, semesta memang sedang berpihak terhadap kita. Biarkan aku yang mengurus anak itu,” sahut yang lain dengan tawa pendek.

“Baik, tapi selesaikan dengan cepat.”

“Beres. Hanya anak-anak,” balasnya penuh percaya diri.

Pria yang mengenakan penutup wajah itu melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar jelas di atas bebatuan. Pada saat yang sama, Kaelan merasakan kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya bergetar sesaat, lalu kilasan demi kilasan muncul di benaknya. Gerakan tangan, posisi kaki, pola napas, semuanya terasa begitu jelas.

Itu adalah adegan latihan seni bela diri.

Walaupun hanya berlangsung sekejap, Kaelan mampu mengingat setiap gerakan dengan sempurna.

“Sangat familiar, tapi kenapa aku tidak bisa mengenali tempat berlatih itu?” pikirnya singkat. “Sudahlah, yang penting sekarang mengatasi para bajingan itu dulu.”

Tanpa ragu, Kaelan meloncat.

Lompatannya jauh lebih tinggi dari yang seharusnya bisa dilakukan seorang anak seusianya. Pria itu langsung menganga, matanya membelalak seolah sedang menyaksikan adegan dari film pendekar.

Belum sempat ia sadar dari keterkejutannya, kaki Kaelan yang kecil sudah menghantam senter dalam genggaman pria itu.

BAANG!!!

Senter itu terlempar jauh, memantul sekali di bebatuan sebelum akhirnya tenggelam ke dalam sungai. Seketika, pandangan pria itu diliputi kegelapan total. Tanpa cahaya, orientasinya lenyap.

Saat ia membuka mulut untuk memanggil temannya, kaki Kaelan sudah lebih dulu menghantam pundaknya.

BAANG!!!

“Aaahhh—” teriak pria itu, namun suaranya terputus. Tubuhnya terhempas dan langsung terkulai. Satu tendangan sudah cukup membuatnya pingsan.

WHOOSSHH!!!

Kaelan kembali bergerak. Tubuhnya melesat ke arah pria kedua yang sedang memikul anak kecil yang diculiknya. Tinju Kaelan menghantam punggung pria itu tanpa ragu.

BAANG!!!

“AAAHHH!!!”

Jeritan melengking terdengar nyaring. Pria itu merasakan hantaman yang menghancurkan, tulang-tulang di punggungnya seperti retak dan pecah bersamaan. Kekuatan itu jauh melampaui apa yang bisa ia bayangkan.

Kaelan segera menyambar anak kecil yang berada dalam kondisi pingsan dari bahu pria itu. Gerakannya cepat namun terkendali. Setelah memastikan anak itu aman dalam pelukannya, Kaelan menendang pinggang pria tersebut.

BYYUUUAAARR!!!

Tubuh pria itu terlempar dan jatuh tercebur ke dalam air sungai dengan suara keras. Arus dingin langsung menelan tubuhnya.

Kini, hanya tersisa satu orang.

Pria terakhir itu gemetar hebat. Tangannya yang memegang senter bergetar saat cahaya diarahkan ke dua temannya yang sudah tidak bergerak.

“Mustahil… bagaimana bisa ada anak kecil sekuat kamu?!” serunya dengan wajah penuh teror. Keringat membasahi pakaiannya meski udara pegunungan begitu dingin. Jam masih menunjukkan sekitar pukul empat pagi, dan lokasi ini berada di desa terpencil di pinggiran gunung.

Kaelan berjalan ke sebuah batu besar yang cukup lebar. Dengan gerakan hati-hati, ia meletakkan anak kecil itu di atasnya, memastikan tubuh kecil itu aman. Setelah itu, Kaelan berdiri tegak dan menatap penculik terakhir.

“Kenapa kamu menculik anak-anak di desaku? Sekarang katakan ke mana kamu akan membawa anak ini. Jika tidak, mungkin kedua temanmu masih bisa hidup. Tapi kamu tidak.”

Ada sesuatu yang berubah pada diri Kaelan. Wajahnya memancarkan tekanan yang sulit dijelaskan. Aura yang keluar darinya begitu mendominasi, menekan napas orang yang berdiri di hadapannya. Ia sama sekali tidak terlihat seperti anak berusia tiga belas tahun. Sosok itu lebih menyerupai malaikat pencabut nyawa yang dingin dan tanpa belas kasihan.

“Meskipun kamu membunuhku, aku tidak akan pernah mengkhianati bosku!” bentak pria itu sambil menunduk dan meraih sebuah batu di bawah kakinya.

WHOOSSHH!!!

Tanpa berpikir panjang, pria itu melemparkan batu tersebut sekuat tenaga, berharap bisa mengenai wajah Kaelan.

Namun bagi Kaelan, batu yang melesat cepat itu tampak bergerak sangat lambat. Ia meloncat ke samping dan mengayunkan kakinya, menendang batu itu dengan presisi sempurna.

BAANG!!!

“AAAHHH! Bijiku!”

Jeritan penuh penderitaan menggema di sepanjang sungai. Pria itu langsung tersungkur, berguling-guling sambil memegangi selangkangannya. Batu yang ditendang Kaelan mendarat tepat di area terlarangnya, menghantam tanpa ampun.

Air sungai yang dingin tidak lagi terasa. Yang ada hanyalah rasa sakit luar biasa, seolah kedua bijinya benar-benar hancur.

Kaelan langsung menyeret satu per satu tubuh para penculik itu menuju sebuah pohon besar di pinggir sungai. Bebatuan yang basah membuat beberapa bagian tubuh mereka terseret dan terbentur, namun Kaelan tidak peduli. Fokusnya hanya satu: memastikan mereka tidak akan kabur saat sadar nanti.

Setelah ketiganya berada di bawah pohon besar itu, Kaelan berjongkok dan meraih penutup wajah mereka. Ia membuka satu per satu, memastikan wajah yang tersingkap terlihat jelas meski hanya dengan sisa cahaya remang dari lingkungan sekitar.

“Bukan warga desaku,” gumam Kaelan pelan, menatap wajah-wajah asing itu dengan dingin. “Tapi mereka seperti sudah menghafal lokasi tempat ini. Sepertinya ada orang dari desa Ashvale sendiri yang memberikan peta lokasi pada mereka.”

Kaelan berdiri, lalu meraba pinggang salah satu dari mereka. Ia menemukan sebuah belati panjang yang menggantung rapi, seolah mereka memang sudah siap menghadapi apa pun yang menghalangi jalan mereka. Kaelan segera mengambil belati itu, lalu memeriksa dua tubuh lainnya untuk memastikan tidak ada senjata yang tersisa.

Setelah itu, pandangannya beralih pada rumpun bambu muda yang tumbuh tidak jauh dari sana. Kaelan melangkah mendekat, memilih bambu yang masih lentur, kemudian memotongnya dengan belati panjang tersebut. Gerakannya cekatan, seolah ia sudah terbiasa memegang alat tajam.

Ia mulai mengupas dan membelah bambu muda itu menjadi beberapa helai panjang. Kaelan tidak asal memotong. Ia memilih serat yang kuat, lalu memelintirnya, menekan dengan telapak dan memutar secara perlahan agar bambu itu membentuk tali yang kokoh.

Kaelan memang sering melihat para penduduk di desanya membuat anyaman bambu. Ia ingat bagaimana mereka menjadikan bambu muda sebagai tali-tali yang kuat. Kini, ingatan itu berpindah menjadi gerakan yang nyata di tangannya.

Setelah selesai, tali-tali bambu itu sudah terbentuk. Kaelan kembali ke bawah pohon besar itu. Ia mengangkat lengan salah satu penculik, lalu melilitkan tali bambu dengan erat ke batang pohon. Ikatannya rapat, simpulnya ditekan kuat agar tidak longgar. Hal yang sama ia lakukan pada dua penculik lainnya, satu per satu, hingga ketiganya terikat rapi di batang pohon.

Kaelan lalu mengambil salah satu penutup wajah yang tadi ia lepaskan. Ia menatapnya sesaat, seolah sedang menimbang sesuatu.

“Orang-orang desa tidak boleh ada yang tahu aku yang melakukan ini,” gumamnya.

Ia memasukkan penutup wajah itu ke tangannya, lalu berbalik ke arah batu besar tempat anak kecil itu tadi diletakkan. Anak itu masih pingsan, tubuhnya lemas, napasnya naik turun pelan. Kaelan mengangkat tubuh kecil itu dan menggendongnya.

Tubuh anak itu seolah tidak menjadi beban baginya. Meski menggendong anak berusia tujuh tahun, Kaelan masih bisa bergerak lincah. Langkahnya cepat, tapi tidak membuat anak itu terguncang.

Kaelan segera menuju lokasi wanita yang diikat di pohon pinggiran desa. Saat akhirnya ia tiba, Kaelan melihat wanita itu masih menangis. Tubuh wanita itu tertahan oleh tali yang mengikatnya pada batang pohon. Bibirnya tertutup lakban hitam yang menekan rapat, membuat suara tangisnya berubah menjadi dengusan dan erangan tertahan.

Kaelan mendekatinya, tetapi kali ini ia sudah menutup wajahnya menggunakan penutup wajah salah satu penculik. Ia memastikan penutup itu pas, menutupi sebagian besar wajahnya, agar tidak mudah dikenali.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 10

    “Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 9

    Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 8

    Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 7

    Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 6

    Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 5

    “Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status